
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Kelapa Berbulu dalam posisi duduk bersila karena lututnya telah dibuat lumpuh. Di tangan kanannya telah tergenggam tombak besi pendeknya yang bersinar merah menyilaukan dengan ilmu Tombak Kerajaan Iblis.
Sementara dua tombak di depannya telah berdiri Alma Fatara yang cantik dengan keanggunannya dan lucu dengan keompongannya.
Mereka berdua sedang terkurung oleh lingkaran api besar, memberi rasa panas tapi tanpa mengganggu berlangsungnya pertarungan.
Di luar lingkaran api, berdiri Manila Sari yang memantau. Sementara warga Kampung Siluman memantau dari jauh.
Beberapa lelaki kampung berlari mendapati tubuh Lingkar Dalam yang terkapar tidak bisa bangkit lagi. Sebelumnya Lingkar Dalam dihantam oleh ilmu Lurus Menuju Kematian. Saat itu dia melindungi dirinya dengan ilmu Tali Cekik Nyawa. Entah, apakah ilmu itu bisa membantunya mati atau justru tetap hidup?
Para lelaki itu segera menggotong Lingkar Dalam pergi ke suatu tempat.
“Kakang, siapa namamu?” tanya Alma Fatara mengajak Kelapa Berbulu berkenalan.
Set! Blar!
“Hekh!” pekik tertahan Alma Fatara.
Daripada menjawab pertanyaan Alma Fatara, Kelapa Berbulu memilih melesatkan tombak sinarnya yang menyilaukan dengan tetap memegang rantai ekornya. Senjata tombak pendek itu memang memiliki rantai pengait pada bagian ekor agar senjata itu tidak kaburan.
Alma Fatara sigap menghindari serangan dengan lompatan cantik. Namun, satu hal yang mengejutkan, meski tombak itu tidak mengenai target, tetapi ketika lesatan tombak tertahan oleh rantai yang memiliki panjang dua depa, mata tombak menciptakan ledakan sinar merah yang gelombangnya mendorong tubuh Alma di udara.
Hantaman gelombang sakti itulah yang membuat Alma Fatara memekik tertahan.
Jleg!
Alma Fatara mendarat dengan gigi agak gemetar. Dia tidak menderita luka dalam dari ledakan itu, tetapi cukup membuat perasaannya tidak asik.
Sezt! Zing!
“Hukh!” keluh Kelapa Berbulu.
Alma Fatara mengayunkan lengan kanannya, melesatkan ilmu Sabit Murka. Satu sinar kuning tipis berbentuk sabit besar melesat menyerang Kelapa Berbulu.
Kaki yang lumpuh membuat Kelapa Berbulu sulit ke mana-mana. Dia hanya bisa menangkis sinar tajam itu dengan memalangkan tombak bersinar merahnya.
Ilmu Sabit Murka menghantam tombak Kelapa Berbulu di depan badan. Kelapa Berbulu mengeluh seiring tubuhnya terdorong berguling di tanah. Tidak adanya kuda-kuda membuat tubuh Kelapa Berbulu mudah terdorong.
“Uhhukr!” Kelapa Berbulu yang sebelumnya sudah terluka dalam, batuk satu kali yang mengeluarkan sedikit darah. Sepertinya si luka dalam masih malu-malu.
Melihat hal itu dan Kelapa Berbulu sudah kembali siap dengan posisi duduk di tanah, Alma Fatara kembali melesatkan dua Sabit Murka. Dua sinar kuning sabit pun melesat.
__ADS_1
Sezt sezt!
Zing zing!
“Akh!” jerit Kelapa Berbulu.
Kelapa Berbulu memilih melindungi dirinya dengan ilmu perisai Sarang Lebah Penolong, sehingga ia pun tidak terkena langsung ilmu Sabit Murka. Namun, kondisi yang sudah terluka dalam cukup parah membuat kekuatan Sarang Lebah Penolong tidak lagi maksimal.
Kelapa Berbulu terlempar bersama jeritannya dan jatuh di dekat api.
“Heokr!” Kelapa Berbulu muntah darah yang banyak.
Setelah itu, dia bergerak panik karena api membakar celana dan satu ujung kakinya. Beruntung api itu padam dan api hanya membakar ujung celana sampai lutut, juga memberi tanda bakar pada kulit kaki.
Alma Fatara melangkah biasa seperti seorang pembunuh berantai mendekati korbannya yang sudah tidak berdaya.
Sus!
“Fukrr!” Kelapa Berbulu menyemburkan darah ketika dia berusaha mengerahkan ilmu Jeruk Pengantar Maut di tangannya.
Sempat muncul seberkas sinar jingga pada telapak tangan kanannya, tetapi langsung padam yang disusul semburan darah dari mulut.
“Aku jamin nyawa Kakang jika Kakang mau buka mulut dan bicara,” ujar Alma Fatara datar memberi penawaran.
Lelaki berusia kisaran separuh abad sebelas tahun lagi tersebut, terdiam dengan tatapan dendam kepada Alma Fatara.
“Hakrr!” Tersentak sisi humor Kelapa Berbulu melihat kelucuan gigi Alma. Ia tersentak tertawa, tapi justru berujung muntah darah.
“Eh eh eh! Jangan tertawa dulu, Kakang. Nanti saja jika kita bisa minum kopi bersama, itu jika Kakang tidak mau memilih mati,” kata Alma Fatara pura-pura khawatir dan peduli. Lalu katanya lagi, “Jika Kakang tidak memberi jawaban sekarang, terpaksa aku akan membujuk Kakang dengan cara lain.”
