
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Di saat Peri Tamak dan Peri Mayang mengeroyok Bungkuk Gila yang nakal dan tidak tersentuh, Panglima Tebing Gali memerintahkan pasukan panahnya untuk memanah ular hitam besar yang duduk diam menonton.
Set set set...!
Tek tek tek...!
Puluhan anak panah melesat ke satu target, yaitu sosok ular yang merupakan jelmaan dari Mbah Hitam. Namun, semua anak panah yang mengenai tubuh Mbah Hitam harus terpental. Ketajaman dan kelancipan panah-panah itu tidak bisa menembus ketebalan dan kekerasan kulit si ular.
Mbah Hitam yang hanya menutup mata ketika dipanah, tiba-tiba merayap cepat ke arah barisan pasukan panah.
“Jiaaak! Lariii!” teriak pemimpin pasukan itu terkejut dan ketakutan sambil lari duluan.
“Huaaa!” pekik para prajurit panah itu juga ikut parno.
Kesal setengah matanglah Panglima Tebing Gali melihat tingkah para prajuritnya. Apalagi melihat mereka yang kemudian berhenti dan memandang si ular dari jauh.
“Kalian! Bunuh ular itu!” teriak Panglima Tebing Gali kepada pasukan tombak.
“I-i-iya, Gusti!” sahut pemimpin prajurit tergagap, menunjukkan bahwa kepatuhannya setengah hati. Lalu perintahnya kepada pasukannya, “Bunuh ular itu!”
Pasukan tombak tidak langsung maju, mereka justru saling pandang dengan rekan di kanan dan kirinya, seolah-olah minta kesepakatan.
“Majuuu!” teriak si pemimpin prajurit tanpa mau maju lebih dulu.
“Seraaang...!”
Setelah dibentak seperti itu, barulah para prajurit tombak itu berlari maju sambil bertindak dengan tombak siap ditusukkan.
Mbah Hitam justru merayap maju menyongsong serangan.
“Yaaak!” pekik takut para prajurit itu ramai-ramai sambil mengerem lari mereka dengan tiba-tiba.
Buru-buru meeka berlari mundur lagi tanpa menyempatkan diri untuk menusukkan tombak-tombaknya.
“Aaak!” jerit dua orang prajurit yang ketika mengerem, mereka terpeleset, padahal tidak kulit pisang di sana.
Karena terpeleset, jadi mereka telat untuk berlari mundur. Mbah Hitam lebih cepat menyambar badan salah satu prajurit itu dengan mulut lebarnya yang bertaring, sementara badannya melilit prajurit kedua.
Tidak seperti ular pada umumnya yang suka menelan panjang-panjang mangsanya, Mbah Hitam justru melempar mangsa yang digigitnya setelah berhenti menjerit alias mati.
Krek!
“Aaak!”
Terdengar jelas suara tulang berpatahan dari tubuh prajurit yang dililit, membuatnya menjerit panjang dan memilukan. Jeritan kematian itu memberi wabah horor pada para prajurit. Mereka sampai mengerenyit ngilu mendengar jeritan kematian rekan setim mereka.
Para prajurit itu merasa ngeri, jika seandainya mereka yang dililit oleh si ular besar.
“Dassar prajurit tidak mutu! Hiaaat!” maki Panglima Tebing Gali lalu berkelebat dengan kedua tangan bersinar biru. Ia memutuskan turun tangan langsung.
__ADS_1
Wuut! Bek!
“Hekh!” keluh Tebing Gali saat tahu-tahu ekor ular hitam menyabet telak perutnya, melemparkannya sebelum hajat terpenuhi.
Meski terlempar, Tebing Gali mendarat dengan teguh di tanah. Dia tidak mau malu jika sampai terlihat jatuh di depan pasukannya. Berhasilnya Mbah Hitam mendaratkan buntutnya, membuat Tebing Gali jadi penasaran. Sebab, harimau saja bisa dia taklukkan hanya dengan satu kecupan tinju, masa iya seekor ular tidak bisa dia beri ciuman tinju.
