Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
PKS 6: Berebut Kuda


__ADS_3

*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*


 


Pasukan Genggam Jagad kini berada di kediaman Adipati Gantisempa, penguasa Kadipaten Gulangtara.


Adipati Gantisempa seperti sedang mimpi buruk karena kedatangan tiga pejabat Kerajaan Singayam, ditambah Ratu Siluman Kerajaan Siluman bersama puluhan pendekarnya. Mimpi buruk itu tercipta karena dia ketahuan telah merahasiakan perkara tambang emas di Sungai Gua Ular.


Kini sang adipati, istri, dua putrinya dan jajaran stafnya sedang berlutut di hadapan Putra Mahkota Kerajaan Singayam, Pangeran Sugang Laksama.


Pangerang Sugang Laksama duduk di kursi bambu yang di belakangnya berdiri dua panglima sakti, yaitu Panglima Ragum Pangkuawan dan panglima perempuan Riring Belanga.


Sementara Alma Fatara yang kini menjelma menjadi seorang ratu tanpa istana, memilih tidak mau ikut campur urusan dalam negeri Kerajaan Singayam.


Meski sedang diadili, tetapi sang adipati telah memerintahkan para pelayannya untuk membuat jamuan bagi tamu pejabat dan para pendekar, terlebih Alma Fatara dan pasukannya yang telah berjasa mengamankan tambang emas di Sungai Gua Ular.


Maka terjadilah dua situasi yang kontras. Jika di dalam kondisinya tegang dan penuh harap bisa bebas dari hukuman, maka di luar begitu berisik penuh canda dan tawa.


Alma Fatara dan Pasukan Genggam Jagad sudah seperti tamu kondangan. Setelah mereka mengambil makanan di prasmanan, mereka pergi mencari tempat duduk yang nyaman untuk bersantap.


“Kau dan keluargamu telah lama memakan harta penyelewengan. Hukuman yang pantas adalah hukuman mati!” tandas Pangeran Sugang Laksama.


“Ampuni hamba, Gusti Pangeran! Ampuni hamba!” ucap Adipati Gantisempa sambil turun bersujud di lantai.


“Jangan hukum mati kami, Gusti! Kasihani kami, Gusti!” ucap istri Adipati sembari menangis meratap. Dia juga bersujud memohon pengampunan.


“Ayaaah! Ibuuu!” pekik dua anak gadis sang adipati juga menangis, tapi mereka tidak bersujud, hanya berlutut berurai air mata.


“Tolong ampuni hamba, Gusti. Hamba akan memberikan kedua putri hamba sebagai tebusan,” ucap Adipati Gantisempa tanpa mengangkat kepalanya. Idenya muncul saat dia mendengar tangisan kedua putrinya yang memang masih gadis-gadis, seperti buah ranum yang siap dipetik.


“Jaga bicaramu, Adipati!” bentak Sugang Laksama setengah keras. “Kau pikir aku lelaki yang kelebihan gairah?”


“A-a-ampuni hamba, Gusti Pangeran. Bu-bu-bukan seperti itu maksud hamba, Gusti. Hamba tidak bermaksud memandang rendah Gusti Pangeran,” sangkal Adipati Gantisempa cepat.


“Sudah, sudah, sudah!” ucap pangeran tampan itu sembari mengembuskan napas masygul, sembari memandang kedua gadis putri Adipati yang terbilang cantik dan bersih-bersih. Maksudnya bukan bersih-bersih toilet atau mengepel lantai, tapi berkulit tanpa jerawat, komedo, koreng ataupun bisul.


Perkataan Sugang Laksama itu efektif meredakan setengah dari tangis ketiga wanita itu. Setidaknya tidak terlalu bising.


“Keadaan Kerajaan sedang gawat. Tahta telah diambilpaksa oleh Pangeran Derajat Jiwa. Semua kepala daerah yang tidak patuh akan dibunuh dan digantikan dengan orang lain. Aku khawatir Adipati justru tunduk kepada Pangeran Derajat Jiwa. Menghukum mati Adipati dan kalian semua sama saja menjadi perpanjangan tangan Pangeran Derajat Jiwa. Jadi, aku hanya minta kadipaten ini mengirim tiga ratus prajurit untuk ikut berperang selain puluhan kuda yang telah aku minta. Di tambah uang untuk biaya perjalanan untuk perang,” kata Pangeran Sugang Laksama.


