Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 41: Alma Unjuk Sakti


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


Set! Tuk!


“Akk!” jerit tertahan prajurit yang kepalanya dijadikan tempat bertengger Macan Beringas, ketika lututnya ada yang menyakitinya dan membuatnya jatuh terlutut.


Jatuhnya prajurit itu otomatis membuat Macan Beringas ikut jatuh. Maklum dia terlalu percaya dengan kepala yang dipijaknya dengan satu kaki.


Bdak!


“Hahahak!” Meledaklah tawa Alma Fatara dan Ning Ana saat melihat Macan Beringas jatuh ke tanah.


Sementara para prajurit harus menahan tawanya karena takut terkena korban salah gampar.


Memang dasar Alma Fatara, melihat ada pendekar kurang ajar yang berdiri di atas kepala prajurit seenak mata kakinya, dia pun berbuat jahil. Dia melesatkan satu kerikil sebesar upil dari belakang kereta. Kerikil itu mendarat di lutut prajurit yang kepalanya dihinggapi Macan Beringas.


Buru-buru Macan Beringas bangun dari jatuhnya dan menendang leher si prajurit yang belum bangun dari berlututnya.


Crass!


“Aaakh!” jerit si prajurit dengan leher yang robek, mengejutkan prajurit lainnya dan mereka yang menyaksikan.


Sebenarnya kaki Macan Beringas tidak sampai mengenai leher si prajurit, tetapi kuku-kuku besinya menyambar tanpa ampun leher itu.


“Dasar prajurit keparat! Kau mempermalukan aku! Cuih!” teriak Macan Beringas memaki dan marah-marah. Dia bahkan meludahi si prajurit yang tergeletak kejang-kejang bersimbah darah.


Para prajurit Pasukan Khusus tidak ada yang berani bereaksi. Itulah yang mereka takutkan, yaitu bernasib nahas seperti rekan mereka yang akhirnya mati.


“Keluar kau, Perempuan Setan!” teriak Macan Beringas yang tahu bahwa insiden jatuh itu bukan murni kesalahan si prajurit yang dia bunuh, tetapi ulah salah satu perempuan yang tertawa di belakang kereta kuda.


“Ning Ana, orang itu menyuruhmu keluar,” kata Alma Fatara.


“Eh, Kak Alma, aku bukan Perempuan Setan,” sangkal Ning Ana. “Bukankah Kakak yang menjatuhkan orang itu.”


“Aku kira Perempuan Setan itu kau, ternyata memang kau. Hahaha!” kata Alma Fatara lalu berkelebat melewati atas kereta kuda.


Ning Ana hanya mendelik mendengar kata-kata Alma Fatara.


Jleg!


Alma Fatara mendarat di hadapan Macan Elang, tapi dia menunjuk kepada Macan Beringas.

__ADS_1


“Hei, Paman! Jangan sebut aku Perempuan Setan, Paman, atau aku buat kau menjadi setan!” seru Alma Fatara.


“Hahaha!” tawa Macan Elang dan Macan Beringas bersamaan melihat lagak Alma Fatara yang bagi mereka hanya seorang wanita belia.


Ditertawakan seperti itu, mendeliklah Alma Fatara.


“Pasukan, serang!” seru Alma Fatara sambil melempar tangannya ke depan memberi komando.


Namun, meskipun Alma Fatara seorang Panglima Perang, tetapi dia tidak punya pasukan, terlebih separuh dari anak buah Panglima Rakean dalam kondisi terluka akibat serangan Macan Elang sebelumnya.


“Hahahak!” tawa Macan Elang dan Macan Beringas lagi melihat tidak ada prajurit yang maju menyerang.


“Hahaha!” tawa para prajurit Pasukan Khusus di belakang dua Macan, demi membuat kedua pemimpin mereka senang karena tawanya ada pengikut.


“Panglima Rakean! Siapa yang kalian kawal itu?” seru Macan Elang kepada Panglima Rakean yang masih duduk di atas kudanya.


“Aku membawa Putra Mahkota sesuai perintah Gusti Senopati,” jawab Panglima Rakean. Dia tidak mau bentrok dengan dua pendekar itu, terlebih pasukannya sangat terbatas.


“Putra Mahkota harus dibawa ke penjara. Kenapa kau membawanya ke arah lain?” tanya Macan Elang yang mendeteksi kebohongan pada Panglima Rakean.


“Eh eh eh! Tidak usah berdebat. Biar dua paman pencakar ini aku yang bereskan!” kata Alma Fatara mengambil alih masalah.


Terkejut kedua Macan dan beralih menatap Alma Fatara.


“Hei, kalian semua prajurit!” teriak Alma Fatara kepada Pasukan Khusus di belakang dua Macan. “Pergilah jika kalian tidak mau mati malam ini!”


