Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 4: Berangkat ke Rawa Kabut


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


Di saat para sahabatnya sedang berhati riang antre di Wisma Kementerian Perbendaharaan, Alma Fatara sedang berbincang hanya berdua dengan Ratu Warna Mekararum di taman Wisma Ratu Tua.


Hari ini, bonus-bonus yang dijanjikan oleh Ratu Warna Mekararum cair, setelah sang ratu mengambil sedikit harta kerajaan di tempat yang dirahasiakan.


Hari ini giliran para adipati dan para pendekar yang bisa menerima bonus emas dan kepeng mereka, sesuai dengan jatah yang telah dicatat sebelumnya. Pasukan kadipaten juga menerima bonusnya pada hari ini.


Adapun bonus para perwira militer dan prajurit Kerajaan akan cair besok. Upahan bulanan mereka dipercepat pembayarannya sebagai bentuk terima kasih Kerajaan kepada mereka.


Setelah menerima segala bonus dan penghargaan, para pasukan bantuan yang dibawa oleh Ratu Warna Mekararum diizinkan untuk pulang ke daerahnya masing-masing.


Dalam beberapa hari ini, Pangeran Bugar Bawah yang telah diangkat sebagai Menteri Perbendaharaan menjadi orang yang paling sibuk melakukan penghitungan emas dan kepeng.


“Jadi, kau memutuskan untuk langsung pulang? Kau tidak berniat untuk pergi menemui pengrajin emas yang mengabdi pada Kerajaan ini?” tanya Ratu Warna Mekararum.


“Iya, Nek. Aku ingin menyelesaikan dulu masa berguruku. Setelah itu barulah aku akan pergi mencari ibuku lewat gelang kakiku,” tandas Alma Fatara, merujuk pada gelang emas yang selama ini melingkar di pergelangan kaki kanannya.


“Putra Mahkota Pangeran Jakirwogo tidak bisa disembuhkan oleh para tabib Istana, jadi dia harus dibawa ke tempat Ki Ramu Empedu. Gusti Prabu dan Permaisuri yang akan mengantar Putra Mahkota. Jadi aku minta, kau dan murid-murid Pisau Merah mengawal Gusti Prabu sampai ke Rawa Kabut. Untuk pengawalan pulang, aku akan mengirim surat kepada Dato Jari Sambilan,” kata Ratu Warna Mekararum.


“Kita belum mencoba pengobatan dengan Bola Hitam, Nek,” kata Alma Fatara tiba-tiba.


Terbeliaklah Ratu Warna Mekararum. Dia pun baru teringat bahwa Bola Hitam milik Alma Fatara bisa mengobati.


“Kenapa aku tidak terpikirkan?” gerutu Ratu Tua. “Jika begitu, kita lakukan sekarang juga, Alma.”


“Baik, Nek. Hahaha!” ucap Alma, lalu tertawa.


Maka, kedua wanita dua generasi itu segera pergi ke Wisma Putra Mahkota untuk mencoba pengobatan Bola Hitam. Sang ratu mengirim utusan ke Istana Keprabuan untuk memberi pesan tentang tindakan itu.

__ADS_1


Pesan itu membuat Prabu Marapata dan Permaisuri Palilin segera pergi ke Wisma Putra Mahkota.


Sebelum melakukan terapi, tabib Istana lebih dulu memeriksa ulang kondisi terkini Pangeran Jakirwogo. Setelah tabib mencatat segala kondisi fisik sang pangeran, barulah Alma Fatara melakukan pengobatan dengan media Bola Hitam.


Butuh waktu sekitar durasi mandinya seorang putri untuk mengobati Putra Mahkota Pangeran Jakirwogo. Terjadi dua kali muntah darah hitam nan busuk menyengat dari dalam tenggorokan sang pangeran. Posisi berbaring membuat darah itu mengotori wajah dan leher.


Tabib segera membersihkan darah kotor itu, sementara kedua orangtua Pangeran dilanda kecemasan yang sangat. Mereka sebenarnya ada memendam kekhawatiran jika pengobatan itu justru membunuh putra mereka.


Setelah pengobatan itu, tabib Kerajaan kembali memeriksa ulang kondisi Putra Mahkota untuk mengetahui perkembangan apa yang didapat.


“Kondisi Gusti Pangeran mengalami perbaikan, tetapi racun yang sudah lama mengendap telah menyatu dengan daging dan tulang, jadi butuh pengobatan jangka panjang dan terus-menerus agar racunnya bisa dikuras sedikit demi sedikit,” kata tabib Kerajaan menyimpulkan. “Jika Nak Alma bisa tinggal di Istana paling sebentar selama beberapa purnama dan bisa memberikan pengobatan setiap hari seperti ini, kesembuhan Gusti Pangeran bisa diharapkan.”


“Bagaimana, Nak Alma?” tanya Permaisuri Palilin dengan tatapan penuh harap.


“Maafkan hamba, Gusti. Hamba hanya bisa sangat menyarankan agar Pangeran dibawa ke kediaman Ki Ramu Empedu, sehingga ada jawaban yang lebih pasti,” jawab Alma Fatara, yang jelas tidak mau mengorbankan masa tumbuh kembangnya hanya berkutat untuk mengobati Pangeran Jakirwogo.


