Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 27: Sunting Awan


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


 


Setelah tawa kehebohan karena mengetahui bahwa pendekar wanita asing yang kini berdiri di atas gapura ternyata ompong, suasana berubah tegang karena rombongan pendekar dari Kelompok Tombak Iblis telah datang.


Alma Fatara yang tidak ambil pusing dan hati karena ditertawakan, bisa melihat dengan leluasa kedatangan rombongan pendekar berpakaian merah, laki-laki dan perempuan. Sebagian dari mereka adalah wajah-wajah tukang buah. Bersama mereka ada pula sebuah pedati kuda. Di atas pedati itu ada terbaring dua orang yang dibalut seperti mumi, tapi pakai kain warna merah kemerah-merahan.


Kedua orang yang seperti mayat itu adalah Alpukat Berbisa dan Jengkol Setan yang menderita luka bakar parah, ole-ole dari Kampung Siluman.


Dalam rombongan itu ada pula Wakil Ketua Rajabali Gali dan beberapa anggota pemimpin yang menjabat penanggung. Namun, di antara mereka tidak ada Cantik Gelap karena sedang pergi mencari enam gadis untuk diculik dan dijadikan pengganti enam gadis Kampung Siluman.


Perhatian para pendekar dari Kelompok Tombak Iblis tertuju ke atas, kepada sosok Alma Fatara. Sementara perhatian para warga dan pendekar lain tertuju kepada kedatangan para pendekar berpakaian merah.


Setelah tewasnya Jeruk Iblis dan Durian Kubur, serta ditawannya Kelapa Berbulu, maka anggota 13 Buah Kematian yang tersisa sebanyak sepuluh orang. Jika dua orang dalam kondisi kritis, yaitu Alpukat Berbisa dan Jengkol Setan, maka kemungkinan Alma akan melawan delapan orang.


“Kalian yang mengaku 13 Buah Kematian, tunjukkan diri kalian!” seru Alma Fatara yang mengandung sedikit tenaga dalam agar terdengar jelas.


“Biarkan Buah Kematian memasuki lingkaran!” perintah Rajabali Gali kepada para pendekar bawahannya.


Mereka yang bukan anggota 13 Buah Kematian lalu berhenti berjalan. Mereka membiarkan Salak Gempur dan rekan-rekannya masuk ke dalam lingkaran yang dipagari oleh para lelaki berpakaian merah dan bersenjata tombak biasa.


Manila Sari terlihat cukup khawatir karena Alma akan dikeroyok ramai-ramai. Jika hanya dikeroyok oleh pasukan prajurit, mungkin tidak masalah. Namun yang ini, Alma akan dikeroyok oleh para pendekar sakti.


“Pendekar wanita itu memang memiliki kesaktian yang tinggi. Aura kesaktiannya sampai terasa oleh kita,” kata Gendong Taji, Penanggung Bidang Pembunuhan dan Penculikan.


“Pantas saja jika dia bisa membunuh Buah Kematian. Namun, kisahnya akan lain jika dia dikeroyok,” kata Rajabali Gali.


Melihat para pendekar 13 Buah Kematian sudah memasuki area lingkaran manusia yang mengelilingi gapura dua, Alma Fatara memutuskan untuk turun. Dia melompat turun dengan ringan, seperti turunnya sehelai bulu burung yang jatuh ke tanah.


Pendaratannya begitu halus di tanah keras yang berdebu. Dan kini, Alma Fatara telah berdiri berhadapan dengan delapan orang lelaki berpakan merah yang sudah berhenti melangkah. Alma tahu bahwa beberapa dari mereka masih memendam luka dalam, tetapi Alma Fatara tidak hafal yang mana orangnya. Namun, kedelapan orang itu bersikap tenang, seolah-olah anggota yang masih terluka sudah benar-benar bugar.


Semua anggota 13 Buah Kematian yang siap bertarung hanya berbekal senjata Tombak Iblis yang menggantung di pinggang.

__ADS_1


“Bagus, ternyata kalian bukan pendekar pengecut seperti yang aku mimpikan,” kata Alma Fatara tenang, membuka dialog pra tarung.


“Nisanak, siapa kau sebenarnya?” tanya Salak Gempur dengan sikap berwibawa.


“Aku Dewi Gigi Alma Fatara, gadis paling cantik di lautan. Hahaha!” jawab Alma Fatara dengan bangganya, lalu dia tertawa terbahak-bahak seperti seorang jawara.


“Hahaha!” tawa para anggota Kelompok Tombak Iblis yang baru melihat jelas keompongan Alma Fatara yang lucu. Ternyata amarah tidak bisa menutupi rasa ingin tertawa.


Ditertawakan seperti itu, Alma Fatara bukannya mingkem atau menyumpal mulutnya, tetapi dia justru kian tertawa.


“Siapa yang ingin mengacau di wilayahku tanpa seizin Juru Aman Kotabatu?!” seru satu suara perempuan tua yang tidak jelas berasal dari arah mana.