Ternyata Kelapa Berbulu memilih diam. Sekedar bocoran, dia tidak menjawab bukan berarti dia bisu.
“Padamkan api!” teriak Alma Fatara tiba-tiba.
Perintah itu segera dikerjakan oleh para lelaki Kampung Siluman. Mereka yang sebelumnya tidak memikirkan cara memadamkan api sebesar lingkaran itu, memilih cara menyiram api dengan pasir, bukan air. Sebelumnya telah diungkapkan oleh Sabung bahwa kampung itu tidak memiliki air bersih. Sekedar bocoran, padahal mereka memiliki air minum, meski terbatas.
Jangan ditanya apakah warga Kampung Siluman mandi atau tidak.
Memadamkan api di cairan minyak jelas tidak semudah memadamkan api di air kelapa. Jadi untuk sementara, api hanya dibuat kecil, sehingga Alma Fatara bisa melihat sosok Manila Sari dengan utuh di seberang api. Masih cantik dia.
“Lucuti orang ini dan gantung!” perintah Alma Fatara.
Beberapa lelaki Kampung Siluman segera datang mencengkeram Kelapa Berbulu. Yang dicengkeram jelas kedua tangannya, bukan yang lain. Satu orang melepas ikatan rantai pada pinggang Kelapa Berbulu untuk melucuti tombak pendeknya yang sudah tidak bersinar.
“Dia sudah terluka parah, jangan khawatir,” kata Alma Fatara.
__ADS_1
“Alma, apakah pakaiannya juga dilucuti?” tanya satu pemuda dengan lugunya.
“Hahaha!” Pertanyaan itu membuat Alma Fatara tertawa dadakan. Lalu jawabnya, “Terserah Kakang. Terserah kalian juga mau melakukan apa kepadanya agar dia mau bicara. Usahakan jangan sampai dia mati dengan cepat, jika bisa jangan sampai mati.”
“Baik, Alma,” ucap para lelaki kampung itu.
Alma Fatara lalu melompati api dan menghampiri Manila Sari.
“Pakaiannya untukku!” teriak salah satu pemuda sambil lebih dulu memegangi baju Kelapa Berbulu, menunjukkan bahwa baju pendekar itu adalah miliknya. Maklum, baju Kelapa Berbulu modelnya bagus dengan kualitas ori.
Hal itu membuat Alma Fatara menengok ke belakang melihat apa yang terjadi.
“Hahaha!” Melihat Kelapa Berbulu mencoba meronta ketika bajunya dilucuti paksa, Alma Fatara hanya tertawa.
Dia lalu mengajak Manila Sari.
“Ayo, kita lihat kondisi kakakmu!”
“Apakah Kakang Arguna masih bisa diselamatkan, Alma?” tanya Manila Sari cemas.
“Aku harap demikian. Tadi tubuhnya menderita panas tinggi, karenanya aku minta tubuhnya segera disiram air,” jawab Alma Fatara.
Kedua gadis cantik itu lalu pergi ke tempat Sabung tadi membawa Pangeran Arguna.
Sementara itu, Kelapa Berbulu dilucuti pakaiannya, termasuk celananya, kecuali cawatnya. Kedua tangannya diikat lalu talinya ditarik oleh dua orang. Dia diseret seperti bangkai.
Kelapa Berbulu yang juga tidak mau berbicara, hanya sesekali mengerang kesakitan. Tubuhnya kotor oleh debu dan tergores oleh kerikil-kerikil kecil. Sekedar pemberitahuan, kerikil itu kecil tapi keras.
Hebatnya Kelapa Berbulu, ketika badannya diseret melewati pagar api yang sudah mengecil, dia tidak menjerit. Dia lebih memilih menahan rasa panas itu untuk menunjukkan bahwa dia masih kuat.
“Seret keliling dulu! Biar dia merasakan siksaan sebagai balasan kematian orang-orang Kampung Siluman!” teriak pemuda yang sudah memakai baju merah milik Kelapa Berbulu.
“Benar! Kita akan buat dia merasakan setiap irisan luka yang mereka berikan kepada saudara-saudara kita!” teriak yang lain sambil berjalan mengikuti seretan tubuh Kelapa Berbulu.
Para warga kampung Siluman mulai berkeluaran. Mereka tidak takut lagi karena sudah dipastikan bahwa kelompok penyerang sudah pergi meninggalkan bukit membawa kekalahan telak.
Tidak berapa lama, sejumlah lelaki dan wanita datang mengerumuni Kelapa Berbulu.
“Ini yang membunuh suamiku! Keparat pembunuh!” teriak histeris seorang ibu sambil menunjuk tubuh Kelapa Berbulu. Sepekan yang lalu, dia memang menyaksikan suaminya dibunuh oleh Kelapa Berbulu.
Buk buk bubuk!
Setelah itu, orang-orang yang mengerumuni Kelapa Berbulu menjadi kian dendam dan menghujani tubuh telanjang itu dengan tendangan bertubi-tubi. Persis menendangi pencuri kotak amal restoran.
Hebatnya, meski didera kesakitan bertubi-tubi dari tendangan massa yang main jaksa sendiri, Kelapa Berbulu berusaha tidak menjerit, tetapi darah sedikit demi sedikit terdorong keluar lewat mulut.
__ADS_1
Di sisi lain beberapa lelaki lain bekerja membangun sebuah tiang bambu. Singkat waktu, Kelapa Berbulu akhirnya digantung tidak terbalik dengan kondisi dekil oleh darah dan debu, dalam keadaan busikit. (RH)