
*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*
Alma Fatara telah berkuda pagi-pagi sebelum matahari terbit meninggalkan Kotabatu Niwakmaya dan segala permasalahan.
Bersama Alma ada Putri Manila Sari yang kini doyan judi, bukan doyan kawin. Pangeran Arguna yang tetap ganteng dan terlihat mewah dari pembawaan dan penampilannya. Tentu tidak akan ketinggalan Kepala Kampung Siluman yang masih terlalu muda sebagai pemimpin kampung, yakni Lingkar Dalam.
Kepala kampung itu memiliki kewajiban untuk membebaskan adiknya Lilia Seharum yang masih berada dalam penculikan bersama beberapa gadis Kampung Siluman lainnya.
Ternyata Geladak Badak ikut berkuda dengan mereka setelah membeli kuda baru. Dia ikut karena memiliki urusan di Kotakayu Darabisu. Katanya.
Sementara Bambu Jangking tidak ikut, dia masih betah tinggal di Kotabatu Niwakmaya. Katanya ada sahabatnya yang ikut turnamen di Kolam Merah.
Adapun Laris Manis yang sedang hamil tidak mungkin ikut berkuda, meski suaminya punya rumah di wilayah Kerajaan Ringkik.
Rubi Salangka mau tidak mau harus menunjukkan kesetiaannya dengan tetap bersama Laris Manis, meskipun sebenarnya dia sangat ingin ikut bersama Alma Fatara yang jenis kecantikannya sangat sulit dicari duanya.
Di saat kelima penunggang kuda tenggelam dalam gebahannya masing-masing, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh gebahan dan tawa seseorang, tawa yang bukan dari salah satu dari mereka. Juga bukan tawa Alma Fatara yang paling doyan tertawa, karena ini warna suaranya kakek-kakek, bukan bapak-bapak.
“Heah heah! Hahaha!” gebah suara lelaki tua itu, kemudian tertawa bahagia, bisa dikenali dari ketulusannya dalam tertawa, bukan dibuat-buat.
Mbeeek!
Mereka semua lebih dikejutkan oleh adanya suara mengembik yang kencang.
Ketika mereka menengok dan melihat ke samping kanan, mereka melihat kepala dan badan pendekar tua bernama Bungkuk Gila maju dengan cepat dan sejajar dengan kelima kuda. Bungkuk Gila memegang sebuah ranting kayu yang masih memiliki daun hijau pada tangkainya.
Ternyata, Bungkuk Gila yang tingginya hanya setinggi badan kuda, sedang menunggangi seekor kambing. Binatang itu berlari dengan sangat kencang, terbukti bisa mensejajarkan diri dengan kuda-kuda yang perkasa.
“Hahaha...!” tawa mereka semua melihat kambing itu, bukan karena melihat si kakek yang menunggangi kambing. Mereka tertawa karena kambing berlari dengan mulut terbuka dan lidah terjulur menjuntai ke samping.
“Kakek! Kambingmu sudah mau mati!” teriak Alma Fatara serius menunjuk kambing yang berlari kencang tapi dengan wajah yang sekarat.
“Jika kalian tidak berhenti, kambingku memang akan mati!” sahut Bungkuk Gila setengah berteriak, karena suara mereka terbawa angin.
“Kenapa Kakek tidak berhenti sendiri?” tanya Arguna.
“Karena kambingku jatuh cinta kepada kudamu! Hahaha!” jawab Bungkuk Gila seenaknya.
“Hahaha!” tawa mereka mendengar jawaban itu.
Akhirnya Alma Fatara menarik tali kekang kudanya agar memelan dan berhenti. Mau tidak mau, penunggang yang lain juga berhenti. Namun, tidak bagi si kambing pacu. Dia terus berlari.
“Hei! Berhenti, Kuda! Berhenti!” teriak Bungkuk Gila panik. Karena kambingnya tidak mau berhenti, dia pun memukul kambingnya dengan ranting berdaun di tangannya.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan Geladak Badak melihat itu.
Pada akhirnya mereka melihat Bungkuk Gila melompat begitu saja, membiarkan si kambing terus berlari dan juga membiarkan dirinya jatuh terduduk di tanah jalan.
“Awo awo!” rintih Bungkuk Gila sambil menggosok-gosok bokongnya tanpa berharap akan keluar jin.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan rekan-rekan, walaupun mereka tahu bahwa adegan itu sekedar lucu-lucuan si kakek sakti.
Mereka berlima menjalankan kudanya pelan mendekati posisi Bungkuk Gila.
“Bungkuk Gila, untuk apa kau mengikuti aku?” tanya Geladak Badak.
__ADS_1
“Aku tidak mengikutimu, Geladak Kapal!” sentak Bungkuk Gila.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara yang akrab dengan istilah kelautan. Maklum, sarjananya Pantai Parasemiris, meski tanpa kuliah.
“Aku mengikuti Dewi Gigi Ompong,” tandas Bungkuk Gila.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara yang langsung memperlihatkan keompongannya. Lalu tanyanya, “Kenapa kau mengikutiku, Kek? Bukankah kau tidak punya utang kepadaku?”
“Terbalik, Alma. Bukankah aku tidak punya utang kepadamu?” ralat Manila Sari.
“Hahaha! Iya, seperti itu,” kata Alma Fatara membenarkan.
“Karena kau cantik. Hahaha!” jawab Bungkuk Gila yang menunjukkan kegilaannya.
