
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
Setelah memasuki Istana, tidak ada pesta kemenangan meski Pasukan Pembebas Jintamani sudah masuk semua ke dalam lingkungan Istana yang megah.
Ratu Warna Mekararum hanya menemui para pemimpin pasukan sebentar, memberikan arahan singkat apa yang akan mereka lakukan kemudian. Mereka dan semua pasukan diperintahkan beristirahat. Akan diadakan sidang umum di Ruang Singa ketika hari melewati siang.
Sehubungan gudang bahan makanan habis terbakar, maka tidak ada acara makan atau minum besar yang enak, kecuali seala kadarnya. Jadi, bagi para prajurit, tidak begitu berbeda antara di luar Istana atau di dalam. Namun, jika di dalam, tempat untuk tidur di pagi itu lebih nyaman, bahkan mereka bisa tidur dengan bebas berserakan di lantai pelataran hingga di sekitar jalan Istana yang sudah berlapis lempengan batu alam yang rata.
Pada waktu fajar itu, yang paling sibuk adalah prajurit divisi konsumsi. Mereka harus menyiapkan acara makan besar dalam pesta kemenangan setelah acara sidang umum. Tidak adanya stok bahan makanan membuat mereka harus menyerbu pasar Ibu Kota subuh-subuh. Akhirnya terjadi kekacauan di pasar Ibu Kota karena semua bahan makanan diborong oleh pihak Istana.
Pengumuman tentang kemenangan pasukan Ratu Warna Mekararum telah diumumkan di Ibu Kota sebelum masuk waktu subuh, di mana para prajurit berkeliling sambil berteriak-teriak dan memukul kentongan. Warga Ibu Kota yang pada dasarnya sedang sulit tidur karena status darurat perang, seketika merasa bersukur, karena mereka tidak terkena dampak buruk dari huru hara perang.
Para Keluarga Kerajaan telah kembali ke kediamannya masing-masing. Ada yang memilih beristirahat karena akan ada pekerjaan berat pada siang harinya, ada pula yang memilih membakar dapur untuk merayakan pesta kemenangan untuk skala keluarga lebih dulu, dan ada pula yang memilih mandi madu susu jahe menjelang sidang umum yang akan diadakan.
Di kalangan prajurit, selain sebagian memilih mengambil jatah tidur yang terampas di saat perang, sebagian lagi memilih melakukan aktivitas MCK. Sendang pemandian umum yang hanya boleh dipakai oleh minimal keluarga pejabat atau perwira setingkat kepala prajurit, pada pagi itu benar-benar menjadi tempat pemandian umum yang ramah status. Ujung-ujungnya, tempat pemandian itu menjadi terkesan jorok dan berantakan.
Pejabat yang biasa mandi di sana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sendang yang menjadi keruh seperti tambak yang sedang panen lele. Para prajurit tidak lagi sekedar mandi di pancuran, tetapi mereka juga menjadikan sendang yang luas sebagai kolam renang, sehingga sering kali kepala prajurit harus meneriaki pasukannya yang menceburkan diri ke dalam kolam sendang.
Tingkah lebih liar diperlihatkan oleh anggota Kelompok Lutung Pintar yang tidak kenal tata krama lagi di ruang publik. Mereka tidak sungkan membuat air pancuran tambahan di sendang dengan air seninya.
Suasananya benar-benar seperti area wisata di kala akhir pekan. Pada akhirnya para pejabat memilih pergi mandi di pemandian pribadi yang suasananya lebih tenang dan sepi.
Untuk sementara, berbagai kerusakan yang tercipta di berbagai tempat di dalam lingkungan Istana dibiarkan dulu karena memang prajurit diprioritaskan untuk istirahat. Setelah itu, prajurit perlu diberi kalori lebih dulu. Baru setelahnya, para prajurit akan digeber lagi untuk mengeluarkan tenaganya merapikan dan memperbaiki berbagai kerusakan.
Para prajurit yang menjadi tahanan diberi tugas membersihkan mayat-mayat rekannya yang bertebaran.
__ADS_1
Sementara itu, Alma Fatara sedang menyendiri mengobati lukanya dengan Bola Hitam di dalam sebuah kamar. Tidak ada orang yang mendampinginya karena memang dalam proses pengobatan Bola Hitam dibutuhkan ketenangan dan kelancaran proses terapi.
Bantuan pengobatan yang diberikan oleh Emak Lutung sebelumnya tidak begitu membantu secara signifikan.
Sudigatra tidak memiliki waktu untuk istirahat karena dia mendapat tugas pergi menjemput Prabu Marapata dan sang permaisuri di tempat persembunyian, di hutan dekat Ibu Kota. Sudigatra bersama sepuluh murid Perguruan Pisau Merah pergi berkuda dan membawa sebuah kereta kuda mewah.
