Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 17: Obat dan Siksa


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


“Aaak ...!” jerit panjang Kelapa Berbulu yang sedang disiksa oleh warga Kampung Siluman di tengah tanah lapang.


Alma Fatara yang mendengar hal itu tidak tertarik untuk pergi melihat apa yang terjadi terhadap Kelapa Berbulu. Dia lebih fokus untuk mengobati Pangeran Arguna yang sedang sekarat dan dalam kondisi basah kuyup. Sang pangeran diobati di balai-balai babu di bawah sebuah rumah panggung.


Sebelumnya, Sabung harus mengumpulkan air dari rumah ke rumah agar terkumpul banyak dan bisa di jadikan kolam darurat bagi Arguna. Tepatnya bak mandi darurat.


Posisi tinggi di bukit batu membuat Kampung Siluman tidak memiliki sumber air. Selain mengandalkan air hujan, mereka lebih banyak mengandalkan air yang diambil di mata air hutan dengan cara dipikul ke kaki bukit lalu dikerek naik ke atas menggunakan tali.


Dengan merendam tubuh Arguna di air, itu membantu tubuh Arguna untuk menjadi lambat menuju kematian karena panas dalam tubuh. Setelah itu, barulah Alma kembali menggunakan jasa Bola Hitam untuk mengobati kakak dari Manila Sari tersebut.


Sementara itu, Lingkar Dalam juga mengalami luka dalam, tetapi nyawanya masih bisa dinomorduakan dibandingkan nyawa Arguna.


Kirak Sebaya sebenarnya juga menderita luka dalam akibat bentrok dengan Salak Gempur. Namun, dia tidak mau meminta diobati lagi oleh Alma Fatara karena malu, sebab baru saja kemarin dia diobati. Apalagi luka dalamnya lebih ringan dibandingkan Kepala Kampung dan Arguna.


“Aaak ...!”


Dari jauh semakin sering terdengar jeritan keras dan panjang Kelapa Berbulu.


Alma Fatara tetap fokus kepada proses pengobatannya. Sementara itu, Manila Sari terlihat cemas menunggu hasil pengobatan kakaknya, apakah positif atau negatif.


“Tidak usah khawatir, Gusti Putri. Gusti Pangeran sudah melewati masa terburuknya,” kata Nenek Gendar Sayu mencoba memberi sedikit ketenangan kepada Manila Sari.


“Hehehe! Uhhuk uhhuk!” kekeh Kirak Sebaya yang berdiri di sisi istri tuanya. Namun, kekehannya berujung batuk-batuk kecil.


“Jika bisa, jangan bertarung dulu, Kakang,” kata Nenek Gendar pula kepada suaminya.


“Iya, iya. Aku merasa cukup tenang setelah melihat hasil pertarungan pagi ini. Meski di pihak kita banyak yang terluka, tetapi di pihak mereka juga sudah ada yang sampai mati. Mereka pasti akan berpikir ulang jika mau menyerbu ke sini lagi,” kata Kirak Sebaya.


“Tapi bagaimana dengan Lilia Seharum?” tanya Nenek Gendar, merujuk kepada adik gadis Lingkar Dalam yang diculik oleh kelompok 13 Buah Kematian.


“Karena itulah pendekar yang ditelanjangi itu sedang disiksa. Jika dia tidak mau bicara, mungkin Alma Fatara akan mencari seorang diri. Atau juga bersama Kepala Kampung jika dia diobati dengan Bola Hitam,” jawab Kirak Sebaya.

__ADS_1


“Suara jeritan orang itu berhenti,” kata Manila Sari tiba-tiba.


Terdiamlah Kirak Sebaya dan Nenek Gendar. Mereka diam untuk menunggu terdengarnya suara jeritan Kelapa Berbulu.


Benar kata Manila Sari, suara jeritan Kelapa Berbulu tidak terdengar lagi dalam durasi yang agak lama jika dibandingkan dengan yang sebelumnya.


“Mungkin orang itu sudah mati,” duga Kirak Sebaya. “Biar aku pergi melihatnya.”


Namun, baru juga Kirak Sebaya berbalik, dari arah luar datang berlari seorang pemuda kampung yang mengenakan baju merah milik Kelapa Berbulu. Dia bernama Mokso.


“Panglima Kampung!” panggil Mokso dengan wajah yang serius. Dia berkeringat setelah bekerja keras menyiksa Kelapa Berbulu.


“Apakah orang itu sudah kalian bunuh, Mokso?” tanya Kirak Sebaya yang menghentikan langkahnya.


“Tidak, Panglima. Orang itu setuju mau berbicara,” jawab Mokso.


