
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
“Ning Ana, apakah kau siap?” tanya Alma Fatara sambil menunjuk Ning Ana.
“Siap!” teriak Ning Ana mantap.
“Kak Sumirah, apakah kau siap?” tanya Alma Fatara sambil menunjuk Sumirah.
“Siap,” jawab Sumirah biasa saja.
Setelah itu, Ning Ana dan Sumirah saling pandang dengan tajam. Jika Sumirah siap bertarung dengan tangan kosong, lain halnya dengan Ning Ana yang memegang dua pisau merah. Keris Petir Api yang awalnya dia genggam, kini dia selipkan di sabuknya di pinggang belakang.
Sementara itu, para penonton, termasuk Prabu Marapata dan pejabat lainnya, tidak begitu tegang. Sebenarnya mereka sangat yakin siapa yang akan memenangkan duel tersebut.
Alma Fatara lalu melompat mundur meninggalkan panggung berlantai papan tersebut sambil berteriak, “Mulai!”
“Hiaaat!” teriak Ning Ana lebih dulu sambil berlari maju dengan kencang ke arah Sumirah. Kedua tangannya menggenggam pisau merah.
Ning Ana berlari seperti anak perempuan biasa, tidak seperti pendekar. Dia berusaha menusuk Sumirah yang berdiri dengan tenang, tanpa perlu pakai kuda-kuda.
Dengan tenang dan santainya, Sumirah menggeser posisi kakinya menghindari serangan Ning Ana, yang bagi gadis dewasa itu tidak lebih serangan anak biasa yang hanya tahu sedikit tentang ilmu beladiri.
Perpindahan posisi Sumirah membuatnya berada di belakang Ning Ana. Gagalnya serangannya, membuat Ning Ana kian gusar dan cepat berbalik.
Melihat serangan pertama Ning Ana itu, mungkin semua orang sudah bisa menduga bahwa Ning Ana pasti akan kalah dihajar oleh Sumirah, yang jelas-jelas seorang pendekar wanita yang memiliki gerakan terlatih dan halus. Selevel seorang prajurit pun bahkan sudah yakin siapa pemenangnya.
“Dasar pengecut tokek! Jangan hanya bisa menghindar! Hiaaat!” teriak Ning Ana, masih garang dengan koarannya.
Ning Ana kembali menusukkan kedua pisaunya bergantian berusaha mengenai tubuh Sumirah yang bagian mana saja. Namun, lagi-lagi Sumirah hanya bergerak santai memindahkan posisi kakinya, menghindar dengan menggeser berdirinya ke belakang Ning Ana.
“Ak!” pekik tertahan Ning Ana saat merasakan rambut kepalanya ditarik sedikit ke belakang oleh Sumirah.
“Hahaha!” tawa enteng para penonton melihat Sumirah mempermainkan Ning Ana.
“Apa yang kau lakukan, Siluman Tokek? Kau mau bertarung atau mau melawak?!” hardik Ning Ana setelah berbalik menghadap kepada lawannya.
Dak! Bdak!
Tiba-tiba Sumirah maju dengan gerakan yang cukup cepat. Tahu-tahu kaki kiri Sumirah mendarat di dada kecil Ning Ana, membuat gadis remaja itu terjengkang lumayan keras, sampai terdengar jelas suara kepala belakangnya menghantam lantai papan.
“Hahaha!” Alma Fatara malah tertawa kencang melihat jatuhnya Ning Ana.
Alma Fatara tahu bahwa Sumirah tidak menendang dada Ning Ana, tetapi hanya mendorongnya. Jadi Ning Ana hanya sakit karena jatuh ke lantai panggung, bukan karena tendangan.
Ning Ana cepat bangkit seperti orang yang baru saja melihat setan, sampai-sampai justru terkesan lucu, membuat penonton tertawa.
Set set!
Tiba-tiba Ning Ana melemparkan kedua pisau yang digenggamnya kepada Sumirah. Namun, lemparan itu bukan lemparan bertenaga dalam, sehingga kecepatannya adalah kecepatan lemparan biasa.
Maka, tak habis lagi-laginya, Sumirah lagi-lagi menghindari dua pisau terbang itu dengan santainya, membiarkan senjata itu lolos dan jatuh di pinggiran panggung.
Melihat serangannya yang biasa-biasa saja itu mudah dihindari oleh Sumirah, Ning Ana terlihat panik dengan buru-buru mencabut keris di pinggang belakangnya.
