Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 42: Eksekusi Bola Hitam


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


 


Kolam Merah telah menjadi lautan api biru. Dalam kondisi bugil total alias buto, Raja Tombak Iblis bebas bergerak di dalam kobaran api yang setinggi pinggang karena dia kebal terhadap api.


Di sisi lain, Alma Fatara yang menjadi lawannya mengandalkan kekuatan Benang Darah Dewa untuk berdiri lebih tinggi dari lidah-lidah api.


Para penonton yang memenuhi pagar pembatas Kolam Merah dan tribun di seluruh sisi, semakin bergemuruh dan tegang menyaksikan pertarungan yang kian memanas. Dengan adanya lautan api, jelas suasana di tempat itu kian panas.


Sementara itu, murid-murid Raja Tombak Iblis dilanda kesedihan, kemarahan dan kepasraahan melihat kondisi guru mereka yang sangat memprihatinkan. Mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dari perkembangan pertarungan itu, mereka jadi pesimis terhadap kemampuan guru mereka. Alma Fatara menggunakan cara yang hampir sama ketika membantai 13 Buah Kematian untuk mengalahkan Raja Tombak Iblis.


Namun, Alma Fatara belum juara, dia masih menang angka dari Raja Tombak Iblis.


“Hahahak!” Bungkuk Gila dan sejumlah penonton masih tertawa-tawa melihat kondisi Raja Tombak Iblis yang buto. Mending jika masih muda, masih cukup enak untuk dilihat meski oleh sesama lelaki.


Saat ini pertarungan di Kolam Merah memasuki tahapan yang lebih serius.


Sets sets sets...!


Ziiing!


Raja Tombak Iblis melesatkan kesepuluh tombak sinar merah menyilaukannya yang sudah seperti sepuluh jet tempur, menyerang ke arah Alma Fatara.


Pada saat yang bersamaan, Alma Fatara melempar Bola Hitam yang melesatkan piringan sinar biru.


Bsoarss!


Kali Alma tidak melempar piringan sinar biru jauh berputar, tetapi langsung menghantam rombongan tombak sinar merah dari samping. Piringan sinar biru berhasil menghantam dua tombak sinar dengan sama-sama hancur.


Dengan hancurnya dua tombak sinarnya, tubuh Raja Tombak Iblis tampak terguncang.


Delapan tombak sinar merah tetap menyerang Alma Fatara berjemaah.


Kedua ujung Benang Darah Dewa menggenjot kuat, membuat Alma Fatara melenting mengudara, membiarkan kedelapan tombak sinar itu lewat di bawah tubuh si gadis ompong.


Bsoarss!


Di saat lawannya terpaksa mengudara tinggi dengan saltonya yang berputar cepat, Raja Tombak Iblis merasa mendapat cela bagus untuk menyerang lagi. Maka dia melepaskan ilmu Lurus Menuju Kematian.


Segaris lurus dan tebal, sinar cokelat bening melesat ke atas. Namun, Alma Fatara sudah bersiap. Dia tahu bahwa selain posisi bagus untuk menyerang, posisi mengudara adalah kondisi yang minim pertahanan. Karenanya dia sudah mempersiapkan penangkal jika lawan mengambil kesempatan itu.


Swesss!


Bluarrr!


“Huakr!” pekik Raja Tombak Iblis.


“Hekk!” pekik Alma Fatara pula.


Ujung sinar cokelat disongsong oleh sinar emas menyilaukan mata yang melesat keluar dari putaran tubuh Alma Fatara.


Pertemuan dua kesaktian tinggi itu menciptakan ledakan dahsyat yang sejenak mengguncang tempat itu. Dinding-dinding Kolam Merah sampai berompalan kecil-kecil. Para penonton yang berdesakan di pagar pembatas di atas kolam, terdorong hingga jatuh berjemaah ke belakang, bahkan saling tindih.


“Hahaha!” tawa para penonton yang ada di tribun melihat kejadian kocak itu.


Akibat ledakan dua kesaktian itu, Raja Tombak Iblis terlempar jauh dengan darah termuntah dari dalam mulut. Tubuhnya jatuh bergulingan di dalam lautan api.


