
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Sebuah kereta kuda terbuka berjalan sedang menuju ke pintu masuk Kolam Merah dengan pengawalan orang-orang berpakaian merah-merah.
Para pengawal itu ada dua kelompok. Kelompok pertama yaitu orang-orang berpakaian merah model pendekar dengan senjata tombak besi pendek menggantung di pinggang. Sebagian dari mereka juga menyandang senjata lain yang berbeda-beda.
Kelompok kedua adalah para lelaki berbaju merah sama, lebih kepada pakaian seragam. Mereka bersenjata tombak kayu biasa yang normal, tidak abnormal, apalagi paranormal.
Orang yang duduk sendiri di kursi kereta mewah di belakang sais adalah pendekar tua berjubah merah terang seperti baru beli di pasar Tanah Adek. Warna sosoknya sangat berbau nasionalis. Pakaiannya merah dan rambutnya serba putih. Orang yang terlihat terhormat itu adalah orang nomor satu di Kelompok Tombak Iblis, yaitu sang ketua Raja Tombak Iblis.
Kedatangan mereka ke depan pintu gedung Kolam Merah menjadi pusat perhatian orang-orang yang ramai berdatangan untuk menonton. Rombongan itu terlihat berwibawa dengan jumlahnya yang lebih lima puluh orang dan ditambah kharisma Raja Tombak Iblis yang ternama, tapi jarang-jarang terlihat lubang hidungnya di depan publik.
“Hei, Bangkotan Merah!” teriak satu suara kakek memanggil keras. Teriakan itu cukup mengejutkan.
Teriakan yang seolah-olah ditujukan kepadanya, membuat Raja Tombak Iblis menengok ke kanan. Demikian pula para murid Raja Tombak Iblis dan para pengawalnya.
Mereka melihat seorang kakek bungkuk berwajah seram karena memiliki dua codet bekas luka senjata tajam. Kakek itu berpakaian hijau lusuh berantakan. Rambut dua warnanya digelung sebagian yang diikat dengan batang kangkung dan sebagian lagi terurai awut-awutan. Ujung celana lusuhnya sudah robek-robek. Setiap robekan memiliki cerita yang panjang dan berliku. Akan memakan ruang dan tempat bila diceritakan.
Kakek yang sudah tua itu membawa sebatang ranting yang masih memiliki daun-daun hijau pada batangnya. Sepertinya itu ranting yang baru dipatahkan.
“Di mana kau taruh mukamu yang memalukan itu, Bangkotan Merah? Sejak tadi aku mencarinya, tapi tidak ketemu! Hahaha!” teriak kakek kumal terkesan mengejek. “Mukamu hilang karena mau melawan anak kecil, apalagi perempuan! Hahaha!”
“Hahaha!” tawa sebagian orang yang mendengar ejekan si kakek kumal.
“Keparat kotor!” maki Raja Tombak Iblis gusar. Kewibaannya seketika sirna berubah menjadi raut kebengisan. Lalu perintahnya kepada murid-muridnya, “Tangkap Bungkuk Gila itu!”
“Tangkap!” teriak Rajabali Gali kepada pendekar kelompok yang lain. Dia lebih dulu berkelebat ke arah posisi kakek yang nama bekennya memang Bungkuk Gila.
Gendong Taji, Cakar Panggang dan Taring Goreng juga segera berkelebat di udara pergi ke posisi Bungkuk Gila. Orang-orang yang ramai segera bergerak menjauh. Mereka menduga akan terjadi pertarungan.
“Ciaak!” pekik Bungkuk Gila sambil melompat sekali di batu tempatnya berdiri dengan mimik pura-pura takut, membuat orang-orang tertawa karena terlihat lucu.
__ADS_1
Buru-buru Bungkuk Gila melompat jauh naik ke atas sebongkah batu besar di dekat pintu masuk ke Kolam Merah. Lompatannya tidak seperti lompatan pendekar pada umumnya, tapi seperti pantulan bola bekel.
“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila sambil berjoget-joget membelakangi rombongan Kelompok Tombak Iblis. Karena dia bungkuk, terkesan Bungkuk Gila mengejek dengan bokongnya.
Sementara Rajabali Gali dan ketiga rekannya harus menghentikan langkahnya karena target sudah berpindah tempat.
“Bangkotan Merah, beraninya lawan anak kecil! Bangkotan Merah, beraninya lawan anak kecil! Wek wek wek...!” ledek Bungkuk Gila seperti anak kecil tengil.
“Hahaha!” tawa orang-orang lagi.
Sus!
“Ciaaak!” pekik Bungkuk Gila saat Rajabali Gali bersiap menyerangnya dengan bola sinar jingga dari ilmu Jeruk Pengantar Maut.
Clap!
Tahu-tahu sosok Bungkuk Gila lenyap dari tempat berdirinya mengejek Raja Tombk Iblis. Setelah itu, para murid Raja Tombak Iblis sudah kehilangan sosok si kakek dekil.
