Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 22: Pesan untuk Panglima


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


“Hahaha! Salam kenal, Paman-Paman Adipati. Aku Alma Fatara, Dewi Dua Gigi. Dalam perang ini, sebut saja aku Panglima Dewi. Perkenalkan, ini Panglima Utama Pulung Seket yang memimpin semua pasukan Kerajaan Jintamani yang setia kepada Gusti Ratu Warna Mekararum,” kata Alma Fatara kepada ketiga adipati yang ditemuinya di balik bukit.


Meski Panglima Pulung Seket tidak bereaksi, tetapi hatinya bersorak “Yes!” karena disebut “Panglima Utama” yang artinya pangkatnya naik menggantikan mendiang Surap Bentala.   


“Horma kami, Gusti Panglima!” ucap Adipati Argopuro, Adipati Gede Amaro dan Adipati Bali Baginda sambil menjura hormat kepada Panglima Pulung Seket.


Panglima Pulung Seket hanya mengangguk.


Alma Fatara pun tidak lupa memperkenalkan Magar Kepang, Garam Sakti dan Ning Ana.


“Senang bertemu dengan para Gusti Adipati yang perkasa-perkasa!” kata Ning Ana dengan suara yang lantang dan wajah yang jumawa, seolah-olah kedudukannya begitu penting di dalam pasukan itu.


Sebelumnya, pasukan Alma Fatara akhirnya tiba di jalan kaki bukit. Ternyata ketiga adipati yang memimpin pasukan di bukit memutuskan untuk menghadang pasukan Alma Fatara. Itu dilakukan karena ketiga adipati sudah yakin bahwa pasukan pimpinan Alma Fatara adalah pihak yang sama.


“Lalu, apa yang Paman Adipati lakukan di bukit ini?” tanya Alma Fatara.


“Mengintai benteng Ibu Kota dan pasukan yang dipimpin oleh Adipati Lalang Lengir,” jawab Adipati Gede Amaro.


“Apakah kalian bergabung atas bujuk rayu Genggam Sekam dan Sumirah?” terka Alma Fatara.


“Benar,” jawab ketiga adipati bersamaan.


“Lalu di mana Kakang Genggam?”


“Bersama beberapa puluh prajurit, mereka menyamar menjadi pasukan berkuda Kerajaan Jintamani untuk menembus benteng,” jawab Adipati Argopuro.


“Jika demikian, lebih baik kita bergabung dengan pasukan Bibi Lalang Lengir. Tinggal di sini pun percuma, karena pasukan musuh sudah habis di belakang,” kata Alma Fatara memutuskan.


Akhirnya, pasukan tiga kadipaten itu bergabung bersama pasukan Alma Fatara.


Mengikuti pasukan Alma, pasukan tiga kadipaten pun main terang-terangan dengan menyalakan banyak obor. Maka pasukan itu pun menjadi lebih dua ribu personel.


Singkat cerita.


“Gusti Panglimaaa!” teriak Pajrit Kerismon dari atas benteng.


Panglima Galagap jadi tersentak gelagapan sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


“Monyet sangit!” maki Panglima Galagap saat semua sukmanya sudah berkumpul, setelah berkelana bermimpi pergi ke negeri monyet.


“Gusti Panglima, pasukan musuh datang dalam jumlah besar!” teriak Pajrit Kerismon lagi dari atas benteng.

__ADS_1


Panglima Galagap hanya mendongak sebentar memandang dingin kepada Pajrit Kerismon, yang mengaku sebagai fans beratnya. Dia tidak menyahut, tetapi memilih bangkit dari kursinya dan menenteng pedangnya.


Ketika para prajuritnya di atas benteng tegang dan setengah panik, Panglima Galagap justru berjalan santai naik lewat tangga.


Setibanya di atas, dia langsung melihat apa yang dilihat oleh pasukan di atas benteng.


Jauh di depan sana, ada banyak sekali api obor yang memperlihatkan jumlah pasukan yang banyak, yang pasti lebih banyak dari jumlah obornya. Bisa diperkirakan dengan jelas bahwa jumlah pasukan itu lebih banyak dari jumlah Pasukan Keamanan Ibu Kota.


Posisi pasukan musuh itu masih berada jauh dari jangkauan panah belalang. Sementara itu, lautan api yang sebelumnya ada, sudah padam.


“Bangunkan semua prajurit yang tidur!” teriak Panglima Galagap kepada semua pajrit yang beristirahat di sisi bawah dalam benteng.


“Siap, Gusti!” teriak para kepala prajurit, yang kemudian segera membangunkan para prajurit dalam pasukannya yang sudah banyak tertidur.


Sementara itu di basis Pasukan Pembebas Jintamani.


“Di mana Kakang Genggam Sekam, Bibi Adipati?” tanya Alma kepada Adipati Lalang Lengir.


“Berhasil menipu pasukan benteng dan berhasil masuk dengan leluasa ke dalam Ibu Kota,” jawab Adipati Lalang Lengir.


“Wah hebat. Dia mendahului kita,” puji Alma Fatara seraya tersenyum lebar. “Jika sudah ada pasukan yang menyusup masuk, kita tidak perlu buru-buru menyerang masuk ke Ibu Kota. Istirahatkan semua pasukan sampai kita melihat ada tanda apa dari dalam sana. Biarkan mereka tidur agar tenaganya perkasa.”


