
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Kampung Siluman adalah sebuah kampung kecil di atas bukit batu yang gersang, tapi hijau oleh rumah-rumah panggung berbahan bambu, bahkan sebagian rumah-rumah itu masih terlihat baru dan segar.
Kampung bukit yang terlihat sedang dalam tahap pembangunan di beberapa bagiannya itu adalah sumber penghasil minyak. Terlihat ada beberapa pipa bambu yang sambung-menyambung membentuk rangkaian, yang menghubungkan satu titik ke titik yang lain di kampung tersebut.
Pada satu sisi di kampung itu ada tebing batu yang tinggi. Di belakangnya adalah lautan luas yang dibatasi oleh tebing tinggi. Untuk bisa melihat laut, orang harus naik ke atas tebing.
Saat ini, Alma Fatara sedang duduk di sebuah kursi bambu di sisi sebuah dipan bambu, di mana di atasnya terbaring seorang lelaki tua yang kondisinya lemah. Si kakek berbaring sempurna dengan mata terpejam, sementara ada benda berwarna biru terang di bawah kepalanya sebagai bantal.
Benda biru terang itu tidak lain adalah Bola Hitam pusaka milik Alma Fatara.
Alma Fatara telah menyalurkan tenaga saktinya kepada Bola Hitam, kemudian dia membiarkan pusakanya itu bekerja sendiri dalam mengobati Panglima Kampung yang bernama Kirak Sebaya.
Kirak Sebaya awalnya adalah orang nomor dua di Kampung Siluman itu. Setelah kematian Kepala Kampung dua pekan lalu, kini dia menjadi orang nomor satu di kampung tersebut, meski Lingkar Dalam menggantikan ayahnya sebagai Kepala Kampung.
Namun, Kirak Sebaya dalam kondisi terluka parah setelah bentrok dengan beberapa pendekar yang menyerang ke kampung bukit batu itu. Kini Alma Fatara mengobatinya menggunakan kesaktian Bola Hitam.
“Hoekh!”
Kirak Sebaya tiba-tiba tersentak bangun duduk sembari memuntahkan darah hitam busuk dari dalam tenggorokannya. Namun, tidak perlu khawatir, Alma Fatara yang sudah tahu cara kerja Bola Hitam dalam mengobati, sudah menyiapkan baskom kayu sebagai tempat muntahan darah.
“Lanjutkan, Kek. Sampai muntahannya bersih dari darah!” kata Alma Fatara.
Tanpa banyak komentar, Kirak Sebaya kembali merebahkan badannya dan meletakkan kepalanya pada dua belahan kotak biru terang. Energi Bola Hitam pun kembali tersalur masuk ke dalam kepala Kirak Sebaya lalu menyebar ke segala anggota tubuhnya. Dia kembali memejamkan mata, bukan untuk bobo ganteng, tetapi untuk lebih berkonsentrasi agar energi yang masuk bisa tersambut dengan baik oleh tubuh dalam.
Tidak berapa lama ....
“Hoekh!”
Kirak Sebaya kembali tersentak bangun sembari memuntahkan darah yang lebih terang dan encer.
“Sekali lagi, Kek,” kata Alma Fatara.
__ADS_1
“Iya, iya, iya,” ucap Kirak Sebaya lemas. Memuntahkan darah itu membuatnya kian lemas, tetapi membuat perasaannya lebih enak.
Kirak Sebaya kembali menjalani proses tahapan terakhir. Tidak butuh waktu lama, Kirak Sebaya kembali muntah, tetapi kali ini muntahnya hanya cairan dan sedikit ampas sayur kangkung.
“Tinggal butuh istirahat, Kek,” kata Alma Fatara sambil mengambil Bola Hitam dan menyimpannya di balik jubah hitamnya.
“Terima kasih, Alma,” ucap Kirak Sebaya. “Lalu apa yang kalian rencanakan untuk menghadapi orang-orang sakti itu?”
“Hanya menunggu mereka datang,” jawab Alma Fatara.
“Mungkin hanya kau yang bisa melawan mereka. Kau mungkin akan dikeroyok oleh mereka karena Lingkar Dalam dan yang lainnya berisiko mati jika memaksa melawan mereka,” kata Kirak Sebaya.
“Sambil menunggu mereka datang, akan aku pikirkan cara agar mereka bisa dilawan oleh orang-orang yang lebih lemah,” kata Alma. “Apakah Kakek juga tidak bisa menerka alasan para pendekar itu menyerang ke kampung ini? Tidak mungkin mereka menyerang tanpa alasan, apalagi dilakukan berulang kali.”
