Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 28: Tarung Sengit Dimulai


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


Delapan anggota 13 Buah Kematian yang akan mengeroyok Alma Fatara di antaranya: Salak Gempur, Kates Kematian, Nanas Neraka, Jambu Pembunuh, Belimbing Maut, Mangga Duda, Ceremai Algojo, dan Sawo Ganteng. Namun, tiga anggota yang dalam kondisi terluka dalam adalah Salak Gempur, Kates Kematian dan Belimbing Maut.


Kedelapan lelaki berpakaian merah itu sudah agak menyebar mengatur posisi setengah mengepung posisi Alma Fatara.


Tidak tanggung-tanggung, kedelapan pendekar itu langsung menyalakan tombak besinya dengan sinar merah menyilaukan. Selain tidak mau menganggap Alma Fatara sebelah mata kaki, juga seolah-olah ingin cepat-cepat menyelesaikan perkara.


Namun, baru saja hendak mulai, tiba-tiba ....


“Tunggu!” seru satu suara lelaki dari kejauhan, dari belakang penonton.


Kejap berikutnya, sesosok pemuda berpakaian putih jingga setampan belahan telur asin telah berkelebat di udara. Dari model dan warna rambutnya yang sesegar rumput pagi, bisa langsung diterka siapa pemuda itu itu adanya.


Jleg!


Rubi Salangka mendarat tepat di sisi kiri Alma Fatara, tidak lebih dan tidak korup.


“Jangan nekat, Kekasihku. Melawan mereka sekaligus sama saja tikam diri. Aku akan membantumu melawan mereka,” ujar Rubi Salangka dengan wajah serius.


Sess! Blus!


Rubi Salangka langsung menyalakan toya hijaunya dengan sinar hijau kecil berpijar di ujungnya. Ia juga membuat tangan kirinya dibakar api hijau gelap dan berasap tebal, tapi tidak membakar tangannya.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat kemunculan sang jagoan yang menjadi pembela. Melihat pemuda itu, pikiran Alma langsung ke “tukang kawin”.


“Tongkat Perkasa, jangan ikut campur!” bentak Sawo Ganteng sambil menunjuk Rubi Salangka.


“Biarkan dia mati di tangan kami!” kata Salak Gempur pula.


“Oh, tidak bisa. Alma Fatara adalah kekasihku di masa depan. Lihatlah, dia begitu cantik dan masih begitu segar, tidak mungkin aku membiarkannya mati di tangan-tangan kotor kalian!” seru Rubi Salangka.


“Kami tidak masalah jika kau memang mau ikut mati pagi ini juga!” seru Belimbing Maut.


“Ayo, kita mulai!” seru Rubi Salangka yang lebih menggebu-gebu daripada Alma Fatara.


“Tidak! Aku borong kalian semua. Aku sendiri, Pendekar Pengawin tidak ikutan!” seru Alma cepat sebelum Rubi Salangka bertindak.


“Alma, jangan ragukan aku. Kesaktianku setinggi ketampananku dan cintaku kepadamu,” kata Rubi Salangka sembari menengok kepada Alma.

__ADS_1


Alma Fatara justru memberikan senyuman ompong kepada Rubi Salangka.


“Kakang Ganteng mundurlah. Ini perkara kehormatanku. Jangan sampai gara-gara Kakang ikut campur, gigiku tambah ompong,” kata Alma Fatara.


“Tapi apa hubungannya bantuanku dengan ompongmu, Alma Ompong? Eh, maksudku Alma Cantik,” tanya Rubi Salangka bingung.


“Hahaha! Tidak ada. Sekarang mundurlah, Kakang. Jangan merusak harga diriku hanya karena bertarung dengan dibantu pendekar lain!” tawa Alma Fatara lalu berkata tegas dengan nada agak tinggi.


“Baiklah, Kekasihku. Namun, jika kau yakin akan mati, mintalah aku untuk membantumu,” kata Rubi Salangka akhirnya mengalah. Dia memadamkan kesaktiannya yang sudah sempat ia munculkan. “Sungguh aku tidak tega membiarkanmu bertarung seorang diri, Cantik.”


Alma Fatara tidak menanggapi lagi perkataan pemuda berambut rumput itu. Rubi Salangka pun akhirnya berjalan pergi menuju ke area para penonton berada.


“Apakah kau sudah siap, Dewi Gigi?” tanya Salak Gempur.


“Mulai!” pekik Alma Fatara lantang sambil tiba-tiba melesat sangat cepat menyerang lebih dulu.


Salak Gempur yang menjadi target serangan pertama Alma Fatara terkejut.


Set! Bakbak!


“Hukh!” keluh Salak Gempur.


Ada yang mengejutkan Salak Gempur, di saat Alma Fatara mencapainya, lesatan tombak itu tertahan di udara oleh sesuatu yang tidak terlihat, sehingga tombak tidak sampai pada tusukan maksimalnya.


Di saat Salak Gempur hanya memiliki tangan kiri yang bebas tugas, dua terjangan kaki Alma yang datang bersamaan menghajar dada lawan. Serangan kaki itu begitu cepat sehingga tidak sanggup ditangkis.


Anehnya, meski tubuh Salak Gempur terdorong mundur, tetapi tubuhnya tertahan, karena tangan kanannya memegang rantai tombak besinya yang tertahan pula oleh satu kekuatan.


