Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
PKS 27: Tantangan Dari Ratu


__ADS_3

*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*


 


Dengan menyerahnya seluruh Pasukan Tanduk Kemenangan, tinggallah Panglima Tebing Gali dan ketujuh anggota Peri-Peri Pengisap.


Anggota Peri-Peri Pengisap berkurang satu karena Peri Mayang telah dibuat jadi boneka oleh Bungkuk Gila.


“Peri Mayang!” panggil Peri Tamak saat melihat Bungkuk Gila berjalan sambil merangkul pinggang Peri Mayang.


“Hehehe!” kekek Bungkuk Gila seperti orang yang mendapat istri baru.


Peri Mayang tidak menggubris panggilan Peri Tamak. Ia dan Bungkuk Gila berjalan ke dekat keempat kuda, menunjukkan bahwa kakek bungkuk itu bagian dari pasukan Putra Mahkota Pangeran Sugang Laksama.


Sementara itu, wujud ular besar Mbah Hitam sudah menghilang tanpa permisi.


“Pasukan Genggam Jagaaad!” teriak satu suara perempuan yang mengandung tenaga dalam tinggi dari kejauhan. Itu adalah suara teriakan Panglima Besar Anjengan.


“Kami! Datang! Untukmu!”


Teriakan Anjengan dijawab oleh banyak suara yang kompak dan terdengar terputus-putus menggema ke seantero alam.


Setelah itu, puluhan lelaki dan pendekar bermunculan dari segala arah. Pada umumnya mereka berlari di udara. Kemunculan mereka semua kian mengejutkan Panglima Tebing Gali, Peri-Peri Pengisap dan pasukan yang sudah menyerah.


Pasukan panah yang terdiri dari sepuluh wanita cantik plus satu lelaki buruk rupa, kali ini muncul semua. Setelah berhenti mendapatkan posisinya, kesepuluh wanita pemanah langsung siap bidik dengan senjatanya. Mereka mengarahkan bidikannya kepada Tebing Gali dan Peri-Peri Pengisap.


Tidak berapa lama, pasukan Sayap Panah Pelangi, Sayap Pelangi dan Sayap Laba-Laba, telah mengepung tempat itu.


Warga yang masih aman di dalam kurungan kubah sinar biru juga merasa tegang melihat kondisi i tu.


“Majuuu!” Kembali terdengar teriakan dari jauh, seiring munculnya pasukan berseragam hitam, sama dengan seragam pasukan yang sudah menyerah.


“Majuuu!” teriak pasukan itu dengan senjata tombak dan pedang.


Pasukan itu adalah pasukan Panglima Tebing Gali yang sebelumnya menyerah dan mengambil sumpah setia kepada Pangeran Sugang Laksama.


“Majuuu!” teriak suara lelaki dari arah selatan tidak kalah keras.


“Majuuu!” teriak ratusan prajurit berseragam merah gelap yang dipimpin oleh Komandan Are Are. Itu adalah Pasukan Kadipaten Sengat.


“Majuuu!” teriak Badak Ireng dari sisi utara.


“Majuuu!” teriak ratusan prajurit dari Kadipaten Gulangtara.


Pasukan dari tiga unsur itu mengepung rapat posisi Panglima Tebing Gali dan Pengeran Sugang Laksama, termasuk posisi ratusan prajurit berseragam hitam yang telah menyerah dan posisi warga yang terkurung.


“Gusti Ratu Siluman tibaaa!” teriak Anjengan lagi.


Dari arah selatan terdengar suara langkah kaki beberapa kuda dan roda kayu kereta kuda.


Pasukan yang berada di sisi selatan segera membuka jalan. Maka masuklah rombongan sebuah kereta kuda yang dikawal oleh beberapa pendekar berkuda.


Mereka yang berkuda di antaranya, Alma Fatara sebagai Ratu Siluman, Mbah Hitam yang gantengnya seawan, Panglima Besar Anjengan yang kelas berat, Panglima Mata Dewa Penombak Manis, Lima Dewi Purnama yang dipimpin oleh Gagap Ayu, Gede Angin selaku pembawa bendera Kerajaan Siluman, dan Gempar Gendut sebagai sais Kereta Ratu Siluman.

__ADS_1


Rombongan itu berhenti di dekat kuda Pangeran Sugang Laksama dan para panglimanya.


“Beri hormat kepada Gusti Ratu Siluman!” teriak Alma Fatara tiba-tiba.


