
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Pasukan gabungan Pasukan Genggam Jagad, Pasukan Kerajaan Singayam yang tobat dan dua pasukan kadipaten, membuat kekuatan pasukan Ratu Siluman kian besar.
Namun, di saat rombongan itu kian mendekati perbatasan Kadipaten Sengat, tiba-tiba ada insiden yang menarik perhatian banyak orang, khususnya para pendekar dalam Pasukan Genggam Jagad.
“Ak!” jerit Nining Pelangi tiba-tiba, tanpa terlihat ada sesuatu yang menyerangnya.
“Ada apa, Nining?” tanya Panglima Riring Belanga, kakak kandung dari Nining Pelangi.
“Ada yang memukul bokongku!” sahut Nining Pelangi.
“Aw! Ku-ku-kurang ajar!” pekik Gagap Ayu lalu memaki. Dia memeriksa bokongnya, tapi tidak sampai buka celana.
“Ada apa, Ayu?” tanya Panglima Besar Anjengan.
“Ada yang mencubit bokongku!” jawab Gagap Ayu.
“Aak!” pekik tertahan Murai Ranum dan Gendis bersamaan.
“Ada apa lagi?” tanya Anjengan kepada kedua anggota Sayap Pelangi itu.
“Ada yang mencubit perutku!” jawab Gendis.
“Kurang keparat!” maki Cucum Mili sambil meloloskan pedangnya di atas kuda. Gadis bercadar merah itu memandang ke sekeliling dengan teliti.
Mengetahui calon istrinya mendapat gangguan juga dari makhluk jahil, Pangeran Sugang Laksamana langsung tersulut emosi pula.
“Tunjukkan wujudmu, Setan Cabul!” teriak Sugang Laksama sambil memutar arah kudanya di tempat dan mencari sosok yang mencurigakan.
Akibat adanya gangguan gaib yang tidak terlihat, rombongan Pasukan Genggam Jagad jadi berhenti berjalan. Para pendekar itu mencari-cari ke sekeliling.
“Aw!” pekik Sugang Laksama dengan tubuh tersentak, seperti banci yang sedang dicolek Om-Om.
“Hahaha!” tawa terbahak Alma Fatara dan beberapa pendekar.
Clap!
Tiba-tiba Alma Fatara menghilang begitu saja dari kudanya dan muncul di sisi Gempar Gendut, Sais Kereta Kuda Ratu Siluman.
“Jangan coba-coba menjahiliku, Kakek Bungkuk Gila!” seru Alma Fatara lantang.
“Hahaha...!” tawa seorang kakek bungkuk yang tiba-tiba muncul di atap bilik kereta kuda bersama dua wanita muda cantik. Posisinya ada di belakang atas Alma Fatara.
Clap!
Tahu-tahu Alma Fatara hilang dan muncul di atas kepala si kakek dengan kaki mengayun cepat hendak menghajar kepala tua itu.
Wuss! Pak!
“Aww!” pekik tertahan si kakek bungkuk yang tidak lain adalah Bungkuk Gila.
Tendangan super cepat Alma Fatara bisa dihindari oleh Bungkuk Gila dengan hanya menarik sedikit kepalanya, membuat kaki gadis itu lewat di depan wajah dengan angin yang membuat rambut si kakek tertiup kencang.
__ADS_1
Namun, pada saat yang sama, bokong si kakek justru ditepak oleh tangan kedua wanita yang bersamanya. Tepakan pada bokong teposnya itulah yang membuatnya memekik tertahan. Itu bisa terjadi karena Benang Darah Dewa milik Alma menjerat tangan kedua gadis itu dan didikte untuk menepak bokong si kakek.
“Hahaha!” tawa terbahak Alma Fatara yang sudah berdiri di sisi lain atap bilik kereta.
“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila pula karena melihat Alma Fatara tertawa. “Ompongmu masih dipelihara? Aku selalu merindukan ompong itu, sampai terbawa-bawa ke alam kubur. Eh salah, ke alam mimpi maksudku. Hehehe!”
Semua orang hanya menyaksikan apa yang tergelar di atas kereta itu.
“Bagaimana bisa kau tahu bahwa itu adalah aku, Cucu Cantikku?” tanya Bungkuk Gila. Meski Alma bukanlah cucunya, tetapi dia suka memanggil gadis jelita itu “Cucu Cantikku”. Alma pun tidak mempermasalahkan.
“Bau Kakek tidak berubah dengan dua tahun yang lalu. Hahaha!” jawab Alma di sela-sela tawanya.
“Memang tubuhku bau apa?” tanya Bungkuk Gila heran lalu mencium kedua ketiaknya bergantian.
“Bau tanah kuburan. Hahaha!” jawab Alma Fatara lalu melanjutkan tawanya.
“Dasar Cucu kurang ajar. Tambah dewasa dua tahun tidak berubah tambah dewasa,” gerutu Bungkuk Gila tanpa tertarik untuk tertawa.
“Kakek juga, tambah muda dua tahun, mesumnya tidak tambah pudar,” balas Alma Fatara.
“Hahahak!” Kali ini tawa Bungkuk Gila yang meledak.
Melihat si kakek jahil akrab sekali dengan ratu mereka, seluruh personel Pasukan Genggam Jagad jadi lega. Kekesalan mereka pun berubah jadi senyum mendengar pertengkaran akrab si gadis cantik dengan si kakek bungkuk buruk rupa.
