
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Peniduran Dewi Mimpi benar-benar seperti hotel bintang sepuluh salah tiga era klasik. Selain menyediakan kamar tidur, peniduran itu juga menyediakan restoran besar yang oleh masyarakat negeri itu populer disebut “pemakanan”. Pemakanan di peniduran ini jenis makserda, yaitu pemakanan serba ada.
Tidak hanya itu, di Peniduran Dewi Mimpi tersedia pula pemandian sendang mata air panas yang dipadu aliran air sungai, sehingga menjadi pemandian air hangat. Sendangnya dibuat dua ruang agar tidak ada ikhtilat, yaitu percampuran laki-laki dan wanita yang bukan muhrim.
Masih ada fasilitas lain yang disediakan. Manajemen peniduran juga menyediakan tempat prostitusi offline bagi lelaki hidung loreng dan tempat hiburan yang juga jadi tempat berjudi, yaitu arena adu jago yang disebut Kolam Merah.
Kolam Merah adalah sebuah kolam batu kering sedalam dua tinggi kepala orang dewasa. Di situlah para pendekar beradu nyawa demi mendapatkan sekantung dua kantung kepeng, mencari nama dan kejumawaan. Karena kolam itu menjadi tempat tumpahnya darah, maka disebutlah nama Kolam Merah.
Jika terjadi pertarungan di Kolam Merah, para penonton akan memenuhi sisi atas yang berbentuk tribun yang curam dan berkeamanan.
Pertarungan Kolam Merah menjadi magnet utama bagi Peniduran Dewi Mimpi untuk menarik konsumen. Jika pengunjung tidak tidur atau makan, setidaknya mereka bayar uang masuk dan meramaikan bisnis perjudian yang dikelola oleh manajemen peniduran.
Kuatnya bisnis di Kotabatu Niwakmaya membuat Kerajaan Bulaga harus membayar mahal seorang penjamin keamanan yang sakti. Tentu saja itu sebanding dengan keuntungan besar yang diraup sang raja.
Jadi bisa disimpulkan bahwa Kotabatu Niwakmaya menjadi basis banyak pendekar dan magnet bagi pendekar luar kota untuk datang dengan berbagai tujuan.
Jangan heran jika Alma Fatara dan Manila Sari sempat terpukau. Bukan hanya terpukau melihat kemegahan sebuah penginapan semegah istana, tetapi juga terpukau oleh keramaian dan keluasan peniduran tersebut.
Setelah menyampaikan bahwa mereka butuh tiga kamar dan membayar dimuka, Alma Fatara dan kedua rekannya diantar ke sisi lain dari peniduran tersebut yang lebih ke dalam.
Ada satu bagian luas dari penginapan itu seperti sebuah aula besar yang dikelilingi oleh pintu-pintu kamar batu yang banyak. Jadi kamar-kamar itu mengelilingi sebuah lapangan indoor kecil yang cukup untuk dipakai bermain pertandingan bola basket. Tempat itu terang oleh ramainya lampu-lampu minyak. Selain lampu-lampu minyak yang menempel di dinding luar setiap kamar, ada satu lampu minyak besar yang menggantung di langit-langit atas lapangan.
“Kau pernah menginap di sini, Sabung?” tanya Alma Fatara.
“Pernah bersama mendiang Kepala Kampung dan Lingkar Dalam,” jawab Sabung. “Tapi sudah lama. Waktu itu Peniduran Dewi Mimpi belum seramai ini.”
“Sering?” tanya Manila Sari pula.
“Tidak, hanya dua kali. Waktu itu kami mengirim minyak dalam jumlah besar untuk kotabatu ini atas pesanan Raja Limahipas,” jawab Sabung.
“Aaah, pasti Kakang Sabung juga main perempuan ya?” tukas Alma Fatara sambil menunjuk wajah Sabung.
“Tidaaak!” sangkal Sabung cepat dan panjang, mebuat giginya seolah-olah semakin panjang pula. Ada kepanikan tercipta pada ekspresinya.
“Hmmm, aku tidak percaya. Kakang Sabung tadi bisa mengenali dengan baik mana-mana wanita penghibur di sini. Hahaha!” kata Alma Fatara menyudutkan Sabung.