“Hiaaat!” teriak Tebing Gali lagi sambil melesat maju dengan dua tangan masih bersinar.
Kepala Mbah Hitam melesat maju dengan mulut menganga lebar hendak mencaplok tubuh Tebing Gali. Namun, kali ini Tebing Gali gesit menghindar sambil membantingkan tangan kanannya.
Sess! Blar!
Dari bantingan itu melesat sebulat sinar biru mengincar badan si ular. Namun, Mbah Hitam cukup meliukkan badannya menghindari serangan tersebut. Satu ledakan menghancurkan tanah pada titik yang dihantam sinar biru, dekat dengan badan ular tanpa memberi efek kepada Mbah Hitam.
Wuut!
Ekor Mbah Hitam bengibas cepat. Tidak mau kena dua kali, Tebing Gali mengelak cepat. Dia belum berani adu tenaga dengan ular yang jelas bukan ular biasa.
Sementara itu, Bungkuk Gila bertarung alot dengan Peri Tamak dan Peri Mayang. Bukan Bungkuk Gila yang sulit menumbangkan keduanya, tetapi dia lebih kepada bermain-main.
“Hehehe!” kekehnya ketika berhasil mencolek bawah ketiak Peri Tamak, yang jika bergeser sedikit lagi pasti mencolek kewanitaan wanita cantik berusia matang itu.
Hal itu jelas kian membuat gusar Peri Tamak. Maka dia mengeluarkan sebilah pisau kecil guna merobek Bungkuk Gila.
Pras! Syess!
Menggunakan ranting berdaunnya di tangan kanan, Bungkuk Gila menepis tusukan pisau Peri Tamak. Pada saat yang bersamaan, Peri Mayang yang menyerang dengan tangan hitamnya, mendadak berhenti dan berdiri mengejang dengan mata mendelik. Itu karena tangan kiri Bungkuk Gila lebih cepat masuk ke depan wajahnya dan menyetrumnya dengan lima garis sinar kuning yang menjerat wajah cantiknya.
“Peri Mayang!” pekik terkejut keenam peri lain yang sejak tadi menonton.
Bungkuk Gika mengibaskan ranting kayunya, mengembuskan angin keras kepada Peri Tamak. Wanita cantik yang dikagumi bokongnya oleh Bungkuk Gila itu, cepat melompat tinggi sambil mundur, demi menghindari angin yang kemudian lewat di bawahnya.
Drap drap drap...!
Tiba-tiba ada empat ekor kuda yang berlari cepat datang ke pusat pertarungan.
“Hentikan kejahatanmu, Panglima Tebing Gali!” seru salah satu penunggang kuda sambil menghentikan lari kudanya.
“Gusti Putra Mahkota!” sebut para prajurit terkejut. Mereka mengenali pemuda yang masih muda itu.
Pemuda yang barusan menyeru sang panglima adalah Pangeran Sugang Laksama yang punya julukan Pendekar Pedang Dedemit. Dialah putra mahkota sah Kerajaan Singayam.
Terkejut Tebing Gali saat melihat siapa yang datang. Dia buru-buru melompat mundur menjauhi ular Mbah Hitam.
“Keparat!” desis Tebing Gali yang sepertinya sudah melihat jalan hidupnya ke depan.
Pangeran Sugang Laksama datang bersama Panglima Ragum Pangkuawan, Panglima Riring Belanga dan Cucum Mili alias Putri Angin Merah yang bercadar merah.
“Menyerahlah, Tebing Gali!” seru Ragum Pangkuawan. “Pasukanmu sudah dilumpuhkan semua!”
“Pasukan, kepuuung!” teriak Tebing Gali.
Dari pasukan yang berjumlah sekitar tiga ratusan itu, hanya sebagian yang patuh dan segera bergerak melakukan pengepungan. Sementara separuh lagi memilih bergeming di tempat.
