
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Tabib Bocah hanya berdiri memberi arahan kepada dua perawatnya yang sedang menangani dua lelaki yang teramputasi tangan dan kakinya. Kedua korban dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri karena kehabisan darah.
Sementara tawanan yang betisnya jebol, sudah selesai mendapat penanganan. Betis kanannya sudah mendapat balutan kain yang tebal. Namun, tawanan itu kini sedang diinterogasi oleh Panglima Besar Anjengan.
Tak!
Anjengan seenaknya mengetok kepala lelaki berpakaian hitam, yang kita sebut saja namanya Pujiono.
“Siapa kalian?” tanya Anjengan setelah memukul kepala Pujiono dengan ujung sarung pedang. Pedang itu bukan pedang berbahan plastik, tapi logam yang artinya keras dan akan sakit jika dipukulkan ke kepala, meski pelan.
“Tidak mau jawab,” ucap Pujiono.
Tak!
“Akk!” jerit Pujiono karena kepalanya dipentung sedikit lebih keras.
“Siapa kalian?” tanya Anjengan lagi, masih bernada datar karena masih sabar.
“Tidak mau jawab!” jawab Pujiono dengan setengah berteriak.
Dak!
“Aaak...!” jerit Pujiono lebih keras dan lebih panjang. Mungkin pikir dia, kalau lebih kencang dan lebih panjang maka lebih enak.
Pujiono sampai mengusap-usap kepalanya karena kesakitan, bahkan dia melihat darah di jarinya ketika dia melihat tangannya.
“Kami masih punya dua orang tawanan yang bisa bicara nanti. Tidak susah membunuhmu jika kau menolak menjawab benar,” kata Anjengan yang berisi ancaman.
Tiba-tiba Gagap Ayu datang ke sisi Anjengan.
“Su-su-su....”
“Susu siapa?” tanya Anjengan memotong kata-kata Gagap Ayu yang berwajah marah.
“Su-susumu!” jawab Gagap Ayu sambil tiba-tiba menyomot dada berbuah Anjengan.
“Ak! Gagap Mesum!” pekik Anjengan dan memaki Gagap Ayu.
“Hahaha!” tawa Pujiono melihat adegan drama dewasa di depannya. Sakit di kepalanya seolah-olah sirna seketika, tapi hanya seolah-olah.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan lainnya yang melihat adegan tersebut.
Sementara yang tidak melihat adegan itu hanya menengok dan memandang dari kejauhan. Mereka hanya bertanya-tanya di luar hati, tidak terlalu kepo. Sudah biasa jika ratu mereka tertawa.
“Diam kau, Sugiono!” Anjengan membentak Pujiono dengan asal memberinya nama.
Terdiamlah Pujiono.
“Su-su-sudah, dipenggal sa-sa-saja le-le-lehernya!” kata Gagap Ayu menyempurnakan kalimatnya yang tadi dipotong oleh Anjengan seperti potong bebek angsa. Entah yang benar bebek atau angsa?
“Baiklah jika demikian,” kata Anjengan.
Siiing!
Anjengan menarik lolos Pedang Macan Setan dari sarungnya, membuat Pujiono mendelik dan menelan ludah kering.
“Aku penggal saja si Sugiono ini!” kata Anjengan lalu membabatkan pedangnya ke arah leher Pujiono yang dalam posisi duduk di tanah.
“Jangaaan!” teriak Pujiono ketakutan sambil merunduk cepat.
Selamat leher Pujiono dari pedang mengerikan itu. Namun, ada sekumpulan rambut yang melayang jatuh ke tanah dan jatuh tepat lewat di depan wajah Pujiono.
Terkejut Pujiono melihat kumpulan rambut tersebut. Buru-buru dia meraba puncak kepalanya. Ternyata atas kepalanya telah botak dan berdarah karena kulit kepalanya terkelupas oleh ketajaman Pedang Macan Setan. Setelah itu, rasa perih mendera kepala Pujiono.
“Pa-pa-payah!” gerutu Gagap Ayu melihat pekerjaan Anjengan.
“Jangan meremehkan aku, Ayu. Aku hanya membuatnya takut saja. Akan aku tunjukkan kau cara memenggal kepala yang benar!” kata Anjengan beralasan.
“Co-co-co....”
__ADS_1
“Colok matanya?” tanya Anjengan memotong perkataan Gagap Ayu.
“Bu-bu-bukaaan! Maksudku, co-co-coba buktikaaaan!” ralat Gagap Ayu sewot.
“Baik!” tandas Anjengan pula.
“Ja-ja-jangan!” teriak Pujiono mendadak gagap pula.
Plak!
Tiba-tiba Gagap Ayu menampar keras wajah Pujiono, membuat lelaki itu terbanting ke samping, tapi tidak sampai jatuh mengibakan.
“Ja-ja-jangan mengejekku!” bentak Gagap Ayu kepada Pujiono. Lalu katanya kepada Anjengan, “Pe-pe-pe....”
“Peluk?” tanya Anjengan memotong.
“Pe-pe-penggaaal!” teriak Gagap Ayu kepada Anjengan.
“Siap! Hahaha!” pekik Anjengan lalu tertawa karena berhasil membuat sahabat cantik mungilnya itu kesal.
Sementara Alma Fatara hanya tertawa melihat dagelan kedua sahabat masa kecilnya itu.
Anjengan kembali mengangkat pedangnya. Siap memenggal.