“Sembah hormat kepada Gusti Ratu Siluman!” teriak Arung Seto dengan memendam tanda tanya. “Kenapa Ratu Siluman sendiri yang berteriak seperti itu?”


“Sembah hormat kepada Gusti Ratu Siluman!” teriak seluruh pasukan sambil turun berlutut mengikuti Arung Seto selaku Panglima Sayap Laba-Laba,


Orang-orang di atas kuda pun menjura hormat ke arah kereta kuda, termasuk Alma Fatara sendiri selaku ratu mereka. Orang berkuda yang tidak menghormat hanya Pangeran Sugang Laksama, kedua panglimanya dan Cucum Mili.


Dengan menghormatnya ratu mereka ke arah kereta kuda, heranlah Pangeran Sugang Laksama, Panglima Ragum Pangkuawan, Panglima Riring Belanga, Cucum Mili dan seluruh pasukan sayap. Sepertinya ada yang aneh.


Tidak berapa lama, seseorang keluar dari dalam bilik kereta lewat pintu depan. Sosok itu tidak lain adalah Kembang Bulan. Dia lalu beridiri di samping Gempar Gendut yang berposisi sebagai kusir. Kembang Bulan berdiri dengan wajah agak didongakkan, seolah-oleh dialah ratunya. Tangan kanannya memegang sebuah pedang berwarna biru gelap dengan gagang berbentuk kepala setan yang sedang menganga lebar, sepertinya sedang mengantuk.


“Pedang Sepuluh Siluman!” sebut Peri Tamak terkejut. Rupanya dia sudah berkenalan dengan pedang di tangan Kembang Bulan.


Kembang Bulan tersenyum paksa, memainkan perannya sebagai ratu baru.


“Ba-bangunlah!” seru Kembang Bulan agak tergagap, menjadi nilai minus bagi kualitas aktingnya.


Maka semua yang menghormat segera tegak kembali.


“Hahahak!” Mendadak Alma Fatara tertawa kencang seorang diri, memperlihatkan gigi ompongnya. Lalu katanya, “Ah, kau belum bisa jadi ratu, Kembang.”


Alma Fatara lalu melompat dan berlari di udara, kemudian mendarat di kereta kuda.


“Mohon maaf, Gusti Ratu,” ucap Kembang Bulan merasa bersalah seraya menjura hormat kepada Alma Fatara.


Kembang Bulan lalu turun dari atas kereta dan berdiri di sisi kereta.


“Putra Mahkota, lanjutkan!” seru Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” sahut Pangeran Laksama.


Pangeran Laksamana dan semua kembali fokus kepada Panglima Tebing Gali dan ketujuh wanitanya yang tersisa.


“Panglima Tebing Gali, menyerah atau tidak, kalian tetap akan dihukum mati!” seru Pangeran Sugang Laksama.


Terbeliak Tebing Gali dan ketujuh pendekar wanitanya. Tiba-tiba Tebing Gali turun berlutut.


“Aku mohon pengampunan, Gusti Pangeran. Aku akan setia kepada Gusti!” teriak Tebing Gali. Dia yakin bahwa kondisi itu tidak akan membuatnya selamat meski dia melawan bersama Peri-Peri Pengisap.


“Tidak!” tolak Pangeran Sugang Laksama tegas. “Kejahatanmu sudah melampaui batas!”


“Baiklah jika begitu!” teriak Tebing Gali marah sambil bangkit berdiri. “Siapa yang berani maju untuk aku habisi nyawanya?!”


“Baiklah, aku beri kau kesempatan untuk melawan, Tebing Gali. Dan kalian para perempuan....”


Pangeran Sugang Laksama menunjuk ke arah Peri Tamak dan rekan-rekannya yang sejak tadi menunjukkan wajah tegang dan bermusuhan yang dalam.


“Aku beri satu kesempatan dari kalian untuk memilih lawan satu pendekar perempuan dalam pasukanku!” seru Alma Fatara melanjutkan perkataan Pangeran Sugang Laksama.


Sang pangeran agak terkejut karena omongannya dipotong oleh Alma Fatara. Sungguh kurang sopan, pikir Pangeran Sugang Laksama. Namun, dia pun hanya bisa menurut karena Alma Fatara adalah ratunya.

__ADS_1


“Murai Ranum, maju!” perintah Alma Fatara.


