Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 18: Bungkuk Gila Intip Pacu Kuda


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


“Heah! Heah!” gebah seorang pemuda yang dalam kondisi buto di atas perut seorang Betina Ranjang, yang meski terguncang-guncang karena di hantam terus-menerus, wanita itu tetap tersenyum dengan mulut menganga dan mata terpejam. Kentara sekali bahwa dia sedang keenakan.


Lelaki dan si Betina Ranjang dalam kondisi buto kuadrat di dalam bilik kain tanpa atap, di bawah siraman panasnya mentari sore. Keduanya sudah berkeringat.


Tanpa mereka ketahui, sebuah wajah keriput melongok di salah satu sisi atas dinding kain. Wajah itu tidak lain adalah milik Bungkuk Sakti. Tubuhnya yang bungkuk membuatnya harus digendong oleh Cantik Gelap demi bisa mencapai atas dinding kain.


“Hihihik!” Bungkuk Sakti tidak bisa menahan tawa gembiranya karena dengan leluasa menyaksikan adegan pacuan kuda.


Si pemuda yang belum sampai ke puncak, harus terkejut dan berhenti saat mendengar suara cekikikan yang begitu dekat.


Berhentinya sang joki dalam berpacu, membuat Betina Ranjang jadi berubah kesal dan membuka matanya.


“Ak! Ada yang mengintip!” pekik si Betina Ranjang terkejut saat melihat wajah jelek Bungkuk Gila sedang tersenyum lebar kepadanya.


Si pemuda cepat menengok ke belakang atas, ke arah pandangan Betina Ranjang-nya. Namun, yang ia dapati justru bilik asmaranya tertiup angin dan terbuka total, membuat pasangan itu seketika panik.


“Hahaha!”


Terlebih pasangan itu melihat sosok Cantik Gelap yang sedang menggendong seorang kakek yang tertawa terus-menerus.


Ternyata, di bilik kain asmara di sebelah juga rubuh terbuka total, membuat pasangan mesum lain yang juga sedang buto kuadrat kelabakan karena mereka terbuka. Anehnya, di dekat mereka berdiri sosok Cantik Gelap yang juga sedang menggendong Bungkuk Gila.


Ternyata lagi, bukan hanya satu atau dua, kejadian serupa juga menimpa bilik kain asmara ketiga dan keempat, dengan ada pula kehadiran sosok Cantik Gelap yang menggendong Bungkuk Sakti. Jadi ada empat sosok Cantik Gelap dan Bungkuk Sakti dalam satu waktu dan merusak kemesraan empat pelanggan Betina Ranjang yang sedang berkuda.


Tidak hanya di situ, pada saat yang bersamaan di lokasi lain, tepatnya di belakang sebuah kamar papan yang kamarnya bertanda papan merah, Bungkuk Sakti sedang melakukan pengintipan di celah dinding papan kamar. Sementara di dalam kamar terjadi adegan panas-panasan yang baru dalam tahapan saling tukar air liur dan remas-remas yang empuk.


“Siapa itu?!” teriak pelanggan yang ternyata adalah seorang pendekar yang memiliki pendengaran yang sensitif. Dia langsung menengok ke arah dinding papan bercelah kecil, di mana terdapat mata tua Bungkuk Sakti.

__ADS_1


Suss! Blar!


Sontak pendekar yang masih berusia kepala tiga itu melesatkan sebutir sinar hijau yang menghancurkan dinding papan kamar sisi belakang.


Namun, di balik dinding sudah tidak ada siapa-siapa.


Pendekar itu cepat bergerak ke dinding yang sudah jebol dan melongokkan wajahnya ke luar, mencari seseorang yang dia yakini tadi ada mengintip.


Suara ledakan nyaring itu dan suara jeritan Betina Ranjang di area dekat sungai, ditambah suara kemarahan para pelanggan yang dibuat kalang kabut sebelum puncak kelegitan diraih, mengusik ketenangan para pelanggan dan Betina Ranjang lainnya, terutama kalangan keamanan yang segera bereaksi datang ke pusat kegaduhan.


Namun, ketika para keamanan tiba dan bertanya apa yang terjadi, sosok Bungkuk Sakti dan Cantik Gelap sudah menghilang tanpa jelas arah kepergiannya. Padahal sesungguhnya, Bungkuk Sakti dan Cantik Gelap sedang menyamar menjadi dua ekor monyet di atas sebuah pohon besar berdaun rindang yang tumbuh di pinggir sungai.


Dari atas pohon itu, Bungkuk Gila leluasa menyaksikan kebingungan para prajurit dan pendekar keamanan. Para pelanggan yang terganggu berdebat dengan pihak keamanan karena adanya gangguan yang sangat membuat naik pitam. Beberapa dari pelanggan itu, terutama sang pendekar, menuntut ganti rugi. Mereka merasa dirugikan karena adegan mereka dilihat oleh orang lain.


