Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 31: Alma VS Keluarga Tombak


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


 


Saat pergi meninggalkan bekas lokalisasi Sarang Betina Ranjang di awal malam itu bersama Cantik Gelap dan Lirik Lirik Yo, Alma Fatara dan Bungkuk Gila dihadang oleh dua orang penunggang kuda.


Kedua penunggang kuda itu terlihat karena di belakang kedua kuda ada enam prajurit berseragam biru-biru yang masing-masing membawa obor.


Kedua penunggang kuda berpakaian ala punggawa militer itu tidak lain adalah Panglima Pasukan Keamanan Kotakayu Darabisu Kirat Ipok. Dia didampingi oleh wakilnya yang bernama Ehajusus.


Cukup jauh di belakang mereka, ada ratusan prajurit yang berbaris di dalam kegelapan sambil menahan derita digigiti nyamuk yang tidak berobat.


Dihadang oleh dua punggawa militer kotakayu, Alma Fatara hanya tertawa datar.


“Hahaha! Sudah beres semua, Kakang. Aku izin pulang,” ujar Alma Fatara.


“Kematian Tebar Kembang pasti akan memancing kedatangan saudara-saudaranya yang lain,” kata Kirat Ipok.


“Sampaikan saja salamku kepada mereka. Kematian Senopati Gulung Sedayu dan putrinya Tebar Kembang cukup menjadi pelajaran dasar. Dendam baru akan mengundang kehancuran baru!” tegas Alma Fatara lebih dulu memberi ancaman.


“Baiklah. Pasukan pemerintah akan dengan senang hati membereskan kekacauan yang kalian buat,” kata Kirat Ipok.


“Terima kasih, Kakang,” ucap Alma Fatara. Lalu katanya lagi, “Kami izin pergi, Kakang.”


“Silakan,” ucap Kirat Ipok.


Alma dan ketiga teman jalannya berjalan di dalam kegelapan.


“Kita menginap di peniduran saja, Alma,” saran Bungkuk Gila.


“Kakek tahu?” tanya Alma Fatara.


“Hahaha! Aku bukan anak muda sepertimu. Langkahku sudah jauh ke mana-mana, sampai aku menjadi bungkuk,” kata Bungkuk Gila.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara.


Namun, ketika mereka tiba di jalanan permukiman yang memiliki sejumlah pencahayaan, tiba-tiba ada kelebatan beberapa sosok yang menghadang langkah tenang mereka. Ada empat orang yang menghadang dan ada dua orang lagi yang berdiri di arae belakang Alma dan rombongan. Jelas bahwa sifatnya mengepung posisi Alma dan Bungkuk Gila.


Orang yang menghadang dan mengepung tidak lain adalah Keluarga Tombak yang kini dipimpin oleh Ratu Tombak Siluman, istri mendiang Raja Tombak Iblis.


Di sisi kanan Ratu Tombak Siluman berdiri Luyut Tumul yang berjuluk Pendekar Tombak Buta. Di sisi kiri sang ratu adalah Malam Angan yang berjuluk Penari Tombak Ungu, adik dari Luyut Tumul.


Yang paling kiri seorang lelaki berusia lebih muda dari Luyut Tumul, namanya Lajang Tumul yang berjuluk Pendekar Tombak Tanpa Sahabat. Dia adik Luyut Tumul dan Malam Angan. Meski usianya sudah kepala tiga, tetapi masih bujang tong tong.


Sementara dua orang di posisi belakang Alma dan Bungkuk Gila adalah seorang lelaki selaku suami Malam Angan dan seorang perempuan selaku istri Luyut Tumul.

__ADS_1


“Weleh! Cucuku cantik, itu si nenek, istri mendiang Raja Tombak Iblis,” kata Bungkuk Gila memberi tahu Alma Fatara.


“Wah! Sepertinya ada akhir cinta yang berurai air mata, Kek,” kata Alma Fatara.


“Nenek-nenek yang sudah tidak bisa tertawa itu sudah tidak punya air mata. Kalau masih ada, pasti air mata buaya betina,” kata Bungkuk Gila.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara. “Aku kira Betina Ranjang, Kek.”


“Huahahaha! Aku yakin, kalau Ratu Tombak Siluman jadi Betina Ranjang, pelanggan yang mengantre akan memanjang dari satu gunung ke gunung yang lain!” kata Bungkuk Gila keras.


“Hahahak...!” tawa terbahak Alma Fatara karena membayangkan betapa lucunya jika si nenek itu menjadi Betina Ranjang, bisa-bisa dia mendominasi dan menjadi idola.


“Sepertinya tidak sampai dari gunung satu ke gunung lain, karena aku yakin Ratu Tombak sudah tidak punya gunung,” ralat Bungkuk Gila.


“Tapi, aku lihat nenek itu masih punya bagian depan yang menonjol,” kata Alma.


“Aku yakin itu batok kelapa di belah dua, lalu ditempelkan di dadanya. Hahaha!” kata Bungkuk Gila kian menggila.


“Hahahak...!” kian terbahak Alma Fatara sampai memegangi perutnya, di saat Cantik Gelap dan Lirik Lirik Yo diam-diam bae.


Susus!


Tiba-tiba Luyut Tumul melesatkan dua sinar merah berwujud tinju menyerang Bungkuk Gila.


Namun, Bungkuk Gila hanya sekali mengibaskan ranting berdaunnya menepis dua sinar merah itu tanpa adanya ledakan dan tidak memberi efek samping apa pun.