“Jika begitu kembalilah. Jangan siksa lagi. Tunggu Alma pergi ke sana,” kata Kirak Sebaya.


“Baik, Panglima,” ucap Mokso patuh.


Butuh waktu selama makan satu kepiting rebus, barulah Alma Fatara menyatakan selesai mengobati Arguna.


“Terima kasih, Alma,” ucap Arguna yang sudah sehat dengan kondisi masih lemah dan menyisakan rasa sakit pada seluruh tubuhnya.


“Hahaha! Nanti Kakang Pangeran akan terbiasa menderita kondisi seperti ini,” kata Alma Fatara yang didahului dengan tawanya. “Kakang Pangeran istirahatlah dulu.”


Alma Fatara berdiri dari kursi bambunya.


Kirak Sebaya datang menghampiri gadis berjubah hitam itu.


“Alma, orang itu sudah mau bicara,” ujar Kirak Sebaya kepada Alma.


“Iya, Kek,” ucap Alma seraya tersenyum, padahal ia pun mendengar laporan Mokso tadi.

__ADS_1


Alma Fatara lalu berjalan pergi meninggalkan bawah rumah panggung tersebut. Kirak Sebaya mengikuti di belakang. Untuk sementara Alma Fatara menunda untuk menangani luka dalam Lingkar Dalam.


“Alma datang!” teriak seseorang yang tidak terlihat mukanya, karena terhalang keramaian warga yang mengelilingi area tiang bambu.


Kerumunan orang itu segera membuka jalan bagi Alma Fatara, seperti pintu yang memiliki sensor, pintu kaca yang suka terbuka sendiri jika didekati dan akan menutup jika dijauhi.


Alma Fatara berjalan masuk ke dalam lingkaran manusia, hingga dia dan Kirak Sebaya berdiri di dalam kurungan massa. Semua warga tidak ada yang berani berbicara, membuat suasana terkesan tegang dalam keheningan.


Ternyata kondisi Kelapa Berbulu sudah sangat mengenaskan. Tubuhnya penuh dengan luka, darah dan keringat. Dia masih busikit, tetapi itu tidak membuat kaum hawa menjadi genit kegirangan.


Di bawah kedua kaki Kelapa Berbulu ada tumpukan kayu bakar yang masih membara, tapi sudah tidak berkobar karena apinya sudah dipadamkan. Kedua kaki Kelapa Berbulu menderita luka bakar yang parah. Itu salah satu penyebab Kelapa Berbulu menjerit panjang karena tidak kuat menahan panasnya api.


Pada tubuh dan tangan Kelapa Berbulu ada banyak luka sayatan senjata tajam yang masih mengalirkan darah segar.


Alma Fatara pergi satu tombak ke hadapan Kelapa Berbulu. Dia tidak peduli dengan segitiga pengaman yang tepat ada di depan matanya. Kelapa Berbulu menatap sayu Alma, yang kini dilihatnya lucu menggemaskan karena sedang tersenyum kepadanya.


“Siapa namamu, Kakang?” tanya Alma Fatara, mengulang pertanyaannya yang beberapa waktu lalu belum dijawab oleh Kelapa Berbulu.


“Ke ... la ... pa Berbulu,” jawab lelaki yang sudah sangat lemah itu sembari mengerenyit menahan rasa sakit yang begitu pedih di seluruh tubuh, baik itu luka bakar, sayatan, memar atau patah tulang.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara tiba-tiba, membuyarkan suasana tegang yang sedang berproses.


“Hahaha!”


Tawa Alma Fatara ternyata menular bagi mereka yang bisa mendengar jawaban Kelapa Berbulu.


“Apakah benar itu namamu, Kakang?” tanya Alma setelah mengontrol sikapnya, agar lelaki yang digantung itu tidak begitu tersinggung jika namanya benar adalah Kelapa Berbulu.


“Be-benar,” jawab Kelapa Berbulu.


“Baiklah, Kakang. Perkenalkan, namaku Alma Fatara. Tapi ingat, Kakang sangat aku larang jatuh hati kepadaku. Hahaha!” ujar Alma Fatara lalu tertawa.


Sebenarnya, jika kondisi Kelapa Berbulu normal, dia pasti akan tertawa terbahak melihat kocaknya kecantikan Alma Fatara. Namun, dalam kondisi seperti itu, sedikit pun dia tidak berselera untuk tertawa.

__ADS_1


“Sesuai kata-kataku sebelumnya, nyawa Kakang aku jamin jika mau berbicara,” ujar Alma Fatara. (RH)


__ADS_2