
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Blar! Blar! Blar! Blar!
Empat ledakan keras yang terdengar, mengejutkan Pasukan Kadipaten Sengat yang telah berbaris rapat memenuhi jalan. Warga yang bersembunyi semakin dilanda kecemasan jika perang pecah di jalan itu.
Ledakan itu terjadi di balik tikungan jalan, jadi tidak dapat mereka lihat.
Yang terjadi di jalan di balik tikungan itu adalah aksi peledakan yang dilakukan oleh empat anggota Sayap Laba-Laba dari Pasukan Genggam Jagad.
Sebelumnya, Kolong Wowo, Segara, Setoro Beksi dan Kudapaksa menempelkan sinar hijau ilmu Jerat Ledak-Ledak pada dua batang pohon yang melintang menutupi jalan. Namun, sinar hijau itu hanya bisa dilihat oleh murid-murid mendiang Jerat Gluduk, Penombak Manis dan Mbah Hitam. Alma Fatara yang sakti saja tidak bisa melihat sinar itu.
Namun, ketika keempat pendekar lelaki itu mundur, terjadi empat ledakan beruntun yang menghancurkan kayu batang pohon yang melintang. Dengan demikan, jalan kembali terbuka meski ada serakan kayu-kayu besar.
Penghancuran kedua batang pohon itulah yang didengar oleh Pasukan Kadipaten Sengat dan warganya yang mengungsi.
Setelah menyingkirkan dua batang pohon itu, Pasukan Genggam Jagad bergerak maju dengan kuda berjalan biasa.
Drap drap drap!
Mendengar suara ladam-ladam kaki kuda itu kian mendekat, Komandan Are Are dan pasukannya kian tegang. Pasukan panah yang berada di sekitaran semak belukar dan di balik pohon-pohon kian berdebar, bahkan ada yang sampai berkeringat di dahi. Kondisi sangat mengintimidasi perasaan para prajurit muda yang belum berpengalaman berperang.
Alma Fatara dan pasukannya, terutama Penombak Manis, sudah tahu bahwa mereka sedang ditunggu oleh penghadang di belokan jalan. Namun, meski demikian, Penombak Manis, Juling Jitu dan Gede Angin yang berkuda di barisan paling depan tetap tenang, seolah-olah tidak ada perkara apa-apa yang menunggu di depan.
Dan ketika tiga kuda terdepan muncul dari balik tikungan, para prajurit kadipaten segera bergerak kecil dalam mengencangkan genggamannya pada senjata dan tameng masing-masing. Tidak ada yang salah memegang senjata rekan sendiri.
Saat mulai melihat keberadaan pasukan kadipaten, baik yang tersebar di semak-semak atau di balik batang pohon, maupun yang menumpuk menutup jalan, mata Penombak Manis langsung membaca situasi dan raut wajah-wajah para prajurit. Wajah Komandan Are Are yang duduk di atas kudanya juga dibaca oleh mata sakti Penombak Manis.
“Mereka tegang, Kakang,” kata Penombak Manis kepada kedua lelaki yang mengapitnya.
“Hahaha!” tawa Gede Angin. “Mungkin ada yang kencing di celana.”
“Hahaha!” tawa Juling Jitu.
Melihat tiga orang berkuda pertama yang muncul dari balik tikungan bersikap tenang dan justru tertawa, Komandan Are Are tidak langsung berkomando. Wanita pesek dan kedua lelaki pembawa bendera di punggungnya itu terlihat tidak menunjukkan gelagat ingin bertempur.
Barulah Komandan Are Are bisa melihat dua bendera yang dibawa Juling Jitu dan Gede Angin yang berkibar oleh angin. Bendera kuning gambar kepala ayam jago berkokok tanpa suara mereka kenal sebagai bendera Kerajaan Singayam. Namun, bendera hitam yang dibawa Gede Angin baru kali ini mereka lihat. Bendera hitam bergambar tarantula ungu di dalam kegelapan itu jelas bukan panji, tapi bendera.
Memang, di dalam dunia kemiliteran, ada perbedaan bentuk dan ukuran antara bendera dan panji.
Secara perlahan, semakin maju pasukan berkuda, maka semakin terlihat semua wujud-wujud para pendekar dalam Pasukan Genggam Jagad. Aura-aura penampilan para pendekar itu memiliki wibawa kekuatan yang bisa menunjukkan bahwa orang-orang itu bukanlah pendekar biasa. Apalagi jika melihat wajah-wajah cantik sepuluh pemanah yang begitu penuh kharisma dalam penampilannya.
Baru melihat penampilan Pasukan Genggam Jagad saja, pasukan kadipaten sudah jatuh mental.
__ADS_1
“Jika ada sepuluh saja pendekar sakti di dalam pasukan itu, bakalan mampuslah kita!” kata Komandan Are Are kepada Sekulang, wakilnya.
“Benar, Gusti,” ucap Sekulang mengangguk.
“Lihat, ciri-ciri pendekar sakti, meski sudah dibidik, tetapi mereka tetap sangat tenang,” kata Komandan Are Are lagi.
“Berhentiii!” teriak Panglima Besar Anjengan tiba-tiba.
Pasukan Genggam Jagad pun berhenti bergerak maju.
“Pasukaaan, siapa kita?!” teriak Panglima Besar Anjengan kepada pasukannya yang sudah berhenti.
“Pasukan Genggam Jagad!” teriak seluruh Pasukan Genggam Jagad membahana mengejutkan burung-burung di atas pepohonan, sehingga terbang dalam kondisi sawan.
