
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Sekitar seratus pasukan tombak jadi tegang dan panik mode senyap. Kepanikan mereka terlihat dari wajah-wajah tegang mereka.
Meskipun mereka dalam posisi mengurung Panglima Arung Seto, Tengkorak Telur Bebek dan Bayu Garang, tetapi mereka juga kini dikepung oleh beberapa pendekar anggota Sayap Laba-Laba dari Pasukang Genggam Jagad, yaitu Tengkorak Bayang Putih, Aliang Bowo, Kolong Wowo, Segara, Setoro Beksi, Kudapaksa, Kura Pana, Kulung, Lolongo, dan Buluk.
Lolongo dan Buluk tampak berdiri dengan pedang terhunus, tapi napas mereka terengah-engah karena baru saja sampai setelah tertinggal di belakang.
Jelas jumlah personel Sayap Laba-Laba jauh lebih sedikit daripada pasukan yang berdiri dalam formasi lingkaran, tapi menghadap ke dalam dan ke luar. Bukan jumlah lawan yang membuat ratusan prajurit itu tegang, tapi ada para pemanah yang tidak terlihat, pemanah itu telah membunuh semua prajurit panah dan prajurit berkuda.
“Heaaat!” pekik seorang pemimpin prajurit hendak mempelopori serangan terhadap Arung Seto dan kedua rekannya di dalam kurungan.
Set set set!
“Akk! Akh! Akk!” jerit pemimpin prajurit itu bersama dua prajurit lain yang mengikutinya hendak menyerang.
Sebelum serangan mereka sampai, tiga anak panah melesat cepat dan menancap di leher ketiga prajurit itu.
Apa yang menimpa ketiga prajurit tersebut mengejutkan puluhan prajurit lainnya dan membuat mereka kian berkeringat dingin. Pemanah jitu yang tidak terlihat orangnya, membuat para prajurit itu ngeri untuk bertindak.
Sekedar bocoran dari sesuatu yang sudah bocor. Pemanah jitu dan gelap yang memanahi para prajurit Kerajaan Singayam adalah Sayap Panah Pelangi, kelompok pemanah cantik yang memanah dari tempat tersembunyi, yaitu di atas pohon-pohon.
“Menyerahlah!” seru Arung Seto keras karena dia merasa mereka berada di atas angin. “Siapa yang menyerang, maka mati!”
“Gelang Cekik Setan!” teriak Aliang Bowo selaku pemimpin murid-murid mendiang Jerat Gluduk.
Maka serentak, Aliang Bowo, Kolong Wowo, Segara, Setoro Beksi, Kudapaksa, dan Kura Pana menghentakkan sepasang lengannya.
Set set set...!
Dari dalam kedua telapak tangan orang-orang itu melesat keluar sinar-sinar biru berwujud garis-garis secara beruntun, jadi seperti garis putus-putus. Puluhan garis sinar biru itu melesat menyerbu para prajurit.
Slet slet slet...!
“Akh! Akh! Akk...!” jerit para prajurit yang tidak bisa menghindar saat sinar-sinar itu menjerat leher-leher mereka.
Sinar-sinar biru itu memang mengincar leher-leher. Ketika mendapati satu leher, sinar itu akan langsung membelit seperti seekor ular, kemudian mencekik.
Seketika puluhan prajurit yang terjerat menjadi panik atas kondisinya. Mereka buru-buru menjatuhkan senjata begitu saja dan memegangi energi sinar padat yang menjerat leher mereka. Cekikan itu membuat napas mereka tersumbat.
Rekan-rekan satu pasukan jadi bingung harus berbuat apa, kecuali panik. Mau menyerang atau kabur pun mereka tidak berani. Ancaman pemanah jitu sungguh membuat mereka tidak berkutik.
Para prajurit yang terkena jeratan ilmu Gelang Cekik Setan sudah berjatuhan karena mereka megap-megap tidak bisa menghirup oksigen secukupnya.
“Menyerahlah! Atau rekan-rekan kalian terlanjur mati!” seru Arung Seto karena melihat prajurit yang tercekik semakin kritis kondisinya.
__ADS_1
“Kami menyerah!” teriak salah satu pemimpin prajurit cepat. Dia cepat menjatuhkan senjatanya.
“Kami menyerah! Kami menyerah!” teriak prajurit yang lain.
Para prajurit itu lalu beramai-ramai membuang senjata mereka dan turun berlutut.
“Bebaskan!” teriak Aliang Bowo.
Setelah teriakan itu, gelang-gelang sinar biru yang menjerat leher para prajurit lenyap, membuat mereka seketika bisa menarik napas sebanyak-banyaknya dengan mulut, bukan lagi dengan hidung.
“Tengkorak Bayang Putih, Kudapaksa, Lolongo, Buluk, dan Kulung, bawa semua tawanan ini kepada Gusti Ratu!” teriak Arung Seto memberi perintah.
“Baik,” ucap kelima orang yang namanya disebut patuh.
“Kalian semua akan aman selama patuh sebagai tawanan kami. Ikuti kelima pendekar kami dan jangan ada yang coba-coba melawan. Ingat akan ada selalu pemanah jitu yang mengawasi perjalanan kalian. Yang melakukan gerakan mencurigakan akan dibunuh!” seru Arung Seto kepada para prajurit tawanan.
“Baik!” sahut sebagian prajurit, tapi bukan berarti yang tidak menjawab berniat memberontak.
Maka mulailah Arung Seto dan anak buah mengatur barisan para tawanan itu. Tidak lupa mereka menggeledahi tubuh prajurit tawanan satu demi satu untuk memastikan bahwa mereka bersih dari senjata.
