
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
Komandan Jati Rayap memimpin sebanyak lima ratus prajurit untuk keluar ke medan perang.
Jgreg!
Gerbang sisi dalam benteng dibukakan oleh prajurit penjaga pintu. Pasukan yang sudah berbari enam banjar itu bergerak maju menuju gerbang depan benteng yang hanya berjarak tiga tombak.
Swess!
Tibaa-tiba Komandan Jati Rayap dan pasukan terdepan mendengar suara aneh di balik pintu gerbang yang tinggi dan besar.
Bluarr!
Hanya sedetik setelah mendengar suara aneh di balik pintu, tiba-tiba gerbang yang baru mau dibuka itu meledak dahsyat. Komandan Jati Rayap dan puluhan prajurit terdepan terpental hebat ke belakang menabrak puluhan prajurit di belakang mereka.
Mereka yang terpental dari sisi terdepan sudah berubah wujud menjadi mayat tanpa utuh. Selain puluhan yang mati, masih ada puluhan prajurit yang harus terluka dalam berbagai kondisi.
Beruntung para prajurit yang berada di barisan belakang. Namun, mereka seketika itu dilanda syok berat.
Ledakan yang ditimbulkan oleh hantaman Pukulan Bandar Emas milik Alma Fatara itu bahkan mengguncang benteng, mengejutkan Panglima Belut Ireng dan pasukan di atas benteng.
“Rasakan itu! Hihihi ...!” teriak Ning Ana yang berada di punggung Alma Fatara. Dia bahkan tertawa cekikikan melihat nasib Pasukan Benteng. Lalu teriaknya lagi, “Hancurkan sampai jadi bubur, Kak Alma!”
Alma Fatara yang berlari laksana kuda tanpa beban terus mendekati gerbang yang sudah hancur tanpa halangan.
Saat akan memasuki gerbang, Alma Fatara meluruskan tangan kirinya ke belakang, menyedot udara yang banyak.
“Kak Alma, badanmu membengkak!” teriak Ning Ana terkejut karena tubuhnya terdorong oleh jubah Alma yang mengembang seperti ikan buntal. Agar tidak jatuh dari punggung Alma, Ning Ana mengencangkan pelukan tangannya pada leher Alma.
Wuss!
Ketika Alma Fatara tiba di gerbang yang sudah tidak berdaun pintu, dia menghentakkan tangan kanannya. Maka angin dahsyat menderu keras menerbangkan tumpukan prajurit yang barus saja dibuat berantakan.
Embusan angin yang kencang itu membuat lorong gerbang jadi bersih dari prajurit.
Para prajurit yang masih sawan dengan dua serangan yang terjadi, hanya terkejut ketika melihat sesosok bayangan hitam melesat di atas kepala mereka, bahkan sempat menginjak-injak kepala prajurit di sisi barisan belakang yang aman dari serangan.
Ternyata, Alma Fatara melesat terus menjauhi benteng. Rupanya dia hanya ingin masuk ke dalam kawasan Istana.
“Gusti Panglima, Komandan Jati Rayap mati!” teriak sorang pajrit dari bawah benteng.
“Gusti Panglima, pasukan kita banyak yang mati!” teriak prajurit lain.
“Gusti Panglima, penyusup itu menuju Istana!” lapor prajurit lain.
__ADS_1
“Tahan pasukan!” perintah Panglima Belut Ireng. Pilihan itu dia ambil karena untuk sementara dia bingung.
Jika tidak ada kejadian hebat di gerbang, mungkin Panglima Belut Ireng akan melanjutkan pengiriman pasukan bantuan ke dalam pertempuran yang sedang terjadi di depan jauh. Pertempuran itu terjadi di luar dari jangkauan panah belalang, jadi pasukan panah di atas benteng tidak bisa memberi bantuan kepada Pasukan Khusus Kerajaan Jintamani.
Di depan sana, pertempuran sengit tampak membuat Pasukan Khusus terdesak hebat karena mereka kalah jumlah dan berguguran dengan cepat, bahkan tanda permintaan bantuan sudah diperlihatkan kepada Panglima Belut Ireng yang menonton dari atas benteng.
Sementara pada titik yang terpisah, Komandan Sikut Karam sedang duel hebat melawan Pendekar Tongkat Berat. Genggam Sekam bersenjatakan tongkat besi dan Komandan Sikut Karam bersanjatakan dua pedang sinar hijau.
Jess jess! Jess jess!
Berulang kali pedang sinar hijau sang komandan membacok keras yang ditangkis oleh tongkat besi Genggam Sekam.
Pada satu kesempatan, Genggam Sekam melakukan gerakan-gerakan memutar sambil memukulkan kedua ujung tongkatnya bergantian. Dengan tangkas Sikut Karam menangkis dengan pedang sinarnya. Namun, kuatnya daya pukul tongkat besi itu membuat sang komandan cukup kewalahan.
Merasa tidak akan sanggup mengalahkan lawannya dengan ilmu pedang sinarnya, Sikut Karam mengubah kesaktiannya.
Sikut Karam melompat mundur mengambil jarak.
Melihat musuh siap mengubah kesaktiannya, Genggam Sekam pun siap dengan ilmu tongkatnya. Dia berdiri dengan kuda-kuda. Pelan-pelan dia putar tongkatnya di depan badan seperti baling-baling.
