
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
“Aaa!” jerit Laris Manis begitu marah sambil menggebuki bapak jabang bayi di dalam perutnya dengan tongkatnya yang bersinar kuning.
Dengan cukup kewalahan, Rubi Salangka yang dalam kondisi berbaring seperti kecoa terbalik, menangkis setiap pukulan tongkat itu dengan toya kecil hijaunya yang menyala seperti tongkat neon. Saat itu, Rubi Salangka sudah berdarah karena menderita luka dalam setelah dihantam ilmu Telapak Manis Maut.
Sementara para petaruh di kalangan penonton di atas sana terus ramai berteriak-teriak menciptakan kebisingan, tapi memang itu suasana sehari-hari di tempat adu nyawa itu.
“Sayangku, apakah kau melupakan semua kebahagian kita berdua, terutama ketika kita membuat bayi di perutmu?” tanya Rubi Salangka di sela-sela pertahanannya. Dia masih mencoba untuk meredakan kemarahan Laris Manis.
Perkataan Rubi Salangka itu membuat muncul kenangan-kenangan indah di balik luapan kemarahan Laris Manis. Tiba-tiba pada wajah cantik yang sedang berubah mengerikan itu muncul air mata yang kemudian menetes. Laris Manis marah dan menangis.
Daks! Srass!
Pada satu ketika, ketika terjadi tangkisan untuk kesekian puluh kalinya, tiba-tiba ujung toya hijau Rubi Salangka mengeluarkan tujuh tali sinar hijau dari ilmu Jerat-Jerat Cinta. Ketujuh tali sinar hijau itu menjerat tongkat dan tangan Laris Manis yang terkejut.
Jeratan itu membuat gebukan tongkat terhenti dan Rubi Salangka cepat ambil kesempatan untuk bangkit dan bergerak cepat.
Rubi Salangka segera mengambil jarak yang membuat tangan Laris Manis tertarik. Wanita hamil itu mencoba untuk bertahan. Namun, Rubi Salangka kemudian melakukan pembetotan kuat, memaksa tubuh Laris Manis tertarik kencang dan terlempar naik ke udara, seperti melempar umpan pancing ke air empang.
Saat melempar itu, tujuh sinar hijau melepaskan diri dari jeratannya, membuat tubuh Laris Manis terlempar jauh.
Semua penonton tegang. Jika tubuh Laris Manis sampai menghantam lantai batu, bisa bahaya kepada si jabang bayi di dalam perut. Memang, pertarungan ini bisa dibilang tidak berperikebayian karena membahayakan bayi yang tidak berdosa dan tidak berdaya.
Dug!
Namun, Laris Manis menggunakan ujung tongkatnya untuk mendarat lebih dulu. Itu membantu Laris Manis melakukan pendaratan darurat, tetapi kencangnya daya luncur itu, membuat kedua kakinya mendarat terhuyung ke belakang dan akan jatuh.
Namun tiba-tiba, dua pasang tangan kekar memeluk tubuh belakang Laris Manis, menahannya agar tidak jatuh. Terkejut Laris Manis karena tahu-tahu Rubi Salangka sudah menyusulnya dan menangkap tubuhnya.
“Hati-hati, Sayangku!” ucap Rubi Salangka cemas.
“Siuuu!” sorak para penonton senang, karena Rubi Salangka masih memiliki rasa sayang kepada Laris Manis.
Dak!
“Aww!” jerit Rubi Salangka sambil sontak mundur dan melepaskan badan Laris Manis.
Tib-tiba saja Laris Manis yang dibantu malah melesatkan siku kirinya ke belakang, menghantam hidung Rubi Salangka.
“Hahaha!” Para penonton yang awalnya senang melihat adegan pertolongan Rubi Salangka, jadi tertawa melihat Laris Manis justru menyikut.
__ADS_1
Rubi memegangi hidungnya yang mengucurkan darah dari dua lubangnya.
Wuut! Taks!
Sikutan Laris Manis disusul dengan kibasan batang tongkat yang cepat dan terdengar berdengung. Rubi Salangka yang tidak siap hanya bisa menangkis dengan toya kecilnya. Kuatnya hantaman batang tongkat membuat Rubi Salangka terdorong ke samping.
Wut wut wut!
Laris Manis kini memutar-mutar tongkatnya seperti baling-baling, membuat tongkat itu terlihat ada beberapa warna, bukan kuning saja. Seolah-olah tongkat itu ada beberapa di tangan Laris Manis.
Mendelik Rubi Salangka melihat Laris Manis mengeluarkan ilmu Tongkat Pelangi. Rubi Salangka tahu kehebatan ilmu itu.
Seset!
Rubi Salangka cepat mencoret-coret di udara di sekeliling posisinya. Saat itu tongkat kecilnya sudah bersinar putih. Dari coretan itu, muncul melayang garis sinar putih berdiri seperti lampu di sekeliling tubuh Rubi Salangka. Rubi Salangka telah mengeluarkan ilmu Lukisan Siluman.