“Aku hanya cantik selautan, tapi sahabatku Putri Manila Sari cantiknya sedaratan. Kenapa Kakek tidak mengejarnya?” tanya Alma Fatara lagi.
“Hehehe!” kekeh Bungkuk Gila. Lalu katanya, “Orang sakti jodohnya orang sakti.”
“Oooh,” ucap Alma manggut-manggut.
“Aku juga sakti, Tetua. Berarti kita jodoh,” celetuk Geladak Badak sembari tersenyum.
“Cuih! Biar namaku Gila, tapi aku bukan orang gila sungguhan sepertimu!” bentak Bungkuk Gila setelah meludah.
“Hahaha!” Geladak Badak justru tertawa keras.
“Alma Ompong. Aku ini sudah lama menggila sendirian, ke sana ke mari tanpa tujuan. Jadi, karena kau cantik, jadi lebih baik aku mengikutimu agar aku punya tujuan. Hehehe!” kata Bungkuk Gila.
“Kambingmu sudah pergi, lalu bagaimana kau mau mengikuti kami, Kek?” tanya Arguna.
“Heh! Apa yang kau lakukan, Bungkuk Gila?!” teriak Geladak Badak panik karena ditempeli seperti kuntilanak yang cinta mati kepadanya.
“Hahaha!” tawa kencang mereka semua, kecuali Geladak Badak sendiri.
“Aku tidak mau berkuda dipeluk oleh lelaki bau kuburan sepertimu!” teriak Geladak Badak.
Pak!
Tiba-tiba saja Bungkuk Gila menepak keras bokong kuda Geladak Badak, membuat kuda terkejut dan sontak berlari kencang membawa kedua lelaki tua tersebut.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan yang lainnya.
Mereka lalu menggebah kudanya mengejar kuda Geladak Badak.
Namun, ketika mereka berhasil mengejar kuda itu, mereka dibuat terbeliak, karena penunggang kudanya tinggal satu, yaitu si kakek bungkuk doang.
“Kakek! Kau kemanakan Paman Badak?” tanya Alma Fatara.
“Katanya dia mau buang telur burung dulu! Hahaha!” jawab Bungkuk Gila yang kini memegang tali kendali kuda.
“Bungkuk sialaaan!”
Tiba-tiba terdengar teriakan makian dari sisi belakang rombongan berkuda.
Sreeet!
Ketika mereka menengok ke belakang, sosok Geladak Badak sedang berlari di udara dan melesatkan rantai panjang miliknya. Lesatan rantai panjang yang lebih cepat dari lari kuda bisa menyusul kuda yang ditunggangi oleh Bungkuk Gila.
__ADS_1
Sret! Beledug!
Ujung rantai berhasil menjerat kaki belakang kanan kuda, memaksa kuda tersungkur dan melemparkan tubuh Bungkuk Gila jauh ke depan. Meski demikian, kakek kumal itu bisa bergaya dalam lompatannya di udara. Dia mendarat kokoh di tanah, tidak jauh dari posisi kuda tersungkur.
Sementara si kuda segera bangun dengan gelagapan.
Sreet!
Ujung rantai Geladak Badak melesat lagi dan membelit leher si kuda, bermaksud mengendalikan dan menenangkannya.
Alma Fatara dan yang lain jadi menghentikan kembali kudanya.
“Kau mau mengajak bertarung, Bungkuk Gila?!” hardik Geladak Badak marah.
“Hahaha! Tenaaang, tenaaang!” kata Bungkuk Gila sambil tertawa.
“Kuda ini aku beli mahal karena dia tampan. Aku berani bertaruh nyawa untuk mempertahankannya!” kata Geladak Badak masih emosi.
“Baik, kita damai saja. Lagi pula, kalau kita bertarung, mana mungkin kau menang dariku. Hahaha!” kata Bungkuk Gila.
“Ayo kalau mau bukti!” tantang Geladak Badak.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat pertengkaran kedua lelaki dewasa itu. “Kakek kami tinggal saja. Aku tahu, tanpa kuda pun Kakek bisa sampai lebih dulu.”
“Hehehe!” kekeh Bungkuk Gila.
“Tapi aku tidak percaya, Alma,” kata Manila Sari.
“Kau tidak percaya, Cantik? Akan aku buktikan. Jika kau sudah melihat kesaktianku, kau pasti akan jatuh hati kepadaku. Hahaha!” kata Bungkuk Gila.
Mendelik sepasang mata indah Manila Sari mendengar kata-kata Bungkuk Gila. Sepertinya dia menahan mual.
“Sepakat. Kita berlima berkuda, akan berlomba adu cepat dengan Kakek Bungkuk yang tanpa kuda,” kata Alma Fatara.
“Ya, aku sepakat!” kata Bungkuk Gila bermimik serius.
“Ayo!” seru Geladak Badak yang sudah duduk kembali di pelana kudanya. “Aku hitung. Dua ... satu ....”
“Hei! Hitungnya yang benar, Geladak!” hardik Bungkuk Gila yang juga sudah berdiri membungkuk siap lari.
“Tigaaa!” teriak Geladak Badak lebih keras.
Clap!
Tahu-tahu Bungkuk Gila sudah menghilang dari posisinya. Dalam sekejap saja, mereka bisa melihat sosok si kakek sudah sepuluh tombak di depan sana.
“Hea hea!” pekik mereka menggebah kuda maing-masing. Mereka pergi mengejar Bungkuk Gila.
Alma Fatara hanya tertawa menertawakan kepergian Bungkuk Gila. (RH)
********************
Baca Juga!
__ADS_1