Senyumi Awan keluar dari persembunyiannya dan menemui Arung Seto.
“Aku minta beberapa orangmu untuk mengawal para tawanan ini,” kata Arung Seto.
“Aku akan memberikan tiga orang pemanah untuk mengawal.
Upaya tawanan melarikan diri itu ada yang terjadi.
Saat rombongan tawanan digiring meninggalkan perbatasan Kadipaten Sengat menuju arah Kadipaten Gulangtara.
Dua orang prajurit yang sepakat, tiba-tiba berlari keluar dari barisan. Mereka berlari sekuat tenaga dan masuk ke dalam ketinggian ilalang yang ada di sisi jalan. Ketinggian ilalang yang setinggi bahu ingin mereka manfaatkan sebagai tempat melenyapkan diri.
Set set!
“Akk! Akh!”
Namun, cukup dua anak panah yang melesat membunuh kedua prajurit yang kabur dan sudah bersembunyi di dalam ilalang liar. Terdengar jelas jeritan kematian mereka.
Tiga orang anggota Sayap Panah Pelangi memang tidak memperlihatkan kehadirannya kepada para prajurit tawanan. Itulah yang memberi tekanan mental kepada para tawanan. Seolah-olah para pemanah jitu itu adalah kamera sisitivi berjalan.
Setelah cukup jauh meninggalkan perbatasaan Kadipaten Sengat, rombongan itu kemudian bertemu dengan rombongan Ratu Siluman yang sedang bergerak menuju ke arah sebaliknya.
Ternyata, Ratu Siluman membawa pasukan yang jauh lebih banyak. Selain Pasukan Genggam Jagad, telah bergabung Pasukan Kadipaten Sengat dan Pasukan Kadipaten Gulangtara yang sudah sampai. Pasukan Kadipaten Sengat dipimpin langsung oleh Adipati Patok Anggara dan Pasukan Kadipaten Gulangtara dipimpin langsung Adipati Gantisempa.
Adipati Gantisempa didampingi oleh Badak Ireng, pendekar yang memimpin pasukan kadipaten. Kondisinya sudah sehat setelah menderita luka dalam karena bentrok dengan mendiang Wulan Kencana.
__ADS_1
“Ampuni kami, Gusti Pangeran Putra Mahkota! Ampuni kami, Gusti Panglima!” ucap para prajurit tawanan itu berulang-ulang sambil bersujud di tanah, ketika mereka dihadapkan kepada Pangeran Sugang Laksama dan dua panglima Kerajaan Singayam.
“Kalian telah berkhianat dengan tunduk kepada para pemberontak dan ikut melakukan kejahatan di berbagai tempat terhadap rakyat biasa!” seru Pangeran Sugang Laksama berwibawa.
“Ampuni kami, Gusti Pangeran. Kami berjanji akan setia kepada Putra Mahkota yang sesungguhnya!” ucap prajurit yang berkedudukan sebagai pemimpin.
“Kami akan setia! Kami akan setia!” ucap para prajurit itu bersahut-sahutan minta pengampunan, tetap dalam kondisi mereka bersujud. Mereka tidak berani mengangkat kepala.
“Baiklah. Aku akan memberi kalian pilihan. Jika kalian menginginkan hukuman ringan, maka tetaplah bersujud dan bersumpah setia kepadaku. Namun, jika kalian menginginkan hukuman mati, berdirilah dengan berani. Anak panah sudah diarahkan kepada kalian!” seru Pangeran Sugang Laksama.
Mendengar itu, jelas tidak ada prajurit tawanan yang berani berdiri dari sujudnya.
“Aku beri dua puluh hitungan!” seru Pangeran Sugang Laksama lagi.
Maka heninglah suasana. Tidak ada yang berani berbicara atau memohon lagi, karena pilihannya sudah jelas, meski sama-sama dihukum.
Namun, rupanya ada satu orang yang berani bersuara.
“Satu! Dua! Tiga...!” teriak Betok menghitung, padahal tidak ada junjungannya yang memberi perintah untuk menghitung. Namun, Pangeran Sugang Laksama membiarkannya.
Alma Fatara ingin tertawa sebenarnya melihat tingkah Betok yang memang maju ingin melihat para prajurit yang sedang disidang. Namun, gadis cantik itu menahan diri. Dia tidak mau merusak ketegangan yang sengaja diciptakan oleh sang pangeran.
“Sembilan belas! Dua puluuuh!” teriak Betok panjang, mengakhiri hitungannya.
Ternyata, tidak ada seorang pun prajurit tawanan yang bangkit dari sujudnya, meski dahi mereka sudah perih karena menekan kerikil jalanan.
“Hahaha!” Akhirnya Alma Fatara tertawa pelan mendengar akhir dari hitungan tersebut, yang sebenarnya tidak ada yang lucu.
“Bangunlah! Bersumpahlah kalian kepada Gusti Putra Mahkota!” seru Panglima Riring Belanga kepada seratus prajurit tawanan itu.
Maka, para prajurit itu bangun kepada posisi berlutut. Mereka lalu mengikuti sumpah yang diucapkan oleh pemimpin prajurit. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
PENGUMUMAN
Bagi kalian penggemar Pendekar Sanggana, novel "Sanggana 5 Perang Selat Gigit" telah rilis. AYO CEK!
Novel baru lain:
1) Tina-Ayu 1: Negeri Tanpa Tahun
2) Rugi 1: Perampok Gendut Budiman
__ADS_1
3) Dendam Tiga Wanita