
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Ternyata Raja Tombak Iblis hanya butuh disambut oleh seorang Aya, sebagai bentuk dia dihormati selaku orang penting yang ingin dipentingkan.
Nates Aya menyambut seorang diri karena Silbi Aya sedang menemani Juru Aman Kotabatu, yakni Sunting Awan yang sudah datang dan menjadi tamu khusus selain Penguasa Nyawa dari Gunung Monyet.
Setelah disambut tanpa sambitan, Raja Tombak Iblis yang tidak terlihat membawa tombak itu diarahkan untuk masuk ke ruang ganti. Di situ dia akan menunggu sampai ada panggilan untuk masuk ke arena Kolam Merah.
Di dalam ruang ganti, Raja Tombak Iblis memilih Aruk Cantik dan Tuleb Cantik untuk menemaninya. Setidaknya memberi suasana nyaman bagi sang guru bisa menikmati kecantikan kedua muridnya itu. Maksudnya menikmati dalam hal memandang.
Di ruang ganti petarung ternyata sudah tersedia makanan dan minuman, lengkap dengan lipatan kain handuk.
Sambil menunggu, Raja Tombak Iblis minta dipijit-pijit. Kedua murid itupun patuh.
Sementara itu, Rajabali Gali dan murid-murid lainnya harus berada di tribun berbaur dengan para penonton lainnya. Adapun para anggota pengawal yang jumlahnya sekitar tiga puluh orang menunggu di luar, menjaga kereta kuda agar tidak dicuri orang.
Saat itu, tribun penuh oleh penonton, benar-benar seperti partai final NBA. Di pagar pembatas Kolam Merah sudah penuh sesak oleh para penonton yang semuanya bertaruh. Mereka seperti penumpang KRL di kala jam sibuk.
Ternyata, rekan-rekan Alma Fatara sudah berbaur bersama para penonton. Lingkar Dalam, Arguna, Rubi Salangka, Geladak Badak, dan Bambu Jangking wajib berada di pagar.
Terutama Lingkar Dalam yang memiliki dendam kepada Kelompok Tombak Iblis. Kedua orangtuanya mati di tangan 13 Buah Kematian. Jadi Lingkar Dalam sangat ingin melihat Raja Tombak Iblis mati.
Sementara Manila Sari dan Laris Manis memilih berdiri di tribun yang hanya ramai, tidak sampai desak-mendesak. Bahaya jika wanita hamil harus berdesakan.
Keduanya juga sudah memegang sehelai pita warna hijau, sama dengan pita yang dipegang oleh kelima rekan lelaki mereka.
Namun, jika dilihat, pita warna kuning lebih mendominasi. Itu artinya, para penonton lebih mengunggulkan Raja Tombak Iblis. Terlihat sekali lebih banyak penonton yang memegang pita kuning dan ramai mengelu-elukan Ketua Kelompok Tombak Iblis.
Sementara di tribun VIP, Nenek Sunting Awan mendapat tempat duduk utama di tengah-tengah, diapit oleh Nates Aya, Silbi Aya dan Penguasa Nyawa dari Gunung Monyet yang sudah bermalam selama dua malam.
Terlalu jarang seorang Juru Aman Kotabatu hadir untuk menonton pertandingan Kolam Merah. Ternyata, diam-diam Sunting Awan memegang sehelai pita warna hijau. Orang nomor satu di Kotabatu Niwakmaya itu berdalih hanya untuk bergembira saja.
Karena Sunting Awan bertaruh, maka untuk ikut bergembira, Penguasa Nyawa juga ikut bertaruh, tetapi dia menjagokan Raja Tombak Iblis.
“Para pendekar dan warga Kotabatu Niwakmaya yang tercinta!” seru Juru Tanding mulai beraksi di tengah dasar Kolam Merah.
“Siuuu!” teriak para penonton bersorak.
“Raja Tombak Iblis! Raja Tombak Iblis! Raja Tombak Iblis!”
__ADS_1
Nama Raja Tombak Iblis mulai dielu-elukan.
“Hahaha! Dengarlah, Cantik!” kata Raja Tombak Iblis kepada kedua muridnya. Dia tertawa jumawa, merasa bangga atas pemujaan para penonton. Namun, dia tetap memejamkan matanya karena menikmati pijitan tangan kedua murid cantiknya.
“Iya, Guru. Guru memang yang terbaik,” kata Tuleb Cantik, lalu mengkode alis kepada Aruk Cantik yang terjemahannya berbunyi, “Iya saja, daripada bonyok.”
Aruk Cantik tersenyum lebar.
Tidak terdengar ada teriakan yang mengelu-elukan Alma Fatara.
“Dewi Gigi! Dewi Gigi!” teriak Manila Sari kencang, tetapi teriakannya tidak terdengar karena tenggelam oleh teriakan ramai pendukung Raja Tombak Iblis. Akhirnya Manila Sari berhenti berteriak.
Namun tiba-tiba....
“Hidup Dewi Gigi Ompong! Hidup Dewi Gigi Ompong! Hidup Dewi Gigi Ompong!”
Tiba-tiba ada satu suara kakek yang begitu keras mengelu-elukan julukan Alma Fatara. Suara kencangnya yang bertenaga dalam tinggi seketika membuat teriakan para pendukung Raja Tombak Iblis berhenti. Itu terjadi karena teriakan si kakek bungkuk di undakan tertinggi tribun di dekat dinding batu menyakiti telinga banyak orang.