“Bungkuk Gila! Berhentilah mengolok-olok ibuku!” teriak Luyut Tumul yang sudah tidah tahan mendengar olok-olok dua orang beda generasi itu.


“Minggirlah, Bungkuk Gila!” desis Ratu Tombak Siluman.


“Oh, tidak bisa, Cantik. Alma cantik ini adalah cucu pungutku. Jika kalian bermaksud melukainya, langkahi dulu bungkukku. Hahaha!” tandas Bungkuk Gila.


“Mohon maaf, Nenek. Apakah kalian bermaksud membalas dendam atas kematian Raja Tombak Iblis?” tanya Alma Fatara santun.


“Benar. Aku tidak peduli kau masih bocah seumur jamur. Nyawa tetap dibalas nyawa!” seru Ratu Tombak Siluman.


“Benar sekali kau, Nek. Nyawa dibayar nyawa. Aku membunuh Raja Tombak Iblis karena untuk membayar nyawa orang-orang Kampung Siluman yang dibunuhnya,” balas Alma Fatara.


Terbeliak mata tua Ratu Tombak Siluman mendengar kata-kata cerdas Alma Fatara.


“Apakah pembunuh orang-orang yang tidak berdosa layak mati, Nek?” tanya Alma Fatara yang menyudutkan Ratu Tombak Siluman dan anak-mantunya.


“Layak mati!” jawab Ratu Tombak Siluman lantang.


“Berarti tidak ada urusan di antara kita lagi. Kau sendiri mengakui bahwa suamimu layak mati,” debat Alma Fatara seraya tersenyum lebar, memperlihatkan gigi ompongnya yang samar-samar oleh gelap.

__ADS_1


Ingin rasanya Luyut Tumul, Malam Angan dan Lajang Tumul tertawa melihat kecantikan yang aneh pada wajah Alma Fatara, tetapi mereka akan terlihat tidak serius jika pakai acara tertawa oleh kelucuan lawan.


“Aku menuntut kematian Raja Tombak Iblis bukan sebagai pembunuh, tetapi sebagai seorang suami dari seorang istri!” tegas Ratu Tombak Siluman.


“Kami juga menuntut kematian Raja Tombak Iblis sebagai seorang ayah!” seru Lajang Tumul.


“Baiklah. Karena aku menganggap dendam orang-orang Kampung Siluman telah selesai, berarti aku berhak melindungi nyawaku. Karena kalian juga tidak mau berhenti, terpaksa aku yang akan memaksa kalian berhenti. Jangan salahkan aku jika Keluarga Tombak harus musnah di tanganku,” tegas Alma Fatara.


“Sombong!” teriak Luyut Tumul dan Lajang Tumul bersamaan.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan Bungkuk Gila mendengar itu.


“Hei, dengarkan oleh kalian. Cucuku ini sudah membunuh Raja Tombak Iblis dan banyak pendekar sakti Kelompok Tombak Iblis. Dia juga membantai Senopati Gulung Sedayu dan ribuan pasukannya. Dia juga membunuh Tebar Kembang dan meratakan kerajaan pelacurannya serata tanah. Wajar jika cucuku ini sombong. Hahaha!” kata Bungkuk Gila.


Di dalam hati, terkejut semua anggota Keluarga Tombak itu mendengar daftar prestasi Alma dalam membunuh orang sakti.


“Hahaha! Kakek tidak perlu membesar-besarkannya. Itu juga tidak akan membuat mereka gentar. Mereka pasti sudah siap mati semua,” kata Alma Fatara kepada Bungkuk Gila setelah tertawa pura-pura malu.


“Hei, Ratu Siluman! Apakah kalian semua sudah siap mati? Karena kalian pasti hanya bisa dihentikan oleh kematian,” tanya Bungkuk Gila.


“Harga diri Keluarga Tombak lebih tinggi dibandingkan harga nyawa kami!” jawab Ratu Tombak Siluman lantang.


“Hahaha! Dasar nenek toloool!” tawa Bungkuk Gila mengejek.


“Bersiaplah, Kek!” teriak Alma Fatara sembari mengeluarkan Bola Hitam di tangan kanannya, padahal Bungkuk Gila berdiri di sisinya.


“Siaaap, Cucu Cantik!” sahut Bungkuk Gila sambil angkat ranting berdaunnya ke atas.


Mendengar teriakan Alma Fatara, maka Ratu Tombak Siluman dan anak-mantunya segera mempersiapkan tombak masing-masing.


“Mulai!” teriak Alma Fatara sambil melompat pendek di posisinya.


Set! Ctar!


Set set set...!


Alma Fatara membanting Bola Hitam lurus ke tanah. Benturan dengan tanah menciptakan ledakan sinar biru yang menghasilkan tebaran puluhan sinar biru tipis berekor ke segala arah, menyerang massal semua anggota Keluarga Tombak.


Sebelum Bola Hitam menghantam tanah, Bungkuk Gila dan kedua pendekar wanita pelayan setianya telah menghilang bersamaan.


Kompak, Ratu Tombak Siluman dan kelima anggota keluarganya melompat naik mengudara demi menghindari sinar-sinar biru Bola Hitam.


Namun, aksi mereka sudah ditunggu oleh Alma Fatara, Bungkuk Gila, Cantik Gelap dan Lirik Lirik Yo yang siap menyerang di saat Keluarga Tombak itu sedang mengudara.


Singkat cerita. Dua tahun kemudian .... (RH)

__ADS_1


__ADS_2