
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Tadi malam, rupanya Ning Ana bergerilya di lingkungan Istana. Sebagai tamu khusus yang merupakan “pengawal” Ratu Warna Mekararum selama dalam perjalanan, dia dengan mudah mengakses beberapa tempat.
Setelah bertanya ke beberapa prajurit jaga, Ning Ana akhirnya diarahkan ke Rumah Sehat Istana. Ternyata yang dicarinya adalah tabib.
Lagi-lagi, statusnya yang dekat dengan Ratu Tua, meskipun sebelumnya dia diusir oleh sang ratu dari Sidang Umum, membuat Ning Ana dilayani dengan maksimal oleh tabib Istana.
Kepada salah satu tabib Istana, Ning Ana bertanya-tanya tentang racun. Setelah diberi tahu tentang beberapa jenis racun, akhirnya Ning Ana meminta Racun Kodok Ungu.
Awalnya tabib Istana tersebut tidak mau memberikan. Namun, karena disodorkan sekantung kecil kepeng, si tabib goyah juga pendiriannya. Uang itu Ning Ana pinjam dari Magar Kepang karena bonus dari Kerajaan belum cair dengan dalih otp (on the process).
Racun itulah yang Ning Ana baluri di Keris Petir Api sebagai siasatnya melawan Sumirah, Pendekar Buaya Cantik. Dia pun lebih dulu makan penawarnya agar tidak berefek ketika memegang keris tersebut.
Namun liciknya Ning Ana, penawar sisanya dia sembunyikan di kakus umum lelaki.
Mau tidak mau, Sumirah harus pergi menerobos kakus lelaki dan mencari penawar racun di tempat yang dicirikan oleh Ning Ana. Sumirag pun harus menahan bau dan cacian para prajurit yang sedang berhajat.
Ketika Sumirah menemukan obat penawarnya, kulit tangannya sudah menderita gatal dengan ruam-ruam berwarna keunguan. Bahkan wajahnya juga menderita karena terinfeksi langsung, yaitu ketika dia mencium bau keris. Ada serbuk super halus dari racun yang masuk ke lubang hidungnya.
Apesnya Sumirah, meski dia sudah memakan penawarnya, ternyata butuh beberapa hari untuk menghilangkan gatal dan ruamnya. Penawar hanya mencegah agar efek racun tidak berkembang atau semakin parah.
Di sisi lain, kehadiran Prabu Marapata, Permaisuri Palilin, Ratu Warna Mekararum, Keluarga Kerajaan dan para pejabat di gelaran duel antara Ning Ana dan Sumirah, ternyata bukan sekedar untuk menyaksikan pertarungan, tetapi ada niatan lain yang lebih penting dari mengetahui siapa pemenang duel.
Setelah pertandingan serta Ning Ana sudah kembali aman dan dapat dijinakkan, Mahapatih Pangeran Bugar Jantung naik ke atas panggung. Ketika Mahapatih naik, menyusul naik pula seorang dayang cantik pelayan Ratu Tua. Gadis itu membawa sebuah baki yang di atasnya ada sebuah mangkuk yang mewadahi beberapa keping perhiasan berkilau emas.
“Atas nama Gusti Prabu dan Gusti Ratu, aku minta nama yang aku sebutkan untuk naik ke atas panggung!” seru Pangeran Bugar Jantung yang kini berpenampilan layaknya seorang pejabat dan bangsawan, tidak seperti seorang narapidana lagi.
“Waaah! Itu pasti hadiah untuk pemenang pertandingan ini. Hihihi!” kata Ning Ana berbisik kepada Alma Fatara. Dia sudah tidak menangis lagi, meski bahu kanan bajunya masih robek. Sabuknya pun sudah dia ikat ulang.
“Bukankah kau kalah?” kata Alma Fatara.
“Iya, tapi Susu Merah sedang tidak ada. Jadi akulah penggantinya. Hihihi!” kata Ning Ana lalu tertawa seperti orang licik.
