Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 56: Pesta Kemenangan


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


Setelah melalui Sidang Umum di Ruang Singa selama beberapa jam, akhirnya semua orang pun berpesta ria merayakan kemenangan Kerajaan Jintamani dari pemberontak, termasuk Ning Ana yang sempat diusir dari Sidang Umum.


Prasmanan umum digelar di beberapa tempat. Berbagai jenis makanan dan minuman tersaji. Bahkan diizinkan sampai mabuk. Namun, jika sudah mabuk, maka wajib hilang dari pesta, dengan kata lain “diamankan” agar tidak mengacaukan kesenangan yang tercipta.


Panggung tarian pun disediakan yang menjadi tempat beberapa kelompok penari melakukan konser sampai malam hari. Grup gamelan pun dibuat dua regu untuk dua jadwal manggung.


Kalangan Keluarga Istana dan para pejabat menikmati pestanya dalam kumpulan mereka di tempat yang lebih lapang dan megah, dengan layanan para pelayan tanpa henti.


Sementara kalangan prajurit menikmati pestanya di luaran dengan layanan pelayan yang minim dan lebih kapada melayani diri sendiri. Di kelompok ini, suasana pestanya lebih ramai dan lebih liar, serta jauh dari etika, sangat berbeda dengan pesta di kalangan pejabat dan bangsawan.


Sebelumnya di dalam Sidang Umum itu, Ratu Warna Mekararum melakukan perombakan kabinet dan militer.


Pangeran Bugar Jantung ditunjuk menjabat sebagai mahapatih. Panglima Pulung Seket, sebagaimana rekomendasi Alma Fatara, dinaikkan kedudukannya menjadi Panglima Utama. Komandan Buto Sisik dialihkan untuk memegang Pasukan Keluarga Kerajaan dan Komandan Gebuk Sewu dialihkan memimpin Pasukan Pengawal Raja. Jadi tukar posisi saja.


Panglima Rakean tetap menjabat sebagai Kepala Pasukan Keamanan Istana, hanya saja dia mendapat kenaikan upah di atas UMP (Upah Minimum Panglima).


Uniknya, Emak Lutung didaulat sebagai seorang komandan yang mengepalai Pasukan Khusus, menggantikan posisi mendiang Komandan Sikut Karam. Semua anak buahnya yang tersisa sebanyak tiga puluh lima orang berubah menjadi prajurit Pasukan Khusus. Dia pun akan diizinkan merekrut anggota baru hingga tiga ratus personel.


Pengangkatan Emak Lutung dan kelompoknya itu menjadi keputusan kontroversial Ratu Warna Mekararum. Keputusan itu sempat mendapat beberapa protes dari sejumlah pejabat. Mereka mengenal Kelompok Lutung Pintar sebagai kelompok penjahat yang suka merampok dan membuat onar banyak kalangan.


Protes itu akhirnya memaksa Ratu Warna Mekararum meminta ikrar atau jaminan dari Emak Lutung. Si emak yang ingin merasakan jadi seorang pejabat itupun berjanji tidak akan melakukan pelanggaran hukum. Dia juga berjanji setia kepada Kerajaan Jintamani. Terlebih Ratu Tua telah menaruh kepercayaan kepada Emak Lutung dengan menjadikannya target pembebasan dari penjara. Dengan jaminan itu, maka Emak Lutung pun didaulat menjadi Komandan Pasukan Khusus.

__ADS_1


Panglima Galagap yang gajinya juga mendapat kenaikan, dimutasi sebagai panglima pasukan di bawah kepemimpinan Panglima Utama Pulung Seket. Sementara kedudukan Kepala Pasukan Keamanan Ibu Kota diserahkan kepada Ki Tonjok Gila, membuat pendekar bertubuh pendek itu kegirangan bukan main.


Sementara para adipati yang memimpin pasukan kadipaten diberi gelar dan status khusus, yaitu Adipati Abadi. Gelar dan status khusus itu menjamin bahwa jabatan adipati akan mereka pegang sampai mati. Jika mereka mati atau diangkat sebagai pejabat di Istana, maka putra terbungsu mereka akan mewarisi jabatan itu secara otomatis hingga dua generasi. Selain itu, mereka diberi bonus harta benda yang banyak.


Lalu siapa pengisi jabatan senopati yang lowong? Jangan dijawab!


Ratu Warna Mekararum telah menawarkan jabatan senopati kepada Genggam Sekam yang berjuluk Pendekar Tongkat Berat. Namun, kekasih Ning Ara dan kekasih Sumirah itu menolak dengan dalih dia tidak mau terikat, meski dia sudah terikat kepada dua hati wanita dan terpikat kepada satu wanita yang tidak mau mengikatnya, yaitu Alma Fatara.


Kemudian sang ratu menawarkan jabatan senopati kepada Sudigatra. Murid utama nomor satu Perguruan Pisau Merah itu mengatakan bahwa dia harus mendapat restu lebih dulu dari gurunya, yaitu Dato Jari Sambilan.


“Jika Gusti Prabu dan Gusti Ratu tidak bisa menunggu, maka hamba dengan rela menolak tawaran ini,” ucap Sudigatra saat Sidang Umum. “Namun, jika hamba bisa diberi kesempatan untuk mendapat restu dari Guru Dato Jari Sembilan, maka hamba bersedia menerima di bawah restu guru hamba.”