Semua orang segera memandang ke tribun atas. Mereka melihat Bungkuk Gila sedang berteriak-teriak dan berjoget-joget, tapi dia menghadap ke dinding, bukan ke arah kolam kering. Dan yang mengejutkan, dia memegang empat helai pita hijau.
“Hidup Dewi Gigi Ompong! Hidup Dewi Gigi Ompong! Hidup Dewi Gigi Ompong!” teriaknya.
“Hahaha...!” Tertawalah para penonton yang awalnya terkejut.
“Kurang setan ajar!” maki Raja Tombak Iblis sambil bangun berdiri, sehingga kedua muridnya berhenti memijit. Dia mengenali siapa pemilik suara yang mengelu-elukan Dewi Gigi. “Tunggu saja, selesai aku membunuh perempuan ini, aku akan memberi pelajaran kepada Bungkuk Gila itu!”
“Lihat, Bungkuk Gila memegang empat pita. Dia pasti mencuri pita penonton lain,” kata Silbi Aya.
“Hehehe!” kekeh Sunting Awan. “Biarkan saja. Orang gila terkadang perlu dibiarkan bertindak semaunya, daripada mengacaukan suasana.”
“Iya, Tetua,” ucap Silbi Aya.
“Terima kasih sudah memenuhi tempat ini! Tentunya kalian sudah tidak sabar untuk menyaksikan pertarungan terbesar masa ini. Betuuul?!” teriak Juru Tanding dengan suara bertenaga dalam tinggi yang menggema wah di tempat itu.
“Siuuu!” sorak para penonton bergemuruh liar seperti sekumpulan ikan lele yang berdesakan berebut makanan.
“Betul betul betul!” teriak Bungkuk Gila bersemangat pula dengan jargon animasi anak kembar berkepala botak. Suaranya bertenaga dalam pula.
“Hahaha!” tawa para penonton. Mereka terhibur dengan tingkah orang gila bungkuk itu.
“Mungkin hanya kali ini, pendekar sakti digdaya, guru dari para pendekar, dan Ketua Kelompok Tombak Iblis, yaituuuu...!” teriak Juru Tanding lalu menunjuk ke arah penonton di atas dengan kedua telunjuknya.
__ADS_1
“Raja Tombak Ibliiis!” teriak banyak penonton meneruskan kalimat teriakan Juru Tanding.
“Raja Tombak Ibu-Ibuuu! Hahahak!” teriak Bungkuk Gila keras sendiri lalu tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha!” tawa penonton, meski Bungkuk Gila mengejek jago mereka.
Terlihat di antara penonton, orang-orang berpakaian merah bergerak menuju ke posisi Bungkuk Gila. Sepertinya murid-murid Raja Tombak Iblis ingin menangkap Bungkuk Gila.
Bluarrr!
Tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh suara ledakan. Mereka semua segera memandang ke Kolam Merah. Yang lebih terkejut adalah Juru Tanding.
Rupanya salah satu pintu batu ruang ganti di dinding kolam meledak hancur berkeping-keping.
Detik selanjutnya, sosok berjubah merah terang dan berambut serba putih muncul berkelebat ke tengah arena Kolam Merah. Sosok yang adalah Raja Tombak Iblis itu, berhenti tidak jauh dari posisi Juru Tanding. Dia muncul dengan sepasang mata menyala merah menyeramkan.
“Siuuu!” sorak para penonton melihat kemunculan Raja Tombak Iblis.
“Bungkuk Gila keparat! Turun kau sini, biar aku robek mulutmu dan aku patahkan tulangmu!” teriak Raja Tombak Iblis begitu marah kepada Bungkuk Gila. Suaranya juga bertenaga dalam tinggi.
“Hahaha! Tua-tua gede ambek. Wek wek wek...!” ledek Bungkuk Gila, lalu berbalik menunjukkan bokongnya kepada Raja Tombak Iblis yang jauh di bawah, lalu menggoyang-goyangkan bokongnya. Tentu saja bokongnya masih bercelana.
“Tangkaaap!” teriak Rajabali Gali kepada saudara-saudara seperguruannya yang sudah mendekat ke posisi Bungkuk Gila.
“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila.
Cling!
Tiba-tiba sosok Bungkuk Gila hilang begitu saja seperti hantu penasaran, membuat murid-murid Raja Tombak Iblis celingak-celinguk mencari.
“Ingat baik-baik, Bungkuk Gila! Setelah pertarungan ini, umurmu tidak akan sampai pagi!” terik Raja Tombak Iblis keras mengancam sambil wajahnya memutar menghadap ke atas. Dia juga mencari-cari keberadaan Bungkuk Gila.
“Tenang, Tetua Raja Tom... akhr!” seru Juru Tanding yang berujung jeritannya, seiring tubuhnya yang terlempar jauh dan jatuh bergulingan di lantai Kolam Merah.
“Diam kau, Juru Tanding!” bentak Raja Tombak Iblis sambil menunjuk Juru Tanding yang seketika menderita luka dalam, setelah sebelumnya mendapat hantaman energi tanpa kasat mata. “Keluarkan perempuan keparat itu!”
Bluar! Wusss!
Tiba-tiba pintu batu ruang ganti lain yang belum terbuka hancur pula, mengejutkan dan menegangkan semua orang.
Kehancuran itu langsung diterpa oleh angin dahsyat yang menderu keras, membuat pecahan batu-batu berlesatan menyerang Raja Tombak Iblis.
__ADS_1
“Hahaha!”
Serangan itu diiringi oleh suara tawa terbahak perempuan, tapi model tawa bapak-bapak. Anda pasti kenal. (RH)