
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Kakek bungkuk berjubah hijau gelap ini celingak-celinguk saat dia mendekati sebuah dinding rumah yang terbuat dari papan tebal. Dengan tubuh membungkuk, dia berjalan jinjit, seolah-olah tidak ingin suara langkah kakinya didengar oleh siapa pun.
Kakek itu berwajah seram dengan dua codet pada wajahnya, bekas luka senjata tajam. Sepertinya waktu kecil dia suka main petasan. Rambutnya sebagian digelung dan diikat dengan batang rumput, sebagian lagi awut-awutan. Celananya kontras dengan jubah bagusnya. Celananya usang dan sudah robek di sana sini, bahkan bokong dan cawatnya ada yang terlihat karena robek. Masih untung jubahnya menutupi robek itu, sehingga aman.
“Aak! Huuu!”
Kakek yang membawa ranting berdaun hijau segar itu mendengar suara jeritan tertahan seorang wanita, yang kemudian terdengar menangis.
“Diam! Nikmati saja!” bentak satu suara lelaki dari balik dinding papan rumah besar itu.
“Kau juga buka bajumu!” bentak suara lelaki di dalam rumah.
“Tidak mau, Gusti! Ampun, Gusti. Jangan nodai aku! Huuu!” terdengar suara perempuan lain yang memohon sambil menangis. Itu menunjukkan bahwa ada dua wanita di dalam yang sedang dianu-anukan oleh seorang lelaki yang disebut “Gusti”.
Kakek bungkuk yang tidak lain adalah Bungkuk Gila itu sudah merapat pada dinding papan. Ia menempelkan kupingnya dan mendengar dengan jelas suara gaduh di ruang dalam.
“Aw aw aw!” berisik suara lelaki di dalam. Entah dia kesakitan atau keenakan.
Bungkuk Gila mencari-cari celah di dinding itu, tapi tidak ada lubang untuk bisa mengintip ke dalam. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat lubang dengan jari jempolnya, sehingga lubangnya lebih besar. Jari itu seperti sedang membolongi dinding kue bolu saja, begitu lembek. Bukan dindingnya yang bermasalah, tetapi jempol si kakek yang sakti.
Setelah bolong tercipta, tanpa Kakek Bungkuk ketahui, ternyata ada bias cahaya yang melesat masuk. Bias cahaya dari luar itu terlihat oleh Panglima Tebing Gali yang sedang buto karena sedang berkuda di atas ranjang berkasur.
Hal itu jelas mengejutkan sang panglima. Seketika dia berhenti menggebah dan mencari lubang yang menjadi pintu masuknya cahaya matahari.
Ketika dia melihat, ternyata lubang itu sudah tertutupi oleh sebuah mata.
“Pengintip keparat!” teriak Panglima Tebing Gali murka.
Dia cepat turun dari tunggangannya dan atas ranjang.
Bruss! Bluaar!
Tahu-tahu Panglima Tebing Gali melesatkan sebola sinar merah ke dinding papan yang ada lubang matanya. Dinding kamar besar itu hancur berantakan, membuat kamar semakin terang.
“Aaa!” jerit ketakutan dua wanita yang sudah bugil dan baru mau bugil.
Namun, Panglima Tebing Gali tidak melihat keberadaan seorang pun di luar kamar.
__ADS_1
Ledakan itu mengejutkan pasukan dan Peri-Peri Pengisap yang ada di sekitar kediaman Adipati Patok Anggara itu. Mereka pun segera berlarian menuju ke pusat ledakan. Ada yang masuk lewat pintu depan, ada juga yang berlari bergerombol ke sisi rumah.
Terkejutlah para prajurit ketika melihat dengan jelas Panglima Tebing Gali dalam kondisi buto sendirian. Mereka ingin tertawa, tapi takut mati.
“Hihihi!”
Yang berani menertawakan sang panglima hanyalah Peri Tamak dan anak buahnya. Meski pemandangan lelaki buto sudah biasa di mata mereka, tetap saja itu menjadi pemandangan yang lucu karena Panglima Tebing Gali telanjang disaksikan oleh pasukan.
“Kurang ajar sialan!” maki Panglima Tebing Gali keras lalu segera menarik kain sprei dan menyelimuti badan bawahnya.
“Apa yang kau lakukan telanjang seorang diri seperti itu, Panglima?” tanya Peri Tamak dengan tatapan dan senyuman genit.
Mendengar kata “telanjang seorang diri”, Panglima Tebing Gali segera menengok kepada kedua korban rudapaksanya. Namun, dia jadi terkejut karena wanita yang tadi dikudainya dan putri Ki Paling sudah tidak terlihat di kamar rusak itu.
“Ke mana dua gadis itu?” tanya Panglima Tebing Gali kepada Peri Tamak. Sebagai salah satu orang yang datang duluan ke tempat itu, Peri Tamak pasti melihat ke mana dua gadis tadi pergi atau bersembunyi. Itu pikir sang panglima.
“Aku tidak melihat ada gadis bersamamu. Kau telanjang sendiri, Panglima. Tidak ada wanita yang telanjang bersamamu,” jawab Peri Tamak.