Menjelang puncak siang, barulah Sudigatra pulang membawa Prabu Marapata dan Permaisuri Palilin. Pasangan penguasa itu tidak dibawa ke Istana Keprabuan, tapi ke Wisma Ratu Tua yang sudah lama tidak berpenghuni.
Namun, sejak kemenangan pasukan Ratu Warna Mekararum, wisma itu segera dibersihkan.
Pertemuan khusus pun terjadi antara ibu, anak dan menantu di Wisma Ratu Tua.
“Setelah kemenangan ini, banyak yang harus kita ubah, Gusti Prabu. Banyak perwira yang harus diganti dengan perwira baru,” ujar Ratu Warna Mekararum kepada putranya dengan penyebutan pengagungan.
“Aku mempercayakan kepada Ibunda untuk mengepalai perombakan besar-besaran di dalam pemerintahan dan militer. Dengan memenangkan peperangan ini, kekuasaan ini sebenarnya telah menjadi kekuasaan Ibunda Ratu,” kata Prabu Marapata.
“Baik, Ibunda Ratu,” ucap Prabu Marapata.
“Dalam perang saudara ini, kita mengalami kerugian harta benda yang sangat besar. Aku minta izin kepada Gusti Prabu untuk menggunakan harta Kerajaan yang tersimpan rahasia,” kata Ratu Warna Mekararum, padahal hanya dialah yang tahu di mana harta Kerajaan itu disimpan, bahkan sang prabu pun tidak tahu menahu tentang tempat harta itu disimpan.
“Silakan, Ibunda.”
“Lalu bagaimana dengan Pangeran Putra Mahkota?” tanya sang ratu.
“Entahlah. Tabib Kerajaan tidak sanggup untuk mengobatinya,” jawab Prabu Marapata dengan ekspresi sedih.
“Bukan tidak sanggup, tetapi terhalangi oleh kuasa Senopati Gending Suro selama ini, Kakang Prabu,” kata Permaisuri Palilin berbeda pendapat. “Sebaiknya kita coba dulu upaya maksimal dari para tabib Kerajaan. Jika memang tidak sanggup, barulah kia cari tabib dari luar.”
__ADS_1
“Jika tabib Kerajaan tidak sanggup, aku punya sahabat seorang tabib sakti, orang yang telah menyelamatkan aku dari penderitaan racun selama bertahun-tahun,” kata Ratu Warna Mekararum.
“Nenek!” panggil satu suara perempuan tiba-tiba dari arah dalam, seiring muncul berjalan seorang gadis yang cantik jelita.
Sontak ketiga orang berstatus termulia di kerajaan itu menengok. Yang mereka lihat adalah sosok Alma Fatara dalam tampilan baru, yaitu mengenakan pakaian ala wanita bangsawan dengan jubah warna kuning dan pakaian berwarna putih. Alma Fatara yang sudah mandi dengan rambut yang masih lembab dan wajah cerah cemerlang bak usai dicuci pakai pemutih, tampil begitu cantik jelita secantik belahan telur rebus yang masih panas, yang asap tipisnya menjadi pesona penggugah selera.
Ketiga orang itu sampai terpana memandangi kecantikan Alma Fatara, terutama Prabu Marapata dan Permaisuri Palilin. Seketika yang terpikirkan di benak sang prabu adalah menikah lagi. Sedangkan yang terpikirkan di benak Permaisuri adalah jodoh untuk Putra Mahkota.
“Kau terlalu cantik, Alma,” puji Ratu Warna Mekararum.
“Hahahak!” Meledak tawa Alma Fatara tiba-tiba dipuji seperti itu.
“Dewa kawin!” pekik Prabu Marapata terkejut bukan main ketika melihat keompongan yang nyata pada tawa Alma Fatara.
“Hah! Hihihik ...!” Permaisuri Palilin pun tidak sanggup menahan tawa cekikikannya setelah terkejut melihat keompongan Alma Fatara, yang membuat kejelitaannya raib tujuh puluh lima persen dan berganti menjadi kelucuan tingkat bidadari.
“Hahahak!” tawa Alma kian menjadi karena melihat reaksi kedua orang yang belum dikenalnya itu.
“Hihihi!” Mau tidak mau sang ratu juga jadi tertawa berkepanjangan.
“Siapa mereka, Nek?” tanya Alma Fatara setelah tawanya reda, sambil dia mendekati kursi Ratu Warna Mekararum.
Terbeliak Prabu Marapata dan permaisurinya melihat Alma Fatara begitu akrab dengan sang ratu dan seenaknya menyebut “Nenek”.
“Inilah Prabu Marapata dan Permaisuri Palilin,” jawab Ratu Tua.
“Hah?!” pekik Alma Fatara terkejut. Kemudian sambil tertawa, dia turun berlutut menjura hormat, seolah-olah ketidaktahuannya adalah dosa orangtuanya. (RH)
__ADS_1