
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Dengan berkuda, Alma Fatara akhirnya pergi meninggalkan kaki bukit batu Kampung Siluman untuk pergi ke Pasar Bulieng. Alma pergi bukan untuk berbelanja sayur mayur ataupun beli daging sapi untuk membuat bakso, tetapi untuk mencari sarang kelompok 13 Buah Kematian.
Pasar Bulieng adalah nama yang disebut oleh Kelapa Berbulu ketika dia diinterogasi oleh Alma Fatara.
Kelapa Berbulu telah sepakat untuk berbicara, sebagai imbalannya siksaan terhadapnya dihentikan dan dia tidak dibunuh.
Setelah mendapat sedikit pengobatan yang membuatnya bisa berbicara dengan baik, Kelapa Berbulu pun diinterogasi oleh Alma Fatara.
“Kami adalah 13 Buah Kematian. Kami hanya mendapat perintah dari guru kami untuk membunuh dan menculik. Gadis-gadis yang kami culik tidak dibunuh, tapi ditawan di Pasar Bulieng.”
Itulah sepenggal dari banyak pengakuan Kelapa Berbulu.
Dalam misi ini, Alma Fatara didampingi oleh dua orang, yaitu Putri Manila Sari dan Sabung tidak pakai ayam.
Daripada tinggal merawat kakaknya yang sedang dalam masa pemulihan dan berada di tengah-tengah warga kampung yang belum akrab, Manila Sari mewajibkan dirinya ikut Alma Fatara, meski dia sadar bahwa tidak saktinya dia justru berpotensi menjadi beban. Lagi pula banyak wanita kampung yang bersedia menjadi relawan dadakan untuk melayani berbagai keperluan Pangeran Arguna, dari yang tua hingga yang muda lagi cantik.
Sementara itu, Sabung menjadi pilihan karena para pendekar andalan Kampung Siluman juga dalam masa penyembuhan dari lukanya. Kampung Siluman juga membutuhkan penjaga gawang jika seandainya ada serangan tidak terduga yang datang.
Sabung sendiri termasuk salah satu pemuda andalan Kampung Siluman, meski kebanyakan perannya adalah tukang disuruh, bukan tukang bubur. Dipilihnya Sabung karena dia tahu di mana letak Pasar Bulieng.
Penunjukan itupun membuat Sabung bangga. Dengan menjadi satu-satunya perwakilan Kampung Siluman yang terlibat dalam misi penyelamatan, tentunya dia akan dianggap sebagai pahlawan. Jika dia berhasil pulang dengan kemenangan, tentunya gigi tonggosnya tidak akan menjadi penghalang baginya untuk menjadi lelaki pujaan wanita-wanita Kampung Siluman.
Alma Fatara bersama Manila Sari dan Sabung berkuda meninggalkan Kampung Siluman.
Sebelumnya, Alma Fatara telah mengingatkan kepada kedua pendampingnya itu bahwa dia tidak akan selamanya bisa menjaga keselamatan rekan seperjalanan. Namun, Manila Sari yakin bahwa Alma Fatara sangat melindungi orang-orang yang menjadi bebannya. Buktinya adalah Ning Ana. Jelas-jelas anak perempuan itu hanya bermodal bacot ikut Alma Fatara, tetapi dia bisa pulang tanpa hilang satu pun anggota tubuhnya.
Pikir Manila Sari, tentunya dia tidak lebih menjadi beban Alma Fatara dibanding Ning Ana.
Pasar Bulieng terdapat di Kotabatu Niwakmaya di wilayah kekuasaan Kerajaan Bulaga. Meski sudah bukan merupakan kerajaan, tetapi Bulaga masih memiliki pemerintahan seperti sebuah kerajaan. Namun, Keluarga Kerajaan Bulaga tidak memiliki pasukan militer. Mereka hanya memiliki pasukan kecil yang tugasnya hanya melindungi Keluarga Kerajaan. Adapun untuk keamanan wilayahnya yang hanya beberapa kota, berada di bawah tanggung jawab Kerajaan Ringkik, kerajaan yang telah menghancurkan Kerajaan Bulaga di masa lalu. Dengan kata lain, Bulaga adalah kerajaan taklukan Kerajaan Ringkik.
__ADS_1
Namun, militer Kerajaan Ringkik yang berkewajiban menjamin keamanan seluruh wilayah Kerajaan Bulaga, tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Hal itu membuat kota-kota milik Kerajaan Bulaga dilanda kekacauan oleh orang-orang dunia persilatan. Untuk meredam itu, Raja Limahipas akhirnya mempekerjakan sejumlah pendekar sakti untuk mengendalikan para pendekar pengacau dan pembuat rusuh. Hal itu memaksa Raja Limahipas merogoh kocek yang dalam. Padahal, jika militer Kerajaan Ringkik memenuhi kewajibannya, itu tidak perlu dilakukan, kecuali sekedar memberi uang permen.
Kembali kepada perjalanan Alma Fatara dan kedua sohibnya.
Rombongan Alma Fatara harus melewati lembah dan sebuah hutan. Setelah itu mereka akan tiba di Kotabatu Niwakmaya yang memiliki Pasar Bulieng.
Namun, karena mereka meninggalkan Kampung Siluman menjelang sore hari, maka ketika mereka tiba di Kotabatu Niwakmaya, hari sudah gelap. Pada waktu itu, akan sulit jika harus memaksakan datang ke Pasar Bulieng yang bukanlah pasar biasa. Jadi, terpaksa Alma Fatara, Manila Sari dan Sabung bermalam dan beristirahat di sebuah penginapan.