Memang, sebelum mereka di antar ke kamar oleh pelayan, Sabung sempat memberi tunjuk kepada Alma dan Manila tentang keberadaan beberapa wanita cantik yang dia sebut “wanita penghibur burung”.
__ADS_1
“Tapi hanya sekali,” kata Sabung tidak bisa berdusta lagi.
“Walaupun hanya sekali, tetapi itu namanya pernah,” timpal Manila Sari agak sewot.
“Hahaha!” Alma Fatara hanya tertawa.
“Ini ketiga kamarnya, Pendekar,” kata pelayan wanita cantik berpakaian merah muda yang mengantar mereka. Dia menunjukkan tiga pintu kamar yang bersebelahan. Setiap daun pintu memiliki angka yang berbeda agar tidak terjadi yang namanya salah masuk kamar.
Alma Fatara, Manila Sari dan Sabung sudah diberi kunci pintu kamar masing-masing. Kunci itu berwujud sebatang besi setebal jempol dan sependek jengkal. Pada batangnya ada ukiran angka yang menyamai nomor pintu kamar.
“Silakan,” kata si pelayan. “Jika para pendekar ingin makan, silakan datang langsung ke pemakanan.”
“Hah? Pemakaman?” sebut Alma dan Manila kompak, sehingga terlihat lucu.
“Hihihi!” tawa si pelayan. “Bukan pemakaman, tapi pemakanan, tempat orang makan.”
“Oooh! Hahaha! Baik. Terima kasih,” ucap Alma Fatara seraya tertawa.
Ketiga tamu peniduran itu lalu memasukkan kuncinya masing-masing ke lubang kunci. Tidak ada masalah apa-apa dalam membuka pintu. Kemudian, tanpa berkata-kata lagi, ketiganya masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Sebelumnya, mereka bertiga sepakat untuk masuk dan istirahat sebentar. Nanti Alma Fatara akan membangunkan Manila Sari dan Sabung untuk makan malam, terlebih seharian mereka belum makan.
Kamar itu ternyata memiliki keluasan yang sederhana dengan satu dipan batu bertilam empuk, cukup untuk ditiduri dua tubuh berukuran sedang. Selain itu ada meja batu dan ruang kosongnya yang selebar dua depa dan panjang tiga depa. Di dinding ada dua lampu minyak yang sudah menyala sebelum kamar dimasuki.
Setelah waktu berlalu sekitar durasi makan dua bungkus kwaci, pintu kamar Alma Fatara dibuka dari dalam, lalu keluarlah penghuninya.
Pada saat keluar itu, pandangan Alma Fatara terarah ke seberang lapangan. Dari salah satu kamar keluar pula sesosok pemuda berpakaian pendekar berambut jabrik warna hijau terang, seperti landak tercebur di kaleng cat tembok merek Antihamil. Meski demikian, pemuda berpakaian putih jingga itu ternyata setampan belahan telur asin asli. Benar-benar ganteng tanpa terkikis oleh cahaya lampu minyak besar yang menggantung di langit-langit lapangan. Pemuda itu membawa toya pendek dan kurus berwarna hijau gelap, seperti kayu yang berfungsi sekedar untuk memukul bokong kambing.
Tepat pada saat itu, Alma Fatara bertemu pandang dengan si pemuda rambut landak mekar. Pemuda itu dengan jelas terlihat tersenyum lebar kepada Alma Fatara, memperlihatkan deretan giginya yang putih seputih warna bajunya, bukan seputih hijau rambutnya.
Sepasang mata Alma Fatara jadi agak melebar dengan alis meninggi ketika melihat pemuda itu berjalan cepat ke arahnya sembari tertawa.
“Hahaha!” tawa santai si pemuda tampan, sambil berjalan mendekati Alma Fatara. Uniknya, kedua bahunya bergerak-gerak bergantian seperti sedang berjoget.
Alma Fatara hanya tersenyum, menunggu pemuda itu mendekat. Semakin mendekat, maka semakin jelas ketampanan si pemuda yang berhidung mancung dan berkulit kuning langsat.
“Hai, Bidadari Buah Manggis!” sapa si pemuda sambil tersenyum lebar, ketika dia berhenti dalam jarak dua jangkauan tangan di depan Alma. Senyumnya layak jadi iklan pasta gigi karena kerapian dan keputihan giginya sempurna.
“Hahaha!” tawa terbahak Alma Fatara melihat kelucuan dari over dosis kepercayaan diri si pemuda asing itu.
