
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Warga Kampung Siluman hari itu bekerja cepat karena mereka berlomba dengan waktu. Sebagian membuat ketapel-ketapel besar berbahan bambu yang ditancapkan berbaris tidak jauh dari pagar benteng yang sedang dibangun oleh warga yang lain. Sedangkan sebagian lagi merombak jaringan pipa bambu tempat mengalirnya minyak yang sudah melalui penyulingan. Katanya dirombak untuk sementara.
Jaringan pipa yang berada di atas tanah dibuat sehingga secara tidak langsung mengelilingi tanah lapang yang ada di tengah-tengah Kampung Siluman.
Kampung Siluman memiliki depot minyak yang sudah jadi dan posisinya lebih tinggi dari atap-atap rumah mereka. Dari depot itu, minyak disalurkan ke berbagai titik kampung untuk digunakan oleh warga guna berbagai keperluan sehari-hari atau yang lainnya.
Jangan heran jika di malam hari Kampung Siluman terang benderang oleh banyak cahaya api. Bukit itu bahkan bisa dilihat dari jarak yang jauh karena cahaya apinya yang banyak dan terlihat indah di kala malam.
Ternyata hari itu tidak ada serangan yang dilakukan oleh para pendekar yang ditunggu-tunggu oleh Alma Fatara. Namun, tidak adanya serangan memberi kesempatan bagi warga Kampung Siluman bisa menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Alma Fatara.
Meski demikian, Alma Fatara dan kaum lelaki Kampung Siluman tetap waspada, termasuk di malam hari. Sebab, tidak ada jaminan bahwa para pendekar asing itu tidak menyerang di kala malam.
Namun, hingga pagi hari, keadaan aman. Para warga kembali ke tugasnya masing-masing, tugas menggali parit di kaki bukit batu, tugas membangun benteng, tugas menyempurnakan jaringan pipa minyak. Pasukan panah jumlah kecil pun disiapkan.
Pagi itu, Alma Fatara menuntut Pangeran Arguna untuk unjuk kemampuan beladirinya. Dia sparing melawan Kepala Kampung Lingkar Dalam.
Pertarungan persahabatan itu menjadi tontonan yang menarik bagi warga Kampung Siluman, terkhusus bagi para gadis. Banyak dari mereka adalah pemuja Lingkar Dalam sebagai pemuda gantengnya kampung dan putra mendiang Kepala Kampung sebelumnya, meski usianya masih muda.
Namun, ada juga yang tidak kuat hati jika melihat ketampanan baru yang lebih bersih wajah dan fisiknya, sehingga mereka di belakang heboh sendiri ketika melihat ketampanan Pangeran Arguno.
Panglima Kampung Kirak Sebaya yang sudah lebih segar di pagi hari itu, menonton dari atas teras rumah panggungnya bersama sang istri tercinta.
Duel itu berlangsung di tengah-tengah tanah lapang, sehingga masih bisa ditonton oleh kaum wanita dan orang tua dari sejumlah rumah panggung bambu yang mengelilingi tanah lapang.
Sementara itu, Alma Fatara yang menjadi wasit cantiknya.
Pada tahap awal pertarungan, kedua pemuda tampan yang seolah-olah sedang memperebutkan Alma Fatara itu, bertarung dengan tangan kosong.
Dak! Bedug!
Baru saja saling tukar pukulan dan tendangan, tiba-tiba kibasan kaki kanan Lingkar Dalam di permukaan tanah menyapu kaki Arguna, membuat sang pangeran jatuh terbanting.
“Siuuu!” sorak sebagian besar warga kampung dari semua kalangan karena Kepala Kampung mereka bisa menjatuhkan Arguna.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara pula.
Arguna cukup gusar. Dia tidak menyangka bahwa dia akan jatuh dengan cepat, apalagi Alma Fatara justru menertawakannya. Maklum dia belum begitu mengenal karakter Alma Fatara, yang melihat bebek bisa berenang saja akan tertawa.
Segera Arguno bangkit.
“Ayo, Kakang Arguna! Jangan permalukan aku!” teriak Manila Sari.
“Ayo, Kakang Ganteng!” teriak seorang bocah perempuan berusia empat tahun mendukung Arguna.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan para warga mendengar dukungan si gadis kecil untuk Arguna.
__ADS_1
Teriakan si gadis kecil yang berdiri di antara teman-temannya itu, membuat Arguna cukup bersemangat.
“Hiat!” pekik Arguna sambil merangsek maju melancarkan pukulan-pukulan dan tendangan yang lebih bersemangat.
Lingkar Dalam pun meladeni dengan tangkisan dan elakan yang cepat. Kali ini serangan Arguna lebih cepat dan bertenaga.
Buk!
“Uhk!” keluh Lingkar Dalam saat tahu-tahu tinju keras Arguna lolos ke dadanya. Hantaman itu membuat si pemuda terjajar dua tindak.
“Siuuu! Hihihi!” sorak sekumpulan suara wanita dewasa dan kelompok anak kecil yang kemudian diikuti dengan tawa yang genit dan ramai.
Sorakan kegembiraan dan dukungan itu mengejutkan semua kalangan. Ternyata Arguna sudah memiliki fans, meski tidak sebanyak pendukung Lingkar Dalam.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara, entah menertawakan Arguna atau Lingkar Dalam yang giliran kena hantam.
Duel itu lalu kembali berlanjut.
Kemudian, pertarungan berlangsung seimbang untuk beberapa saat. Namun, itu tidak berlangsung lama.
