Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 7: Pengiriman yang Salah


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


 


Setelah para wanita muda calon Betina Ranjang didata, mereka akan menjalani proses pendataan anatomi tubuh atau fisik di dalam ruang-ruang tertentu.


Di ruang pertama, mereka ditelanjangi oleh tiga petugas perempuan yang berkesaktian. Ukuran-ukuran anggota tubuh sensitif para gadis tawanan itu dicatat dengan jelas. Itu dilakukan di bawah ancaman mata pisau, sehingga kebanyakan mereka memilih pasrah ketika diobok-obok. Bukan airnya yang diobok-obok, tetapi badan mereka. Petugas bahkan punya cara khusus untuk memeriksa keperawanan para tawanan itu.


Bagi yang berontak, mereka akan diberi segaris sayatan pada lengan oleh petugas. Yang nekat terus berontak meski sudah mendapat satu sayatan, akan ditusuk pada bagian pinggang, satu tusukan yang bermaksud melukai, bukan untuk membunuh.


Pengukuran dada, pinggul, bokong, hingga panjang lidah bertujuan mengelompokkan kualitas fisik yang nantinya akan mempengaruhi harga.


Setelah pengukuran, para gadis tawanan itu dibawa ke ruang pencucian. Mereka dimandikan dengan kasar, tapi bersih dan harum.


Sementra itu di luar, di teras, sedang terjadi sesuatu.


“Kenapa tidak ada gadis-gadis dari Kampung Siluman?” tanya juru tulis yang tadi mendata nama dan asal kampung para gadis. Dia bertanya kepada rekannya yang sejak tadi bertugas mengawal dan mendampingi gadis yang didata.


“Sangkur!” panggil lelaki juru aman bersenjata golok.


“Ada apa?” sahut Sangkur yang sedang duduk-duduk di tengah lapangan rumput setelah para gadis habis didata.


“Bukankah kau yang menerima gadis-gadis dari Kampung Siluman?” tanya juru tulis setengah berteriak.


“Iya!” jawab Sangkur. Dia lalu bangkit dan pergi ke teras mendatangi rekan-rekannya.


“Kenapa tidak ada?” tanya juru tulis setibanya Sangkur di dekatnya.


“Tidak ada bagaimana, Bokong?” tanya balik Sangkur. “Gadis-gadis yang terakhir itu berasal dari Kampung Siluman.”


“Bukan!” bantah juru tulis yang akrab dipanggil Bokong.


Nama asli Bokong adalah Boni Rangkong. Selain orang suka memanggilnya Bokong, dia pun ternyata lebih peka jika dipanggil dengan nama itu.


“Keenam gadis yang terakhir mengaku dari Kampung Gajahbatu,” tandas Bokong.


“Kurang ajar! Jangan-jangan Cantik Gelap mengirim gadis-gadis yang salah. Padahal Majikan Tebar Kembang sangat mewanti-wanti gadis dari Kampung Siluman,” kata Sangkur. “Jadi, tidak ada satu pun gadis yang mengaku berasal dari Kampung Siluman?”


“Tidak ada!” jawab Bokong Tegas.


“Lebih baik kau lapor kepada Majikan Tebar Kembang,” saran rekan satunya.

__ADS_1


“Benar-benar kurang ajar Cantik Gelap. Dia mau menipu kita!” rutuk Sangkur.


Sangkur lalu berbalik pergi menuju ke satu-satunya pintu masuk ke tempat itu. Langkahnya tergesa menunjukkan betapa gentingnya masalah yang dia hadapi. Semoga saja majikannya sedang good mood.


Sekeluarnya dari Penangkaran Betina Ranjang itu, Sangkur menghampiri Gempul yang sedang mengobrol dengan sesama juru aman di saat tugas sedang kosong.


“Cantik Gelap mengerjai kita, Gempul. Enam gadis yang dia bawa bukan berasal dari Kampung Siluman, tapi dari Kampung Gajahbatu!” kata Sangkur kepada Gempul.


“Apa?” kejut Gempul. “Lalu bagaimana?”


“Terpaksa aku harus melapor ke Majikan Tebar Kembang,” gerutu Sangkur lalu berjalan pergi.


Sangkur pergi ke suatu tempat. Dia melewati sejumlah rumah kayu panggung di lingkungan itu.


Dia mendatangi sebuah rumah panggung besar yang pada bagian tangganya dijaga oleh dua lelaki berseragam hitam bersenjatakan tombak kayu bermata besi. Di teras atas, ada empat lelaki berseragam sama, tapi bersenjata golok.


Pokoknya rumah besar bercat warna biru terang itu memiliki banyak penjaga, baik di bawah, sekitar dan di atas rumah.


“Aku ingin melapor kepada Majikan Tebar,” ujar Sangkur kepada prajurit penjaga.


“Sangkur mau melapor!” teriak satu prajurit jaga kepada orang yang ada di atas.


“Sangkur mau melapor, Majikan!” kata prajurit di pintu atas setengah berteriak, mengestafetkan pesan.