Wuuut! Bsass!
Tongkat yang terlihat ada lima warna berkelebat keras membabat kepada Rubi Salangka. Namun, ketika tongkat itu mengenai garis berdiri sinar putih, tiba-tiba sosok Rubi dan garis-garis sinar yang melayang di udara ambyar semua seperti kiamat.
Laris Manis tahu cara kerja ilmu Lukisan Siluman. Karena itu dia langsung mengibaskan tongkatnya ke sisi belakang tubuhnya.
Wut!
“Di atas!” teriak beberapa penonton bersamaan saat melihat kemunculan sosok Rubi Salangka di udara, tepatnya di atas kepala Laris Manis. Pemuda itu muncul seperti setan dengan posisi tubuh terbalik.
Tanpa mendongak lagi, Laris Manis memukulkan tongkatnya ke atas.
Zurzzz!
“Aakk!” jerit nyaring Laris Manis karena ujung tongkat Rubi Salangka lebih dulu mendarat di batok kepala Laris Manis.
Menempelnya ujung toya ke kepala Laris Manis, setruman sinar putih langsung menyengat seluruh tubuh wanita hamil itu. Sementara gerakan tongkat Laris Manis jadi tertahan dan tidak sampai.
Laris Manis berdiri berkelojotan karena menahan setruman berdaya tinggi itu.
“Kakang Rubi, kau bisa membunuh anakmu sendiri!” teriak Alma Fatara tiba-tiba dari sisi belakang penonton yang memenuhi pagar Kolam Merah.
“Hah!” kejut Rubi Salangka yang seolah-olah baru tersadar.
Dia cepat menghentikan penyaluran energinya dan melompat mundur.
Sementara Laris Manis berdiri terdiam karena tubuhnya menjadi lemas dan gemetar. Tangan yang memegang tongkat pun menjadi gemetar.
__ADS_1
“Akan aku akhiri pertarungan ini!” teriak Rubi Salangka serius.
Dengan tangan kanan berbekal sinar ungu bening, Rubi Salangka melesat maju kepada Laris Manis yang dalam kondisi lemas.
Melihat kedatangan Rubi Salangka dengan ilmu Mutiara Ungu di tangannya, Laris Manis hanya pasrah. Dia tidak kuasa bergerak cepat untuk menghindar atau melawan dengan ilmu kesaktiannya.
Bluar!
“Hakr!”
Namun, ketika tubuh Rubi Salangka baru setengah jalan, tiba-tiba sinar ungu di tangannya meledak keras, mementalkan tubuhnya sendiri ke samping. Rubi Salangka menjerit dengan mulut memuncratkan darah yang banyak.
Blugk!
Tubuh Rubi Salangka jatuh menghantam lantai batu. Dia bergerak sebentar, lalu diam mematung.
Laris Manis yang terdorong dua langkah dan nyaris jatuh, terkejut bukan main.
“Rubiii!” jerit Laris Manis terkejut untuk kedua kalinya.
Setelah terkejut karena Rubi Salangka memilih menyerang dirinya sendiri, Laris Manis lebih terkejut ketika melihat pemuda tampan itu diam tidak bergerak.
“Rubi! Rubi suamiku!” teriak Laris Manis sambil berjalan terhuyung menggunakan tongkat mendekati tubuh Rubi Salangka.
Setibanya di posisi Rubi Salangka, Laris Manis menjatuhkan tongkatnya begitu saja, lalu dia meraih tubuh Rubi Salangka dan memeluknya.
“Suamiku sayang, jangan mati! Aku memaafkanmu! Hiks hiks...!” ratap Laris Manis lalu menangis sesegukan sambil memeluk tubuh Rubi Salangka.
“Yaaah!” desah para penonton yang bertaruh untuk Rubi Salangka. Mereka kecewa dengan tindakan Rubi Salangka.
Dari sisi lain, Juru Tarung muncul keluar. Namun, dia hanya keluar sejauh dua tombak.
“Satu!” teriak Juru Tarung menghitung.
“Dua setengah!” hitungnya lagi, tapi kali ini bersama-sama dengan penonton. “Tigaaa!”
Hitungan ketiga menunjukkan bahwa petarung yang tidak bangun dinyatakan kalah.
“Pemenangnya adalah Laris Maniiis!” teriak Juru Tanding keras membahana.
“Siuuu!” sorak petaruh yang menjagokan Laris Manis, di saat wanita hamil itu justru meratapi kondisi Rubi Salangka.
“Yeee! Hihihi!” pekik Manila Sari lalu tertawa kencang sekali karena taruhannya menang. “Sudah aku duga, tukang kawin itu pasti tidak tega menyakiti bayinya. Hihihi!” (RH)
__ADS_1