Ternyata Ratu Warna Mekararum menyetujui permintaan Sudigatra. Jadi, jabatan senopati untuk sementara kosong dan menunggu jawaban dari Sudigatra, apakah ia mendapat restu atau tidak dari Guru Perguruan Pisau Merah.


Hal yang sama juga diajukan oleh Adipaksa ketika dia ditawari jabatan sebagai komandan pasukan khusus baru, yang anggotanya adalah murid-murid Perguruan Pisau Merah. Adipaksa pun harus menyampaikan lebih dulu proposal itu kepada guru mereka.


Itulah permintaan Alma Fatara yang diamini oleh para sahabatnya, termasuk Magar Kepang yang sudah kaya, tapi masih ingin lebih kaya.


“Kerajaan memiliki harta simpanan yang besar, maka permintaan kalian akan aku penuhi,” jawab Ratu Warna Mekararum dengan mudahnya.


Jika tidak memikirkan keluarga di kampung halaman, mungkin Alma Fatara tidak akan meminta apa-apa. Dia pribadi tidak membutuhkan harta benda dalam meniti karir kependekarannya.


Emas permata adalah hadiah yang cocok bagi Magar Kepang cs. Jika mereka ditawari kedudukan atau jabatan, mereka jelas tidak memiliki kapasitas untuk itu. Dan tidak mungkin pula mereka hanya dihadiahi ucapan “terima kasih”.


Adapun Sumirah, pilihannya sama dengan Genggam Sekam. Akhirnya mereka pun diberi hadiah kepeng yang banyak.

__ADS_1


Ning Ana tidak luput dari bonus besar. Bagaimanapun juga, dia termasuk salah satu komponen utama dalam rombongan sebelum perang di Lembah Hilang dekat Rawa Kabut. Ratu Warna Mekararum sebenarnya tidak mempermasalahkan Ning Ana, tetapi tentunya raja dan para pejabat akan mempermasalahkan karakternya yang barbar.


Sementara itu, para pejabat berbagai kementerian yang Kerajaan Jintamani miliki mengalami banyak perombakan. Berdasarkan berbagai laporan kepada Ratu Warna Mekararum, telah dideteksi siapa saja para menteri dan pejabat lainnya yang sebelumnya pro mendiang Senopati Gending Suro. Mereka yang berbau status quo, tanpa banyak dalih pertimbangan langsung dicopot dari jabatannya, bahkan terancam akan diinvestigasi. Kedudukan mereka kemudian digantikan oleh para anggota Keluarga Kerajaan, sehingga pemerintahan terbaru sangat kental nuansa nepotismenya.


Sebagai pendekar dari luar Istana, Alma Fatara memilih menikmati pesta bersama rekan-rekannya di luar, berbaur bersama para prajurit dan murid-murid Perguruan Pisau Merah. Sebelumnya, Alma Fatara diminta oleh Prabu Marapata dan Ratu Tua untuk ikut berpesta di kalangan mereka, tetapi Alma Fatara menolak dengan alasan bahwa dia tidak mau berpisah dengan para sahabatnya di waktu menyenangkan seperti itu. Apalagi dia belum akrab dengan para pejabat dan anggota Keluarga Istana. Inti sebenarnya adalah Alma tidak mau karakter liarnya dianggap hal buruk bagi para bangsawan tersebut.


“Hahaha ...!” tawa Alma Fatara saat melihat Magar Kepang, Garam Sakti dan Debur Angkara tergeletak begitu saja di tanah berumput halus dekat taman Istana. Napas mereka megap-megap seperti ikan kehausan.


Ketiganya tergeletak bukan karena mabuk, tetapi karena kekenyangan makan enak.


“Ning Ana, jangan lupa dengan janjimu untuk bertarung melawan Sumirah,” kata Alma Fatara kepada Ning Ana tiba-tiba.


“Hah? Eh, iya, Kak Alma. Tenang saja, siluman tokek itu pasti akan aku cincang menjadi cecak,” kata Ning Ana terkejut, lalu dengan percaya dirinya dia sesumbar.


“Aku tidak percaya kau bisa mengalahkan Susu Merah (Sumirah),” timpal Ayu Wicara dengan tatapan yang melirik meremehkan.


“Kau yakin bisa bertarung melawan perempuan sakti itu?” tanya Alma serius.


“Jangan khawatir, Kak Alma. Aku sudah beberapa pekan ikut denganmu dan berguru sepekan di Perguruan Pisau Merah,” kata Ning Ana. “Aku pasti bisa membuat siluman tokek itu berlutut di hadapanku sambil garuk-garuk kepala karena kepalanya banyak tokeknya. Hihihi!”


“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar kesombongan Ning Ana yang seperti gentong kosong. Semakin kosong maka semakin banyak udara di dalamnya.


“Kapan aku akan bertarung melawan si Susu Merah?”


“Besok pagi.”

__ADS_1


“Yaaah! Besok pagi bibirku belum kempis, Kak Alma. Kecantikanku tidak akan terlihat sempurna.”


“Hahaha! Kau jangan beralasan!” hardik Alma yang didahului oleh tawanya. (RH)


__ADS_2