Akhirnya, diputuskan bahwa Pangeran Jakirwogo akan dibawa ke Rawa Kabut, kediaman Ki Ramu Empedu yang memiliki nama asli Jamur Jangkung. Keberangkatan akan dilakukan besok pagi. Sementara Ratu Tua tetap di Istana memimpin sementara pemerintahan.


Terbentuklah sebuah rombongan besar. Rombongan tiga kereta kuda mewah. Kereta kuda pertama diisi oleh Prabu Marapata dan Permaisuri Palilin. Kereta kuda kedua diisi oleh Putra Mahkota Pangeran Jakirwogo dan seorang tabib Istana dan abdi dalam. Dan kereta kuda ketiga diisi oleh kakak adik Pangeran Arguna dan Putri Manila Sari, pangeran dan putri yang bukan anak raja.


Di Kerajaan Jintamani, status pangeran dan putri memang terbagi dua, yaitu pangeran dan putri yang merupakan anak raja serta pangeran dan putri yang merupakan anak dari pangeran bukan pewaris tahta. Setelah itu, gelar pangeran dan putri tidak lagi bisa disematkan kepada cucu pangeran bukan pewaris tahta.


Rombongan itu disebut besar karena dikawal oleh lebih seratus murid Perguruan Pisau Merah, lima puluh prajurit Pasukan Pengawal Raja yang dipimpin langsung oleh Komandan Gebuk Sewu, tiga ratus prajurit pasukan kerajaan yang dipimpin oleh seorang komandan, dan ditambah Alma Fatara dan gengnya.


Selain itu, ada pula tiga pedati yang mengangkut berbagai logistik dan sebanyak tiga puluh dayang.


Pasangan Pendekar Tongkat Berat dan Pendekar Buaya Cantik sudah tidak bergabung dalam rombongan Alma Fatara, mereka berdua memilih bebas lebih awal dari urusan kerajaan.


Selain besar, rombongan itu juga mahal karena Alma cs dan murid-murid Perguruan Pisau Merah membawa banyak harta benda.

__ADS_1


Rombongan itu bergerak pelan karena pasukannya berjalan kaki. Alma Fatara dan para sahabatnya menunggang kuda yang berjalan biasa.


Perjalanan berlangsung selama sepekan untuk sampai ke Rawa Kabut di sebelah barat Gunung Alasan.


Selama perjalanan, rombongan itu tidak menemukan penghadangan dari pihak manapun. Bukan berarti tidak ada begal yang berniat merampok, tetapi kelompok rampok mana yang berani merampok rombongan yang sebanyak itu.


Ringkas cerita, tibalah rombongan itu di Lembah Hilang, sebuah lembah yang ada sebelum memasuki Rawa Kabut. Di lembah itulah rombongan membangun perkemahan.


Orang-orang Perguruan Pisau Merah dengan gembira pulang ke perguruan yang sudah tidak begitu jauh dari lembah. Sementara Alma Fatara lebih dulu pergi ke kediaman Ki Ramu Empedu untuk memastikan bahwa tabib sakti itu ada di kediamannya.


Nasib mujur bagi Prabu Marapata dan putranya, ternyata Ki Ramu Empedu ada di tempat.


Alma Fataralah menjadi satu-satunya alasan bagi Ki Ramu Empedu untuk mau menerima Prabu Marapata, Permaisuri Palilin dan Putra Mahkota. Jika tidak, maka Ki Ramu Empedu akan menolak mereka tanpa peduli apakah Marapata seorang raja atau Pangeran Jakirwogo sedang sekarat.


Memang, tabib sakti Ki Ramu Empedu memiliki prinsip dalam palayanan jasanya, yaitu prinsip harus kenal dan akrab.


Setelah Prabu Marapata dan putranya diterima oleh Ki Ramu Empedu, maka Alma Fatara dan para sahabatnya mohon diri untuk melanjutkan perjalanan pulang.


Memang tidak sia-sia Pangeran Jakirwogo dibawa berobat ke Rawa Kabut, karena Ki Ramu Empedu memberi kepastian tentang nasib sang pangeran.


Kesimpulannya, Pangeran Jakirwogo harus menjalani pengobatan sepekan di Rawa Kabut, setelah itu dia boleh dibawa pulang. Pengobatan lanjutannya bisa dilakukan oleh tabib Kerajaan dengan menjalankan pengobatan berdasarkan resep dari Ki Ramu Empedu.


Pada masa tunggu itu, Prabu Marapata dan Permaisuri melakukan kunjungan ke Perguruan Pisau Merah yang diterima langsung oleh Dato Jari Sambilan. Pada kesempatan itu pula, akhirnya Sudigatra resmi diangkat sebagai Senopati Kerajaan Jintamani. Dia mendapat izin dan restu dari sang guru.


Sama halnya dengan Adipaksa. Dia pun diangkat sebagai Komandan Pasukan Khusus Pisau Merah Kerajaan Jintamani. Sebanyak seratus murid perguruan langsung disahkan menjadi personel Pasukan Khusus yang nantinya akan tinggal di Kerajaan.


Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi.


“Lapor, Gusti Prabu! Kami tidak menemukan Gusti Pangeran Arguna dan Putri Manila!” lapor Komandan Gebuk Sewu setelah pasukannya melakukan pencarian terhadap kedua putra Pangeran Bugar Bawah itu.

__ADS_1


“Apa?!” kejut Prabu Marapata dan Permaisuri Palilin. (RH)


__ADS_2