Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 36: Syarat Raja Tombak Iblis


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


 


Rajabali Gali duduk di sebuah kursi sederhana. Sementara Nates Aya dan Silbi Aya duduk di dua kursi batu hitam berpermukaan halus dan memiliki bantalan empuk. Kedua wanita cantik berusia ranum itu duduk anggun dan berwibawa, dua tombak lurus di depan Rajabali Gali.


“Ketua Kelompok Tombak Iblis memandang pertarungan dengan Dewi Gigi Alma Fatara sangat merugikan Ketua, baik menang, apalagi kalah. Jadi, Ketua Raja Tombak Iblis hanya akan memenuhi tantangan jika pihak Kolam Merah memenuhi beberapa syarat dari Ketua,” ujar Rajabali Gali.


“Aku justru terkejut jika gurumu bersikap seperti itu,” kata Nates Aya.


“Guru memililih akan membunuh Dewi Gigi itu di luar daripada harus mempermalukan diri di Kolam Merah,” tandas Wakil Ketua Kelompok Tombak Iblis itu.


“Baru kali ini Kolam Merah diatur oleh calon petarung. Coba, katakan apa saja kerewelan gurumu itu!” kata Silbi Aya.


“Guru merasa sebagai pendekar ternama dan berkesaktian tinggi, merasa terhina jika harus bertarung dengan pendekar ingusan seperti Dewi Gigi itu. Apalagi pertarungannya hanya untuk kepentingan perjudian. Guru ingin pihak Kolam Merah mengumumkan pertandingan itu secara luas agar sekalian, pertarungannya ditonton oleh lebih banyak orang,” kata Rajabali Gali.


“Sebenarnya, tanpa diumumkan lagi, nama besar gurumu itu sudah menjadi penarik bagi banyak penonton. Tapi baiklah, besok pagi kami akan menyebarkan pengumuman di semua sudut kotabatu ini,” kata Nates Aya.


“Apa lagi?” tanya Silbi Aya.


“Karena kedudukan Guru yang tinggi dan banyaknya penonton, jika menang, Guru minta pembayaran tiga kali lipat,” jawab Rajabali Gali.


“Huh!” dengus Silbi Aya mendengar itu.


“Sebenarnya, intinya adalah ketamakan,” kata Nates Aya dengan senyuman samar yang mengejek. “Tapi baiklah. Aku berani rugi demi menghadirkan Raja Tombak Iblis untuk bertanding di Kolam Merah. Lalu, perlakuan istimewa lain apalagi yang diminta oleh gurumu?”


“Hanya itu,” jawab Rajabali Gali.


“Sampaikan kepada Raja Tombak Iblis, kedua permintaannya kami penuhi. Namun, jangan sampai setelah kami melakukan permintaan pertamanya dia justru tidak datang. Kami akan adukan dia kepada Juru Aman Kotabatu,” tandas Nates Aya.


“Baik. Jika demikian, aku mohon undur diri, Tetua,” ucap Rajabali Gali.


“Hmm!” Nates Aya hanya bergumam.


Setelah menghormat, Rajabali Gali beranjak pergi keluar dari ruangan batu giok itu.


“Menurutmu siapa yang akan menang besok?” tanya Nates Aya kepada adiknya.

__ADS_1


“Aku muak dengan Raja Tombak Iblis. Aku menginginkan dia yang kalah.”


“Apakah itu bisa terjadi?” tanya sang kakak lagi.


“Menurut Kakak, apakah Raja Tombak Iblis bisa menang jika 13 Buah Kematian mengeroyoknya sekaligus?” Silbi balik bertanya.


“Meski Raja Tombak Iblis adalah guru, tapi dia akan sulit menghadapi 13 Buah Kematian jika dikeroyok tanpa kenal guru dan murid,” jawab Nates Aya.


“Jika Alma Fatara bisa memberangus 13 Buah Kematian dengan mudah, lalu akan sedigdaya apa Raja Tombak Iblis dalam menghadapi gadis belia itu?” kata Silbi Aya. “Pertarungan di gapura dua telah membuat Alma Fatara menjelma menjadi pendekar setingkat pendekar-pendekar tua. Raja Tombak Iblis terlalu meremehkan calon lawannya, padahal 13 Buah Kematian dibuat tidak ada apa-apanya oleh Alma.”


“Kau yakin Kolam Merah akan menjadi pijakan terakhir Raja Tombak Iblis?” tanya Nates Aya.


“Aku yakin. Kita akan untung besar. Pasti banyak yang bertaruh untuk Raja Tombak. Jika dia mati besok, aku ingin mengambil alih Kelompok Tombak Iblis,” kata Silbi Aya.


“Tapi apakah murid-murid Raja Tombak Iblis akan mau diperintah oleh kita?”


“Kekuatan kepeng dan gemulai wanita sangat kuat. Mereka akan lebih patuh kepada yang lembut daripada yang keras seperti Raja Tombak Iblis,” kata Silbi Aya.