Sementara Alma Fatara juga terlempar dan jatuh di lautan api biru. Para penonton yang melihat itu menjadi tegang, karena di dalam pikiran mereka adalah bayangan di mana Alma Fatara akan terbakar, atau bisa berkondisi buto seperti Raja Tombak Iblis.

__ADS_1


Namun, mohon maaf. Bayangan Alma akan buto jauh panggang dari api. Sebelum tubuh Alma Fatara yang tidak terkendali itu masuk ke lautan api, Benang Darah Dewa lebih dulu menusuk lantai dan menggenjot seperti pegas. Hal itu membuat tubuh berjubah hitam kembali mencelat naik dan jauh ke pinggiran Kolam Merah yang lantainya tidak terbakar.


Kali ini Alma Fatara mendarat dengan kedua kakinya, tapi agak terhuyung.


“Uhhuk!” Alma Fatara terbatuk sekali, setelahnya ada cairan merah yang keluar dari celah bibir gadis belia itu.


“Alma!” pekik Manila Sari terkejut.


“Almaaa!” teriak Lingkar Dalam pula khawatir.


Alma Fatara menyeka darah pada bibirnya. Dia menatap kepada sosok berapi merah nun jauh di sana yang bangkit dari dalam lautan api biru.


Ziiing! Ziiing!


Alma Fatara memutar Bola Hitam di atas kepalanya yang kembali memunculkan piringan sinar biru. Piringan sinar biru itu dilemparkan jauh ke samping lalu berbelok memutar menuju posisi Raja Tombak Iblis.


Alma Fatara kembali melempar piringan sinar biru yang kedua.


“Aaakrr!” teriak Raja Tombak Iblis yang sudah berwujud manusia api.


Dia berteriak tanpa mencoba menghindari serangan piringan sinar biru atau memasang perisai sinar hijau bermotif sarang lebah.


Zeng!


Piringan sinar biru menghantam tubuh Raja Tombak Iblis.


Hebat. Tubuh Raja Tombak Iblis tidak terpotong, tapi hanya terdorong empat langkah ke belakang.


Zeng!


Kejap berikutnya, piringan sinar biru kedua menghantam tubuh Raja Tombak Iblis tanpa ampun.


Sebenarnya, Raja Tombak Iblis sudah banyak memuntahkan darah, tapi karena tubuh dan wajahnya diselimuti api, itu tidak terlihat.


“Aaarkk!” teriak keras Raja Tombak Iblis sambil bangkit berdiri. Teriakan itu seolah-olah ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa dia masih kuat untuk bertarung.


Posisi Alma Fatara dan Raja Tombak Iblis semakin berjauhan.


Dengan Bola Hitam tergenggam di tangan, Alma Fatara lalu memutuskan melompat dan berlari di atas lidah-lidah api. Dengan bantuan Benang Darah Dewa sebagai kaki, Alma Fatara bisa berlari lebih tinggi dari lidah-lidah api biru yang mulai memendek.


Bsuuus!


Kembali Raja Tombak Iblis memunculkan sepuluh tombak sinar merah menyilaukan yang melayang di sekitar tubuhnya.


Sets sets sets...!


Set! Syeeessf!


Raja Tombak Iblis melesatkan kesepuluh Tombak Iblisnya sebelum Alma Fatara mendekatinya.


Tidak seperti sebelumnya, kali ini Alma Fatara menantang serangan itu dengan penuh keyakinan. Dia melempar Bola Hitam yang tidak populer di dunia persilatan Negeri Sembunyi.


Terkejut semua orang, kecuali Alma sendiri. Mereka melihat Bola Hitam berhenti dalam lesatannya ketika berhadapan dengan sepuluh tombak sinar merah. Dalam proses yang sangat cepat, Bola Hitam menyedot semua tombak sinar masuk ke dalam dirinya. Sedotan itu membuat tombak sinar habis tidak tersisa di udara.


Kejadian itu sukses membuat Raja Tombak Iblis terpaku tercengang. Namun, detik berikutnya, Raja Tombak Iblis dibuat terkejut dan mati kutu.


