
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Ternyata Putri Manila Sari yang menghilang sedang memanjakan kudanya dengan memberinya makan dan menyisiri surainya, mungkin sekaligus untuk mengecek apakah kutuan atau tidak. Padahal pekerjaan itu sudah tugas kekasih kuda yang mengurus kuda Manila Sari.
Kepada Alma Fatara dia mengaku suntuk jika berada di dalam kamar terus seperti gadis pingit yang mau dikawinkan.
Tidak berapa lama, Geladak Badak dan Bambu Jangking datang menemui Alma Fatara dalam kondisi sudah berperut gelitik (gendut lima centi sedikit).
“Ayo, Alma, Manila! Kita ke Kolam Merah!” ajak Geladak Badak. “Orang-orang sudah pada pergi ke sana.”
Mereka berempat pun pergi menuju ke pintu masuk arena Kolam Merah. Memang, terlihat sejumlah orang, pendekar dan warga biasa, berjalan menuju ke suatu tempat. Letaknya ada di sisi samping peniduran dan agak ke belakang.
Pintu masuk ke tempat arena Kolam Merah berada seperti sebuah mulut gua yang kemudian ada tangga menuju ke bawah.
Di mulut gua itu ada tiga orang lelaki berbadan besar berotot seperti anggota klub binaragawan. Mereka berseragam jingga, warna yang membuat mereka terlihat lebih manis dibandingkan jeruk manalagi.
Dua orang dari mereka bertugas meminta biaya masuk yang tidak lebih mahal dari harga segitiga pengaman. Sementara satu lagi bertugas mengawasi, kalau-kalau ada orang tua nakal yang mencoba menyerobot masuk tanpa mau membayar.
Kali ini Alma Fatara mendapat traktiran biaya masuk dari Geladak Badak.
Mereka berempat masuk dan mengikuti arah lorong yang pada dinding kanan dan kirinya dihiasi lampu-lampu minyak.
Setelah berjalan masuk lebih dari dua puluh tombak, mereka berbelok kanan dan kembali menuruni tangga yang lebar memanjang.
Dari titik itu sudah terdengar suara keramaian manusia yang berteriak-teriak liar. Ketika mereka turun keluar dari lorong, maka tibalah mereka di sebuah ruangan yang luas dan terbuka karena bagian atasnya adalah langit bebas.
Banyak orang yang mengelilingi pagar batu setinggi pinggang. Mereka bahkan berdesakan menyaksikan apa yang terjadi di dalam sebuah kolam besar yang kering.
Di sekeliling pagar batu itu adalah tribun berundak yang memungkinkan orang berposisi belakang tetap bisa melihat ke dalam kolam batu dengan leluasa. Dan yang paling belakang dari tribun itu adalah dinding batu yang lurus ke atas, mengelilingi tempat besar itu. Jadi tempat itu seperti lubang batu raksasa.
Tepat berseberangan arah dengan tangga masuk ke tempat tersebut, ada tribun yang didesain lebih tinggi dan menonjol. Meski tribun itu tanpa kaca, tetapi posisinya menunjukkan bahwa itu tribun VIP. Terlihat ada sejumlah orang berpakaian bagus ala bangsawan duduk di sana, ada satu lelaki dan dua wanita. Sepertinya mereka adalah petinggi di tempat itu atau tamu VIP. Di belakang mereka berdiri berbaris sejumlah lelaki berbadan besar berotot dan berseragam jingga. Mereka berdiri diam seperti patung keamanan.
Semua perhatian tertuju ke dasar kolam. Di sana ada dua lelaki sedang bertarung serius sampai berdarah-darah. Lelaki bertubuh besar yang bersanjata kapak bergagang panang sudah menderita beberapa luka senjata tajam. Darah sudah banyak menetes di lantai kolam yang berwarna merah gelap.
__ADS_1
Sementara lawannya yang bertubuh lebih kurus dan kecil hanya menderita luka berdarah di hidungnya. Dia bersenjatakan dua pedang kecil bagus. Dengan lihainya dia bisa memutar-mutar pedangnya di tangan.
Lelaki besar berkapak memiliki ikat kepala pita warna hijau. Sementara pendekar bersenjata pedang kembar memiliki ikatan pita kuning pada lengan kirinya.
Banyak dari penonton yang tidak berhenti berteriak, baik itu meneriaki jago yang didukungnya atau mencaci pendekar yang tidak dipilihnya, memegang secarik pita. Ada yang memegang pita warna hijau dan ada yang memegang warna kuning. Warna pita itu menunjukkan bahwa penonton itu bertaruh untuk kemenangan pendekar yang berpita warna sama.
Nanti, jika jago mereka menang, mereka tinggal menukarkan pita itu ke kasir judi. Jumlah taruhan pun hanya satu macam. Rata. Sesederhana itu.
Jika ada pertarungan baru, maka mereka akan memasang taruhan lagi dan mengambil pita baru dengan kode yang berbeda. Jadi pemilik arena tarung Kolam Merah menyetok banyak pita dua warna saja, yaitu hijau dan kuning. Pita-pita itu akan diberi tanda khusus untuk menghindari adanya manipulasi pita dari penjudi tidak bermodal.
Namun, banyak pula penonton yang tidak memegang pita apa-apa. itu menunjukkan bahwa mereka tidak bertaruh, hanya sekedar menonton.