“Apa?!” kejut Panglima Tebing Gali.
Bingunglah Panglima Tebing Gali mendengar kesaksian Peri Tamak.
“Benar, Gusti Panglima. Kami tidak melihat dua wanita yang sedang Gusti sodok-sodok,” kata Gambira, tangan kanan sang panglima.
“Ayo! Cepat cari!” teriak Gambira pula kepada para prajurit.
Pasukan itu segera bubar diri. Hanya Peri Tamak yang bertahan.
“Apa sebenarnya yang terjadi, Panglima?” tanya Peri Tamak.
“Ada orang yang berani mengintipku. Kurang ajar sekali!” jawab Panglima Tebing Gali masih gusar.
“Itu sesudah atau sebelum kau keluar?” tanya Peri Tamak mendetail, sembari tersenyum kecil.
“Belum!” jawab Panglima setengah membentak.
“Hihihi! Itu sangat menyakitkan, Panglima,” tawa Peri Tamak, lalu dia berjalan pergi meninggalkan kamar itu.
Di saat para prajurit Pasukan Tanduk Kemenangan sibuk melakukan pencarian terhadap dua wanita muda yang tiba-tiba hilang, di dalam sebuah rumah kosong Bungkuk Gila sedang menggeledah kamar.
Bungkuk Gila membuka-buka kain yang menumpuk di sebuah rak. Dia sedang memilih-milih.
__ADS_1
Setelah menemukan pakaian yang dia pikir cocok, dia berjalan ke luar rumah. Namun, saat lelaki tua itu keluar, ....
“Hei! Berhenti!” teriak seorang prajurit yang berada tidak begitu jauh dari rumah tersebut.
Bungkuk Gila sontak menengok. Dilihatnya ada tiga orang prajurit yang sedang patroli. Ketiga prajurit itu segera berlari ke arah Bungkuk Gila.
Dak!
Bungkuk Gila menendang sebongkah batu sebesar kelapa di dekatnya. Batu itu pecah tiga dan masing-masing menghatam dada ketiga prajurit itu. Ketiga prajurit itu terjengkang dengan satu model gaya. Setelah itu, ketiganya hanya mengerang dan menggeliat seperti mau mati saja.
“Hehehe!” kekeh Bungkuk Gila sambil melangkah pergi dengan santainya.
Bungkuk Gila ternyata pergi ke area berpohon. Dia sampai di bawah sebuah pohon yang tanahnya dilapisi oleh tebalnya tumpukan daun-daun kering.
Ternyata, di balik batang pohon yang besar, ada dua orang wanita muda dan cantik. Wanita yang mengenakan baju adalah putri Ki Paling dan wanita yang tidak berbaju adalah wanita yang suaminya baru saja dibunuh oleh prajurit. Wanita yang tidak berpakaian itu duduk berjongkok dan meringkuk, menutupi bagian kewanitaannya, bahkan dia berlindung di sebatang ranting berdaun.
“Hehehe!” kekeh Bungkuk Gila yang mendatangi kedua wanita muda itu.
Bungkuk Gila lalu memberikan pakaian yang dijarahnya dari rumah kosong kepada putri Ki Paling. Gadis yang belum sempat direnggut keperawanannya itu lalu menghampiri rekannya untuk memberinya pakaian.
Sambil terisak-isak, janda muda itu mengenakan pakaian warna kuning yang diterimanya.
“Siapa nama kalian?” tanya Bungkuk Gila.
“Namaku Indah Bening, Kek,” jawab putri Ki Paling.
“Aku Sucikari, Kek,” jawab wanita satunya. Dia sudah berbusana lengkap.
“Sebut saja aku Kakek, karena aku sudah kakek-kakek. Hahaha!” kata Bungkuk Gila.
Sementara itu, Gambira bersama sejumlah prajurit mendatangi Ki Paling. Orang terkaya itu sedang memandikan kuda-kuda Pasukan Tanduk Kemenangan bersama warga lelaki lainnya di irigasi Ibu Kota.
“Ki Paling!” panggil Gambira keras, mengejutkan orang terkaya se-Kadipaten Sengat.
Ki Paling berhenti menggosok-gosok badan kuda dan memandang kepada Gambira yang mendekat. Dia tidak bertanya, karena dia masih marah kepada pasukan Kerajaan Singayam. Warga lain juga menghentikan kerjanya dan mengalihkan perhatiannya kepada para prajurit itu.
“Kau pasti tahu di mana putrimu bersembunyi!” tukas Gambira.
“Apa? Hamba tidak tahu, Gusti. Bukankah putri hamba sudah dibawa Gusti Panglima,” jawab Ki Paling.
“Dia hilang!” bentak Gambira melotot.
__ADS_1
“Hamba tidak tahu, Gusti,” tandas Ki Paling yang di dalam hati merasa bersyukur jika putrinya hilang, dengan harapan hilangnya tidak membuat putrinya celaka.
“Awas jika kau berbohong, Ki Paling. Aku penggal lehermu!” ancam Gambira. (RH)