“Sangkur! Naik!” perintah penjaga di depan pintu.


Sangkur segera menaiki tangga kayu. Namun di atas, dia hanya boleh sampai di depan pintu.


“Majikan, Kelompok Tombak Iblis telah menipu kita terkait pengiriman gadis-gadis dari Kampung Siluman!” lapor Sangkur.


“Apa yang diperbuat orang-orang Tombak Iblis?” tanya suara perempuan dari dalam. Sumbernya pun terdengar cukup jauh di dalam rumah.


“Enam gadis yang dikirim telat, ternyata bukan berasal dari Kampung Siluman, tetapi Kampung Gajahbatu!”


“Apakah mereka sudah pulang?” tanya suara wanita.


“Sudah. Belum lama.”


“Minta Gading Margin pergi mengejar dan menangkap mereka!” perintah suara wanita.


“Baik, Majikan!” jawab Sangkur. “Aku permisi, Majikan!”

__ADS_1


Sangkur yang perkataanya sudah tidak dibalas, segera turun dari depan pintu yang terbuka. Dia buru-buru berlari pergi. Dia pergi menuju ke markas pasukan yang dimiliki oleh Tebar Kembang.


Sekedar informasi, Tebar Kembang adalah seorang wanita yang merupakan orang nomor dua di Kotakayu Darabisu. Sebagai anak dari seorang senopati, dia diberi kekuasaan dan izin kekuatan pasukan. Bisnisnya tidak banyak, hanya sebuah bisnis lendir alias bisnis pelacuran yang besar dan menggurita.


Sarang Betina Ranjang. Itulah nama tempat pelacuran tersebut dan merupakan bisnis lendir terbesar yang ada di Kerajaan Ringgkik. Itu adalah bisnis keluarga. Jangan ditanya berapa banyak wanita Betina Ranjang yang dimiliki oleh Tebar Kembang.


Untuk melindungi bisnisnya, baik dari musuh maupun dari oknum nakal pejabat kerajaan, maka Tebar Kembang memiliki militer sendiri, tapi bukan dari kalangan prajurit pemerintah, melainkan dari kalangan pendekar. Meski bisnisnya besar berkeuntungan melimpah, Tebar Kembang tidak membayar pajak. Dia hanya berkorban uang amplop untuk beberapa pejabat yang secara hukum Kerajaan memberi kesulitan.


“Gading Margin! Gading Margin!” teriak Sangkur ketika tiba di depan sebuah kompleks bangunan kayu berlantai tanah keras. Ada beberapa bangunan serupa.


Di depan bangunan kayu yang seperti barak itu ada banyak lelaki berpakaian hitam bersenjata golok. Ada pula sekelompok yang sedang berlatih dan dilatih oleh seorang lelaki bertubuh agak pendek tapi kekar berotot. Orang berkumis tipis itu mengenakan ikat kepala hitam, tapi pada kedua ujungnya berwarna kuning. Usianya sekitar separuh abad lebih setahun. Masih imut.


Pelatih itulah yang bernama Gading Margin, orang yang dipanggil-panggil oleh Sangkur.


Gading Margin menengok kepada kedatangan Sangkur. Sementara pasukannya yang sedang berlatih tetap bergerak.


“Ada apa, Sangkur?” tanya Gading Margin berwibawa sebagai seorang punggawa.


“Majikan Tebar Kembang memerintahkanmu untuk mengejar Cantik Gelap dari Kelompok Tombak Iblis. Dia telah menipu pengiriman. Seharusnya dia mengirim gadis-gadis dari Kampung Siluman, tetapi dia justru membawa gadis dari Kampung Gajahbatu. Mereka belum lama meninggalkan penangkaran,” jawab Sangkur dengan kalimat yang cepat tanpa terpeleset.


“Baik,” jawab Gading Margin. Lalu perintahnya kepada Sangkur, “Kau awasi mereka!”


“Baik.”


Gading Margin lalu meninggalkan posisinya yang digantikan oleh Sangkur. Dia pergi ke satu arah.


“Pasukan Berkuda Satu! Berangkat tempur!” teriak Gading Margin dengan bertenaga dalam, membuat teriakannya terdengar jelas oleh semua prajurit pendekar di kamp militer tersebut.


Setelah teriakan itu, puluhan lelaki berpakaian hitam yang merasa anggota Pasukan Berkuda Satu segera berlarian menuju ke kandang kuda yang ada di bagian belakang kamp.


Dalam waktu singkat, terdengar lari kuda-kuda dari sisi belakang kamp yang kemudian datang ke hadapan Gading Margin.


Ada sebanyak dua puluh lelaki berkuda yang segera berbaris di hadapan Gading Margin. Seorang prajurit pendekar juga datang menuntun kuda ke depan sang punggawa.


Gading Margin lalu naik ke punggung kuda tersebut.


“Berangkaaat!” teriak Gading Margin lalu menggebah kudanya, yang diikuti oleh kedua puluh prajuritnya. (RH)


 


********************

__ADS_1


Baca Juga!



__ADS_2