__ADS_1
“Nenek Ompong!” maki si pemuda begitu terkejut saat melihat keompongan gigi seri atas Alma Fatara, sampai-sampai dia termundur dengan bahu dan kepala terdorong ke belakang, seolah-olah ada tenaga gaib yang menotol jidatnya.
“Hahahak ...!” Kian terbahak Alma Fatara melihat reaksi si pemuda. Gadis berjubah hitam itu sampai-sampai membungkuk memegangi perutnya.
Terbeliak si pemuda dengan dua bibir dan gigi ternganga seperti orang ganteng kesambet roh kusut.
“Tenang, tenang, tenangkan hatimu, Rubi. Ini bukan mimpi buruk yang pertama kali.” Pemuda itu berucap berusaha menenangkan keterkejutannya yang telah merampas kegirangannya.
Tawa Alma Fatara seolah-oleh membuat kebahagiaan si pemuda berubah menjadi bencana.
“Kau kenapa, Kakang? Hahaha!” tanya Alma dengan tawa masih tersisa di wajahnya.
“Hahaha!” Akhirnya si pemuda tertawa drama demi menutupi keapesannya. Lalu katanya sambil bergaya lagi dengan menepuk-nepuk dada kekarnya menggunakan toya hijaunya, “Perkenalkan, namaku Rubi Salangka. Julukanku Si Ganteng Tongkat Perkasa.”
“Hahaha!” Alma Fatara kembali tertawa melihat gaya Rubi Salangka. Kemudian tanyanya, “Lalu?”
“Lalu sebutkan pula namamu. Kita berkenalan!” kata Rubi dengan nada meninggi dan mata mendelik karena agak kesal. Ia jadi bertanya-tanya di dalam hati, “Gadis ompong ini menggodaku atau dia benar-benar bodoh?”
“Tapi aku tidak mau berkenalan dengan orang yang menyebutku nenek-nenek,” kata Alma Fatara sembari tersenyum tipis dengan pandangan menantang.
“Eh jangan seperti itu, Cantik. Aku tadi hanya terkejut. Bagaimana tidak terkejut, jika ternyata kau ompong parah? Hahaha!” kata Rubi cepat lalu berujung tawa drama lagi.
“Kenapa Kakang ingin berkenalan denganku? Bukankah kita tidak ada urusan?” tanya Alma Fatara.
“Ada!” jawab Rubi cepat sambil memukulkan toyanya ke telapak tangan kirinya. Dengan berair-air dia melanjutkan jawabannya, “Aku ada urusan kepadamu, Cantik. Aku langsung jatuh hati kepada kecantikanmu yang dari jauh begitu memancarkan aura kebidadarian dari kahyangan langit kesembilan. Meskipun ketika kau tertawa, begitu menyakitkan jantungku.”
“Hahaha!” tawa Alma Fatara lagi mendengar gaya bicara Rubi Salangka. Lalu katanya, “Kakang berani jatuh hati kepada seorang gadis yang suka membunuh lelaki ganteng sepertimu?”
Terkesiap wajah tampan Rubi mendengar itu.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara pelan sambil berjalan meninggalkan Rubi.
Tok tok tok!
Alma Fatara mengetuk pintu kamar kedua rekannya bergantian. Setelah itu, Alma Fatara kembali menghadap kepada Rubi, yang hanya memandangi apa yang dilakukan oleh gadis beraura sakti yang sangat kental itu.
Memang, sejak Rubi keluar dari kamar dan bertemu pandang dengan Alma Fatara, dia merasakan satu kekuatan tenaga sakti yang begitu besar terpancar dari sosok cantik jelita itu. Namun, dia tidak tahu aura sakti apa yang dimiliki oleh Alma Fatara.
Sebagai pendekar sakti yang belum pernah berkenalan dengan Bola Hitam sebelumnya, tentu saja Si Ganteng Tongkat Perkasa tidak akan tahu sampai nanti jika dia melihat pusaka itu.
__ADS_1
“Namaku Alma Fatara, Kakang. Aku Dewi Gigi, gadis tercantik di lautan. Hahaha!” kata Alma Fatara lalu tertawa. Dia akan tertawa sendiri jika sedang menyebut dirinya sebagai gadis tercantik di lautan. (RH)