
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Sepulang dari kediaman Nenek Sunting Awan, Alma Fatara kembali ke Peniduran Dewi Mimpi, di mana Lingkar Dalam dan Arguna nyaris ketiduran di meja makan karena kekenyangan menunggu kepulangan Alma dan Manila.
“Hahaha! Dua pemuda tampan yang terkapar karena makan paha kuda pingit.”
Alma Fatara menertawakan Lingkar Dalam dan Arguna yang sudah meletakkan kepalanya di antara baki-baki makanan mereka yang tinggal menyisakan tulang belulang.
“Makanannya terlalu enak. Sayang jika tidak dihabiskan,” ucap Arguna lemah seperti orang kekenyangan setelah buka puasa nasi padang dua porsi. “Lama sekali kau, Alma.”
“Untuk apa kalian datang ke sini?” tanya Manila Sari.
“Sombong sekali!” rutuk Arguna sambil mengangkat tegak kembali kepalanya. “Kami datang untuk memastikan keamanan kalian.”
“Bilang saja Kakang bosan tinggal di bukit,” tukas Manila Sari dengan senyuman mengejek.
“Alma, menurut Sabung kau sudah tahu siapa yang berada di balik Kelompok 13 Buah Kematian. Lalu kenapa tidak langsung mengejar ke Kerajaan Ringkik?” tanya Lingkar Dalam.
“Agar urusan dengan orang-orang bayaran yang menyerang Kampung Siluman selesai. Maka itu aku menantang langsung kepalanya, agar ekornya tidak macam-macam lagi,” jelas Alma Fatara. “Orang yang memesan kehancuran Kampung Siluman adalah wanita yang bernama Tebar Kembang. Hanya Raja Tombak Iblis yang tahu siapa Tebar Kembang sebenarnya dan apa alasannya.”
“Tapi ... bagaimana dengan keselamatan Lilia Seharum?” tanya Lingkar Dalam.
“Jika Tebar Kembang menginginkan kematian gadis-gadis Kampung Siluman, mungkin mereka semua sudah mati saat ini, termasuk Kakak Lilia Seharum,” kata Alma.
“Berarti mereka akan disakiti dalam bentuk lain. Mungkin seperti dijadikan kudapaksa atau budak untuk membangun tanggul di laut,” kata Arguna.
“Tidak akan aku ampuni wanita itu jika menjadikan adikku kuda-kuda nikmat!” geram Lingkar Dalam.
“Kalian bawa uang?” tanya Alma Fatara.
“Tenang saja, aku tidak akan meninggalkan uangku di Kampung Siluman,” kata Arguna.
“Aku juga membawa banyak,” kata Lingkar Dalam.
“Kalian semua harus bertaruh nanti sore,” kata Alma Fatara.
“Aku kemarin bertaruh dan menang. Hihihi!” kata Manila Sari lalu tertawa.
“Sejak kapan seorang putri suka berjudi?” kejut Arguna.
__ADS_1
“Hihihi!” Manila Sari hanya tertawa.
“Ada urusan apa sehingga Sunting Awan mengundang kalian berdua ke rumahnya?” tanya Lingkar Dalam.
“Hanya berkenalan lebih akrab dan mencicipi kue madu kopi. Sangat enak,” jawab Alma Fatara sembari tersenyum lebar memperlihatkan gusi kosongnya.
“Alma Fatara ditawarkan menjadi juru aman di sebuah kotabatu dengan iming-iming kedudukan tinggi dan kekayaan yang melimpah,” kata Manila Sari.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara bernada membenarkan.
“Tapi Alma menolak peluang emas,” kata Manila Sari lagi.
“Apalah arti emas permata jika kau terkurung di dalam sangkar?” kata Alma Fatara.
“Alma Cantikku!” panggil tiba-tiba satu suara lelaki dari arah pintu pemakanan. Dari jenis suaranya, Alma sudah tahu siapa yang memanggil.
Namun, mereka semua tetap menengok memandang ke sumber panggilan. Ternyata bukan Rubi Salangka dan Laris Manis yang sudah rujuk, tetapi yang memanggil adalah Geladak Badak yang datang bersama Bambu Jangking.
“Hahaha!” tawa Geladak Badak yang datang, seolah-olah dia begitu senang jika bertemu Alma Fatara.
“Hahaha!” Alma Fatara turut tertawa mengimbangi tawa lelaki separuh baya yang selalu dililit rantai anggota tubuhnya.
Sementara Lingkar Dalam dan Arguna dilanda cemburu melihat tawa lelaki yang terlihat genit itu.
Jleg!
Rubi Salangka mendarat di depan Geladak Badak dan Bambu Jangking. Dia menghadang dengan langsung menjulurkan ujung toyanya, membuat kedua pendekar itu wajib berhenti.
“Eit, mau apa kalian mendekati kekasih masa laluku?” tanya Rubi Salangka dengan tatapan tajam.
“Hahaha! Kekasih masa lalu!” tawa Geladak Badak menertawakan Rubi Salangka, memancing Bambu Jangking juga ikut tertawa.