“Aku tidak tahu. Mereka datang dan membunuh tanpa berkata-kata, sehingga kami pun tidak bisa membuat dugaan dari lisan mereka,” jawab Kirak Sebaya.
“Baiklah, Kek. Karena aku khusus dipanggil ke mari, jadi serahkan kepadaku urusan ini. Selain selalu beruntung, biasanya orang cantik itu selalu pintar. Hahaha!” kata Alma Fatara lalu tertawa, membuat orang-orang di ruang depan rumah itu menengok ke tirai pintu kamar.
“Hehehe!” kekeh Kirak Sebaya yang menilai Alma memang gadis yang kocak.
Di ruang depan menunggu Lingkar Dalam, Arguna, Manila Sari dan seorang nenek bungkuk bertongkat. Nenek itu bernama Nenek Gendar Sayu, istri Panglima Kampung.
“Bagaimana, Nak?” tanya Gendar Sayu sembari berdiri.
“Silakan, Nek. Kakek Kirak tinggal butuh istirahat,” jawab Alma Fatara sembari tersenyum.
Alma Fatara lalu berjalan langsung keluar. Lingkar dalam dan kedua sahabat baru Alma ikut di belakang. Sementara Gendar Saya masuk ke dalam kamar menemui mantan tunangannya.
Ternyata di teras dan di depan rumah panggung bambu itu ada berkumpul para lelaki Kampung Siluman, yang jumlahnya lebih dua puluh orang. Mereka itu yang sedang bebas tugas dari kerja pembangunan.
Sebagian lelaki Kampung Siluman sedang bekerja membangun benteng yang hancur dalam perang beberapa waktu yang lalu. Ada pula yang menggali parit di sekitar kaki bukit.
Ketika Alma Fatara muncul di teras rumah, semua mata para lelaki itu terpusat kepada Alma. Selain mereka menikmati kecantikan kelas artis itu, mereka juga ingin tahu komando apa yang akan diberikan kepada mereka oleh komandan baru mereka.
Terlihat pula beberapa warga wanita yang ada di teras rumah lain memandang ke teras rumah Kirak Sebaya.
__ADS_1
Kedatangan Alma Fatara dan kedua temannya sudah didengar oleh semua warga Kampung Siluman, membuat mereka yang sedang dilanda duka dan ketakutan menggantungkan harapan yang tinggi kepada Alma.
Alma Fatara berdiri diam sejenak di teras itu sambil memandangi lingkungan Kampung Siluman yang bertanah datar.
Alma Fatara lalu melompat enteng meninggalkan teras panggung dan mendarat ringan di tanah yang berdebu. Dia kemudian memandang berputar, melihat sisi-sisi yang sebelumnya belum terlihat. Dia tidak peduli bahwa semua orang sedang memerhatikan dan menunggunya.
Jleg!
Hingga kemudian, Lingkar Dalam yang juga melompat dari teras mendarat di sisi Alma.
“Bagaimana?” tanya Lingkar Dalam.
“Biasanya para pendekar itu datang lewat mana?” tanya Alma Fatara kepada pemuda yang sempat menaruh hati kepadanya itu.
“Mereka dengan mudah mendaki bagian benteng yang belum diperbaiki,” jawab Lingkar Dalam.
“Jika mereka datang, apakah sudah bisa dilihat sejak mereka berada di bawah?” tanya Alma lagi.
“Iya. Aku sudah menugaskan mereka yang bekerja menggali parit agar memberi tanda jika para pendekar itu datang menyerang,” jawab Lingkar Dalam.
“Aku ingin kalian membuat alat yang bisa melempar minyak dengan cara cepat. Mungkin seperti ketapel besar atau sejenisnya,” ujar Alma.
“Baik,” jawab Lingkar Dalam.
“Pipa minyak akan kita rakit ulang dan akan kita lubangi sesuai keperluan!” perintah Alma Fatara.
“Baik.”
“Laksanakan!” perintah Alma Fatara laksana seorang komandan.
“Siap, Alma!” pekik Lingkar Dalam.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat kepatuhan Lingkar Dalam.
Lingkar Dalam lalu memanggil semua para lelaki. Dia lalu mengatur tugas bagi para lelaki Kampung Siluman itu.
__ADS_1
Sementara Alma Fatara dan kedua anak bangsawan hanya memantau pekerjaan orang-orang kampung. Sesekali Alma memberi tahu tentang apa maunya. (RH)