Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 8: Berhadapan di Tengah Jalan


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


 


“Kalian main curang!” tukas Bungkuk Gila. “Aku sudah menunggu di tengah jalan utama kotakayu, tetapi kalian justru mampir makan di sini!”


Bungkuk Gila mengomeli Alma Fatara dan rekan-rekannya di sela-sela dia menyedot kuah hitam sup daging di mangkoknya.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan rekan-rekannya.


“Kakek yang salah. Bukankah kita sepakat bertanding sampai Kotakayu Darabisu,” tuding balik Manila Sari.


“Kenapa aku yang salah?” tanya Bungkuk Gila sewot lalu kembali menyeruput kuah supnya, sebab dagingnya sudah dia habiskan.


“Ketika kami tiba di pinggiran kota, berarti kami sudah sampai. Tidak ada kesepakatan harus sampai ke tengah kotakayu. Karena Kakek tidak kami lihat ada, kami pikir Kakek hanyut ketika kami melewati sungai,” kilah Manila Sari yang bermaksud mempermainkan Bungkuk Gila.


“Mana bisa hanyut. Sungainya dangkal, aku orang sakti!” bantah Bungkuk Gila.


“Wah tidak bisa, Tetua. Salahmu sendiri tidak menunjukkan bokongmu bahwa kau sampai duluan di kotakayu ini!” tandas Geladak Badak membela Manila Sari.


“Tidak, tidak, tidak. Kalian memang sengaja memepermainkanku. Ah, sudahlah. Aku anggap kalian semua mengakui kesaktian dan kemenanganku,” kata Bungkuk Gila memilih mengakhiri perdebatannya.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara.


“Lihat, cucu cantikku saja mengakuiku. Hehehe!” kata Bungkuk Gila. Lalu perintahnya kepada Cantik Gelap, “Pijiti punggungku, Sayang!”


Tanpa membantah, Cantik Gelap yang sudah menjadi boneka hidup segera bangkit berlutut dan bergeser ke belakang Bungkuk Gila. Gadis berbadan lebar yang lebih tua dari Lingkar Dalam itu lalu memijit punggung bungkuk tuannya. Namun, gaya pijitnya seperti mengulek cabai, tomat, bawang dan kemiri.


“Eeek!” Baru saja Bungkuk Gila diulek, dia sudah bersendawa mengeluarkan angin yang terjebak oleh kekenyangan.


“Hahaha!” tawa Alma dan Manila Sari melihat lagak Bungkuk Tua yang meram melek menikmati ulekan Cantik Gelap.


“Boleh juga aku pinjam pelayan setiamu itu, Tetua?” request Geladak Badak.


“Tidak boleh. Nanti kau cabul!” sentak Bungkuk Gila dengan mata tua yang mendadak melotot.


“Hahaha!” tawa mereka, kecuali Bungkuk Gila dan Cantik Gelap.


“Biar aku yang bayar semuanya,” kata Alma Fatara punya gaya.


“Kau yakin, Alma? Harganya tidak semurah harga rantaiku,” kata Geladak Badak.


“Hahaha! Agar beban kepengku berkurang banyak,” kata Alma Fatara yang didahului oleh tawanya.


Dia memang sedang memiliki uang banyak usai mendapat hadian besar setelah membunuh Raja Tombak Iblis di arena Kolam Merah.

__ADS_1


“Aku suka punya teman-teman tidak pelit seperti ini. Hahaha!” kata Bungkuk Gila lalu tertawa.


“Kek, bisakah dia menunjukkan tempat Tebar Kembang, tempat dia mengirim para gadis?” tanya Alma Fatara.


“Bisa. Karena ingatannya tidak hilang, tetapi dia tidak bisa memerintah dirinya sendiri. Cantik Terang hanya bergerak jika aku yang memerintah,” jawab Bungkuk Gila.


“Coba, Kek!” pinta Lingkar Dalam pula.


“Cantik Terang sayangku, tunjukkan kediaman Tebar Kembang!” perintah Bungkuk Gila.


Cantik Gelap menghentikan ulekan kedua tangannya pada punggung Bungkuk Gila. Dia lalu bangkit dan berjalan menaiki meja begitu saja, membuat Alma dkk terkejut. Cantik Gelap terus berjalan hendak menabrak meja pelanggan lain dengan maksud mengambil jalan pintas.


“Eh eh eh! Lewat sini, Sayang!” pekik Bungkuk Gila yang cepat bergerak menarik tangan Cantik Gelap sehingga dia berbelok arah. Bungkuk Gila menggiring Cantik Gelap menuju pintu keluar.


Alma Fatara lalu bangkit dan pergi ke kasir untuk membayar. Sementara yang lain mulai berbangkitan menunjukkan rasa kenyangnya, lalu mereka juga berjalan ke luar.


Usai membayar makanan, Alma Fatara segera menyusul Bungkuk Gila dan rekan-rekannya.


Bungkuk Gila yang tidak punya kuda, mengikuti Cantik Gelap dengan berjalan di sisinya. Meski bungkuk, dia tidak kesulitan untuk tampil mesra dengan pelayan barunya.


Sementara itu, Alma Fatara dan rekan-rekannya mengikuti dengan berkuda. Mereka menjalankan kudanya dengan pelan, seolah-olah memang sengaja bersantai ria.


Di saat mereka sedang berjalan di jalan utama Kotakayu Darabisu, tiba-tiba dari kejauhan muncul sekelompok kuda berpenunggang. Jumlah dua puluh tambah satu membuat mereka terlihat bagitu banyak.