Sets! Bluar!


Tiba-tiba Bola Hitam yang berhenti di udara menembakkan segaris sinar merah menyilaukan.

__ADS_1


Yang jadi masalah bagi Raja Tombak Iblis, lesatan sinar merah itu secepat kilat dan tahu-tahu sudah mengenai dirinya.


Mohon maaf. Dengan berat hati, Raja Tombak Iblis harus dinyatakan mati saat itu juga. Tubuhnya hancur berkeping-keping menjadi serpihan daging tanpa wujud sempurna.


“Guruuu!” teriak anggota Kelompok Tombak Iblis histeris menyaksikan kehancuran raga guru mereka.


“Siuuu!” sorak para penonton kompak setelah mereka terpaku dua detik karena terkejut.


Bola Hitam melesat balik ke dalam genggaman Alma Fatara.


“Hidup Dewi Gigi Ompong!” teriak Bungkuk Gila keras.


“Ompooong!” sahut orang kebanyakan menyambut kemenangan Alma Fatara, meski mereka kalah bertaruh.


“Hidup Dewi Gigi Ompong!” teriak Bungkuk Gila lagi.


“Ompooong!”


“Hidup Dewi Gigi Ompong!”


“Ompooong!”


“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara mendengar pengelu-eluan itu. Terlihat jelas keompongan Alma Fatara saat tertawa dan terlihat jelas banyak darah di dalam mulutnya.


Sambil tertawa berkepanjangan, Alma Fatara lalu berlari di atas lautan api menuju ke pintu ruang gantinya.


Pertarungan pun selesai dengan menyisakan kegembiraan bagi yang menang taruhan, kekecewaan bagi yang kalah dan kedukaan bagi anggota Kelompok Tombak Iblis.


“Kita kembali!” perintah Rajabali Gali kepada anggota kelompok lainnya.


“Bagaimana dengan Guru?” tanya Taring Goreng.


“Sudah mati ya mati. Jika ada orang lain yang mengurusnya, kenapa kita mesti mengurusnya,” jawab Rajabali Gali.


Kini, giliran para karyawan di kasir judi yang harus bekerja sibuk untuk melayani pertukaran pita hijau.


“Ayah, Ibu, akhirnya dendammu sudah lunas terbayar,” ucap Lingkar Dalam lirih sembil memandang ke langit dengan mata berkaca-kaca.


“Hahahak! Dewi Gigi Ompong memang membawa rezeki melimpah. Hahaha!” tawa Bungkuk Gila yang datang ke kasir judi dengan membawa empat pita hijau untuk ditukarkan dengan uang.


“Bungkuk Gila!” seru empat lelaki berperawakan pendekar menghadang Bungkuk Gila. “Itu pita kami yang kau curi!”


“Hehehe!” kekeh Bungkuk Gila. “Memang iya. Aku akan kembalikan, tapi kalian harus berjanji memberiku sekepeng dua kepeng.”


“Baiklah. Kami pun sadar tidak akan bisa menang jika bertarung denganmu,” kata pendekar yang lain.


Akhirnya Bungkuk Gila dan keempat pemilik pita sepakat berdamai.


Alangkah girangnya Manila Sari karena menang taruhan lagi. Ia jadi suka dengan dunia judi.


“Jika kau terlalu mencolok memiliki uang banyak, bisa-bisa kau akan menjadi sasaran penjahat,” pesan Laris Manis.


“Hihihi!” Manila Sari hanya tertawa menyikapinya.


Sementara di atas tribun VIP, Sunting Awan menyerahkan pitanya kepada Penguasa Nyawa Dari Gunung Monyet.


“Aku hadiahkan kemenanganku untukmu, Penguasa Nyawa,” kata Sunting Awan sembari tersenyum.


“Terima kasih, Tetua. Hahaha!” ucap Penguasa Nyawa lalu tertawa ringan.

__ADS_1


Sunting Awan lalu melangkah pergi dengan didampingi oleh Nates Aya. (RH)


__ADS_2