Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
PKS 17: Menyerang Prajurit Patroli


__ADS_3

*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*


 


Ternyata Bayu Garang bisa mengimbangi pergerakan pasukan Sayap Laba-Laba yang berlari terus sampai beberapa kilokaki.


Hingga akhirnya ketiga belas pendekar lelaki itu hampir tiba di batas timur Kadipaten Sengat.


Ketiga belas pendekar itu adalah Panglima Arung Seto, Aliang Bowo, Kolong Wowo, Segara, Setoro Beksi, Kudapaksa, Kura Pana, Kulung, Lolongo, Buluk, Tengkorak Telur Bebek, Tengkorak Bayang Putih dan Bayu Garang.


Orang yang berlari tertinggal cukup jauh adalah Lolongo dan Buluk. Putra tunggal Demang Mahasugi itu memang tidak memiliki ilmu olah kanuragan. Tidak jauh berbeda dengan Buluk yang adalah asisten pribadinya di masa sebelum bergabung dengan Pasukan Genggam Jagad.


Lolongo mau tidak mau harus ikut pasukannya dan berlari dengan apa adanya. Beberapa kali dia berhenti karena terengah-engah. Namun, Buluk terus menyemangatinya agar tidak menyerah dan menjadi pecundang.


“Sebentar lagi kita akan tiba di perbatasan timur Kadipaten, Panglima,” kata Bayu Garang kepada Arung Seto, saat mereka memasuki area berpohon tapi berjarang-jarang. Area itu bahkan bisa dilewati oleh pedati.


“Tahan! Di depan sana ada prajurit berkuda yang lewat!” seru Tengkorak Telur Bebek, pemuda tampan yang membawa sekeranjang telur bebek, tapi bukan telur asin.


Arung Seto memandang jauh ke arah tunjukan anggota muda Keluarga Tengkorak itu. Benar, agak jauh di depan ada tiga prajurit berkuda yang melintas dengan pelan, kemudian menjauh dan menghilang.


Arung Seto dan Bayu Garang berhenti. Arung Seto cepat memberi tanda kepada pasukannya yang berlarian di belakang agar ikut berhenti.


Satu per satu pendekar anggota Sayap Laba-Laba berhenti di belakang panglima mereka.


“Lolongo dan Buluk belum sampai, Panglima!” lapor Kudapaksa yang ditugaskan menghitung jumlah dan mengabsen para anggota setiap dilakukan pemberhentian atau perkumpulan.


“Setoro Beksi, tunggu mereka berdua di sini. Yang lain menyebar, tapi dalam jangkauan mata. Pastikan kalian bisa memantau rekan yang terdekat dengan kalian!” perintah Arung Seto yang pernah mengenyam pendidikan militer dua tahun di Kerajaan Singayam. “Lumpuhkan prajurit yang kalian temui tapi jangan dibunuh, kecuali perlu!”


“Baik, Panglima!” ucap mereka patuh.


Maka para pendekar itu bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menciptakan jarak. Setelah itu, mereka bergerak berlari maju dengan waspada tinggi agar mereka bisa lebih dulu berlindung jika ada prajurit musuh.


Mereka meninggalkan Setoro Beksi yang bertugas menunggu ketibaan Lolongo dan Buluk, dua anggota pasukan yang paling lemah.


Arung Seto, Bayu Garang dan Tengkorak Telur Bebek sepertinya mendapat calon mangsa. Beberapa belas tombak di depan mereka lewat tiga ekor kuda yang ditunggangi oleh prajurit berseragam hitam bergaris biru.


Karena jarak dengan Bayu Garang dan Tengkorak Telur Bebek berjauhan di sisi kanan dan kirinya, Arung Seto memberi isyarat untuk melumpuhkan ketiga prajurit berkuda yang menjalankan kudanya dengan santai. Ketiga prajurit itu sedang melakukan patroli, sama seperti ketiga rekan mereka yang belum lama lewat.


Jika hanya berpatroli, cukuplah berkuda santai sambil berbincang tentang kemalangan mereka yang tidak bisa seperti para punggawanya, yang bisa mencomot perempuan sipil lalu dirudapaksa.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa ketiga prajurit Kerajaan Singayam itu ketika salah satu dari mereka berkelakar cabul. Memang, sudah menjadi budaya di kalangan kaum batangan mengandalkan guyonan cabul untuk mengajak rekan-rekannya tertawa.


Bek!


Tiba-tiba sesosok tubuh telah melompat dan duduk di punggung kuda, tepatnya di belakang salah satu prajurit. Orang itu tidak lain adalah Arung Seto yang bertindak lebih dulu.


Zerzzz!


Selain mencekik leher prajurit yang diserangnya dari belakang dengan lengan kirinya, Arung Seto menempelkan jari-jari tangan kanannya pada leher si prajurit. Sentuhan jari itu memberikan setruman tinggi, terlebih dalam durasi dua atau tiga detik. Itu cukup membuat pingsan si prajurit.


Terkejut dua prjurit yang lain. Namun, ketika keduanya bereaksi hendak mencabut pedang, ada dua sosok pemuda tampan berkelebat cepat menyerang mereka.