Orang-orang yang gila judi bisa terlihat dari muatan pinggang mereka. Ada yang menggantung berkantung-kantung uangnya di pinggang, tanpa takut ada yang mencopet. Tempat itu dilengkapi banyak CCTV bernyawa, yaitu orang-orang berseragam ungu semanis anggur. Mereka bertugas mengawasi situasi, termasuk memastikan bahwa tempat itu bebas dari copet. Dan yang membuat pencopet tidak berani beraksi di tempat itu, jika mereka tertangkap, akan langsung dieksekusi mati.
“Ternyata di kotabatu ini banyak sekali pendekar,” kata Manila Sari saat melihat banyak orang-orang berpakaian pendekar dan bersenjata.
Memang bisa dibedakan model pakaian antara pendekar dan warga biasa atau sekedar bangsawan. Di beberapa daerah perkotaan di Negeri Sembunyi memang sangat memerhatikan model dan gaya pakaian. Style berpakaian dinilai menjadi identitas penting bagi seseorang, apalagi seorang pendekar. Jadi akan sangat jarang menemui seorang pendekar yang tidak berbaju, apalagi dia seorang pendekar wanita.
“Pertarungan Kolam Merah sudah menjadi daya tarik bagi pendekar luar Kotabatu Niwakmaya untuk datang. Ada yang datang untuk menonton saja karena penasaran. Ada yang datang untuk unjuk kesaktian dan mempopulerkan nama. Ada juga yang datang untuk menyelesaikan dendam, seperti Laris Manis kepada suaminya yang berambut ilalang itu,” jelas Bambu Jangking cukup keras, agar suaranya tidak tenggelam oleh bisingnya keramaian.
Seriusnya para penonton kepada pertarungan maut di dasar kolam, membuat kecantikan Alma Fatara dan Manila Sari tidak menjadi perhatian. Namun tidak bagi tiga orang yang duduk di atas tribun VIP. Perhatian mereka tertuju kepada Alma Fatara dan Manila Sari karena mereka sudah mengenal Geladak Badak dan Bambu Jangking. Orang-orang di tribun istimewa itu terlihat saling berbicara sambil memandang kepada Alma dan Manila Sari.
“Kita di sana saja, karena kita tidak ikut bertaruh!” kata Geladak Badak menunjuk di bagian tribun yang agak tinggi.
“Siapa yang bertarung itu?” tanya Alma Fatara sambil mengikuti Geladak Badak.
“Yang besar bernama Pendekar Belah Kelapa dan yang berpedang bernama Berunuk,” jawab Geladak Badak.
“Lalu siapa yang di atas sana?” tanya Alma Fatara lagi tanpa memandang ke tribun VIP.
“Yang dua wanita cantik bernama Nates Aya dan Silbi Aya, pemilik arena ini. Yang lelaki adalah Penguasa Nyawa Dari Gunung Monyet, sepertinya dia menjadi tamu khusus,” jawab Geladak Badak.
Mereka sudah berdiri di salah satu undakan tangga batu tribun dan memfokuskan pandangan kepada pertarungan di Kolam Merah yang sepertinya sudah menuju akhir.
“Badak, apakah kau tahu bahwa kedua Aya itu suka mengambil pendekar tampan yang menang sebagai badak tunggangan?” tanya Bambu Jangking.
__ADS_1
“Tahu. Tapi untuk kuda tunggangan, bukan badak!” jawab Geladak Badak dengan nada sewot.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara.
“Bagaimana caranya jika ingin bertaruh?” tanya Manila Sari tiba-tiba.
“Kau mau bertaruh, Putri?” tanya Alma Fatara terkejut.
“Hah! Putri?” sebut ulang Geladak Badak dan Bambu Jangking terkejut pula, tapi beda yang dikejutkan.
“Manila Sari seorang putri di negeri Tanah Jawi, jadi Paman dan Kakang berdua jangan kurang ajar kepadanya,” kata Alma menegaskan. “Jangan sampai pasukan kerajaan datang ke negeri ini hanya gegara putri ini.”
“Hehehe!” Geladak Badak dan Bambu Jangking hanya terkekeh cengengesan.
“Kita banyak pengeluaran uang di negeri ini, jadi kita butuh pemasukan dari cara yang benar,” kata Manila Sari.
“Putri harus menunggu pertandingan berikutnya. Taruhan untuk pertandingan ini sudah ditutup sejak pertarungan dimulai. Nanti akan diumumkan pertandingan berikutnya, siapa-siapa yang akan bertarung dan siapa yang akan memakai pita hijau dan siapa pita kuning,” jelas Bambu Jangking.
“Nanti ajarkan aku memasang taruhan, Kakang Bambu,” kata Manila Sari yang untuk pertama kalinya menyebut “Kakang” kepada lelaki di negeri itu.
“Baik, Putri,” ucap Bambu Jangking.
“Jangankan mengajarkan memasang taruhan, mengajarkan menyodok bambu juga dia pintar. Hahaha!” celetuk Geladak Badak.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara pula.
“Berunuk menaaang!” teriak satu suara lelaki sangat keras dan menggema. Sangat jelas bahwa teriakannya mengandung tenaga dalam tinggi.
“Siuuu!” sorak para penonton yang bertaruh untuk Berunuk, pendekar yang bersenjata pedang kembar.
Para petaruh yang menang bersorak-sorak liar.
Pendekar Belah Kelapa telah tumbang tanpa nyawa dan bersimbah darah. Dia tewas setekah kapaknya terpotong gagangnya dan satu pedang kecil Berunuk yang menyala hijau menusuk dadanya.
Para penonton yang bertaruh untuk kemenangan Berunuk segera bergerak beramai-ramai menuju ke kasir judi untuk menukar pita kuning mereka. Di sana mereka berdesak-desakan, mirip berebut sembako dari presiden negeri masa depan. (RH)
__ADS_1