Set set set!


“Akk ak akk ...!” jerit Salak Gempur.


Kondisi tubuh yang terdorong tapi tertahan oleh tombak yang tertahan di udara pula, membuat serangan Alma Fatara yang menyusul tanpa jeda mudah untuk masuk. Pada saat Alma Fatara melakukan serangan susulan berupa agresi tangan, Salak Gempur sempat mencoba menangkis dengan tangan kirinya. Nahasnya, tangan Alma yang setajam pedang justru langsung membeset tangan kiri Salak Gempur.


Luka sayatan besar itu langsung disusul dua sayatan kilat pada dada Salak Gempur. Jeritannya terdengar berulang.


Tiga sayatan besar itu cukup membuat Salak Gempur terhuyung ke belakang. Saat itu, tombak dan tangan kanannya sudah tidak tertahan oleh satu kekuatan.


Pada saat Alma Fatara menargetkan Salak Gempur, empat anggota Buah Kematian terdekat cepat bergerak memburu Alma Fatara pula, hanya sayang pergerakan mereka lebih telat. Mereka bahkan terkejut melihat kenyataan bahwa dengan mudahnya Salak Gempur terkena serangan. Jelas mereka melihat ada yang aneh saat bentrokan antara Alma dan Salak Gempur, yaitu Tombak Iblis Salak Gempur sempat terhenti di udara.

__ADS_1


Set! Blar!


Di saat Alma Fatara terus merapati tubuh Salak Gempur yang dibuat tidak sempat melawan, Sawo Ganteng yang lebih dulu mendekat langsung melesatkan tombak besi bersinar merah menyilaukannya.


Alma Fatara lebih cepat menghindar dengan lompatan. Namun, gagalnya Tombak Iblis milik Sawo Ganteng membuat tombak itu terhenti melesat karena tertahan oleh panjang maksimal rantai ekornya. Hentakan itu menciptakan ledakan sinar merah yang muncul dari ujung mata tombak.


Ledakan sinar itu seketika mementalkan orang-orang terdekat, yaitu Alma Fatara yang sedang berada di udara dan Salak Gempur, rekan Sawo Ganteng sendiri. Saat ledakan terjadi, posisi tubuh Alma dan Salak Gempur tidak berjauhan, tetapi mereka terlempar ke arah yang berbeda.


Set!


“Hah! Salaaak!”


Itu bukan teriakan penjual buah salak, tetapi itu teriakan beberapa anggota Buah Kematian, saat mereka semua melihat kepala Salak Gempur putus dan terpisah dari badan. Saking terkejutnya, ketujuh Buah Kematian lainnya jadi berhenti bergerak. Mereka terlalu terkejut dan syok melihat leher Salak Gempur tahu-tahu terpenggal rapi.


Semua anggota Kelompok Tombak Iblis juga terkejut dan tidak menyangka. Mereka semua sudah siap melihat kematian rekan-rekannya, tetapi tidak menyangka akan seseram dan secepat itu.


Para warga kotabatu yang menonton pun sempat memekik bersamaan saat meliat leher Salak Gempur yang tahu-tahu putus.


Rubi Salangka dan para pendekar yang lain juga harus terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa gadis cantik jelita berjubah hitam itu bertarung dengan sadis.


Apa yang terjadi sebenarnya? Jangan ditebak!


Sejak serangan awal terhadap Salak Gempur, Alma Fatara telah menggunakan Benang Darah Dewa. Benang pusaka yang sulit terlihat di dalam kesilauan sinar merah Tombak Iblis itu, awalnya menjerat tombak sehingga terlihat tertahan di dalam lesatannya.


Ketika Alma Fatara melanjutkan agresinya terhadap Salak Gempur, Benang Darah Dewa juga aktif bekerja.


Pada saat serangan Tombak Iblis milik Sawo Ganteng menyerang Alma, posisi Benang Darah Dewa sudah melilit leher Salak Gempur tanpa diketahui pemilik leher. Maka, ketika Alma Fatara terlempar oleh ledakan sinar merah dari Tombak Iblis, Benang Darah Dewa pun melakukan eksekusi memenggal leher Salak Gempur yang ikut terlempar ke arah lain.


Karena tidak bisa melihat keberadaan Benang Darah Dewa sejak awal, maka semua orang tidak mengetahui apa yang memenggal Salak Gempur. Namun mereka yakin, pemenggalan itu dilakukan oleh Alma Fatara.


Jleg!


Alma Fatara mendarat di tanah dengan dua kaki dan satu telapak tangan. Wajahnya langsung tegak waspada terhadap serangan. Dia tidak apa-apa meski terkena gelombang ledakan sinar merah.


Sejatinya, ledakan sinar merah itu tidak begitu berbahaya jika tidak terkena langsung. Sifatnya hanya mendorong kuat yang efek buruknya adalah menghilangkan keseimbangan tubuh korban.


“Lihat, Badak. Calon istriku sangat sakti. Baru saja pertarungan mulai, satu kepala sudah dipenggalnya,” kata Rubi Salangka bangga kepada Geladak Badak, pendekar yang tadi menyebut Alma datang dari pelangi.


“Kau bisa mati jika Alma itu calon istrimu, sebab pasti dia akan memenggalmu karena kau mencari wanita lain,” kata Geladak Badak mencibir. (RH)

__ADS_1


__ADS_2