Maka gadis cantik yang bernama Murai Ranum berpakaian warna merah muda berjalan maju sembari tersenyum. Lenggak-lenggok pinggulnya begitu menggoda. Sekali dia melirik dan tersenyum kepada Panglima Arung Seto yang tampan, membuat Ninging Pelangi mendengus cemburu.


Murai Ranum lalu berhenti di area yang lapang, berdiri menghadap ke arah Tebing Gali dan ketujuh pendekar wanitanya.


“Ineng Santi! Lilis Kelimis! Roro Wiro! Penombak Manis! Kembang Bulan!” sebut Alma Fatara satu per satu.


Namun, ketika sang ratu menyebut nama Kembang Bulan, terkejutlah seluruh personel Pasukan Genggam Jagad, terkhusus Arung Seto selaku kakak dari gadis pembawa Pedang Sepuluh Siluman itu. Masalahnya mereka semua tahu, gadis cantik jelita itu belum memiliki ilmu kesaktian yang mumpuni untuk bertarung.


“A-a-aku, Gusti Ratu?” tanya Kembang Bulan tergagap. Seketika gentar merasuki jantungnya yang jadi berdebar kencang.


“Ya. Kau boleh memakai pedang itu,” jawab Alma Fatara enteng.


Maka, Kembang Bulan berjalan maju sambil menengok ke sana dan ke mari melihat para pendekar yang memandanginya. Dia pun bergabung dengan para pendekar wanita sakti yang sudah maju dan berdiri berjejer.


“Hihihi!” tawa Ineng Santi sambil merangkul bahu Kembang Bulan yang hanya tersenyum getir.


Ada sebanyak enam pendekar perempuan yang diajukan oleh Alma Fatara.


“Satu yang terhebat di antara kalian, silakan pilih satu lawan dari pendekar wanitaku itu!” seru Alma Fatara kepada Peri-Peri Pengisap. “Jika wakil kalian menang, makan kalian bertujuh boleh bebas. Namun, jika kalah, kalian semua akan dieksekusi panah!”


“Baik, aku terima tantanganmu!” seru Peri Tamak. Ia menilai bahwa tantangan itu adalah peluang terbaik untuk selamat, daripada harus bertarung dikeroyok puluhan pendekar.


“Panglima itu aku serahkan kepadamu, Pangeran!” seru Alma Fatara, merujuk pada Tebing Gali.


Pangeran Sugang Laksama hanya mengangguk. Dia lalu beralih kepada Tebing Gali.


“Panglima, kau akan dieksekusi oleh Panglima Ragum Pangkuawan,” kata Pangeran Sugang Laksama.


“Baik!” jawab Tebing Gali percaya diri. Lalu koarnya, “Justru aku yang akan mengeksekusimu, Panglima!”


Panglima Ragum Pangkuawan lalu melompat dari kudanya dan mendarat di hadapan Tebing Gali. Kedua panglima itupun saling berhadapan.


“Ketua, kau harus memilih wanita pembawa pedang itu. Dia sepertinya gentar untuk bertarung,” bisik Peri Munin kepada Peri Tamak sambil memandangi Kembang Bulan.


“Dia memang terlihat tidak siap untuk bertarung, tapi apakah kau tahu pedang apa yang dibawanya? Itu Pedang Sepuluh Siluman milik Tengkorak Pedang Siluman. Aku rasa dia pandai berpura-pura agar aku memilih dia,” kata Peri Tamak menganalisa.


“Nyawa kami tergantung kepadamu, Ketua,” kata Peri Munin lagi.


“Aku tahu,” kata Peri Tamak.


Ketua Peri-Peri Pengisap itu lalu maju ke hadapan keenam pendekarnya Ratu Siluman.


“Kenapa tidak memilih aku saja, Bokong Bagus? Hahaha!” celetuk Bungkuk Gila lalu tertawa.


Peri Tamak hanya memandang muak kepada Bungkuk Gila. Dia tidak peduli lagi dengan nasib Peri Mayang yang sudah menjadi manusia boneka di sisi Bungkuk Gila.


“Aku memilih dia!” seru Peri Tamak sambil menunjuk Roro Wiro. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Istrinya dibawa pergi oleh kelompok pembunuh di hari pernikahan. Mampukah Rugi Sabuntel si pendekar gendut mengambil kembali wanita miliknya? Ataukah akan terjadi hal buruk kepada istri cantiknya? Hanya di novel "Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar".

__ADS_1


__ADS_2