Kotabatu Niwakmaya adalah sebuah kota di daerah batu yang sebagian besar bangunannya terbuat dari batu tersusun dan tebing batu yang dilubangi menjadi rumah atau bangunan lainnya.
Sekedar info pustaka, berdasarkan bahan baku bangunannya, kota-kota di Negeri Sembunyi terbagi dua jenis, yaitu kotabatu yang bangunan permukimannya sebagian besar berbahan batu dan kotakayu yang berbahan kayu atau bambu. Jadi Niwakmaya termasuk jenis kotabatu.
“Pasar Bulieng terletak di ujung selatan kota, Alma,” kata Sabung ketika mereka sudah memasuki Kotabatu Niwakmaya.
“Wah, kota yang indah,” puji Alma Fatara yang melihat banyaknya lampu-lampu minyak yang menerangi kota di kala malam.
Dengan banyaknya penerangan lampu minyak, masih terlihat sejumlah aktivitas warga kota.
“Lebih baik kita menginap lebih dulu, Alma. Jika langsung pergi ke pasar, selain pasarnya sepi, cukup berbahaya jika pergi ke sana malam-malam,” ujar Sabung.
“Ayo!” ajak Sabung lalu lebih dulu menjalankan kudanya ke satu arah di dalam kota tersebut.
Pemuda tonggos itu membawa kedua wanitanya ke sebuah bangunan batu yang indah oleh seni pencahayaan api yang banyak. Gedung itu tidak berlantai dua. Meski sudah malam seperti itu, suasana di depannya masih cukup ramai. Beberapa orang terlihat berpakaian bagus seperti bangsawan, atau setidaknya kalangan bersandal.
Di dinding, tepatnya di atas pintunya yang lebar, ada tulisan “Peniduran Dewi Mimpi”. Perlu diketahui, penginapan di negeri ini populer disebut “peniduran”.
Ternyata kedatangan kuda mereka disambut lebih dulu oleh tiga pemuda tanggung. Disebut dewasa, tapi belum tumbuh kumis. Disebut kecil, tapi sudah besar. Setiap penginapan biasanya memiliki anak-anak “kekasih kuda”, yaitu anak-anak tanggung yang tugasnya menyambut kuda tamu dan membawanya untuk diurus makan dan bersihnya.
Pemilik kuda harus menghafal wajah anak yang membawa kuda mereka agar mudah saat meminta kudanya. Agar mudah dikenali, maka kekasih kuda mencirikan dirinya dengan tanda, yaitu mahkota tanduk. Mereka memakai topi yang memiliki tanduk-tandukan dari ukiran kayu. Ada yang bertanduk seperti binatang, ada juga yang kreatif dengan membuat tanduk berukir kepala ular, mata keris, pisang, sampai buah nanas karena dia memang bisa membuat ukiran kayu seperti itu.
Ketiga kekasih kuda yang menyambut Alma dan kedua rekannya mengenakan topi bertanduk kepalan tangan kecil, tanduk badak kerbau dan tanduk tombak tumpul.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat kelucuan topi-topi kekasih kuda itu.
Tawa Alma Fatara yang khas membuat sejumlah orang yang ada di depan peniduran itu menengok memandang Alma yang masih duduk di atas kuda.
“Hahaha!” tawa ketiga kekasih kuda dan orang-orang yang melihat Alma Fatara yang ompong. Namun, dibalik tawa itu, dalam hati mereka mengagumi kecantikan Alma di saat bibirnya merapat.
“Selamat datang kuda-kudaku sayang!” ucap ketiga kekasih kuda sambil setengah membungkuk, lalu maju meraih tali pada wajah kuda.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara lagi. “Baru kali ini kecantikanku dikalahkan oleh kuda. Hahaha!”
“Hahaha!” tawa semua pihak mendengar perkataan Alma Fatara yang tidak salah.
“Mereka disebut kekasih kuda, yaitu anak-anak yang tugasnya menyambut dan mengurus kuda tamu-tamu peniduran. Hampir semua peniduran memiliki kekasih-kekasih kuda,” jelas Sabung sembari tersenyum.
“Oh. Hahaha!” tawa pelan Alma Fatara yang memang saat ini seperti seorang turis mancanegara.
“Apa itu peniduran?” tanya Manila Sari.
“Peniduran itu tempat para pengembara menginap,” jawab Sabung.
“Maksudmu peniduran itu adalah penginapan?” terka Manila Sari.
“Iya, seperti itu,” kata Sabung.
Sabung lalu turun lebih dulu.
“Kenali kekasih kuda yang membawa kuda kalian, Gusti Putri,” kata Sabung.
Mereka pun turun dari kuda. Manila Sari mengambil buntalan kain dan pedangnya dari kuda. Ketiga kekasih kuda lalu menuntun kuda-kuda sembari mengusap-usap kepala dan lehernya.
Sabung melangkah lebih dulu menuju pintu peniduran yang terbuka. Alma Fatara dan Manila Sari mengikuti. Para lelaki yang ada di sekitar tempat itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memandangi kecantikan kedua gadis belia tersebut. Alma Fatara hanya memberi senyuman manis tanpa menunjukkan giginya kepada para pria tersebut, yang sekedar memandang tanpa maksud lain.
__ADS_1
Ketika mereka masuk, mereka bisa melihat keluasan ruangan depan peniduran yang megah. Mungkin seperti inilah standar peniduran bintang tujuh.
Mereka segera disambut oleh dua orang wanita cantik berpakaian bagus warna merah muda. (RH)