
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
Langit di timur sudah mulai menunjukkan cahayanya, padahal azan subuh belum berkumandang.
Meski sejak magrib semua prajurit di kedua belah pihak tidak ada yang tidur, mereka tidak ada yang mengantuk hingga saat ini.
Setelah penjebolan gerbang benteng Istana oleh Alma Fatara yang dibebani oleh berat tubuh Ning Ana, belum ada lagi pertempuran yang tercipta di sekitar benteng.
Meski demikian, Panglima Belut Ireng dan pasukannya harus benar-benar siaga. Jangan sampai ada gerakan susupan atau kejadian seperti gerakan yang dilakukan Alma Fatara, yakni seorang pendekar berkesaktian tinggi yang dengan mudahnya dan terang-terangan masuk ke Istana tanpa bisa ditilang. Terlebih sekarang Pasukan Pembebas Jintamani sudah menampakkan diri secara terang-terangan.
Cukup jauh di depan benteng, pada area yang lebih jauh dari jangkauan panah belalang, ratusan obor menyala yang menunjukkan separuh dari jumlah Pasukan Pembebas Jintamani yang dipimpin Adipati Lalang Lengir dan Panglima Pulung Seket.
Semua pasukan dalam kondisi siaga, tidak ada yang istirahat, apalagi tidur atau ngopi bareng. Semua dalam barisan siap perang, kecuali bagian konsumsi. Untuk tetap menyegarkan fisik dan perasaan para prajurit, prajurit bagian konsumsi membuat beberapa kuali minuman hangat, tapi bukan kopi.
Jumlah Pasukan Pembebas Jintamani lebih besar dari pasukan yang siap mempertahankan benteng.
Para pemimpin pasukan pun tampil eksis di depan pasukannya masing-masing.
Meski gerbang Istana telah jebol, tetapi mereka tidak memilih untuk menyerbu karena mereka takut dengan dua puluh mesin panah belalang yang siaga di atas benteng. Apalagi dengan berhasilnya Alma Fatara masuk ke dalam Istana, maka mereka yakin bahwa tidak lama lagi akan datang kabar gembira.
Benar saja, tidak sampai waktu fajar, kabar gembira itu datang.
Dari arah gerbang benteng Istana berlari keluar seekor kuda. Penunggang kudanya membawa bendera putih polos.
Semua mata orang dalam Pasukan Pembebas Jintamani tertuju kepada kedatangan penunggang kuda yang belum jelas siapa adanya.
“Bendera putih. Apakah pasukan Kerajaan menyerah?” tanya Adipati Lalang Lengir kepada Adipati Garongjaga yang sedang berdiri berbincang dengannya.
“Sepertinya demikian. Atau itu adalah utusan pembawa pesan,” jawab Adipati Garongjaga.
Setelah habis secangkir kopi dingin, barulah sosok penunggang kuda itu ada yang mengenali karena jaraknya semakin dekat.
“Sepertinya itu adalah sahabat Alma Fatara, yang punya kekasih lidahnya terpelintir,” kata Adipati Lalang Lengir.
“Oh, iya, iya. Itu memang dia,” kata Adipati Garongjaga.
Penunggang kuda yang mereka lihat memang adalah Debur Angkara, sahabat Alma Fatara yang kini telah menjadi pendekar yang benar-benar pendekar, bukan sekedar Pendekar Desa Iwaklelet.
Namun, terlihat bahwa kedua tangan Debur Angkara memegang tali kekang kuda, tidak memegang bendera putih. Pemegang bendera putih adalah tangan yang lain.
__ADS_1
“Kakang Garaaam! Calon suamikuuu! Kambing cantikmu dataaang!” teriak gadis remaja yang duduk di belakang Debur Angkara sambil memegang bendera putih dengan tangan kanan.
Terkejutlah Garam Sakti dan Magar Kepang mendengar teriakan suara perempuan, padahal yang mereka lihat adalah Debur Angkara.
“Tidak salah lagi, itu gadis kecil bermulut pedas, sahabat Alma juga,” kata Adipati Lalang Lengir.
“Jelas bahwa kita telah menang,” kata Adipati Garongjaga.
Meski sudah yakin bahwa ada Ning Ana di belakang tubuh Debur Angkara di atas kuda, tetapi Garam Sakti diam saja. Dia tidak menyahut karena dia tidak mau malu dengan menjadi pusat perhatian. Hubungan cintanya dengan gadis di bawah umur akan menjadi buah bibir di kalangan para prajurit, terutama di kalangan para adipati.
“Kakang Garam calon suamiku, kambing cantikmu dataaang!” teriak Ning Ana lagi. Kali ini dia menongolkan wajahnyan di atas bahu Debur Angkara yang kian dekat.
Dengan mendekatnya kuda Debur Angkara kepada Adipati Lalang Lengir, para adipati pemimpin pasukan, termasuk Panglima Pulung Seket dan Adipaksa, juga Genggam Sekam dan Sumirah, berjalan mendekat dan berkumpul di satu tempat.
Kuda Debur Angkara akhirnya tiba dan memelan. Kuda itu segera disambut talinya oleh seorang prajurit. Ning Ana lebih dulu melompat turun lalu berlari kencang kepada Garam Sakti yang tidak berkumpul bersama para pemimpin.
“Hihihi ...!”