“Baik, Gusti Pangeran. Terima kasih atas kemurahan hati, Gusti!” ucap Adipati Gantisempa penuh rasa syukur.


“Terima kasih, Gusti! Terima kasih, Gusti!” ucap istri Adipati pula.


“Terima kasih, Gusti!” ucap kedua putri Adipati pula.

__ADS_1


“Terima kasih, Gusti!” ucap para pejabat Kadipaten bawahan sang Adipati.


“Bangunlah kalian semua. Lebih baik kalian layani Ratu Siluman dan puluhan pendekarnya!” perintah Sugang Laksama.


Maka Adipati Gantisempa dan keluarganya bangun dari sujudnya. Demikian pula dengan para stafnya.


“Tapi, jika Gusti Pangeran berminat dengan kedua putri hamba, hamba dengan senang hati memberikannya dan kedua putri hamba pun akan senang hati melayani Gusti,” ujar Adipati Gantisempa masih berusaha.


“Apakah kau tahu bahwa aku sedang masa berkabung atas kematian istriku, Adipati?” tanya Sugang Laksama dengan tatapan curiga.


“Oh, maafkan hamba, Gusti. Hamba sedikit pun tidak tahu,” ucap Adipati Gantisempa berbohong, lalu dia kembali bersujud. Padahal sebelumnya dia telah dibisiki oleh Badak Ireng bahwa Putra Mahkota sedang masa berkabung karena istrinya mati dibunuh oleh adiknya, yaitu Pangeran Derajat Jiwa.


Tiba-tiba seorang prajurit kadipaten datang masuk menghadap.


“Lapor, Gusti! Kuda-kuda yang dibutuhkan sudah tiba!” lapor prajurit itu.


Memang, di luar sana, di balik ramainya suara Pasukan Genggam Jagad, terdengar ada suara kuda yang ramai berbisik-bisik mempertanyakan nasib  mereka akan jadi seperti apa.


Pangeran Sugang Laksama lalu berdiri sambil menggenggam pedang pusakanya di tangan kiri.


“Persiapkan yang belum kau persiapkan, Adipati. Kami akan segera berangkat menuju Ibu Kota!” perintah Sugang Laksama.


“Baik, Gusti,” ucap Adipati Gantisempa.


Pangeran Sugang Laksama lalu berjalan ke luar. Panglima Ragum Pangkuawan dan Panglima Riring Belanga mengiringi di belakang.


Di sudut teras, Alma Fatara sedang duduk bersila bersama orang-orang terdekatnya, mengerubuti makanan masing-masing, mirip orang sedang main koprok.


Meski di depan sana sedang ramai oleh kedatangan kaum kaki empat, tetapi ratu muda itu tetap kusyuk menekuni santapannya. Sampai-sampai salah satu anggota Sayap Beres-Beres datang memberi tahu Alma Fatara.


“Lapor, Gusti Ratu!” ucap Kungkang yang datang menghadap kepada Alma Fatara dengan atas bibir ada sebutir nasi putih bertengger. Jari-jari tangan kanannya kotor oleh nasi dan sambal.


Alma Fatara, Anjengan, Gagap Ayu, Cucum Mili, Kembang Bulan, dan Ineng Santi sejenak berhenti makan, mereka memandangi Kungkang. Dipandangi oleh mata-mata wanita cantik, seketika mendebarkan jantung Kungkang. Dia tidak menyangka akan menghadapi situasi seperti itu.


“Ada apa, Kakang Kangkung?” tanya Alma Fatara.


“Maaf, Gusti Ratu. Gusti Ratu pasti lupa. Namaku Kangkung, bukan Kungkang,” ralat Kungkang.


“Berarti Gusti Ratu benar, Kakang,” kata Anjengan.


“Ah?” bingung Kungkang dengan kening berkerut tanda dia berpikir keras. “Ma-maksudku....”