“Ning Ana!” teriak Pangeran Bugar Jantung lantang.
Terbeliaklah Ning Ana benar-benar merasa mendapat kejutan. Dengan mata melebar dan mulut ternganga, sok-sok terkejut seolah-olah tidak menyangka, dia berlari naik ke panggung. Ketika sudah naik ke panggung, dia pun berteriak liar.
“Yeaaa!” teriak Ning Ana sambil meninju langit. Dia lupa bahwa baru saja usai dipermalukan di depan publik yang sama.
“Yeee!” sorak pendukung Ning Ana dari kalangan Perguruan Pisau Merah.
__ADS_1
“Ngiuk ngiuk ngiuk ...!” jerit-jerit Kelompok Lutung Pintar menyurakan sorak kemenangannya.
“Hihihi!” sambil tertawa geer sendiri, Ning Ana melambaikan tangan ke segala arah.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat tingkah heboh Ning Ana yang tidak ada habisnya.
“Ayu Wicara!” teriak Pangeran Bugar Jantung lagi.
Teriakan itu membuat Ning Ana seketika berhenti tertawa dan menjadi heran, sama herannya dengan Ayu Wicara yang menengok memandang Alma Fatara dan Debur Angkara. Dia merasa salah mendengar nama.
“Ayu, kau dipanggil Gusti Pangeran!” kata Debur Angkara.
Maka, dengan keraguan di dalam hati, Ayu Wicara pun naik ke atas panggung. Dia pun tersenyum canggung dan malu-malu, kontras dengan Ning Ana yang overdosis.
“Magar Kepang!” sebut Pangeran Bugar Jantung lagi.
“Hah! Hahaha!” pekik Magar Kepang terkejut lalu tertawa.
Maka dengan bersemangat, Magar Kepang berlari kecil sambil melambai-lambai kedua tangan di atas, layaknya seorang idol. Namun, satu insiden di luar nalar terjadi ketika Kepala Desa Iwakculas itu naik ke panggung.
Duk! Bdak!
“Hahahak ...!”
Seketika semua manusia yang menyaksikan itu tertawa terbahak-bahak, kecuali Pangeran Bugar Jantung yang hanya geleng-geleng.
Di saat sang raja dan rakyatnya tertawa kencang dan berkepanjangan, Magar Kepang hanya bisa bangkit dengan senyum yang begitu getir. Kegembiraan Magar Kepang seketika bertransformasi menjadi rasa malu level jurig.
Jangan ditanya seperti apa reaksi Alma Fatara. Dia sampai berjongkok menahan tawa yang full.
Riuhnya suara tawa yang tercipta membuat Pangeran Bugar Jantung menahan diri untuk memanggil nama berikutnya. Mau tidak mau dia harus tersenyum lebar melihat suasana itu.
“Paman Mawar (Magar) ada-ada saja, pakai tersanjung segala!” omel Ayu Wicara. Dia lupa bahwa mengomeli orang tua itu tabu.
“Tersandung, bukan tersanjung, Ayu!” ralat Ning Ana pula.
“Iya, tersandung. Memangnya aku bilang tersandung?” kata Ayu Wicara bela diri.
Magar Kepang, Ayu Wicara dan Ning Ana berdiri satu saf dan merapat.
“Garam Sakti!” panggil Pangeran Bugar Jantung lagi setelah suasana kembali kondusif.
Sembari tersenyum-senyum malu-malu kerbau, Garam Sakti berjalan mendatangi panggung.
__ADS_1
“Hati-hati, jangan tersandung pula!” kata Pangeran Bugar Jantung mengingatkan.
“Iya, Gusti,” ucap Garam Sakti sembari tetap tersenyum.
Tidak seperti Magar Kepang, Garam Sakti naik ke panggung dengan kalem. Dia lalu berdiri di sisi Magar Kepang.
“Eh, di sini, Kakang!” kata Ning Ana sambil bergerak menarik Garam Sakti agar berdiri di sisinya. Dia bahkan memeluki lengan besar kekasihnya itu tanpa malu-malu.