“Itu pendekar tua yang sempat kita jumpai di perbatasan Kadipaten Sengat,” kata Tengkorak Bayang Putih kepada Kudapaksa. Tengkorak Bayang Putih termasuk yang sempat mengintai pertengkaran Bungkuk Gila dengan Bayu Garang.
“Tapi ternyata sahabat Gusti Ratu,” kata Kudapaksa.
“Eh, Alma!” kata Bungkuk Gila sambil bergeser sedikit merapat dan berbisik kepada Alma. “Piaraan gadis cantikmu banyak sekali. Belum puas aku mencolek mereka satu per satu.”
“Hehehe!” kekeh Bungkuk Gila jadi malu sendiri. “Alma, pasukan siapa ini?”
“Para pendekar ini adalah pasukanku. Aku adalah ratunya,” jawab Alma Fatara bangga. “Kakek harus tahu, sekarang aku adalah seorang ratu. Aku Ratu Siluman, ratunya Kerajaan Siluman.”
“Wah wah wah! Hebat sekali,” ucap Bungkuk Gila terperangah.
“Pasukan yang di belakang sana adalah Pasukan Kadipaten Sengat dan Kadipaten Gulangtara,” kata Alma Fatara.
“Oooh. Lalu kalian mau ke mana?” tanya Bungkuk Gila.
“Silakan duduk dulu, Kek,” kata Alma Fatara.
Bungkuk Gila lalu duduk di atap bilik kereta itu. Ia menyuruh kedua wanitanya, yaitu Indah Bening dan Sucikari, ikut duduk.
“Lanjutkan perjalanan!” seru Alma Fatara kepada pasukannya.
“Siap, Gusti Ratu!” sahut Anjengan.
“Pasukaaan! Siapa kita?” teriak Panglima Besar Anjengan keras membahana.
“Pasukan Genggam Jagad!” teriak Pasukan Genggam Jagad seperti kontingen Pramuka.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi sebelum kuda berjalan lagi.
__ADS_1
“Hua hua hua!” teriak pasukan.
“Wik wik wik wik wik!”
“Wik wik wik wik wik!”
Terperangahlan Kakek Bungkuk Gila mendengar yel-yel pasukan milik Alma Fatara.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat reaksi Bungkuk Gila. Dia lalu duduk bersila di atap bilik kereta.
“Berangkaaat!” teriak Anjengan.
Maka mulailah pasukan berkuda itu berjalan kembali, tapi langkah biasa.
“Ini pasukan perang atau pasukan penghibur, Alma?” tanya Bungkuk Gila.
“Hahaha!” Alma Fatara tertawa terlebih dahulu. “Ini pasukan perang yang menghibur, Kek. Anak gadis siapa yang Kakek culik?”
“Gadis Kadipaten Sengat. Awalnya aku mau mengintip mereka sedang berkuda ranjang, ternyata, mereka justru dikudapaksa oleh perwira Kerajaan Singayam,” cerita Bungkuk Gila dengan mimik emosi.
“Lalu?” tanya Alma Fatara lagi.
“Aku tolong mereka. Menolong perempuan cantik itu selalu menyenangkan. Hahaha!” kata Bungkuk Gila. “Tapi, bukankah itu pasukan Kerajaan Singayam?”
Pandangan Bungkuk Gila tertuju kepada pasukan berseragam hitam yang berjalan di barisan depan.
“Benar. Mereka baru saja ditaklukkan di perbatasan Kadipaten Sengat dan digiring ke mari. Setelah mereka bersumpah setia kembali kepada Putra Mahkota Kerajaan Singayam, mereka bergabung untuk menyerang ke Kadipaten Sengat. Pemuda ganteng yang tadi Kakek colek, itu adalah Putra Mahkota Kerajaan Singayam,” jelas Alma Fatara.
“Oh ya? Hahaha!” tawa Bungkuk Gila.
“Bukankah yang berkuda di belakang sana adalah Gusti Adipati Patok Anggara, Gusti Ratu?” tanya Indah Bening memberanikan diri.
“Benar. Apakah kalian termasuk warga yang tidak mau mengungsi?” terka Alma Fatara.
“Aku ikut Ayah yang tidak mau mengungsi,” jawab Indah Bening.
“Warga yang mengungsi pergi ke Kadipaten Gulangtara. Daripada kalian kesulitan jika harus ke sana, lebih baik tetap bersama Kakek Bungkuk. Dia itu Kakek yang baik, tapi harus sabar menghadapi genitnya. Katakan kepadaku jika kalian dilecehakan atau dicabuli, biar aku tindak kakekku ini,” kata Alma Fatara.
“Tidak. Kakek Bungkuk hanya genit saja, tidak berbuat kurang ajar kepada kami. Justru kami sangat berterima kasih karena telah diselamatkan olehnya,” kata Sucikari.
“Hehehe!” kekeh Bungkuk Gila. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
PENGUMUMAN
Bagi kalian penggemar Pendekar Sanggana, novel "Sanggana 5 Perang Selat Gigit" telah rilis. AYO CEK!
Novel baru lain:
1) Tina-Ayu 1: Negeri Tanpa Tahun
__ADS_1
2) Rugi 1: Perampok Gendut Budiman
3) Dendam Tiga Wanita