Ketika Lingkar Dalam mulai memainkan jurus Lingkaran Siluman Mabuk, maka Arguna mengalami kewalahan. Jurus Lingkaran Siluman Mabuk memiliki gerakan seperti orang mabuk yang tidak bisa terbaca dengan jelas. Sepertinya Arguna butuh kacamata, tetapi itu tidak mungkin ada karena belum ada kacanya.
Misi jurus itu adalah membuat lawan seolah-olah seperti terkurung dalam penjagaan.
Arguna cukup kesulitan menghadapi jurus unik seperti itu. Dia bahkan baru kali ini menghadapi jurus ala Jackie Chan teler. Lingkar Dalam selalu melakukan pencekalan pada bahu, tangan, baju, anggota tubuh yang lain, hingga bokong pun dicengkeram seperti memang sengaja ingin meremmas.
Pertarungan yang ditunjukkan oleh Lingkar Dalam membuat hampir semua orang senyum-senyum karena terhibur. Bagaimana tidak, Arguna seperti sedang dipermainkan dalam tahap ini.
Setiap kali Arguna hendak mundur membuat jarak, cekalan tangan Lingkar Dalam selalu menahan dan menariknya, bahkan beberapa kali gerakan Arguna dihalangi oleh liukan tubuh Lingkar Dalam.
Sebaliknya, Arguna dibuat kesulitan untuk menyarangkan pukulannya atau melakukan serangan balik. Para penonton tinggal menunggu serangan Lingkar Dalam bersarang keras di tubuh sang pangeran.
Bakbak! Bapak!
Pada akhirnya, waktu yang ditunggu tiba, yaitu ketika empat pukulan Lingkar Dalam mendarat pada badan Arguna.
Blug!
Empat hantaman cukup membuat Arguna jatuh terduduk.
“Siuuu!” sorak semua warga pendukung Lingkar Dalam.
Setelah serangan itu, Lingkar Dalam berhenti teler tanpa obat. Dia tersenyum kepada Arguna.
“Bagaimana, Gusti Pangeran?” tanya Lingkar Dalam.
Pangeran sudah bangkit berdiri dengan ekspresi yang terlihat marah.
__ADS_1
“Pedang!” teriak Arguna sambil mengulurkan tangannya ke arah posisi Manila Sari, tetapi pandangannya tetap kepada Lingkar Dalam.
Crak!
Manila Sari melemparkan pedang yang dititipkan kepadanya. Arguna menangkapnya dengan meyakinkan.
Tanpa berteriak, Lingkar Dalam mengulurkan pula tangannya, tapi entah kepada siapa. Namun, tetap saja ada orang yang melemparkan sebuah pedang kepadanya.
Kedua pemuda itupun mencabut pedang masing-masing dan membuang sarungnya begitu saja ke tanah.
“Ingat, ini hanya pertarungan persahabatan!” seru Alma Fatara yang masih berdiri tidak jauh dari keduanya.
Kedua petarung hanya mengangguk menanggapi seruan Alma Fatara.
“Hiaaat!” teriak keduanya sambil maju menebaskan pedangnya.
Tinting tantang!
Suara denting peraduan dua pedang terdengar mengiris pendengaran. Kuatnya suara dentingan itu seolah-olah memberi tahu kepada khalayak bahwa “aku serius loooh”.
Untuk fase ini, Alma Fatara lebih serius memerhatikan pertandingan tersebut.
“Permainan pedang Pangeran Arguna lebih rapi dan halus. Itu menunjukkan bahwa ia berlatih pedang dengan baik. Berbeda dengan Kepala Kampung yang bermain pedang berdasarkan keahlian ilmu beladiri belaka. Kepala Kampung pasti akan kalah,” kata Kirak Sebaya kepada istrinya yang menonton dari atas teras rumahnya.
Nenek Gendar Sayu hanya manggut-manggut, karena sejatinya dia tidak mengerti tentang ilmu pedang.
Tinting tantang!
Benar penilaian Panglima Kampung, terlihat bahwa tidak butuh waktu lama, Lingkar Dalam terdesak. Dia berada dalam posisi hanya menangkis sambil mundur perlahan. Permainan pedang Arguna dinilainya begitu cepat dibanding gerakan pedangnya.
Set! Sleet!
Hingga pada puncaknya, ujung pedang Arguna menusuk ke arah perut Lingkar Dalam yang sudah terlambat untuk menghindar. Lingkar Dalam pun mendelik karena ia pun yakin bahwa perutnya akan robek besar.
Namun, mereka semua terkejut karena melihat jelas gerakan ujung pedang tiba-tiba agak berbelok seperti keluar dari lintasannya.
Bret!
Hal itu membuat ujung pedang hanya menyambar kain baju loreng Lingkar Dalam dan perutnya selamat dari tusukan.
“Pertarungan selesai!” teriak Alma Fatara yang telah mengaktifkan Benang Darah Dewa. “Pertarungan tangan kosong dimenangkan oleh Kepala Kampung Lingkar Dalam. Pertarungan pedang dimenangkan oleh Pangeran Arguna!”
“Siuuu!” sorak para gadis dan anak-anak pendukung Arguna.
Sebelumnya yang terjadi adalah ujung Benang Darah Dewa melesat cepat melilit ujung pedang Arguna, lalu menariknya sehingga sedikit berbelok.
Fong fong fong ...!
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara terompet tanduk yang berasal dari kaki bukit, mengejutkan mereka semua.
“Musuh datang!” teriak Lingkar Dalam tegang. (RH)