Teriakan serentak itu sontak menggentarkan jantung Komandan Are Are dan pasukannya. Juga mengejutkan Adipati Patok Anggara dan ketiga pendekarnya. Apalagi para warganya, mereka lebih takut.
“Oeeek!” jerit tangis seorang bayi karena sawan mendengar teriakan puluhan pendekar itu.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi berkomando.
“Hua hua hua!” teriak pasukan.
“Wik wik wik wik wik!”
“Wik wik wik wik wik!”
“Oeeek! Oeeek!”
Setelah yel-yel Pasukan Genggam Jagad berhenti, ternyata jumlah balita yang menangis di tempat persembunyiannya meningkat.
Suara tangis beberapa bayi itu membuat Alma dan pasukannya jadi heran.
“Sepertinya mereka bukan murni pasukan kadipaten. Ada kelompok lain yang bersama mereka,” kata Alma Fatara tanpa menggubris ancaman dari pasukan panah yang sejak tadi sudah menarik busur, tapi belum melepasnya.
“Biar aku yang mengurus mereka, Gusti Ratu!” kata Pangeran Sugang Laksama.
“Silakan, Kakang Pangeran,” kata Alma Fatara.
Sugang Laksama lalu keluar dari barisan, demikian pula Panglima Ragum Pangkuawan dan Panglima Riring Belanga.
Melihat para penunggang ketiga kuda yang bergerak keluar dari dalam barisan, terkejutlah Komandan Are Are dan Adipati Patok Anggara yang berada di belakang pasukan.
“Gusti Putra Mahkota!” sebut Adipati Patok Anggara dan Komandan Are Are. Mereka kenal Pangeran Sugang Laksama sebagai putra mahkota.
“Turunkan senjataaa!” teriak Komandan Are Are.
__ADS_1
Lega pasukan panah karena bisa merehatkan tangan dan jarinya yang pegal, tetapi mereka tetap di posisi sembunyinya. Pasukan tombak pun menurunkan ujung senjatanya.
Sugang Laksama memajukan kudanya hingga ke depan pasukan kadipaten. Di belakangnya berjalan dua kuda panglimanya.
Adipati Patok Anggara buru-buru berlari tergopoh-gopoh ke depan.
“Beri jalan!” teriak Adipati Patok Anggara yang menerobos barisan pasukan kadipaten dari belakang.
Para prajurit itu segera bergeser memberi jalan kepada sang adipati, hingga junjungan mereka itu tembus keluar.
Komandan Are Are juga segera turun dari kudanya dan pergi mendekati Adipati Patok Anggara, sehingga mereka berdua bersama pergi ke depan kuda Sugang Laksama yang sudah berhenti, menunggu apa tindakan pemimpin sipil dan militer Kadipaten Sengat tersebut.
“Hormat sembah hamba, Gusti Pangeran, Gusti Panglima!” ucap Adipati Patok Anggara. Dia mengenal Panglima Ragum Pangkuawan sebagai pemimpin Pasukan Keluarga Kerajaan Singayam, tapi tidak mengenal Panglima Riring Belanga.
“Hormat sembah hamba, Gusti Pangeran, Gusti Panglima!” ucap Komandan Are Are pula.
“Hormat sembah hamba, Gusti Pangeran, Gusti Panglima!” ucap semua prajurit yang berbaris menutupi jalan, sambil turun berlutut dan menjura hormat.
“Ada apa ini? Kenapa kalian menghadang kami dan kalian meninggalkan Kadipaten bersama warga kalian?” tanya Sugang Laksama.
“Kami sangka...,” ucap Adipati Patok Anggara, tapi jawabannya menggantung. Ia ragu, apakah Pangeran Sugang Laksama termasuk bagian dari orang yang tunduk kepada raja Kerajaan Singayam yang baru atau tidak.
“Apakah pasukan Kerajaan Singayam kiriman Pangeran Derajat Jiwa sudah menyerang Sengat?” terka Sugang Laksama.
“Be-be-benar, Gusti,” jawab Adipati tergagap.
“Bangunlah kalian. Aku tidak tunduk pada pemberontak!” perintah Sugang Laksama.
Legalah hati Adipati Patok Anggara dan Komandan Are Are mendengar status Pangeran Sugang Laksama. Pasukan pun lega mendengar itu. Ternyata mereka bertemu dengan bukan pasukan musuh.
Adipati Patok Anggara dan Komandan Are Are segera bangkit berdiri.
“Pasukan Kerajaan Singayam sudah menguasai ibu kota kadipaten, Gusti Pangeran. Jadi kami memilih mengungsi dari pada bertahan. Sebab, aku mendengar bahwa pasukan pemerintah pusat bertindak kejam di berbagai tempat yang mereka kuasai,” ujar Adipati
“Jika demikian, ayo kita rebut kembali Ibu Kota!” ajak Sugang Laksama.
“Tapi, jumlah pasukan Kerajaan seribu orang, Gusti. Kita hanya sedikit,” kata Adipati Patok Anggara.
“Jika kalian takut mati, lalu kenapa memilih mau bertempur melawan kami? Itu sama saja kalian cari mati!” kata Sugang Laksama.
“Karena kami merasa terjepit oleh dua pasukan Kerajaan Singayam, terlebih jumlah pasukan Gusti lebih sedikit, jadi kami berani bertempur.” Kali ini yang menjawab adalah Komandan Are Are.
“Ini bukan pasukanku, tetapi pasukan Kerajaan Siluman,” kata Sugang Laksama.
“Hah! Pasukan Kerajaan Siluman!” sebut ulang Adipati dan Komandan terkejut. Baru kali ini mereka mendengar nama kerajaan itu, tapi dari namanya sudah membuat nyali ciut. (RH)
__ADS_1