
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Tong gentong-gentong, Kerajaan Siluman!
Tong gentong-gentong, ratunya Ratu Siluman!
Ser beser-beser, cantiknya seperti apel!
Ser beser-beser, saktinya seperti jengkol!
Pasukan Genggam Jagad mulai bernyanyi ketika lari rombongan mereka melambat. Itu karena rombongan menghadapi sebuah jalan sempit di atas jembatan.
Jembatan yang terbuat dari material batu dan tanah, menderita kerusakan pada sisi kirinya, sehingga lebar jembatan hanya bisa dilalui satu per satu kuda dan kereta kuda.
Di bawah jembatan adalah jurang yang dasarnya dialiri sungai kecil. Di kanan dan kiri jalan adalah area berpohon dan bersemak liar, hingga di jalan seberang jembatan.
Saat tiga kuda terdepan tinggal lima tombak dari jembatan, tiba-tiba Penombak Manis berteriak bernada panik.
“Sayap Panah Pelangi siaga pertahanan! Semua waspada serangan!” teriak Penombak Manis kencang.
Teriakan itu mengejutkan pasukan. Orang yang paling pertama bereaksi adalah Pasukan Sayap Panah Pelangi dan panglimanya, Tampang Garang.
Tampang Garang dan Senyumi Awan bersama sembilan rekannya dengan gerakan cepat segera loloskan busur dan pasang anak panah. Mereka menghentikan kuda sambil segera menghadapkan badan dan mengekerkan anak panah ke segala penjuru.
Para pendekar yang lain pun bersiaga sambil memandang ke sekitar, yang tidak terlihat ada pergerakan orang asing satu pun. Namun, hampir semua yakin, jika Penombak Manis yang sudah bicara, tingkat kesalahannya sangat kecil, sekecil biji tomat.
Semai Cinta, Tabir Gemas, Jing Menari dan Sukma Senja sebagai pelindung Ratu Siluman cepat memasang kedua piringan terbangnya di tangan masing-masing.
Penombak Manis, Gendis dan Lilis Kelimis siap dengan tombaknya masing-masing.
Sebelum ada teriakan peringatan dari Penombak Manis, istri Juling Jitu itu menangkap hal-hal yang tidak normal yang jika oleh mata biasa tidak akan terdeteksi.
Seperti mata satelit canggih, mata Penombak Manis bisa melihat kerusakan pada jembatan sifatnya baru dan tidak natural karena faktor alam, tetapi seperti sengaja dirusak pada waktu yang belum lama.
Selain itu, Penombak Manis juga menangkap gerakan dua atau tiga daun di kanan dan kiri. Gerakan daun itu sifatnya tunggal, bukan karena tiupan angin, hanya saja tidak terlihat apa yang membuatnya bergerak.
Dan kecurigaan Penombak Manis akhirnya terbukti.
__ADS_1
Set set set...!
Sebanyak dua belas anak panah tiba-tiba melesat dari dua sisi jalan. Setiap anak panah muncul dari titik-titik yang berbeda, tetapi arahnya satu, yaitu posisi Alma Fatara. Sepertinya para pemanah yang bersembunyi itu sudah mengetahui siapa targetnya karena Alma Fatara adalah orang nomor satu dalam rombongan itu.
Set set set...!
Tek tek tek...!
Bersamaan dengan munculnya kedua belas anak panah, Tampang Garang, Senyumi Awan dan kesembilan gadis cantik pemanah lainnya langsung melepaskan pula anak panahnya.
Hebatnya, tanpa perlu diskusi lebih dulu, mereka masing-masing telah memilih target bidik tanpa ada yang berebut.
Sepuluh anak panah penyerang gelap rontok ke bumi karena berhasil diblokir oleh anak panah Senyumi Awan dan kesembilan rekannya. Sementara dua anak panah lainnya di hancurkan oleh dua anak panah sinar putih yang dilepas oleh busur biru Tampang Garang.
Memang, busur pusaka bekas milik Kebo Puteh itu hanya butuh tenaga dalam untuk membuat anak panah sinar putih. Jumlahnya pun bisa diatur, seperti iklan kopi yang pakai gula. Busur itu bahkan bisa melesatkan sepuluh panah sinar putih sekaligus.
Set set set...!
Pada saat perang anak panah terjadi, Semai Cinta, Tabir Gemas, Jing Menari dan Sukma Senja melesatkan kedua piringan emasnya masing-masing ke arah kerimbunan semak belukar dan daun pepohonan. Semai Cinta dan Tabir Gemas melesatkan senjatanya ke sisi kanan rombongan. Jing Menari dan Sukma Senja melesatkan piringan emasnya ke sisi kiri rombongan.