“Periksa semua tempat ini! Cari wanita dan kakek keparat itu!” teriak seorang pendekar keamanan kepada anak buahnya.


Kepala Juru Aman yang bernama Kubil Gersang tidak hadir di lokasi kekacauan itu, karena dia sedang berada di gerbang masuk Sarang Betina Ranjang, berhadapan dengan Alma Fatara drr.


“Jadi kalian mencari Lilia Seharum? Gadis yang sudah menjadi Betina Ranjang di sini, sudah menjadi Majikan Tebar Ranjang sepenuhnya!” tegas Kubil Gersang tanpa mau tipu-tipu.


“Lepaskan adikku atau aku cabut nyawamu!” teriak Lingkar Dalam murka sambil menunjuk wajah Kubil Gersang.


“Lakukan jika kau mampu!” tantang Kubil Gersang.


“Aku buktikan! Hiaaat!” teriak Lingkar Dalam sambil melompat dari punggung kudanya dengan kedua tangan mengeluarkan dua ajiannya.


Tangan kanan Lingkar Dalam memegang tali sinar biru dari ilmu Tali Cekik Nyawa dan tangan kiri memiliki aliran listrik sinar ungu dari ilmu Genggam Petir, yang belum sehari lamanya dia kuasai.


Baks!

__ADS_1


“Hakh!”


Namun, belum juga Lingkar Dalam melesatkan tali sinarnya atau petir sinar ungunya, Kubil Gersang lebih cepat menghentakkan telapak tangan kanannya yang melesat bayangan telapak tangan sinar merah. Sinar merah itu sangat cepat menghantam dada Lingkar Dalam, membuat pemuda tampan itu terlempar mundur dan menabrak kudanya sendiri.


Melihat kegarangan sang pemimpin keamanan Sarang Betina Ranjang, Alma Fatara langsung bereaksi.


“Pertarungan dimulai!” teriak Alma Fatara sambil melompat mengudara dengan tangan kanan berbekal sinar emas menyilaukan mata.


Swess! Bluar!


Terkejut Kubil Gersang melihat kesaktian bertenaga sakti besar yang dikeluarkan oleh Alma Fatara. Secepat kilat dia melesat mundur masuk ke dalam area Sarang Betina Ranjang.


Ledakan hebat terjadi di dekat para prajurit yang berdiri di dekat gerbang besar berwarna ungu itu. Bukan hanya tanah yang terbongkar dahsyat mengudara, tetapi juga puluhan prajurit yang berdiri di sekitar gerbang berpentalan dengan kondisi tubuh yang tidak baik-baik saja.


Gerbang kebanggaan Sarang Betina Ranjang pun hancur berpatahan dan berpentalan.


Daya ledak dari ilmu Pukulan Bandar Emas itu tidak hanya langsung membunuh belasan prajurit dan melukai lebih banyak lagi, tapi juga mendorong kuda-kuda yang diduduki oleh Geladak Badak, Arguna dan Manila Sari. Mereka bertiga dibuat terlempar jatuh dengan kuda-kuda mereka berlari liar kabur meninggalkan tempat itu.


“Kudakuuu!” teriak Geladak Badak karena kuda yang dibelinya dengan harga mahal bisa jadi akan hilang.


Ingin tertawa Alma Fatara melihat kesedihan Geladak Badak. Namun, dia lebih ingin bersikap serius kepada para keamanan tempat prostitusi itu.


Di saat tanah yang mengudara sudah turun semua ke tanah, maka terlihatlah kawah tanah yang besar, merusak jalan masuk ke Sarang Betina Ranjang. Belasan mayat bergelimpangan dengan kondisi yang beragam. Ada yang utuh, ada yang kehilangan satu anggota tubuh dan ada yang hancur parah.


Lebih banyak prajurit yang menderita luka dalam akibat daya hantam gelombang kuat Pukulan Bandar Emas. Beberapa batang pohon besar menderita kerompalan besar dan memberi hujan daun gugur. Tempat itu jadi berantakan.


“Kakang, jika semua wanita yang sudah berada di sini adalah milik Tebar Kembang, berarti jika aku membunuhnya, semua wanita di sini akan menjadi milikku. Benarkah seperti itu?” seru Alma Fatara kepada Kubil Gersang.


“Jangan bermimpi, Bocah Ingusan!” teriak Kubil Gersang, lalu tiba-tiba melesat maju dengan pedang telah telanjang di tangan.

__ADS_1


“Majulah! Biar aku beri kau ingus, Kakang!” teriak Alma Fatara pula yang siap menerima serangan berkecepatan tinggi Kubil Gersang. (RH)


__ADS_2