“Ja-ja-jangan jadi gagap! Itu me-me-meledek aku!” hardi Gagap Ayu mendelik sambil menunjuk wajah Kungkang, mantan pengurus kuda Demang Mahasugi.


“Tidaaak! Aku tidak meledeeek!” sangkal Kungkang cepat. Jelas dia ngeri jika harus berurusan dengan wanita sakti.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat ekspresi menyangkalan pemuda gendut itu.


“Katakan, Kakang Kungkang!” perintah Alma Fatara tanpa bermaksud salah lagi.


“Kuda-kuda susu datang, Gusti Ratu!” lapor Kungkang.


“Susu?!” sebut Anjengan, Ineng Santi, Kembang Bulan dan Cucum Mili bersamaan dengan mata mendelik kompak kepada Kungkang.


“Jiaaah!” pekik Kungkang ingin menangis sambil menepak jidatnya sendiri. Dia menyadari kesalahannya dalam berbicara.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara terbahak melihat Kungkang.


“Hahaha!” tawa Sugang Laksama pula yang menyaksikan dari depan pintu.


“Maksudku anu, Gusti Ratu. Kuda-kuda su-sudah datang. Yah, itu yang benar. Bukan susu kuda,” ralat Kungkang yang memiliki penyakit seperti Ayu Wicara.


“Ya, aku sudah lihat kuda-kudanya datang. Sampaikan kepada Paman Kalang Kabut. Gunakan namaku untuk memberi tahu para pendekar, pilih kuda mereka masing-masing!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” pekik Kungkang bersemangat.


“Setelah itu tugas Sayap Beres-Beres memastikan kuda-kuda siap untuk ditunggangi!” tambah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” pekik Kungkang lagi.


“Pergilah! Aku tidak akan menawarimu makan bersama,” kata Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” pekik Kungkang lagi. Setelahnya, dia segera balik kiri dan berlari pergi.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan wanita-wanita yang bersamanya.


Kungkang pergi menemui Kalang Kabut, murid mendiang Hantu Tiga Anak yang kini diangkat oleh Alma Fatara sebagai Ketua Sayap Beres-Beres, sebuah divisi baru di dalam Pasukan Genggam Jagad.


Ditunjuknya Kalang Kabut sebagai ketua demi mewujudkan harapannya dengan bergabung dengan Kerajaan Siluman, yaitu ingin belajar jadi pemimpin. Dengan dipimpin oleh seorang pendekar sakti, trio gendut, Jenggot Sejenggut dan Kumis Kalong tidak berani membantah setiap perintah.


Setelah mendapat laporan dari Kungkang, Kalang Kabut pun bertindak. Lelaki bertubuh kurus dan berkumis gemuk itu berkelebat berlari di udara lalu mendarat di atas sebuah tiang tempat kuda ditambatkan.


“Wahai para pendekar Pasukan Genggam Jagad! Kuda-kuda perang telah datang! Gusti Ratu telah memerintahkan untuk memilih kuda masing-masing!” teriak Kalang Kabut dengan sedikit mengandung tenaga dalam agar tidak ada telinga yang lolos dari seruannya.


Sejenak hening. Untuk beberpa detik otak mereka semua loading untuk mencerna maksud dari seruan itu.


“Aku duluan!” teriak Kolong Wowo sambil berlari cepat menuju ke tempat kuda berkumpul dalam penjagaan para prajurit. Dia seketika meninggalkan makanannya.


“Pilih kuda!” teriak yang lain sambil ikut berlari mendatangi para kuda.


Setelah itu, nyaris semua anggota Pasukan Genggam Jagad bangkit menyerbu kuda dan meninggalkan piring nasi mereka.

__ADS_1


Mendapat serbuan dari bangsa manusia, kuda-kuda yang baru di datangkan itu menjadi panik, tetapi penjagaan para prajurit membuat para kuda tidak begitu liar.


Sementara itu, Tiga Penjaga Emas justru mencomoti laut pauk di piring-piring rekan-rekan mereka yang ditinggalkan. Mereka tidak begitu berminat untuk rebutan memilih kuda. (RH)


__ADS_2