__ADS_1
Set set set...!
Blar blar blar...!
Tiba-tiba Cucum Mili melesatkan delapan kelereng ke dua arah yang berledakan di tengah-tengah pasukan yang bergerak mengepung separuh lingkaran.
“Aak! Ak! Akk...!” jerit para prajurit yang terkena ledakan, karena mereka harus menderita luka kulit dan daging yang rusak.
“Prajurit yang ingin diampuni, silakan jatuhkan senjata, mundur dan berjongkok!” seru Panglima Riring Belanga yang memiliki warna jari hitam semua.
Ragulah para prajurit yang tidak menjadi korban ledakan. Mereka saling pandang minta saran dari temannya yang tidak jua memberi saran.
“Siapa yang berani berkhianat, hukumannya mati!” teriak Tebing Gali mengancam.
“Siapa yang masih berkhianat kepada Putra Mahkota, hukumannya juga mati!” teriak Ragum Pangkuawan pula.
Semakin bingunglah para prajurit itu.
Namun di sisi belakang, para prajurit yang menolak mengepung rombongan Putra Mahkota, memilih menjatuhkan senjatanya ke tanah, lalu mereka mundur menjauhi senjatanya, lalu berjongkok ramai-ramai.
Melihat pasukan di belakang memilih menyerah, akhirnya sepertiga pasukan yang sudah mengepung posisi kuda Pangeran Sugang Laksama memilih menjatuhkan senjatanya, lalu buru-buru berlari ke belakang dan bergabung berjongkok dengan teman-temannya.
Masih ada sekitar seratus prajurit yang memilih setia kepada Panglima Tebing Gali.
“Eksekusi!” seru Pangeran Sugang Laksamana.
Sing!
Panglima Ragum Pangkuawan lalu meloloskan pedangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi lurus ke langit.
Para prajurit yang bertahan semakin tegang mendengar perintah Putra Mahkota.
“Kami menyerah!” teriak seorang pemimpin prajurit sebelum terjadi sesuatu kepada mereka, lalu buru-buru menjatuhkan senjatanya dan berlari ke belakang untuk bergabung dengan mayoritas rekannya yang sudah berjongkok.
Tindakan prajurit itu diikuti oleh semua rekannya. Beramai-ramailah pasukan itu berlari ke belakang dengan tanpa senjata lagi.
Terkejut Panglima Tebing Gali dan Peri-Peri Pengisap melihat pasukan yang menyerah massal.
Set set set...!
“Akk! Akk! Akk...!”
Namun, dari tiga arah, selatan, barat dan utara ada serombongan anak panah melesat dari kejauhan. Namanya juga ‘kejauhan’, jadi sumber pemanahnya tidak terlihat.
Puluhan anak panah itu mengenai para prajurit yang posisinya sedang berlari ke belakang. Lebih separuh dari jumlah panah mengenai target, membuat prajurit-prajurit yang terpanah bertumbangan. Rupanya tindakan para prajurit itu terbilang telat, karena perintah eksekusi sudah dilakukan dengan tanda pedang Panglima yang diangkat tinggi-tinggi.
Kian terkejut Tebing Gali melihat serangan panah dari tiga arah mata angin itu. Itu jelas menunjukkan bahwa mereka telah dikepung dari jarak jauh.
Meski demikian, serangan panah hanya terjadi satu kali, karena setelah lima hitungan ke depan, tidak ada lagi serangan, seiring semua prajurit yang telah menyerah sudah bergabung dengan rakan-rekan mereka berjongkok ria bersama.
Maka tinggallah Panglima Tebing Gali dan Peri-Peri Pengisap yang berdiri tegang. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Istrinya dibawa pergi oleh kelompok pembunuh di hari pernikahan. Mampukah Rugi Sabuntel si pendekar gendut mengambil kembali wanita miliknya? Ataukah akan terjadi hal buruk kepada istri cantiknya? Hanya di novel "Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar".