Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
PKS 9: Aksi Pasukan Panah Pelangi


__ADS_3

*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*


 


Alma Fatara terbang cepat melewati atas kepala Lima Dewi Purnama, Pangeran Sugang Laksama, Pasukan Sayap Panah Pelangi, Tombak Pemanis dan kedua pembawa bendera.


Alma Fatara terbang menantang kedatangan rombongan panah-panah sinar merah yang dilepaskan oleh pasukan panah berpakaian hitam di seberang jembatan. Dia melesatkan Bola Hitam menyambut serangan panah sinar.


Set! Syeeeff!


Bola Hitam melesat dan berhenti melayang diam di udara. Mengejutkan pasukan panah penyergap, ketika melihat panah-panah sinar mereka tersedot masuk semuanya ke dalam bola hitam.


Saat semua sinar panah itu habis tersedot, sedetik kemudian....


Set! Bluarr!


Dari Bola Hitam tiba-tiba melesat segaris sinar merah dengan kecepatan yang terlalu cepat.


Sinar itu langsung menghantam satu tubuh dari pasukan panah yang berbaris menutupi jalan. Tubuh itu meledak yang gelombang ledakannya melempar semua orang, termasuk pemimpinnya.


“Sayap Panah Pelangi!” seru Alma Fatara sambil menangkap kembali Bola Hitam yang pulang ke tangannya.


Senyumi Awan dan kesembilan rekannya kompak melompat dari punggung kudanya lalu berlari di udara. Meski kaki berlari di udara, tetapi tangan bekerja cepat melepas anak panah dari busurnya.


Set set set...!


Sebanyak sepuluh anak panah yang mengandung tenaga dalam dan dua anak panah sinar putih melesat deras, menyerbu pasukan panah yang sedang berantakan kondisinya oleh ledakan keras tadi.


Tsuk suk suk...!


“Aak! Aak! Akh...!” Para pemanah tidak dikenal itu berjeritan ketika panah-panah kiriman para wanita cantik menancapi tubuh mereka, termasuk dua panah sinar putih yang menjebol tubuh.


Dalam waktu singkat itu, jumlah penyergap yang masih hidup berkurang drastis.


Menyaksikan pasukannya berguguran hanya sekali serbuan panah, lelaki berpakaian merah gelap segera bertindak cepat. Dia cepat menarik senar busurnya berulang-ulang dengan arah bidikan sembarang.


Set set set...!


Setiap kali senar busur dilepas, muncul anak panah sinar merah yang melesat jauh ke mana saja, bukan mengarah musuh yang mereka sergap. Sebanyak sepuluh panah sinar merah melesat pergi berpencar arah.


Sejenak Alma Fatara dan pasukannya memandangi kepergian sepuluh anak panah sinar merah itu. Ada yang terbang ke langit, ke utara, ke barat, dan lainnya.


Di saat itu juga, Tampang Garang telah menarik kembali busur panah pusakannya.


“Penombak Manis, tetap waspada!” seru Alma Fatara.


“Baik, Gusti!” sahut Penombak Manis yang paham dengan maksud ratunya.

__ADS_1


Sementara itu, Gagap Ayu dan keempat anak buahnya berkelebat dan turun di sekitar posisi Alma Fatara. Tahu-tahu Mbah Hitam sudah berdiri di sisi kanan Alma.


Set set set!


Sepuluh anak panah sinar putih melesat menyeramkan menyerbu pemimpin penyergap.


Syuf!


Untuk menangkal serangan sepuluh panah sinar putih, pemimpin penyergap menciptakan dinding sinar merah dengan kedua tangannya.


Bos bos bos...!


“Aaak!” jerit pemimpin penyergap itu tinggi dan panjang. Dia tidak menyangka bahwa ilmu perisainya bisa jebol oleh panah sinar putih.


Tubuh pemimpin penyergap itu tumbang dengan sepuluh bolongan hangus yang kemudian mengeluarkan darah. Nyawanya sudah tidak tertolong.


“Ketua!” sebut dua anak buah yang tersisa dan belum menjadi target panah. Mereka terkejut menyaksikan pemimpin mereka tewas dengan cepat.


“Sayap Panah Pelangi siap! Serangan panah sinar datang!” teriak Penombak Manis yang bisa melihat jarak jauh.


Senyumi Awan dan kesembilan rekannya segera memasang busur lagi, tapi kali ini anak panahnya berselimut sinar ungu. Mereka bersiaga.


“Selatan!” teriak Penombak Manis.


Set! Set! Ctar!


“Selatan! Barat!” teriak Penombak Manis lagi.