Seperti gadis yang kangen berat seberat rindu, Ning Ana berlari kencang dan langsung melompat memeluk Garam Sakti, seperti anak kecil yang melompat memeluk bapaknya.
“Lapor, Gusti Adipati. Pemberontak Senopati Gending Suro sudah tewas dan pasukan Gusti Ratu telah memenangkan peperangan!” lapor Debur Angkara.
“Yeee!” pekik gembira Adipati Argopuro dan Adipati Bali Baginda bersamaan.
Dua pengawal Adipati Lalang Lengir, yaitu Remuk Pusaka dan Remuk Hasrat tertawa sambil berpelukan riang gembira.
“Apa yang aku bilang, kita pasti menang! Hahaha!” teriak Adipati Butak Jelaga dari Kadipaten Duno lalu tertawa keras.
Adipati Lalang Lengir tidak berekspresi selain datar-datar saja.
“Kita menaaang!” teriak Panglima Pulung Seket sambil menghadap kepada pasukannya.
“Yeee!” teriak pasukan itu serentak girang sambil menghentakkan tangan kanannya ke udara.
“Hidup Gusti Ratu!” teriak Panglima Pulung Seket.
“Hidup Gusti Ratu!” teriak pasukan Kerajaan yang kini membela Ratu Warna Mekararum.
“Hidup Gusti Ratu!” teriak pasukan lain mengikuti meski tanpa komando dari pemimpinnya.
Teriakan itu diteriakkan berulang-ulang cukup lama, sampai-sampai Debur Angkara yang masih ingin berbicara menahan dulu kalimatnya.
__ADS_1
Suara teriakan lebih dua ribu orang itu terdengar sampai ke benteng Istana.
Sementara itu di atas benteng, Panglima Belut Ireng sudah menurunkan status bentengnya menjadi normal, setelah Komandan Gebuk Sewu menemuinya langsung dan menyampaikan pesan Ratu Warna Mekararum.
Pasukan yang berkumpul di dalam sudah diperintahkan mundur kembali ke barak untuk beristirahat. Penjagaan pada gerbang benteng Istana yang hancur, sudah dikurangi, dari satu pasukan menjadi beberapa prajurit saja.
Namun, Panglima Belut Ireng masih berdiri di atas benteng untuk melihat pasukan di depan sana, yang rencananya akan masuk ke dalam Istana semuanya.
“Seluruh pemimpin pasukan dan pasukannya diperintahkan untuk masuk ke Istana, Gusti!” lapor Debur Angkara lagi kepada para adipati, setelah teriakan kemenangan pasukan itu mereda.
Dikirimnya Debur Angkara dan Ning Ana sebagai utusan pembawa kabar kemenangan dari dalam Istana, bertujuan menepis keraguan bagi Pasukan Pembebas Jintamani. Jika Komandan Gebuk Sewu yang dikirim, bisa jadi mereka akan menduga akan dijebak.
“Silakan Adipati Lalang dan pasukan masuk lebih dulu,” kata Adipati Kendrang dari Kadipaten Bentangan.
“Silakan Panglima Pulung Seket masuk lebih dulu.” Adipati Lalang Lengir justru melempar kesempatan kepada panglima perang Kerajaan Jintamani. Memang, secara status, Panglima Pulung Seket adalah perwira yang memiliki jabatan tertinggi.
“Tidak. Aku adalah pengkhianat bagi pasukan kerajaan, tidak mungkin aku masuk lebih dulu. Silakan Adipati Lalang Lengir dan pasukannya masuk lebih dulu,” kata Panglima Pulung Seket sadar diri.
“Baiklah,” ucap adipati perempuan cantik itu.
Dia lalu mendekati pasukannya dan naik ke punggung kudanya.
Dengan demikian, para pemimpin pasukan lain segera kembali ke pasukannya masing-masing yang berbaris indah dengan banyak api obor.
“Pasukaaan, maju!” teriak Adipati Lalang Lengir kepada pasukannya,
“Majuuu!” teriak para prajurit Kadipateng Sorangan, tapi mereka maju berjalan dalam formasi barisan. Tidak lupa pasukan itu membawa panjinya.
“Pasukaaan, maju!” teriak Adipati Garongjaga pula kepada pasukan Kadipaten Rangkas Kelud.
“Majuuu!” teriak para prajurit lalu berjalan maju mengikuti kuda adipatinya yang berjalan biasa saja, mengikuti rombongan pasukan Kadipaten Sorangan.
Lalu disusullah oleh para adipati lainnya dan Adipaksa yang memimpin pasukan Perguruan Pisau Merah.
Pasukan yang terakhir adalah pasukan pimpinan Panglima Pulung Seket. Setiap pasukan membawa panjinya masing-masing.
Sementara Genggam Sekam, Sumirah, Magar Kepang, Garam Sakti, Debur Angkara, dan Ning Ana bebas memilih ikut barisan pasukan siapa saja.
Maka tidak berapa lama, pasukan itu mulai memasuki benteng Istana dengan aman tanpa ada insiden atau tindakan yang membahayakan dari Pasukan Benteng Istana.
Pasukan Pembebas Jintamani telah berhasil membebaskan Kerajaan Jintamani dari kuasa pemberontak.
__ADS_1
Sementara itu, fajar di langit telah tiba. (RH)