
*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*
Siap atau tidak siap Alma Fatara dan Bungkuk Gila harus menyambut kedatangan Baling Bangba, Lidah Untung, Guru Cambuk Merah dan Guru Cambuk Emas.
Alma Fatara terpaksa menghentikan tawanya dan langsung melesat lurus mengudara ke langit tinggi, membiarkan Baling Bangba yang melesat di udara secepat anak panah lewat di bawah kakinya.
Clap! Clap!
Lidah Untung menghilang dari tempat berdirinya, yang tidak sampai sedetik kemudian Bungkuk Gila pun menghilang dari tempat berdirinya. Sepertinya keduanya masuk ke alam kubur.
Seiring menghilangnya Bungkuk Gila, Cantik Gelap dan Lirik Lirik Yo juga melesat menyongsong Guru Cambuk Merah dan Guru Cambuk Emas untuk menjadi lawan.
Pertarungan hebat sepertinya akan terjadi.
Pada posisi Alma Fatara lebih tinggi di udara dibandingkan Baling Bangba, membuat Alma melesatkan serangan Sabit Murka ke bawah.
Bset bset!
Dua sinar kuning tipis berbentuk sabit menyerang Baling Bangba yang terbang seperti Suparman dengan jubah kuning yang menjadi sayap berkibar.
Sing sing!
Namun, Alma Fatara harus setengah terkejut, ternyata ada lapisan perisai tenaga sakti yang melindungi tubuh pemuda gagah itu. Kedua sinar kuning sabit milik Alma harus hancur dengan sendirinya ketika sampai setengah depa dari punggung Baling Bangba. Ilmu perisai yang melindungi tubuh Baling Bangba tidak terlihat.
Ketika Alma Fatara meluncur turun ke bumi, Baling Bangba telah melakukan serangan jarak jauh.
Wesss!
Baling Bangba menghentakkan sepasang lengan kekarnya yang kemudian melesatkan puluhan sinar kuning berwujud kepala panah seperti iklan obat nyamuk semprot.
Posisi Alma Fatara yang sedang turun membuatnya sulit untuk menghindar dan terlebih dia belum memiliki ilmu perisai. Namun, selalu ada jalan keluar bagi orang cantik.
Set! Syeeessf!
Bersamaan dengan ujung kakinya menyentuh tanah, Alma Fatara melesatkan Bola Hitam, yaitu kotak biru yang berubah warna menjadi hitam dan dilapisi sinar bening berbentuk bola. Bola hitam itu melesat menyongsong kedatangan serbuan sinar kuning.
Tiba-tiba Bola Hitam berhenti melesat dan secara mengejutkan semua sinar kuning yang datang melesat ke satu titik, yaitu Bola Hitam. Pasukan sinar kuning itu seperti tersedot sangat kuat oleh Bola Hitam hingga habis tanpa sisa.
“Apa?” kejut Baling Bangba melihat kesaktian level atasnya tersedot masuk ke dalam pusaka Alma Fatara.
Set! Bluar!
Lebih terkejut Baling Bangba saat Bola Hitam itu melesatkan segaris sinar kuning yang sangat cepat. Jangankan dia, dewa atau setan pun pasti tidak bisa menghindarinya.
Namun, setelah Baling Bangba terkejut, giliran Alma Fatara yang terkejut karena lesatan sinar kuning dari Bola Hitam tertahan oleh perisai gaib dan meledak dahsyat.
__ADS_1
Tanah terbongkar mengudara, orang-orang terpental dan dahan-dahan pepohonan berpatahan. Sebentar area itu menjadi kacau oleh dahsyatnya kekuatan ilmu yang bersumber dari kesaktian Baling Bangba.
Cantik Gelap dan Lirik Lirik Yo serta Guru Cambuk Merah dan Guru Cambuk Emas yang sedang bertarung satu lawan satu, mereka terlempar setelah dihempas oleh gelombang ledakan tersebut.
Namun, mereka tidak menderita luka dan bisa melakukan pendaratan dengan baik. Berbeda dengan para pendekar kelas menengah yang menonton dari jarak dekat. Mereka berjengkangan berjemaah, karena berjemaah lebih asik daripada sendiri.
Lalu bagaimana dengan Alma Fatara dan Baling Bangba sendiri? Jangan dijawab!
Sambil menangkap Bola Hitam kembali ke genggamannya, Alma Fatara terlempar kencang menerabas material tanah yang ramai-ramai terbang membentuk tirai alam. Untung, Alma tidak kelilipan. Dia jatuh keras di tanah dan menabrak akar besar pohon.
Sementara itu, Baling Bangba hanya terlempar dua tombak dan mampu mendarat dengan kokoh, sesuai dengan perawakannya. Jubah kuningnya yang hanya menempel di bahu jatuh terkulai di tanah, membuat keperkasaan badan keren si pemuda yang penuh otot keras terlihat mutlak.
“Baru kali ini ada kesaktian yang bisa menggagalkan eksekusi Bola Hitam,” pikir Alma Fatara sambil bangun berdiri. Dia tidak terluka dalam, tapi hanya merasakan tubuhnya sakit dan dadanya agak sesak.
Ziiing!
Alma Fatara berdiri dan memutar Bola Hitam di atas kepalanya yang kemudian memunculkan piringan sinar biru.
Ziiing!
Bola Hitam kemudian dilemparkan ke samping yang membuat piringan sinar biru melesat terbang jauh.
Zing!