Cass!
Tiba-tiba sepasang kaki Sikut Karam bersinar merah.
“Hiaaat!” teriak Sikut Karam sambil berlari beberapa langkah sebagai ancang-ancang lalu melompat mengudara.
Sikut Karam melompat bersalto kencang di udara. Ketika tubuhnya berada di puncak lompatannya, dia melesatkan sebola sinar merah berekor kepada Genggam Sekam.
Namun, Genggam Sekam gesit menggeser posisinya sambil tetap memutar-mutar tongkatnya yang kini lebih kencang dan menimbulkan suara mendengung.
Perpindahan tempat itu membuat serangan bola sinar merah menghantam tanah kosong tanpa mengganggu posisi Genggam Sekam.
Jleg!
“Hiaakhr!” teriak Sikut Karam sambil berlari maju mendatangi Genggam Sekam dengan kedua kaki yang masih bersinar merah.
Namun, tiba-tiba sang komandan berhenti mendadak sambil memegangi lehernya dengan mulut terbuka lebar dan mata mendelik merah. Sikut Karam seperti tercekik sesuatu.
Sementara Genggam Sekam hanya terus memutar tongkat besinya.
“Akrr!” erang Sikut Karam sambil jatuh terlutut dengan wajah dan tubuh mengejang.
Melihat kondisi lawannya sudah seperti itu, Genggam Sekam menghentikan putaran tongkatnya.
Kini dari dalam mulut Sikut Karam keluar buih dan luber bertetesan. Gelapnya kondisi membuat tidak jelas buih itu berwarna apa. Namun, reaksi yang ditunjukkan oleh wajah dan tubuh Sikut Karam adalah ciri-ciri keracunan.
Memang, Genggam Sekap telah mengeluarkan ilmu Putaran Tongkat Setan. Ketika tongkat diputar dengan cepat, tongkat itu akan mengeluarkan asap warna biru. Asap itu adalah racun berbahaya. Kondisi pertarungan tanpa penerangan cahaya yang memadai, membuat Sikut Karam tidak melihat munculnya asap beracun yang menyerang dirinya.
__ADS_1
Set! Drak!
“Akh!” pekik Sikut Karam yang terjengkang dengan dada remuk.
Sudahlah dalam kondisi tercekik oleh racun, Sikut Karam malah ditambah lemparan tongkat yang menghantam keras dadanya. Terdengar jelas suara tulang dada yang berpatahan.
Maka, racun dan tongkat jadi berdebat tentang siapa yang menjadi penyebab kematian Komandan Sikut Karam. Namun bagi Genggam Sekam, dia tidak peduli siapa yang melakukan pembunuhan, apakah racun, ataukah tongkat, baginya yang terpenting adalah lawannya mati.
“Munduuur!” teriak salah seorang prajurit berkuda yang merasa pasukannya akan habis sebentar lagi.
“Munduuur!” teriak prajurit Pasukan Khusus memberi tahu rekan-rekannya yang masih bernyawa.
Maka, lima prajurit berkuda dan dua puluh satu pasukan pelari dari Pasukan Khusus segera berlari keluar meninggalkan pertarungan. Merekalah yang tersisa.
Set set!
“Akh! Akk!” jerit dua prajurit Pasukan Khusus saat punggung mereka dipatuk pisau merah terbang beracun, sehingga pasukan yang kabur menyelamatkan diri berkurang dua orang.
“Kejaaar!” teriak Adipaksa.
Maka pasukan murid Perguruan Pisau Merah segera mengejar pasukan musuh yang kabur.
“Kejaaar!” teriak Adipati Lalang Lengir yang banyak kehilangan prajurit dalam pasukannya.
“Kejaaar!” teriak Pajrit Gandul Kulon pula yang memimpin pasukan tombak.
Kejar-kejaran dua pasukan pun terjadi ke arah benteng.
Melihat Pasukan Khusus dikejar seperti sekumpulan anak anak bebek, Panglima Belut Ireng pun bereaksi di atas benteng.
“Pasukan panah bersiap!” perintah Panglima Belut Ireng.
Kemenangan atas Pasukan Khusus dan semangat ingin membantai bersih, membuat Pasukan Pembebas Jintamani lupa dengan ancaman dari atas benteng.
Ketika melihat posisi Pasukan Khusus yang kabur sudah masuk zona aman dan pasukan musuh sudah sampai di titik jangkauan panah, maka Panglima Belut Ireng memberi perintah.
“Panah!”
Set set set ...!
Puluhan panah belalang melesat jauh mengudara lalu turun berjemaah.
Ceb ceb ceb ...!
“Akh! Akk! Akh ...!”
Hujan panah itu tepat jatuh di kubu Pasukan Pembebas Jintamani yang sedang berlari beramai-ramai. Sejumlah prajurit dan murid perguruan berjeritan ketika tubuh mereka ditembusi anak-anak panah, yang ukurannya lebih tebal dan panjang dibandingkan anak panah biasa.
__ADS_1
“Munduuur!” teriak Adipati Lalang Lengir dan Adipaksa bersamaan.
Buru-buru para prajurit berlari mundur sebelum ada hujan panah gelombang kedua. (RH)