Sret sret!
“Akh! Akk! Akk!”
Set set set...!
Ada sebanyak delapan orang berpakaian hitam yang melompat keluar dari persembunyiannya demi menghindari serangan piringan yang sangat tajam. Namun, sambil melompat keluar, lima orang melepaskan panah pula.
Set set set...!
Tek tek tek!
Lagi-lagi, seolah-olah sudah berdiskusi sebelumnya, Senyumi Awan dan rekan-rekannya melepaskan anak dengan berbagi target tanpa tertukar atau rebutan.
Lima orang memblokir lima anak panah yang dilepaskan, sementara lima orang lagi membidik tubuh lawan yang bergerak mengudara.
Tsuk tsuk tsuk...!
“Aak! Akk! Akk...!”
Lima pemanah yang sedang bergerak di udara itu tidak bisa menghindari serangan Pasukan Sayap Panah Pelangi. Kelima orang berpakaian hitam-hitam itu jatuh ke tanah seperti burung yang kena tembak.
__ADS_1
Set set set!
Cus cus cus...!
Sementara orang berpakaian hitam lainnya yang juga menghindari serangan piringan terbang, bertewasan ketika tubuh mereka terkena panah-panah sinar putih yang dilepaskan oleh Tampang Garang. Khusus anak panah sinar putih, sifatnya tidak menancap, tapi menjebol tubuh korban.
Kedelapan piringan emas melesat terbang kembali sendiri ke tangan tuan-tuannya yang masih duduk manis di atas punggung kudanya.
Benar-benar perang panah yang singkat dan hebat. Alma Fatara benar-benar terlindungi dengan baik, bahkan Mbah Hitam tidak perlu turun tangan untuk melakukan perlindungan.
“Aak!”
Setelah itu serangan terhenti, tetapi semua personel Pasukan Genggam Jagad tetap waspada. Yang tersisa tinggal jeritan beberapa orang yang ada di balik semak belukar yang lebat. Sepertinya mereka terluka parah oleh piringan terbang.
Ternyata, gagalnya penyergapan panah di jalan sebelum jembatan memancing munculnya belasan lelaki berpakaian hitam-hitam di jalan seberang jembatan. Mereka semua bersenjata busur.
Belasan lelaki berpakaian hitam itu membentuk formasi yang menutup jalan di depan sana. Separuh jumlah berlutut dengan satu kaki sambil membidik. Separuh lagi berdiri di barisan belakang yang juga membidik.
Berbeda dengan penyergapan pertama, kelompok lelaki berpakaian hitam itu siap memanah dengan anak panah sinar merah. Jelas itu tingkatan yang lebih berbahaya dari sebelumnya.
Terlihat jelas pula ada seorang lelaki berpakaian merah gelap yang tidak ikut mengeker dengan panah. Dia juga berbekal busur bagus. Sepertinya dialah pemimpin dari kelompok yang tidak dikenal oleh Alma Fatara dan pasukannya.
Para pemanah sinar itu mengarahkan senjatanya ke arah Pasukan Genggam Jagad yang berseberangan jembatan.
“Kau kenal mereka, Pangeran?” tanya Alma Fatara kepada Pangeran Sugang Laksama.
“Tidak. Tapi mereka sepertinya menargetkanmu, Gusti,” jawab Sugang Laksama.
“Hua hua. Sepertinya mereka mencari mati,” kata Alma Fatara pelan.
Orang yang paling tegang dengan situasi itu adalah Gede Angin dan Juling Jitu, karena posisi mereka di depan. Pikir mereka berdua, jelas mereka akan menjadi target terdepan dari serangan panah sinar yang pastinya akan massal.
“Panah!” teriak lelaki berpakaian merah gelap kepada pasukannya.
Set set set...!
Maka belasan anak panah sinar merah berlesatan.
Namun seiring teriakan lelaki di seberan jembatan itu, tiba-tiba sosok Alma Fatara telah melesat terbang ke depan meninggalkan punggung kudanya. Dia melewati atas kepala sebagian pasukannya yang posisinya di depan. Tindakan sang ratu itu membuat Pasukan Sayap Panah Pelangi menahan diri untuk memanah melakukan pertahanan.
Set! Syeeeff!
__ADS_1
Alma Fatara terbang cepat menyongsong kedatangan hujan panah yang mengarah pasukannya. Dia pun ternyata melesatkan Bola Hitam menyambut panah-panah sinar merah tersebut di atas jembatan. (RH)