“Tu-tu-tunggu!” pekik Pujiono lagi dengan wajah mewek berkeringat.
Plak!
“Su-su-sudah aku katakan, ja-ja-jangan mengejekku!” bentak Gagap Ayu setelah kembali menampar wajah tawanan tersebut.
“Aku tidak mengejek, tapi aku ketakutaaan! Huuu...!” teriak Pujiono tidak berani gagap lagi, takut ditampar lagi. Dia ujung-ujungnya menangis eperti lelaki.
Meski bertubuh mungil, tetapi tamparan Gagap Ayu bertenaga Gede Angin.
“Hahaha! Dia menangis!” tawa Anjengan.
“Hihihi!” tawa Gagap Ayu tanpa gagap.
“Gusti Ratu! Tawanan ini menangis! Hahaha!” teriak Anjengan kepada Alma Fatara.
“Hah!” pekik Anjengan terkejut, tanpa merasa komedi sedikit pun.
“Hihihi!” tawa Gagap Ayu.
“Hahaha!” tawa yang lain mendengar seloroh ratu mereka.
“Aaah peduli apa. Akan aku diamkan dengan pedangku!” kata Anjengan kesal.
Dia kembali mengangkat pedangnya yang siap dipenggalkan ke leher Pujiono.
“Hentikaaan! Aku akan bicara!” teriak Pujiono sebelum tahu-tahu nyawanya melayang.
“Bagus!” puji Anjengan lalu meletakkan ujung pedangnya pada bahu kiri Pujiono.
Jelas, letak pedang yang tajam itu membuat Pujiono gemetar dan pucat. Sebab, geser sedikit ujung pedang itu, maka nyawanya akan berakhir tidak indah.
“Kalian siapa?” tanya Anjengan datar, tidak galak.
“Kelompok Pemanah Samudera,” jawab Pujiono lancar.
“Nah, kalau seperti ini, kau bisa kami bebaskan,” kata Anjengan senang. Lalu tanyanya lagi, “Siapa itu Kelompok Pemanah Samudera?”
“Kami kelompok bayaran dari Pulau Karang Hijau,” jawab Pujiono.
“Siapa yang ingin kalian bunuh?” tanya Anjengan.
“Gadis muda berjubah hitam,” jawab Mujiono.
“Apakah kalian tahu siapa itu gadis muda berjubah hitam?”
“Tidak.”
__ADS_1
“Lalu siapa yang membayar kalian?”
“Seseorang dari Negeri Tanduk.”
“Maksudmu Raja Negeri Tanduk?”
“Aku tidak tahu. Hanya ketua kami yang tahu.”
“Kenapa ingin membunuh gadis muda berjubah hitam?”
“Tidak tahu.”
“Apakah kalian punya kelompok lain?”
“Tidak ada.”
“Dia berbohong!” teriak Penombak Manis tiba-tiba dari sisi Alma Fatara. Pandangan wanita pesek itu memang tidak bisa dibohongi.
Teriakan Penombak Manis membuat Anjengan menggeser sedikit pedangnya menempel ke kulit leher Pujiono.
“Ak!” jerit Pujiono saat merasakan kulit lehernya teriris, tapi baru kulit.
“Jangan macam-macam,” kata Anjengan memperingatkan.
“Ada kelompok lain. Satu kelompok lagi,” kata Pujiono.
“Pemanah juga?” tanya Anjengan.
“Iya.”
“Pemanah seperti kalian juga?”
“Hanya tiga pemanah.”
“Tapi sehebat pimpinanmu?”
“Tidak. Lebih hebat.”
“Di mana mereka?”
“Tidak tahu.”
“Cukup, Panglima!” seru Alma Fatara tiba-tiba.
Anjengan menengok kepada Alma Fatara dan mengangguk sekali. Dia lalu kembali beralih kepada Pujiono.
“Apakah kau ingin bebas atau mati?”
“Ingin bebas.”
“Hahaha!” tawa Anjengan sambil menarik pedangnya dan menyarungkannya kembali. Entah apa yang ditertawakan oleh gadis gendut berkulit hitam kopi susu itu.
Anjengan dan Gagap Ayu lalu meninggalkan Pujiono seorang diri agar tawanan itu bisa tenang.
“Jika Belik Ludah sudah selesai, kita lanjutkan perjalanan, Panglima,” kata Alma Fatara kepada Anjengan.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Anjengan.
Anjengan lalu berjalan pergi ke tempat Belik Ludah dan kedua perawatnya bekerja.
“Pasukaaan! Bersiaaap!” teriak Anjengan kepada seluruh pasukan sambil dia berjalan mendekati Belik Ludah.
Dilihatnya Mpit Kenanga dan Mpit Kemangi sudah selesai melakukan penanganan pada luka potong kedua pasiennya.
“Apakah sudah selesai, Tabib?” tanya Anjengan.
“Sudah, Panglima Besar!” sahut Belik Ludah sembari tersenyum lebar.
“Kerja bagus. Tinggalkan saja mereka!” perintah Anjengan.
“Baik, Panglima,” ucap kedua Mpit patuh.
__ADS_1
Semua personel Pasukan Genggam Jagad segera kembali ke kendaraannya masing-masing. Jangan sampai ada yang tertinggal.
Sebelum pasukan itu berangkat, setiap panglima dan ketua mengecek anggotanya masing-masing, khawatir jika ada anggota yang turun ke kali tanpa izin. (RH)