Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 24: Yang Kalah Yang Mati


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


 


Ketenangan aktivitas di dalam Sarang Betina Ranjang yang sempat terganggu oleh ulah Bungkuk Gila, semakin terganggu oleh huru-hara yang terjadi di area gerbang masuk.


Para Betina Ranjang segera berkeluaran dan pergi berkumpul di area tempat mereka bisa memantau pertarungan besar di sekitar gerbang yang sudah hancur. Hal sama dilakukan oleh para pelanggan yang tidak bisa tenang berkuda jika sedikit-sedikit mendengar suara ledakan energi yang mengejutkan jantung, rasa kagetnya seperti sedang digerebek Satpol PP.


Sementara seluruh pasukan keamanan Sarang Betina Ranjang sudah berjubel di area sekitar pusat pertarungan.


“Munduuur! Munduur!” teriak seorang pendekar personel keamanan Sarang Betina Ranjang kepada rekan-rekannya, ketika melihat Baling Bangba alias Raja Betina sudah melompat lurus naik mengudara dengan bola sinar merah berlidah-lidah api bercokol di tangan.


Sementara Alma Fatara yang menjadi lawannya, menunggu di bawah dengan tangan kiri telah mengeluarkan sinar emas menyilaukan mata dari ilmu Pukulan Bandar Emas. Sementara di tangan kanan tergenggam Bola Hitam.


Pasukan Sarang Betina Ranjang buru-buru bergerak mundur menjauh dari pusat pertarungan, sampai-sampai mereka berjatuhan karena saking paniknya.


Suurss! Seeersss!


Di saat tubuhnya masih bergerak cepat ke atas, Baling Bangba sudah membanting bola sinar merah yang sebesar kepala orang dewasa lengkap dengan tumornya.


Ternyata, sinar merah berlidah api itu tidak diarahkan langsung kepada Alma Fatara, tetapi ke titik kosong, dua tombak dari posisi Alma Fatara. Namun, sinar itu berhenti melesat tepat sekitar setengah tombak dari permukaan tanah.


Cara kerja sinar merah itu, dia berputar kencang pada porosnya dan melesatkan sinar-sinar merah kecil ke segala arah tanpa mengurangi besar bola sinar. Jangkauan lesatan sinar-sinar merah kecil ke segala arah sampai berjarak jauh, makanya para pendekar yang menonton segera menjauh.


Blar blar blar...!


Puluhan ledakan keras terjadi di sekeliling area pertarungan, menghancurkan apa yang dikenai oleh setiap sinar. Ledakan-ledakan itu menimbulkan kebisingan hebat.


Sinar-sinar merah itu tidak hanya melesat datar, tapi juga ke atas yang membuat Alma Fatara cukup sulit jika nekat melakukan upaya penghindaran.


Lagi-lagi selalu ada jalan keluar bagi orang cantik.


Sejak awal bola sinar berlidah api melesatkan sinar-sinar merah kecil ke segala arah, Alma Fatara telah melesatkan Bola Hitam.


Set! Syeeeffss!


Sweass! Bluarr!


Bola Hitam yang dilesatkan berhenti di udara, lalu menyedot sinar-sinar merah yang melesat ke arahnya, membuat Alma Fatara bebas dari ancaman serangan sinar massal itu.


Selanjutnya Alma Fatara melesatkan sinar emas di tangan kirinya langsung ke bola sinar merah yang terus berputar pada porosnya.

__ADS_1


Pertemuan dua sinar itu menciptakan ledakan dahsyat. Hancur-hancuran kembali terjadi.


Material tanah kembali mengudara berjemaah. Sejumlah batang pohon hancur berpatahan dan terjadi hujan daun, bukan hujau duit. Sejenak area itu menjadi kacau dan tidak jelas.


Lalu bagaimana dengan kedua petarungnya? Jangan dijawab!


Alma Fatara terpental deras dengan Bola Hitam telah tergenggam kembali di tangan.


Bruakr!


“Hukrr!”


Tubuh berjubah hitam itu menabrak keras pohon yang sudah tumbang, membuat beberapa dahan patah oleh hantaman tubuhnya. Sampai-sampai gadis itu menyemburkan darah dari mulutnya. Apakah tulang-tulangnya ada yang berpatahan juga? Jangan ditanya!


Memang dasar orang sakti yang cantik, selalu mendapat keberuntungan yang sulit didapat oleh orang sakti yang tidak cantik. Alma Fatara tidak menderita patah tulang sedikit pun. Namun, luka dalamnya semakin parah.


Sementara itu, tubuh Baling Bangba yang baru bergerak turun saat ledakan dahsyat terjadi, harus terpental naik kembali mengudara. Namun, ketika dia terhantam oleh gelombang ledakan itu, seketika tubuhnya mati fungsi, tinggal menyisakan nyawa, indera penglihatan dan pikiran.


Tubuh Baling Bangba yang sempat menyemburkan darah dari mulut dan luka-luka pada kulitnya, terlempar seperti benda mati, yang setelah melambung dia meluncur pasrah tanpa ada upaya melakukan sesuatu karena tubuh itu sudah tidak berdaya.


“Ternyata kita tidak bisa mati bersama, Dewi,” ucap Baling Bangba seiring kelopak mata yang bergerak menutup.