“Eeeh, lepaskan! Malu dilihat Gusti Prabu!” bisik Garam Sakti dengan wajah tetap lurus, tapi tangannya memaksa lepas dari rengkuhan Ning Ana.
Mau tidak mau Ning Ana menurut, tapi wajahnya merengut, membuat bibirnya seperti ikan cucut.
“Debur Angkara!” panggil Pangeran Bugar Jantung lagi.
Debur Angkara pun segera naik ke panggung, juga dengan dengan tersenyum. Tidak ada insiden yang terjadi. Kekasihnya pun tidak bertingkah berlebihan di mata publik.
“Kita sambut pahlawan terbesar kita yang telah mengeluarkan kerajaan ini dari ancaman kehancuran, Alma Fatara!” teriak Pangeran Bugar Jantung lebih panjang.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar panggilannya lebih istimewa. Maka dia pun menaiki panggung dengan istimewa, yaitu melompat bersalto di udara lalu mendarat di sisi Ning Ana, lebih dekat kepada Pangeran Bugar Jantung.
“Sebagai orang-orang yang sangat berjasa kepada Gusti Ratu Warna Mekararum, dari awal perjalanan hingga sekarang ini, maka Gusti Prabu menganugerahkan kalian penghargaan Lencana Emas Jintamani. Dengan memiliki lencana ini, maka kalian mendapat gelar Warga Emas Jintamani. Gelar ini akan membuat kalian berkedudukan sejajar dengan Keluarga Kerajaan, lebih tinggi dari kedudukan para adipati dan menteri. Kalian menjadi warga istimewa Kerajaan Jintamani dan memiliki hak bisa bertemu dengan Gusti Prabu dan Gusti Ratu kapan saja. Memiliki hak untuk dibantu oleh Kerajaan dalam hal yang baik. Setiap orang diberi sebidang tanah di wilayah Kerajaan. Itulah penghargaan yang diberikan oleh Gusti Prabu kepada kalian berenam.”
“Yeee!” sorak Magar Kepang, Debur Angkara, Garam Sakti, Ayu Wicara dan Ning Ana sambil melompat-lompat kegirangan dan saling berpelukan.
Ning Ana melompat memeluk Garam Sakti, Ayu Wicara memeluk Debur Angkara, dan Magar Kepang memeluk diri sendiri. Jelas Magar Kepang tidak berani memeluk Alma Fatara.
“Hahaha!” Alma Fatara hanya tertawa datar mendengar keistimewaan dari anugerah yang diberikan kepada mereka.
“Mohon Gusti Prabu menyematkan lencana emas kepada Alma Fatara dan rekan-rekan,” kata Pangeran Bugar Jantung.
Prabu Marapata lalu berjalan maju menuju ke panggung. Dia dikawal oleh Komandan Gebuk Sewu yang berjalan di belakangnya, tapi agak ke kanan.
“Berbaris yang rapi. Angkat dagu kalian, busungkan dada kalian!” perintah Pangeran Bugar Jantung.
“Hihihi!” tawa cekikikan Ning Ana mendengar perintah “busungkan dada”.
Pak!
Ning Ana mendadak berhenti tertawa ketika kepalanya ditepak oleh Alma Fatara.
“Kau pasti sedang memikirkan dadaku!” tuding Alma Fatara.
“Hahaha!” Tertawalah para sahabat Alma Fatara itu, yang ujung-ujungnya membuat Alma tertawa pula.
__ADS_1
Lencana Emas Jintamani adalah lencana kecil sebesar kuku ibu jari yang memiliki ukiran timbul. Lencana itu lalu disematkan oleh Prabu Marapata di lengan kanan baju Alma Fatara dan kawan-kawan, bukan di dada. Garam Sakti dan Debur Angkara yang doyan tidak berbaju, terpaksa menjadikan pinggang celananya sebagai tempat lencana. (RH)