Set! Prac!


“Aaak!” jerit satu prajurit yang wajahnya mendapat lemparan telur bebek mentah.


Telur bebek yang digunakan oleh Tengkorak muda itu sebagai senjata bukanlah telur bebek biasa, tapi telur yang sudah didukuni. Karena itu, sifat lendir telur amis itu memakan kulit dan daging seperti air keras. Rusaklah muka prajurit itu dengan tetap duduk di atas kudanya.


Set! Set!


“Akk! Akk!”


Di sisi lain, di pergerakan paling ujung kanan, Kudapaksa melihat ada seorang prajurit berkuda melintas berdua. Maksudnya berdua yaitu prajurit penunggang bersama kudanya.


Kuda itu berjalan melintas menuju ke arah posisi Kura Pana yang tidak terlihat oleh si prajurit.


Kudapaksa saat itu bersembunyi di balik batang pohon yang lebih besar dari badannya. Karena itu, ketika kuda lewat, Kudapaksa bisa menyembunyikan dirinya di balik batang.


Pak!


Ketika kuda melewati posisi batang pohon, Kudapaksa dengan gerakan senyap melintas di belakang kuda sambil menempelkan telapak tangan kanannya pada bokong kuda.


Saking santainya si prajurit dalam berpatroli, sampai-sampai dia tidak menyadari adanya orang yang melintas di belakang kudanya. Padahal, kuda yang ditepak bokongnya sempat mempercepat langkahnya, tapi itu tidak membuat si prajurit curiga. Dia lebih asik tenggelam dalam hayalannya menjadi seorang panglima seperti Tebing Gali.


Bcrak!


Tiba-tiba bokong kuda meledak yang sudah pasti mengejutkan si kuda karena kesakitan dan mengejutkan si prajurit karena kuda mendadak liar.


Tanpa pakai meringkik menaikkan kedua kaki depannya agar terlihat gagah, si kuda langsung berlari kencang dan liar, membuat penunggangnya terlempar ke belakang dan jatuh tidak hormat, karena punggung yang mendarat lebih dulu.

__ADS_1


Jatuhnya si prajurit segera disambar oleh satu tendangan keras saja dari Kura Pana, yang cepat keluar dari persembunyiannya. Tendangan itu cukup untuk melumpuhkan si prajurit.


Seperti itulah yang dilakukan oleh para pendekar itu dalam melumpuhkan para prajurit yang berpatroli.


Arung Seto dan pasukannya terus maju dalam jarak terpisah-pisah. Memang dasar mereka itu pasukan musuh, jadi pergerakan mereka juga penuh waspada.


Tiba-tiba Arung Seto berhenti dan cepat bersembunyi di balik kelompok pohon bambu, ketika dia melihat keberadaan tiga orang.


Bayu Garang dan Tengkorak Telur Bebek juga bergerak bersembunyi di balik pohon.


Tiga orang yang mereka lihat adalah Bungkuk Gila dan dua wanita yang ditolongnya dari kemesuman Panglima Tebing Gali, yaitu Sucikari si janda muda dan Indah Bening putri Ki Paling.


“Indah Bening,” sebut Bayu Garang lirih tapi terkejut. Dia sudah pasti mengenal putri orang terkaya se-Kadipaten Sengat itu.3


Saat itu, posisi jalan Bungkuk Gila berada di belakang kedua wanita cantik yang berjalan tergesa-gesa mendekati posisi Arung Seto.


“Mereka pasti ditangkap oleh orang jahat,” ucap Bayu Garang, karena dia melihat Bungkuk Gila membawa kayu, tepatnya ranting berdaun.


Bayu Garang tidak bisa menahan diri, padahal dia di bawah komando Arung Seto. Dia tiba-tiba berlari keluar dari perlindungannya. Dia pergi menghadang Bungkuk Gila dan kedua wanitanya.


“Berhenti!” seru Bayu Garang galak.


Kemunculan Bayu Garang yang tiba-tiba itu mengejukan Indah Bening dan Sucikari, tapi tidak bagi Bungkuk Gila. Sebagai orang sakti, dia sudah menyadari keberadaan beberapa orang di area sekitar.


“Kakang Bayu!” sebut Indah Bening terkejut.


“Bayu Garang!” sebut Sucikari pula.


“Orang tua! Lepaskan mereka berdua!” seru Bayu Garang sambil menunjuk Bungkuk Gila dengan ujung pedangnya.


Bungkuk Gila cepat maju ke depan kedua wanitanya, sepertinya dia mau pasang badan. (RH)


 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Author mau terus terang. Karena urusan cuan, update Alma3 akan melambat. Author akan prioritas di novel baru dengan alur-alur pendek.


Silakan kunjungi “Rugi 1 Perampok Gendut Budiman” yang sudah tamat. Kunjungi juga novel petualangan 13+ “Tina-Ayu1 Negeri Tanpa Tahun” yang sedang on going. Atau kunjungi “Dendam 3 Wanita” yang slow up.

__ADS_1



__ADS_2