Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 49: Alma VS Senopati


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


Sudigatra menghormati perintah Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani yang memintanya mundur. Dia pun menyerahkan perkara Senopati Gending Suro kepada Alma Fatara.


Kini, Alma Fatara kembali berhadapan dengan Senopati Gending Suro tanpa menderita luka sedikit pun. Dia memang belum menderita luka sebelumnya, meski dia sudah terpental keras saat terkena ilmu Pecah Cahaya Langit milik Senopati Gending Suro.


Namun, sebelum pertarungan serius antara Alma Fatara dengan Senopati Gending Suro benar-bernar tergelar, perlu dituntaskan dulu satu pertarungan yang masih berlangsung tapi sedang menuju akhir.


Pertarungan antara Gampar Seblak dengan Emak Lutung sudah membuat si emak-emak berdarah di mulutnya. Meski demikian, dua celurit Gempar Seblak sejak tadi belum berhasil melukai Emak Lutung, bahkan untuk sekedar mencabik kain bajunya tidak bisa. Kondisi itu terjadi karena Emak Lutung jago bermain pedang.


Lalu, karena serangan apa yang membuat Emak Lutung berdarah mulutnya? Jangan dijawab!


Tidak ada yang mengetahui bahwa selain memiliki kelainan karena seorang wanita memimpin segerombolan lelaki liar, Emak Lutung juga memiliki kelainan bahwa mulutnya akan semakin berdarah jika dia semakin lama bergerak. Namun, itu bukanlah darah biasa, tapi itu darah dari ilmu Darah Perawan Setan.


Semakin banyak darah yang tersimpan di dalam mulutnya, maka sebentar lagi ilmu itu akan dipakai.


Gampar Seblak telah memainkan jurus Celurit Tanpa Berat. Metodenya mirip ilmu Gebukan Gila milik Ki Tonjok Gila. Dengan kecepatan yang ekstrem, dua celurit itu dibacokkan berulang-ulang tanpa henti seperti celurit gila yang kegilaan.


Tang ting ting ...!


Kerennya Emak Lutung, dengan satu pedang dia bisa menangkis semua bacokan celurit bergantian dengan rapat sekali. Tidak heran, meski dia seorang emak-emak, seluruh lelaki dalam kelompoknya mengangkatnya sebagai ketua, meski tidak bisa terhindar dari penjara beberapa tahun lamanya.


Pada satu ketika, Emak Lutung memutuskan untuk mengakhiri hubunganya dengan Gampar Seblak.


Tring! Bruss!


“Aaak!” jerit Gampar Seblak akhirnya. Setelah sekian lama bertarung, itu untuk pertama kalinya dia menjerit kencang dan panjang.


Beberapa saat sebelumnya, ketika Gampar Seblak masih bertahan dalam usahanya membacok ala jurus Celurit Tanpa Berat, Emak Lutung dengan gerakan yang sangat cepat dan sangat bertenaga, menebaskan pedangnya dari sisi bawah ke atas, menangkis dua bacokan celurit sekaligus.


Kekuatan tebasan yang berlipat ganda itu tidak sanggup ditahan oleh kedua celurit, membuat kedua celurit terpental lepas dari tangan Gampar Seblak.


Setelah itu, Emak Lutung menyemburkan darah yang tertampung di dalam mulutnya ke wajah Gempar Seblak.

__ADS_1


Darah yang melumuri wajah itulah yang membuat Gempar Seblak menjerit kesakitan karena sifat darah itu seperti air keras. Kulit wajah Gempar Seblak hingga ke dagingnya jadi terbakar yang mengubahnya menjadi asap.


“Aaak!” jerit Gempar Seblak sambil memegangi wajahnya yang sulit untuk dipegang karena begitu pedihnya. Dia pun melupakan pertarungannnya seperti melupakan mantannya.


Ceb!


“Aaak!” jerit tambahan Gempar Seblak dengan nada yang berbeda, karena memang sakitnya juga berbeda. Perutnya ditusuk pedang hingga tembus ke belakang.


Emak Lutung tidak menarik pedangnya, tetapi justru menendang badan Gempar Seblak sehingga terdorong lepas dari pedang.


“Ngiuk ngiuk!” teriak satu orang anak buah Emak Lutung sambil menghentak-hentakkan tangan kanannya ke langit.


“Ngiuk ngiuk ...!” Maka semua anggota Kelompok Lutung Pintar menjerit dengan nada yang sama, sebagai sambutan atas kemenangan pemimpin mereka.


Setelah mengejang-ngejang di tanah pertarungan, Gempar Seblak akhirnya mengembuskan napas buncitnya.


Senopati Gending Suro tidak peduli lagi apakah satu pendekarnya yang tersisa itu mau hidup atau mati. Dia fokus kepada pertarungannya melawan Alma Fatara yang sepertinya akan menjadi pertarungan puncak.


Blass!


“Hahaha! Ilmumu yang itu sudah tidak berguna, Paman Gendeng,” kata Alma Fatara setelah dengan sigap dia bergerak ke belakang lawannya saat Senopati kembali meledakkan cahaya biru dari telapak tangannya.