“Bungkuk Gila menghilang, Guru!” teriak Rajabali Gali memberi tahu gurunya yang justru lebih tahu pergi ke mana orang yang memang tidak suka dengannya itu.
Terkejut para penjaga di pintu masuk Kolam Merah mendengar perkataan Raja Tombak Iblis. Jika Bungkuk Gila sudah masuk, itu berarti dia masuk tanpa membayar biaya. Statusnya jadi penyusup.
Sementara itu, kereta kuda kembali berjalan beberapa tombak sehingga benar-benar sampai di depan pintu masuk ke Kolam Merah.
Raja Tombak Iblis tidak langsung turun dari kursi keretanya. Wajahnya masih memperlihatkan kemarahan.
Ledekan Bungkuk Gila sangat membuatnya malu dan marah. Terlebih kakek yang suka mengejek itu tidak bisa ditangkap oleh murid-murid Raja Tombak Iblis yang notabene berkesaktian.
“Guru, sudah sampai,” kata murid perempuannya yang bernama Aruk Cantik. Dia memang cantik.
Jika ada Aruk Cantik, maka pasti ada Tuleb Cantik. Meski bukan kakak adik, tetapi keduanya selalu bersama. Katanya sih bestie. Mereka berpisah kalau urusan toilet saja. Mandi saja masih satu bak dan makan pun satu piring. Sampai-sampai mereka diisukan sepasang kekasih sesama betina. Padahal tidak. Berani jamin.
__ADS_1
“Aku tidak buta,” kata Raja Tombak Iblis ketus dengan wajah yang masih gebek. “Coba tanyakan kepada penjaga. Apakah tidak ada orang yang menyambutku?”
“Baik, Guru,” ucap Aruk Cantik patuh.
Meski Aruk Cantik yang mengambil perintah, tetapi yang pergi berdua, Aruk Cantik dan Tuleb Cantik. Kedunya berjalan mendatangi penjaga pintu masuk sambil saling main alis bercakap dengan kode. Entah kode apa yang sedang mereka pertukarkan, yang jelas bukan kode togel.
Sekedar bocoran. Melalui kode alis, Aruk Cantik berkata kepada Tuleb Cantik, “Jika tidak ada yang menyambut, kenapa berharap ada yang menyambut?”
Tuleb Cantik menanggapi dengan gerakan alis juga yang terjemahannya sebagai berikut, “Guru pikir dirinya raja.”
“Memang raja, tapi Raja Tombak Iblis. Hihihi!” balas Aruk Cantik, tentunya dengan bahasa alis.
Kode-kode alis itu tentunya tidak dilihat oleh Raja Tombak Iblis karena posisinya dibelakangi. Jangan ditanya bagaimana cara kerja kode alis dalam berkata-kata seperti yang kedua gadis cantik itu lakukan.
“Juru Aman, apakah guruku tidak ada yang menyambut?” tanya Aruk Cantik kepada salah satu pemuda berotot batu dan berseragam jingga.
“Kami tidak tahu, Pendekar. Jika sudi menunggu, aku akan laporkan kepada Majikan,” kata pemuda berbadan besar dan keras itu.
“Baiklah. Sampaikan kepada majikanmu,” kata Aruk Cantik sembari tersenyum semanis gula kepada pemuda itu, yang berujung kerlingan satu mata, yang hampir saja membuat si juru aman kehilangan kekuatan persendian lututnya.
Maka, pemuda penjaga pintu segera berbalik pergi dan berjalan sembari tersenyum sendiri karena bahagia mendapat senyum gula dan kerlingan maut dari Aruk yang memang cantik.
Aruk tetap berdiri di tempatnya menunggu, sementara Tuleb Cantik pergi melapor kepada gurunya.
Mendengar laporan Tuleb Cantik, Raja Tombak Iblis hanya mengangguk dengan raut muka masih gebek. Tuleb Cantik kemudian kembali pergi ke dekat bestie-nya.
Akhirnya, Raja Tombak Iblis dan murid-muridnya berdiri menunggu jawaban dari pihak Kolam Merah.
Tidak sedikit dari para murid itu menggerutu di dalam hati karena gurunya yang manja dan berlebihan. Padahal kedatangan ke tempat itu untuk bertarung, bukan untuk lebaran makan kue nastar atau dodol Palembang.
Namun, pada akhirnya dari dalam muncul Nates Aya yang dikawal oleh tida pemuda kekar berseragam jingga.
__ADS_1
Sekeluarnya di mulut gua, Nates Aya langsung memandang kepada Raja Tombak Iblis, sembari memberi senyum tua yang masih semanis madu.
Melihat kemunculan Nates Aya, barulah Raja Tombak Iblis berselera. Dia mengangkat pantatnya dan turun dari kursi kereta kuda. Dengan tersenyum menyembunyikan wajah gebeknya, Raja Tombak Iblis mendatangi Nates Aya. (RH)