“Baiklah. Jangan salahkan jika orang cantik membunuh,” kata Alma Fatara lalu memasang kuda-kuda dengan sedikit merendahkan bokongnya dan meluruskan tangan kirinya ke belakang.


Swiit!


Tiba-tiba pakaian dan jubah hitam Alma Fatara mengembung cepat seperti boneka balon yang tidak terbang.


“Hajar, Kak Alma!” teriak Ning Ana dari belakang sana.


Wusss!


Cepat dua Macan berkelebat meninggalkan tempat berdirinya ketika Alma Fatara menghentakkan lengan kanannya. Segulung angin dahsyat menderu keras tanpa wujud dan menghempas hebat barisan prajurit Pasukan Khusus.


Puluhan prajurit itu beterbangan dan dibuat berguling-guling di tanah jalanan menjadi berantakan.


Sezt! Sezt!


Alma Fatara tidak berhenti. Dia mengibaskan kedua lenganya melepaskan sinar kuning tipis melengkung ke dua arah yang berbeda.

__ADS_1


Sess! Bsing!


Satu sinar dari ilmu Sabit Murka itu menyerang Macan Elang yang baru mendarat dari lompatannya. Sigap Macan Elang menyilangkan kedua tanganya yang memunculkan sinar merah menangkis serangan Alma Fatara.


Penangkisan itu membuat Macan Elang terlempar satu tombak ke belakang.


Sementara Macan Beringas bisa langsung menotolkan ujung kakinya yang baru mendarat di tanah, membuatnya berhasil menghindari sinar kuning sabit itu.


Serangan susulan Alma Fatara membuat kedua Macan semakin jauh posisinya.


Alma Fatara telah melompat maju satu lompatan jauh mendekati para prajurit Pasukan Khusus yang berbangkitan. Sambil mendarat, Alma Fatara melemparkan senjata pusaka Bola Hitam seperti melempar bola bowling.


Sess! Ctar!


Seset seset!


Bola Hitam menggesek tanah. Dari gesekan itu timbul ledakan sinar biru yang disusul lesatan puluhan sinar biru berekor ke arah depan dan menyergap para prajurit yang belum siap mati dadakan.


“Akk! Akh! Akk ...!”


Belasan prajurit berjeritan panjang ketika tubuh atau kaki, atau tangan, atau bahkan leher mereka, terpotong rapi setelah terkena sinar-sinar biru berekor. Belasan prajurit langsung menemui ajal, sementara yang lain menemui ketakutan.


Di saat Bola Hitam kembali ke dalam genggaman Alma Fatara, para prajurit Pasukan Khusus dibuat terkejut, kemudian panik, tapi bingung mau kabur atau bertahan melawan perempuan yang ternyata sakti.


“Lanjutkan perjalanan, Paman Panglima!” teriak Alma Fatara kepada Panglima Rakean sambil memutar-mutar Bola Hitam di atas kepalanya, seperti cowboy sedang memutar-mutar tali lasonya.


Ziiing!


Dari putaran Bola Hitam itu muncul piringan sinar biru tipis berdiameter satu pelukan tubuh bini. Kemudian Alma Fatar melempar Bola Hitamnya ke samping, bukan ke depan. Meski yang dilempar Bola Hitam, tetapi yang melesat adalah piringan sinar biru.


Aksi Alma Fatara itu membuat Panglima Rakean menahah dulu pergerakan rombongannya. Dia tidak mau justru menjadi korban serangan nyasar.


Set set set ...!


Alangkah terkejutnya para prajurit Pasukan Khusus yang masih bertahan setelah rekan-rekannya dimutilasi massal, ketika melihat piringan sinar biru yang ternyata melesat menargetkan mereka.


Piringan sinar biru itu memang dilesatkan ke samping, tetapi garis lesatannya bersifat memutar. Dari samping lalu berbelok melengkung yang kemudian menerabas tubuh para prajurit dari samping. Saking cepatnya lesatan piringan sinar itu, membuat para prajurit tidak sempat menghindar, bahkan tidak sempat menjerit.


Lagi-lagi lebih sepuluh prajurit terpotong dua tubuhnya dan jatuh berserakan bersimbah darah. Jalan itu benar-benar banjir darah dan daging mayat.


Panglima Rakean, para prajuritnya, Putri Manila Sari, dan dua Macan benar-benar dibuat terperangah menyaksikan keganasan Alma Fatara.


“Jalan!” teriak Panglima Rakean ketika merasa jalan sudah terbuka, meski harus melalui potongan-potongan tubuh yang berserakan.

__ADS_1


Meski terkejut, tetapi sebagai pendekar yang juga kejam, dua Macan tetap tidak gentar.


Macan Elang dan Macan Beringas segera ambil tindakan di saat rombongan kereta kuda bergerak maju hendak pergi. (RH)


__ADS_2