Namun setelahnya, Alma Fatara harus terkejut saat dia membokong bokongnya Senopati dengan tusukan Benang Darah Dewa. Ternyata, bokong sang senopati kebal. Ketika dua suntikan mendarat, muncul percikan sinar hijau kecil seiring tidak sanggupnya benang pusaka itu menembus kulit bokong Senopati Gending Suro.


“Wah! Bokong Paman kebal. Hahaha!” pekik Alma terkejut, tapi justru tertawa ujung-ujungnya. Dia cepat melompat mundur untuk mengambil jarak dan waktu untuk tertawa.


“Gadis mesum!” maki Senopati Gending Suro gusar sambil berbalik. Dia tidak tahu senjata apa yang menyuntik bokongnya.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara memamerkan gigi ompongnya. “Paman Gendeng, aku ingin tahu, apakah hanya bokongmu yang kebal atau semua anggota keluargamu. Eh, maksudku apakah semua anggota tubuhmu kebal juga.”


“Hahaha!” tawa para prajurit yang merasa pertarungan antara Alma dan Senopati tidak tegang-tegang amat, justru menjadi jenis hiburan terbaru yang segar, tapi bertaruh nyawa.


“Sejak tadi kau menyebutku Gendeng. Sekali lagi kau menyebutku seperti itu, nyawamu akan aku tarik dengan kasar!” ancam Gending Suro.


“Gendeng! Weeek!” ucap Alma Fatara seperti anak kecil lalu meledek dengan juluran lidahnya.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa penonton lagi.


“Hihihik! Itu gayaku,” ucap Ning Ana senang sambil menunjuk Alma Fatara.


Betapa gusarnya Senopati Gending Suro yang merasa dipermalukan di muka publik yang notabene adalah kalangan prajurit. Wajahnya memerah matang dan seolah-olah ada uap lokomotif yang keluar dari kedua telinganya. Kepalanya seolah-olah ingin meledak karena saking marahnya dia kepada Alma Fatara.


“Matilah kau, Perempuaaan!” teriak murka Senopati sambil menghentakkan kedua lengannya ke bawah.


Blar blar blar ...!


Tiba-tiba banyak ledakan terjadi di mana-mana secara acak. Beberapa titik ledakan bahkan terjadi di antara barisan terdepan para prajurit yang menonton, sehingga menimbulkan korban jiwa lagi di kalangan prajurit.


Sementara di sekitar posisi Alma Fatara berdiri, terjadi tiga ledakan yang berdekatan. Namun, insting kependekaran Alma Fatara sudah sangat tajam. Bagaimanapun juga, sebelum titik-titik itu diledakkan, tetap didahului dengan kemunculan energi yang singkat. Karena itulah, Alma Fatara bisa menghindar dengan mencelat naik mengudara dan tidak menjadi korban ilmu Hancur Sekampung.


Dengan naiknya Alma Fatara ke udara, bagi Senopati Gending Suro itu adalah sasaran empuk, lebih empuk dari tekstur kue apam. Karenanya, dia langsung melesat naik menyerang Alma Fatara di udara.


“Kematianmu tiba, Ompooong!” teriak Gending Suro sambil melesat cepat naik ke udara dengan kedua tangan yang mengepal dan membara seperti bara api yang ditiup.


Tus tus tus ...!


Alma Fatara langsung menyambut kedatangan tubuh Gending Suro dengan serangan Benang Darah Dewa yang beritme cepat seperti jarum mesin jahit. Sambutan itu membuat laju tubuh Gending Suro tertahan.


Namun, kekebalan membuat Gending Suro tetap bisa mencapai Alma Fatara di udara.


Dalam durasi waktu yang sangat singkat, beberapa adegan saling serang terjadi di udara.


Gending Suro dengan cepat melesatkan tinju kanannya ke arah wajah Alma. Namun, laju tinju itu tertahan oleh jeratan Benang Darah Dewa. Senopati terkejut saat melihat jelas wujud benang yang menjadi senjata Alma Fatara.


Senopati tidak berhenti dan membiarkan tangan kanannya tertahan oleh seutas benang itu. Dia lancarkan tinju tangan kirinya. Namun, lagi-lagi ujung Benang Darah Dewa melilit tangan kiri sang senopati dan menahannya. Untung dia kebal, jika tidak, mungkin dua tangannya sudah buntung.


Buk!


Pada saat itu juga, tendangan kaki kanan Alma yang mengandung tenada dalam tinggi menghajar dada Gending Suro. Tubuh sang senopati pun meluncur deras ke bawah.


Jleg!

__ADS_1


Alma Fatara dan penonton harus kecewa karena Senopati mendarat dengan kokoh di tanah. Alma Fatara pun telah turun mendarat.


“Wah, Paman Gendeng hebat, membuatku jadi bingung harus memilih siapa,” ucap Alma Fatara. (RH)


__ADS_2