Terdiamlah pasukan keamanan Sarang Betina Ranjang melihat kematian pemimpin mereka. Mereka tidak menyangka, Raja Betina yang belum pernah terdengar kalah, harus mati dalam waktu singkat di tangan pendekar wanita muda belia.


Alma Fatara bergerak untuk bangun. Sebelum dia benar-benar berdiri, lebih dulu dia bersihkan wajahnya dengan kain jubahnya dari darah agar tetap terlihat muda dan cantik.


Alma Fatara berdiri tegak sambil memandang ke sekitar.


Dilihatnya tempat itu benar-benar hancur total, bahkan untuk mendapat tempat kongkow yang asik sudah tidak ada yang bagus. Kehancuran tanahnya sudah lebih parah dari tanah yang dibajak oleh bajak laut.


Dilihatnya pula, Cantik Gelap dan Lirik Lirik Yo masih bertarung sengit dan seimbang dengan kedua Guru Cambuk yang sudah membuat cambuknya diselimuti oleh aliran listrik.


“Waktunya memusnahkan tempat bejat ini,” ucap Alma Fatara kepada dirinya sendiri.


Alma Fatara lalu berjalan menuju ke kumpulan pasukan keamanan dan masuk ke area dalam Sarang Betina Ranjang.


Pasukan yang jumlahnya bahkan mencapai lebih dari seratus orang itu segera bergerak menjauh, menjaga jarak dari Alma Fatara yang meski begitu cantik, tapi begitu membahayakan. Mungkin bahaya yang paling bahaya itu adalah Alma Fatara.


Namun, di saat hampir semua personel keamanan takut kepada Alma Fatara, tetap saja ada yang nekat dan percaya diri.


“Hiaaat!” teriak satu orang pendekar sambil melompat mengudara melewati kepala-kepala rekannya. Dia menebaskan golok besarnya yang sudah menyala seperti bara api.

__ADS_1


“Mampuslah kau, Siluman!” teriak seorang lagi dari sisi kiri dengan tombak bersinar biru menusuk ke arah Alma Fatara yang berjalan dengan tenang, tapi tetap waspada.


Alma Fatara juga merasakan adanya seorang pembokong yang bergerak tanpa teriakan seperti kedua rekannya.


Tek!


“Huakr!” pekik lelaki bergolok membara saat goloknya ditahan dengan telapak tangan kanan Alma Fatara yang terbuka. Dia langsung terlempar balik dengan tubuh melengkung ke depan dan mulut melemparkan darah kental.


Tuk!


“Huakrr!” jerit pendekar yang bertombak pula, ketika mata tombaknya ditangkis oleh telapak tangan yang tanpa tenaga.


Pendekar bertombak itu bernasib sama dengan rekannya, yaitu terlempar balik ke belakang dengan mulut menyemburkan darah. Mereka sama-sama menjadi korban ilmu Tapak Rambat Daya.


Tus tus tus...!


“Aaak!” jerit pendekar yang menyerang dengan cakaran besi dari belakang.


Tubuhnya yang melompat maju harus terhenti ketika diagresi oleh puluhan tusukan Benang Darah Dewa yang tidak terlihat karena terlalu cepatnya. Pendekar itu hanya bisa tersentak-sentak setiap tusukan menyuntiknya.


Pada akhirnya pendekar itu berdiri gemetar dengan baju depan yang kuyup oleh darah. Darah pun keluar mengalir dari celah bibirnya yang sedikit terbuka. Selanjutnya dia jatuh terlutut di belakang Alma Fatara tanpa mendapat perhatian dari gadis cantik itu.


Melihat kenyataan itu, semakin ngerilah para pendekar personel keamanan Sarang Betina Ranjang. Mereka semakin menjauhi posisi Alma Fatara.


Melihat perkembangan itu, para Betina Ranjang yang berkumpul di sisi dalam dengan berbagai wujud cantiknya, buru-buru bubar dan berlari lebih ke dalam, lalu berkumpul lagi memantau dari jarak aman.


“Raja Betina sudah mati! Raja Betina mati!” kata satu Betina Ranjang kepada sesama Betina Ranjang lainnya. Mereka heboh, seolah-olah mereka juga sedang terancam. Mungkin terancam penghasilannya.


“Hahaha!” Alma Fatara yang mulanya bersikap dingin membawa maut, mendadak tertawa yang sepertinya juga membawa maut.


Alma lalu berkata kepada pasukan keamanan itu.


“Kalian, jika masih ingin hidup, kumpulkan semua penghuni Sarang Betina Ranjang ini di halaman rumput! Tempat ini sekarang aku ambil alih!” seru Alma Fatara.


Alma Fatara lalu mengeluarkan Bola Hitam ke genggamannya, membuat para pendekar tingkat menengah itu bersiaga.


“Siapa yang membantah, silakan keluar, agar aku bunuh sekalian!” seru Alma Fatara lagi.


“Ayo cepat, ayo cepat! Laksanakan perintah Dewi Gigi!” teriak salah satu pendekar kepada rekan-rekannya.


Teriakan pelopor itu ternyata sukses membubarkan pasukan itu untuk dengan terpaksa melaksanakan perintah Alma Fatara. Sebab mereka berpikir, menyerang secara berjemaah pun akan sama saja bunuh diri, buktinya Alma Fatara bisa membunuh banyak-banyak dengan sinar emasnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2