“Lalu kalian berdua siapa?” Tiba-tiba Rubi Salangka berbalik dan menuding Lingkar Dalam dan Arguna, membuat kedua pemuda yang sedang cemburu itu malah mendelik marah.
Tak!
“Kau pikir kau siapa, hah?! Mengaku-aku sebagai kekasih Alma,” bentak Arguna lebih keras, setelah ujung sarung pedangnya dia pukulkan ke ujung toya kecil Rubi.
“Hahaha! Tenang-tenang. Malu dilihat banyak orang kalian memperebutkan orang cantik yang tidak mau diperebutkan,” kata Alma Fatara.
Memang, tingkah Rubi Salangka yang kemarin hampir mati, membuat orang-orang yang berada di pemakanan itu memerhatikan mereka.
__ADS_1
“Aku juga tidak sudi diperebutkan,” timpal Manila Sari pula.
“Laris Manis, kau masih memaafkan lelaki yang masih berulah di depan istrinya ini?” tanya Bambu Jangking kepada Laris Manis yang datang dengan langkah agak mengengkang.
“Apa dayaku, kelakuannya sudah seperti itu sejak bayi,” jawab Laris Manis datar.
“Hahaha!” tawa terbahak Alma Fatara dan yang lainnya mendengar kata-kata Laris Manis.
“Bagaimana kalau kita minum kelapa muda gula aren? Aku yang akan membayar semua,” tawar Laris Manis. “Anggap saja kita merayakan kemenanganku dari ayah anakku.”
“Sangat setuju. Hahaha!” jawab Geladak Badak cepat, lalu tertawa menertawakan Rubi Salangka.
Mereka pun akhirnya berbaur di dua meja yang disatukan untuk minum bersama. Alma Fatara tidak lupa memperkenalkan dua pemuda tampannya agar tidak menciptakan ketegangan sesama kaum batangan.
Di tempat lain yang dekat, yaitu di Kolam Merah. Para karyawan Kolam Merah sedang bersiap-siap menjelang dilaksanakannya pertandingan sore hari ini.
Begitu pentingnya dan besarnya pertandingan antara Raja Tombak Iblis melawan Dewi Gigi Alma Fatara, sampai-sampai pertandingan lain yang sejatinya dilaksanakan sore itu juga harus digeser di hari lain.
Sekedar informasi, pertandingan di Kolam Merah dibagi dua jenis. Pertama adalah pertandingan yang sudah terprogram sejak satu purnama. Dalam pertandingan ini, para pendekar harus melalui babak penyisihan untuk menuju ke babak pertarungan final.
Kedua adalah pertarungan dadakan yang dijadwalkan satu hari sebelum pertandingan. Pertarungan ini biasanya adalah urusan sengketa antara dua pendekar yang ingin diselesaikan dengan cara duel di Kolam Merah.
Pertarungan antara Alma Fatara dengan Raja Tombak Iblis termasuk jenis pertandingan Kolam Merah kedua.
Kali ini, Nates Aya dan Silbi Aya menambah karyawan yang bekerja sebanyak dua kali lipat. Sebab, prediksi mereka jumlah penonton akan membludak pesat dan demikian pula dengan jumlah para petaruh.
Sebagai pemilik tempat hiburan yang melibatkan massa banyak dan sudah lama menekuni bisnis berdarah seperti ini, kedua wanita sedarah itu sudah cerdas dalam membaca kondisi dan perkembangan apa yang sedang mereka kelola.
Benar saja, jauh-jauh waktu para penonton mulai berdatangan ke Kolam Merah, padahal kedua petarung saja belum ada yang datang.
Seperti siswa-siswa SD yang masuk sekolah di hari pertama setelah kenaikan kelas, mereka datang terlalu pagi hanya untuk berebut tempat berdiri di tribun penonton, terutama bagi mereka yang sudah niat bertaruh.
Pihak Kolam Merah telah menempatkan enam orang di pintu masuk untuk menerima biaya masuk per orang. Demikian pula di kasir judi, jumlah karyawan diperbanyak.
Kali ini, pita petarung sudah ditentukan meski kedua petarung belum datang. Alma Fatara akan memakai pita hijau dan Raja Tombak Iblis pita kuning.
Langkah itu diambil demi memudahkan proses pertaruhan, sehingga penonton yang memasang taruhan tidak mengalami penumpukan di kasir judi. Khusus pertandingan ini, pengelola juga menaikkan sedikit jumlah taruhan demi meraup untung jauh lebih besar.
Para petaruh pun justru senang dengan naiknya batas taruhan.
Semakin waktu menuju sore, jumlah orang yang datang ke Kolam Merah semakin banyak. Bahkan ada yang membawa anak, dengan pemikiran daripada anaknya hilang di rumah.
__ADS_1
Nates dan Silbi Aya yang memantau besarnya antusias warga dan para pendekar yang berdatangan merasa senang. Keuntungan besar sudah terbayang di dalam kepala. Itu artinya mereka tidak akan rugi jika harus membayar petarung yang menang tiga kali lipat dari biasanya.
Dalam waktu singkat, tribun sekeliling Kolam Merah sudah padat oleh penonton. Sementara arena Kolam Merah masih kosong. (RH)