“Jangan senang dulu, Siluman Tokek! Kau pasti akan mati sebelum aku bunuh!” teriak Ning Ana lagi dengan gestur yang jelas cukup panik. “Heaaat!”
Ning Ana lalu menusukkan kerisnya ke depan, ke ruang kosong tapi arahnya lurus ke tubuh Sumirah. Namun, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada jin yang keluar dari keris tersebut.
“Kakang Garam! Kenapa kerisnya tidak menembak?” teriak Ning Ana bertanya kepada kekasihnya.
__ADS_1
“Itu karena kau tidak memiliki tenaga dalam, Ana.” Yang menjawab justru Alma Fatara.
“Hihihi! Dasar kutu ingusan. Tinggimu hanya setinggi kepala, tapi sesumbarmu setinggi bintang!” tawa Sumirah mengejek.
Seperti orang yang sedang tersudut, Ning Ana terdiam sejenak, seolah sedang berpikir serius.
“Ayo mengaku kalah, agar aku tidak perlu membuatmu menjadi kutu dipites!” seru Sumirah.
“Tidak akan. Pantang menyerah sebelum tumbang! Hiaaat!” teriak Ning Ana lalu berlari maju sambil menusukkan keris pusakanya ke arah perut Sumirah.
Dak!
Namun, lagi-lagi dengan tenangnya, bahkan sembari tersenyum tebar pesona, Sumirah mundur dua tindak lalu kaki kanannya menendang tangan Ning Ana yang memegang keris.
Tendangan itu membuat Ning Ana berhenti, seiring kerisnya terpental lepas dari pegangan.
Keris Petir Api melambung di udara dan Sumirah menangkapnya.
“Jiaaak!” pekik Ning Ana terkejut saat melihat lawannya telah menguasai keris pusakanya. Dia sontak berbalik dan berlari kencang menjauhi Sumirah.
“Hahahak ...!”
Bukan hanya para penonton kebanyakan yang tertawa kencang melihat tingkah Ning Ana yang menunjukkan ketakutan yang lucu, bahkan Prabu Marapata dan para pejabat tertawa ramai.
“Jika kau turun dari panggung, kau dinyatakan kalah, Ning Ana!” seru Alma Fatara tiba-tiba mengingatkan Ning Ana yang berniat kabur dari atas panggung.
Ciiit!
“Hahaha ...!”
Ning Ana cepat mengerem dengan tajam. Hampir saja dia melompat turun dari panggung. Semakin tertawa penonton melihat wajah panik gadis tanggung itu. Namun, Ning Ana tidak peduli dengan suara tawa itu.
Serzz!
“Jiaaak!” jerit Ning Ana sambil melompat saat Sumirah menusukkan Keris Petir Api yang melesatkan segaris sinar hijau menyerang.
“Ning Ana!” teriak Garam Sakti panik pula di tempatnya di luar panggung. Ia khawatir Ning Ana terbakar.
Ujung sinar hijau itu mengenai lantai papan di dekat kaki Ning Ana yang melompat, sehingga memunculkan api hijau yang membakar setitik lantai. Sebenarnya Sumirah sengaja tidak mengenai Ning Ana, ia hanya ingin membuatnya panik dan tahu rasa.
Setelah lolos dari serangan Keris Petir Api, Ning Ana berlari lebih menjauh dan berhenti, tapi hanya sebatas pinggiran panggung.
“Jangan sembarangan memakai keris itu, Susu Merah!” teriak Ning Ana yang kini tidak memegang senjata apa-apa. “Jika kau sampai membunuhku, kau tidak akan pernah bisa mendapatkan penawar racun di Keris Petir Api!”
“Anak Kutu Setan!” maki Sumirah terkejut bukan main, tapi tidak serta merta melepaskan keris di tangannya. Dia tidak akan percaya dengan perkataan Ning Ana.
Di jajaran penonton, mereka juga terkejut dan menjadi riuh karena ada yang percaya, sehingga menyimpulkan Ning Ana cerdas. Sementara itu, para pendukung Sumirah tidak percaya, mereka meyakini bahwa Ning Ana hanya membual.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat Ning Ana bisa memberi kejutan kepada Sumirah dan penonton.
Sementara Garam Sakti selaku pemilik pusaka lebih terkejut. Dia tidak pernah tahu bahwa kerisnya akan beracun jika omongan Ning Ana benar adanya.
Sumirah segera mendekatkan gagang keris ke hidung cantiknya. Terlihat kemudian wajah cantik itu mengerenyit, seolah-olah menghirup bau yang tidak cocok dengan penciumannya.