“Baik, Panglima Dewi,” ucap para adipati yang sudah berkumpul.


“Pasukan Bibi Adipati juga harus menyalakan obor, biarkan pasukan di benteng itu melihat kekuatan pasukan kita dan mereka akan hilang harapan masa depan!” perinta Alma Fatara yang memang didaulat oleh Ratu Tua sebagai Panglima Pasukan Pembebas Jintamani.


“Lalu, bagaimana dengan Gusti Ratu?” tanya Alma Fatara.


“Gusti Ratu membawa seratus pasukan Perguruan Pisau Merah pimpinan Sudigatra lewat jalan rahasia yang akan tembus ke dalam Istana.”


“Kakang Debur Angkara dan Ayu Wicara juga ikut bersama Gusti Ratu?”


“Tidak, tetapi mereka berdua mendapat tugas khusus menjebol penjara.”


Alma Fatara hanya manggut-manggut.


“Kukus Asmara!” panggil Alma Fatara kemudian.


“Siaaap, Panglima Dewiii!” teriak Pajrit Kukus Asmara lantang dan mengalun asik, sambil berlari melenggang mendatangi posisi berkumpulnya para pemimpin. Dia sangat bangga namanya dipanggil di depan para pemimpin pasukan.


“Hahaha!” tawa banyak orang mendengar keunikan kepala prajurit yang satu itu.


“Pergilah bawah surat kepada pemimpin pasukan di atas benteng!” perintah Alma Fatara.


“Siaaap, Panglima Dewiii!” pekik Pajrit Kukus Asmara.

__ADS_1


Dia lalu dibuatkan surat kain yang berisi pesan.


Drap drap drap ...!


Maka dengan berkuda dan membawa sebatang obor, Pajrit Kukus Asmara pergi seorang diri menuju gerbang benteng.


Heranlah Panglima Galagap melihat prajurit berseragam prajurit Kerajaan Jintamani datang seorang diri.


Tidak ada perintah untuk memanah Pajrit Kukus Asmara, terlebih dia dari jauh sudah menunjukkan gulungan kain pesan. Panglima Galagap tahu bahwa prajurit berkuda itu berpangkat kepala prajurit.


Akhirnya, Pajrit Kukus Asmara berhenti sepuluh tombak di depan gerbang.


“Aku membawa pesaaan, untuk Gusti Panglimaaa!” teriak Kukus Asmara. Tetap mendayu-dayu.


“Hahahak!” tawa para prajurit di atas benteng mendengar teriakan Kukus Asmara yang terkesan manja, tapi sang panglima tidak ikut tertawa.


Bagi Panglima Galagap, tidak ada komedi di saat perang seperti itu.


“Siapa kau, Prajurit?” tanya Panglima Galagap dengan sedikit berteriak dari atas benteng.


“Hamba Pajrit Kukus Asmaraaa, dari pasukan pedang, Gustiii!” jawab Kukus Asmara, yang membuat para prajurit di atas masih tertawa, tapi tidak seramai yang pertama.


“Kau pajrit dari pasukan siapa?” tanya sang panglima.


“Hamba sekarang, berada di bawah komando Panglima Pulung Sekeeet, Gusti!”


“Kenapa kau datang dari pasukan musuh?”


“Pasukan kamiii, takluk dalam peraaang. Jadi sekaraaang, pasukan Gusti Panglima Pulung Sekeeet, tunduk kepada Gusti Ratu Warna Mekaaar Aruuum.”


“Apa?!” pekik Panglima Galagap terkejut.


“Lalu di mana Gusti Panglima Utama Surap Bentala?”


“Matiii! Mati semua, Gustiii. Ih Gusti, pesannya mau diambiiil, atau tidaaak?” Kukus Asmara mulai kesal.


“Lemparkan pesan itu!” perintah Panglima Galagap.


“Siiiaaap!” jawab Kukus Asmara lebih merdu dan lebih mendayu.


Dia lalu turun dari kudanya dan melempar kuat gulungan kain ke atas benteng, tepatnya kepada Panglima Galagap.


Gulungan kain pesan itu melambung tinggi hingga ke depan tubuh sang panglima, tetapi masih agak jauh di depan. Untuk menangkap dengan tangan, bisa membuat jatuh. Namun, Panglima Galagap menangkap kain itu dengan ujung sarung pedangnya. Gulungan kain mendarat dengan lembut di ujung pedang, tanpa jatuh lagi.


“Pasukan Ratu Warna Mekararum sudah ada yang berada di dalam Ibu Kota. Jika Panglima tidak melawan dan membuka gerbang sebelum matahari terbit, maka upahmu akan dinaikkan setengah upah sepurnama. Jika melawan, nasib Panglima akan lebih buruk dari Panglima Utama dan empat ribu pasukannya. Dari Panglima Pasukan Pembebas Jintamani.”

__ADS_1


Seperti itulah isi pesan yang Alma Fatara kirimkan teruntuk penjaga benteng. Isi pesan itu cukup mengejutkan bagi Panglima Galagap.


Sementara itu, Pajrit Kukus Asmara pulang tanpa membawa jawaban karena jawabannya besok pagi. (RH)


__ADS_2