“Sayang sekali Rubi Salangka mengorbankan dirinya dalam pertarungan tadi. Jika dia menang, tentunya dia bisa memilih menikah denganku atau denganmu. Hihihi!” kata Nates Aya lalu tertawa genit sendiri.


Silbi Aya hanya tersenyum melihat kegenitan kakaknya.


Keesokan paginya, Nates Aya dan Silbi Aya mengerahkan sejumlah laki-laki untuk menempelkan pengumuman tentang jadwal pertarungan besar di Kolam Merah sore hari ini, yaitu pertarungan antara Ketua Kelompok Tombak Iblis Raja Tombak Iblis dengan gadis ompong fenomenal yang mengaku berjuluk Dewi Gigi, Alma Fatara.


Pengumuman yang ditempel di berbagai sudut Kotabatu Niwakmaya itu segera menjadi pusat kerumunan warga.


“Oooh!” ucap warga yang sebelumnya sudah tahu tentang jadwal pertandingan tersebut.


Namun, bagi mereka yang belum tahu siapa Alma Fatara adanya, terkejut membaca pengumuman tersebut.


“Wah! Ketua Kelompok Tombak Iblis ada yang berani menantang bertarung di Kolam Merah!”


“Siapa perempuan ini? Mencari mati dia menantang gurunya para pendekar Tombak Iblis!”


“Hah! Ini pertandingan terhebat yang pernah ada di Kolam Merah. Raja Tombak Iblis, loooh!”


“Perempuan ini pendekar dari mana? Sepertinya ini pendekar nenek-nenek yang giginya kebanyakan gigi. Dewi Gigi. Pasti banyak gigi.”

__ADS_1


“Jarang-jarang ada pertarungan kelas tinggi seperti ini di Kolam Merah. Kali ini aku harus nonton!”


“Eeeh, jangan-jangan ini pendekar perempuan yang katanya membantai 13 Buah Kematian.”


Itulah sejumlah reaksi dari pendekar atau warga yang kemarin lusa tidak menyaksikan pertarungan hebat di gapura dua. Sebagian ada yang hanya mendengar cerita dari orang lain bahwa 13 Buah Kematian telah dibunuh. Orang yang bercerita pun menambahkan sambal dalam ceritanya bahwa semua anggota 13 Buah Kematian mati semua.


Pengumuman itu juga menarik perhatian dua pemuda tampan berkuda yang baru tiba di Kotabatu Niwakmaya. Kedua pemuda itu adalah Kepala Kampung Siluman Lingkar Dalam dan Pangeran Arguna. Kedua pemuda itu sudah sehat dari luka-lukanya.


Lingkar Dalam sendiri sudah tidak asing dengan Kotabatu Niwakmaya. Beberapa kali dia datang bersama mendiang ayahnya untuk urusan penjualan minyak.


Atas petunjuk dari Sabung yang sampai dengan selamat ke kampungnya, Lingkar Dalam dan Arguna pergi menuju ke Kotabatu Niwakmaya, tepatnya menyusul ke Peniduran Dewi Mimpi.


“Raja Tombak Iblis. Apakah dia pemimpin 13 Buah Kematian yang bersenjata tombak itu?” tanya Arguna.


“Sepertinya begitu, Pangeran. Tapi ... kenapa harus dengan pertandingan?” kata Lingkar Dalam.


“Lebih baik kita segera ke Peniduran Dewi Mimpi,” kata Arguna.


Dengan kudanya, keduanya pun meninggalkan pinggiran kotabatu tersebut. Sepanjang perjalanan menuju ke peniduran, mereka melihat ada pengumuman sama yang ditempelkan di beberapa tempat dan mendapat perhatian warga dan pendekar.


Setibanya di Peniduran Dewi Mimpi, kuda mereka disambut oleh dua kekasih kuda.


Di ruang lobi peniduran mereka bertemu dengan Alus Pisan, juru aman peniduran yang berhati lembut. Kepadanya mereka menanyakan keberadaan Alma Fatara.


“Alma Fatara dan temannya sedang diundang oleh Sunting Awan di rumahnya,” kata Alus Pisan.


“Siapa itu Sunting Awan?” tanya Arguna.


“Juru aman kota ini.” Yang menjawab adalah Lingkar Dalam.


“Apakah kita menyusul ke sana?” tanya Arguna.


“Tidak. Juru Aman Kotabatu adalah kedudukan tertinggi di kotabatu ini. Lancang jika datang ke rumahnya tanpa ada undangan,” jawab Lingkar Dalam. “Lebih baik kita menunggu sambil makan di pemakanan.”


“Apa? Pemakaman?” sebut ulang Arguna.


“Kedai makan. Di sana!” jelas Lingkar Dalam, lalu menunjuk ke arah pintu pemakanan.

__ADS_1


Keduanya pun meninggalkan Alus Pisan dan pergi masuk ke pemakanan. Waktunya makan enak. (RH)


__ADS_2