“Hihihi!” tawa Ning Ana yang berubah hilang raut paniknya lima puluh persen.
“Kurang ajar kau, Kutu Ingusan! Kau bermain curang!” maki Sumirah marah. Ekspresi marahnya tidak pura-pura.
“Kau juga bermain curang, Susu Merah. Kau melawan anak kecil seperti aku!” balas Ning Ana dengan sikap lebih siaga karena Sumirah sudah terlihat marah.
Serzz!
__ADS_1
“Kiaaak!” jerit Ning Ana sambil melompat lagi karena segaris sinar hijau dari keris kembali menyerang lantai dekat kakinya. Lalu teriaknya panik, “Awas kalau kau coba-coba membakarku, Tokek! Kau akan mati keracunan!”
“Aku tidak akan membakarmu, tapi aku akan menelanjangimu di atas panggung ini!” seru Sumirah, lalu dia melompat maju mendatangi Ning Ana.
Tuk tuk!
Memang dasarnya Sumirah adalah pendekar profesional dan Ning Ana adalah pendekar baru niat jadi. Ning Ana tidak bisa menolak atau kabur lagi dari serangan Sumirah. Dua totokan cukup menjadikan Ning Ana patung hidup.
“Kurang ajar! Kau curang, Susu Merah. Jangan main totok, ayo bertarung kalau kau berani!” teriak Ning Ana benar-benar berisik.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara menikmati pertunjukan kedua gadis itu.
“Kau pikir sejak tadi kita tidak bertarung?” bentak Sumirah sambil menepak kepala Ning Ana yang sudah tidak berkutik.
Sebentar Sumira menggaruk punggung tangan kanannya dengan tangan kiri. Ia mulai merasakan ada kelainan pada tangan kanannya. Ada rasa kesemutan ringan yang menyerang tangan kanannya, seolah-olah itu sebagai bukti bahwa keris yang dipegangnya benar-benar beracun.
“Racun apa yang kau oleskan di keris ini?” tanya Sumirah sambil menggeledah tubuh Ning Ana dengan rabaan tangan kiri.
“Tidak akan aku katakan, biar kau menjadi tokek kurapan!” jawab Ning Ana.
“Baik jika kau tidak mau mengaku,” kata Sumirah yang tidak menemukan benda mencurigakan pada badan Ning Ana. “Aku akan menelanjangimu di depan Gusti Prabu.”
Meski sudah yakin bahwa keris di tangannya mengandung racun, Sumirah tetap tidak melepaskan keris itu.
Set!
Sumirah lalu membeset bahu kanan baju Ning Ana, sehingga robek. Bahu kanan Ning Ana jadi cukup terbuka.
“Kurang ajar kau, Susu Mesum!” teriak Ning Ana marah dan panik.
“Bugili! Bugili! Bugili ...!” teriak para prajurit sambil tersenyum lebar penuh semangat.
“Hahaha! Apa indahnya melihat anak ingusan telanjang?” teriak Emak Lutung tertawa.
“Hahaha!” teriakan Emak Lutung sukses menambah tawa semuanya.
“Katakan di mana penawar racun ini!” bentak Sumirah kepada Ning Ana.
“Tidak akan aku katakaaan!” teriak Ning Ana.
Set!
Sumirah memutus sabuk Ning Ana dengan sabetan keris, membuat celananya melonggar, yang jika ditarik ke bawah pasti akan turun, bukan naik.
“Kau benar-benar tokek paling mesum di dunia, Susu Merah! Huuu!” teriak Ning Ana kencang dan tiba-tiba menangis.
“Dasar air mata tokek!” maki Sumirah di depan wajah Ning Ana.
Lalu sambil menunjukkan senyum wanita setan, Sumira lalu merendahkan tubuhnya dan memegang celana Ning Ana, bermaksud menariknya ke bawah.
“Jangan lakukan! Aku menyeraaah! Huuu ...!” teriak Ning Ana. Dia benar-benar menangis dengan wajah yang memerah dan air mata yang mengalir.
“Yeee ...!” sorak kalangan prajurit pendukung Sumirah.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara, lalu berjalan naik ke atas panggung.
Sumirah pun menghentikan niatannya untuk menelanjangi Ning Ana. Dia lalu melemparkan Keris Petir Api kepada Garam Sakti.
“Ambil kembali kerismu!” kata Sumirah.
Garam Sakti malah terkejut dan tidak berani menangkap kerisnya sendiri, sehingga keris itu jatuh tergeletak di tanah. (RH)
__ADS_1