Satu batang pohon terpotong rapi, membuat batang atasnya yang rindang bergerak menuju tumbang. Sementara piringan sinar biru terus melesat memutari area tersebut, Alma Fatara segera melesat ke posisi Baling Bangba. Di tangan kanan tergenggam Bola Hitam dan di tangan kiri tergenggam sinar emas menyilaukan mata.
Percaya diri dengan ilmu perisainya yang bernama Cangkang Dewa Sejagad yang tadi unggul dari Bola Hitam, Baling Bangba memilih menunggu lawannya datang menghantamkan ajiannya yang terlihat mengerikan.
Zing!
Pada saat kedatangan Alma Fatara, dari arah samping muncul pula piringan sinar biru yang juga menuju kepada sosok Baling Bangba.
Set! Krekrr!
Alma Fatara yang tiba lebih dulu melesatkan Bola Hitam yang langsung membentur dinding perisai gaib. Seiring benturan itu, tiba-tiba muncul lapisan dinding seperti kaca lebar yang retak total di semua bagiannya. Dinding perisai yang muncul karena hantaman Bola Hitam itu, mengurung tubuh Baling Bangba seperti sebuah dinding kapsul raksasa.
Zring! Bluar!
Pada saat yang bersamaan, piringan sinar biru yang datang dari samping menghantam dinding perisai yang sudah retak total. Baling Bangba juga langsung menghantamkan sinar hijau pada tangan kirinya kepada piringan sinar biru yang menghancurkan perisainya.
Swess! Bluar!
Pada saat yang bersamaan pula, Alma Fatara yang posisinya masih di depan Baling Bangba, menghantamkan pula sinar emas menyilaukannya di tangannya yang disambut hantaman sinar hijau dari tangan Baling Bangba.
Ada dua ledakan dahsyat yang terjadi bersamaan di tengah-tengah kedua pendekar sakti itu. Alma Fatara terlempar deras ke belakang dengan mulut menyemburkan darah kental.
__ADS_1
Bdak!
“Hukh!” keluh Alma Fatara saat punggungnya menghantam keras batang pohon yang barus saja jatuh ke tanah.
Kali ini Baling Bangba terlempar keras sejauh lima tombak dan jatuh berguling-guling di tanah. Dia berhenti tidak jauh dari posisi Lingkar Dalam dan rekan-rekan.
“Hoekh!” Baling Bangba muntah darah dengan tubuh memerah oleh darah dan berasap tipis.
Darah yang mengotori tubuh telanjang dada Baling Bangba berasal dari adanya sejumlah luka dari kulit tubuh yang pecah, bukan karena sayatan benda tajam.
“Anak siapa sebenarnya Dewi Gigi itu?” tanya Baling Bangba lirih kepada dirinya sendiri, sambil dia bergerak bangkit dengan meringis kesakitan.
Jauh di sana, Alma Fatara pun bangkit dan sudah menyeka darah pada sekitar bibirnya.
Baling Bangba lalu melakukan beberapa gerakan tangan bertenaga dalam untuk mengaktifkan ilmu perisai Cangkang Dewa Sejagad. Namun, gagal. Ilmu itu memang hanya bisa aktif jika tenaga dalam dan tubuh dalam kondisi prima maksimal.
Karena sudah tidak bisa mengaktifkan perisai Cangkang Dewa Sejagad, Baling Bangba memilih melesat terbang menuju ke posisi Alma Fatara.
“Hahaha! Aku sambut kau, Kakang Raja!” teriak Alma Fatara yang didahului dengan tawanya.
Bset bset!
Dari posisinya, Alma Fatara melesatkan dua Sabit Murka yang menyambut kedatangan Baling Bangba yang membawa gelombang sinar hijau yang bercokol di kedua lengannya.
Bres bres!
Posisi terbang di udara membuat Baling Bangba tidak bisa menghindar selain menangkis dengan tangan bersinar hijau.
Pertemuan dua kesaktian itu membuat Baling Bangba terlempar mundur dan mendarat dengan baik di tanah. Tubuhnya semakin banyak dilumuri darah.
“Benar-benar Kakang Raja lawan yang hebat! Hahaha!” puji Alma Fatara.
“Kau satu-satunya orang yang bisa menghancurkan perisai Cangkang Dewa Sejagad milikku,” kata Baling Bangba pula.
“Terima kasih atas pujianmu, Kakang. Aku memang cantik. Hahaha!” kata Alma Fatara lalu tertawa lagi.
“Aku memuji kesaktianmu, bukan kecantikanmu,” tandas Baling Bangba.
“Aku tahu Kakang Raja ingin memuji kecantikanku, tapi hanya malu. Hahaha!” kata Alma Fatara geer sendiri.
“Hahaha!” tawa Baling Bangba mendengar kata-kata Alma Fatara.
“Jangan malu mengatakannya, jika Kakang Raja tidak mau mati di tanganku. Menyerah saja sudah cukup bagiku,” kata Alma Fatara.
“Jika harus mati, aku ingin mengajakmu mati bersama, Dewi Gigi,” kata Baling Bangba, sambil dengan santai dia memunculkan sinar merah berlidah-lidah api. Sinar merah itu semakin membesar dan terus membesar.
__ADS_1
“Aku merasa tersanjung sampai begitu dicintai sampai mati. Hahaha!” kata Alma Fatara sambil ikut memunculkan sinar emas menyilaukannya di tangan kiri. Tangan kanan tetap menggenggam Bola Hitam. (RH)