Embun Bunga dan Aren Jingga cepat berbagi arah dan melepaskan anak panah sinar ungunya.


Ctar ctar!


Dua ledakan nyaring terjadi di udara.


“Timur timur timur!” teriak Penombak Manis lagi.


Giliran Sekar Mekar, Jentik Melati dan Bayu Semilir yang memanah ke arah timur menyongsong tiga panah sinar merah yang datang berurutan. Ketiganya sukses manganulir tiga panah itu.


“Dua hutan kiri!” teriak Penombak Manis.


Giliran Yuyun Serindu dan Serintik yang bertugas menahan dua anak panah sinar merah yang muncul dari balik pepohonan sisi kiri rombongan. Kali ini, kedua anggota Sayap Panah Pelangi itu memanah lebih cepat karena serangan baru terlihat ketika jarak sudah dekat.


Ctar ctar!


Namun, upaya Yuyun Serindu dan Serintik berhasil seperti yang lainnya.


“Belakang! Atas!” teriak Penombak Manis.

__ADS_1


Jika serangan datang dari belakang rombongan pasukan, jarak Janda Belia cukup jauh karena ia dan rekan-rekannya ada di sekitar jembatan. Karena itu, Janda Belia cepat melompat kepada Senyumi Awan dan memberikan kakinya.


Senyumi Awan yang paham maksud Janda Belia, segera memberikan kedua telapak tangannya sebagai pijakan. Janda Belia melompat menginjak pautan telapak tangan itu dan Senyumi Awan lalu mendorong pijakan tersebut ke atas.


Janda Belia terlontar tinggi mengudara sehingga dia bisa melihat dengan jelas titik merah yang melesat mengancam personel pasukan yang posisinya paling belakang.


Set! Ctar!


Janda Belia memanah dengan tatapan yang tajam. Usahanya pun tidak sia-sia karena panahnya bisa menghadang panah sinar merah tepat di belakang Pasukan Laba-Laba.


Sementara Bening Hati sukses mencegat panah yang datang dari arah langit.


Sepuluh sudah jumlah panah sinar merah yang ditangkal setelah panas sinar itu pelesiran terlebih dahulu. Dengan demikian, berakhirlah serangan panah dari para penyergap yang tinggal tersisa dua orang plus mereka yang tergeletak di balik semak belukar.


Dua lelaki berpakaian hitam di seberang jembatan segera berlari kabur meninggalkan mayat pemimpin dan rekan-rekan mereka.


Set!


Giliran Tampang Garang yang bertindak. Dia melepas dua anak panah sinar putih.


Bos bos!


“Aaak!” jerit kedua lelaki berpakaian hitam.


Satu menjerit dengan nyawa melayang karena dadanya ditembus panah sinar putih. Satu lagi menjerit dengan nyawa masih di badan karena yang jebol adalah betis kanannya.


“Aaak!” jerit pemanah itu sambil tersungkur di tanah.


“Istirahatkan pasukan!” perintah Alma Fatara kepada Anjengan.


“Baik, Gusti Ratu!” sahut Anjengan.


“Juling Jitu! Gede Angin! Bawa mereka yang terluka untuk diobati!” perintah Alma Fatara lagi.


“Baik, Gusti Ratu!” jawab kedua pendekar pembawa bendera itu.


Maka Juling Jitu segera pergi ke seberang jembatan untuk membawa satu anggota penyergap yang terluka kakinya. Sementara Gede Angin pergi memeriksa semak belukar lebat. Bukan untuk buang hajat, tapi untuk mengambil hajat.


Di semak belukar, Gede Angin menemukan dua orang lelaki berpakaian hitam dalam kondisi terluka parah. Lelaki pertama kehilangan satu tangan yang terpotong rapi. Lelaki kedua terpotong satu kakinya pada bagian betis. Mereka korban dari piringan terbang murid-murid mendiang Wulan Kencana.


Dengan entengnya, Gede Angin mencekeram kedua leher lelaki yang masih hidup itu. Satu tangan, satu leher.


“Hahaha!” Alma Fatara tertawa melihat apa yang dilakukan oleh Gede Angin yang seperti mencekal hewan hasil buruan.


Berbeda dengan Juling Jitu. Dia memaksa tawanannya untuk berjalan terpincang-pincang seperti anggota begal kena timah panas polisi.


Pasukan Genggam Jagad menepi untuk beristirahat sebentar.

__ADS_1


Belik Ludah dan kedua perawat cantiknya segera dipanggil untuk menangani luka ketiga anggota penyergap itu. Ini merupakan tugas pertama bagi Mpit Kenanga dan Mpit Kemangi. (RH)


__ADS_2