Belum juga netra semua orang mencari sosok pemilik suara nenek itu, tiba-tiba muncul terbang empat sosok putih berkelebat dari empat arah mata angin. Anehnya, keempat sosok berambut full putih keriting itu bertabrakan tepat di satu titik di atas, yakni di atas gapura tempat Alma Fatara tadi bertengger.


Namun kemudian, empat sosok itu menjelma menjadi satu sosok saja, yaitu sosok nenek berambut putih dan berjubah putih, sehingga benar-benar terlihat hanya putih, kecuali kulit dan bola matanya. Dia ternyata memegang sebuah kipas putih di tangan kanannya. Kipas putih bersih itu sengaja dikembangkan agar terlihat cantik.


“Hormatku, Juru Aman Sunting Awan!” seru Rajabali Gali sambil menjura hormat lebih dulu dengan sedikit membungkuk dan telapak tangan bertemu di depan dada.


“Hormat kami, Juru Aman Sunting Awan!” ucap semua orang sambil menjura hormat seperti yang dilakukan oleh Rajabali Gali, kecuali Alma Fatara dan Manila Sari yang masih duduk di kudanya.


“Aku, Nek!” aku Alma Fatara. “Aku bernama Alma Fatara ...!”


“Dewi Gigi yang paling cantik di lautan!” sebut Sunting Awan memotong perkataan Alma Fatara.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara.


Clap! Buss!


Tiba-tiba nenek Sunting Awan lenyap begitu saja dari atas gapura karena terlalu cepatnya dia berpindah tempat. Dan tahu-tahu dia muncul di tengah-tengah antara Alma Fatara dan delapan lelaki Buah Kematian. Kemunculannya seperti kentut, langsung menghentakkan angin ke bawah, membuat debu berterbangan ke segala arah.


Sebagian besar hanya pasrah menerima debu dengan mata dipejamkan. Demikian pula para anggota Buah Kematian, tapi tidak bagi Alma Fatara. Dia tidak mau kecantikannya berkurang hanya gegara debu. Ketika debu itu datang, dia mengibaskan ujung jubahnya sehingga muncul angin perlawanan.


“Nenek, siapa kau?” tanya Alma Fatara. Mungkin hanya dia dan Manila Sari yang belum mengenal si nenek yang begitu dihormati oleh semua orang.

__ADS_1


“Aku Juru Aman Kotabatu Niwakmaya. Namaku Sunting Awan. Aku yang menjamin keamanan di kotabatu ini,” jawab si nenek dengan senyuman tipis kepada Alma Fatara.


“Hormatku yang masih belia ini, Nek,” ucap Alma Fatara sambil sedikit membungkuk dan mempertemukan kedua telapak tangannya di depan dahi.


“Kau harus mendapat izin dariku jika ingin berulah di sini,” ujar Sunting Awan.


“Jika demikian, aku meminta izinmu, Nek. Aku ingin membunuh semua Buah Kematian yang tersisa, sebagaimana mereka membunuh orang-orang Kampung Siluman hanya karena kepeng. Jelas pembunuhan yang mereka lakukan tidak bisa dibenarkan. Jika kalian membenarkan itu, maka apa yang akan aku lakukan seharusnya kalian benarkan juga,” ujar Alma Fatara lengkap dengan alasan.


“Sepertinya kau gadis sakti yang cerdas, Alma. Aku izinkan,” kata Sunting Awan. Lalu katanya kepada kedua pihak yang akan bertarung, “Aturan yang aku berikan adalah, siapa pun yang mati, pertarungan selesai tanpa ada pertarungan dendam susulan. Jika orang-orang Tombak Iblis atau rekan Alma ingin membalas dendam usai pertarungan ini, lakukan di luar Kotabatu Niwakmaya. Apakah kalian mengerti?”


“Mengerti, Juru Aman!” ucap kedelapan anggota 13 Buah Kematian.


“Mengerti, Nek,” ucap Alma Fatara pula.


“Silakan kalian bertarung,” kata Sunting Awan.


Clap!


Tiba-tiba sosok si nenek putih lenyap begitu saja, bahkan Alma Fatara tidak tahu ke arah mana pergerakan si nenek.


“Apakah kau sudah bersiap mati, Dewi Gigi?” tanya Salak Gempur.


“Belum,” jawab Alma Fatara.


“Karena menghadapimu satu lawan satu adalah kekalahan bagi kami, maka terpaksa kami mengeroyokmu beramai-ramai,” ujar Salak Gempur.


“Dengan senang hati, Kakang,” ucap Alma. Lalu teriaknya kepada khalayak ramai, “Menjaulah kalian dari area pertarungan. Aku tidak menjamin keselamatan kalian jika kesaktianku salah sasaran!”


Seruan Alma Fatara itu membuat para penonton bergerak mundur lebih menjauh.


“Anggota pengawal, mundur semua!” perintah Rajabali Gali.


Pasukan bertombak yang mengurung arena pertarungan segera mundur lebih jauh, membuka arena pertarungan lebih lapang.

__ADS_1


Alma Fatara dan kedelapan anggota 13 Buah Kematian siap memulai pertarungannya. (RH)


__ADS_2