Kemunculan kelompok berkuda yang dipimpin oleh Gading Margin itu membuat Bungkuk Gila menghentikan langkahnya, tapi dia tidak berniat menepi dari tengah jalan. Hal yang sama dilakukan oleh Alma Fatara dan rekan-rekannya di belakang Bungkuk Gila.


“Keparat bego! Siapa orang-orang yang tidak mau menepi itu?” maki Gading Margin. Lalu perintahnya kepada pasukannya, “Tabrak!”


“Heah heah!” para prajurit Pasukan Berkuda Satu itu mengeraskan gebahannya terhadap kuda-kuda mereka sendiri, membuat para kuda kian bersemangat berlari kencang laksana sedang adu pacu.


Namun, terkejut Gading Margin ketika mengenali sosok wanita berpakaian merah yang memiliki gantungan tombak besi di pinggang kanannya. Dia kenal. Itulah wanita yang sedang mereka kejar.


“Berhentiii!” teriak Gading Margi cepat sambil lebih dulu menarik full tali kekang kudanya.


Perintah berhenti yang sudah begitu dekat dengan target, membuat pasukan itu menjadi kacau di saat Bungkuk Gila pun sudah siap melakukan sesuatu.


Para penunggang kuda terdepan melakukan pengereman darurat, sama seperti yang dilakukan oleh Gading Margin.


Bdug! Blugk! Beleguk!


Para kuda meringkik gagah dengan kedua kaki terangkat tinggi-tinggi dalam pengereman darurat itu. Namun, beberapa prajurit itu tidak begitu siap, sehingga mereka terlempar jatuh dari punggung kudanya.


Sebagian lagi melakukan penabrakan terhadap kuda di depannya karena tidak siap mengerem.


Sementara beberapa yang lain memilih langsung berbelok darurat keluar dari jalan dan selamat dari insiden terlempar atau tabrakan. Namun, ada saja yang apes. Satu kuda yang berbelok justru menabrak batang pohon besar pinggir jalan.

__ADS_1


“Hahahak!” Alma Fatara dan rekan-rekannya, terutama Bungkuk Gila, tidak dapat menahan tawanya melihat kekacauan itu. Alma Fatara bahkan menunjuk kuda yang menabrak batang pohon, sampai-sampai sang kuda terpelanting dengan kepala dikelilingi animasi tujuh bintang kecil.


Betapa prihatinnya Gading Margin melihat begitu menyedihkannya kondisi pasukan berkudanya. Entah yang salah siapa? Apakah dirinya yang memberi perintah atau kuda-kudanya yang tidak punya kesiapan mental?


“Cantik Gelap!” sebut Gading Martin yang memilih mengabaikan pasukannya dan fokus kepada sosok wanita berbaju merah di sisi Bungkuk Gila.


Cantik Gelap yang memandang lurus ke wajah kuda, hanya diam seolah-olah dia tuli.


“Namanya bukan Cantik Gelap, tapi Cantik Terang,” ralat Bungkuk Gila. “Cabo kau panggil dengan nama itu.”


“Cantik Terang!” panggil Gading Margin mengikuti saran Bungkuk Gila yang dia kenal sebagai pendekar tua sakti.


Cantik Gelap jadi agak mendongak memandang kepada Gading Margin. Namun, hanya menatap kosong.


Gading Margin kerutkan kening melihat keanehan pada tatapan dan ekspresi wajah Cantik Gelap.


“Apa yang kau lakukan kepadanya, Tetua Bungkuk?” tanya Gading Margin curiga.


“Aku menjadikannya sebagai pelayan setiaku,” jawab Bungkuk Gila apa adanya.


“Bebaskan dia. Cantik Gelap telah menipu kami....”


“Kalian itu siapa?” tanya Bungkuk Gila memotong perkataan Gading Margin yang tidak dikenalnya.


“Kami adalah pasukan milik Majikan Tebar Kembang....”


“Akhirnya kalian akan membayar kematian orang-orang Kampung Siluman!” teriak Lingkar Dalam tiba-tiba dengan wajah menunjukkan kemarahan dan warna permusuhan. Dia menunjuk Gading Margin dengan ujung sarung pedangnya.


Teriakan Lingkar Dalam tidak hanya memangkas omongan Gading Margin, tapi juga mengejutkannya.


“Tebar Kembang adalah orang di balik serangan Kelompok Tombak Iblis terhadap Kampung Siluman. Katakan kepada majikanmu itu, malaikat mautnya sudah sampai di kota ini. Sebentar lagi Dewi Gigi akan mencabut giginya!” seru Alma Fatara.


“Alma, bukan mencabut giginya, tapi mencabut nyawanya,” kata Manila Sari meralat.


“Hahaha! Aku ulangi. Sampaikan kepada Tebar Kembang majikanmu itu, Dewi Gigi telah datang untuk mencabut nyawanya!” seru ulang Alma Fatara kepada Gading Margin yang tidak tertawa melihat keompongan Alma Fatara saat tertawa.


“Huh! Beraninya kalian bermaksud tidak baik seperti itu. Jelas-jelas kalian hanya akan mengantar nyawa,” dengus Gading Margi. Lalu serunya kepada pasukannya yang sudah rapi kembali, “Pasukan Berkuda Satu, mereka mengancam Majikan Tebar Kembang, bunuh semua!”


“Bodoh!” maki Bungkuk Gila sambil mengibaskan ranting kayu berdaunnya.


Wuuss! (RH)


 


********************

__ADS_1


Baca Juga!


__ADS_2