
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Sebuah kereta kuda bagus yang pada kedua ujung atap biliknya ada menggantung lampu minyak, berjalan memasuki Pasar Bulieng yang sudah sepi.
Kereta berkuda dua itu berlari di jalan utama pasar yang berada di tengah-tengah. Kehadiran kereta kuda di lingkungan pasar di kala malam tentu saja mendapat perhatian sejumlah orang yang terlihat di pasar itu. Namun, mereka hanya memandangi hingga kereta berlalu pergi. Mereka pun tidak ingin tahu. Toh, pasar itu memiliki juru aman sendiri.
Setelah masuk lebih dalam, kereta lalu berbelok kanan masuk ke gang pasar. Tinggal lurus terus hingga sampai di depan sebuah gerbang, yang pada bagian atas gapura batunya ada tulisan Sarang Tombak Iblis. Tulisan itu bisa terlihat jelas karena ada dua obor batu yang fungsinya memang sebagai lampu bagi tulisan besar tersebut.
Suara kuda dan roda kereta yang berhenti di depan gerbang, membuat seorang lelaki berpakaian merah mengintip melalui lubang di daun pintu kayu yang sengaja dibuat untuk mengintip orang.
“Siapa?” tanya lelaki yang sepertinya adalah petugas piket.
“Tetua Silbi Aya, pemilik Kolam Merah,” jawab pemuda berbadan kekar yang menjadi sais.
“Tunggu sebentar!” kata lelaki di balik lubang.
“Baik,” ucap si sais.
Orang di balik lubang lalu menghilang, maksudnya pergi ke dalam.
“Sangat menjengkelkan orang sepertiku disuruh menunggu,” ucap Silbi Aya di dalam bilik kereta yang berhias satu dian minyak kecil.
“Orang itu hanya melaksanakan aturan, Majikan,” kata si sais.
“Aku tahu itu, Arek,” kata sang majikan. “Aku pastikan besok mereka tidak akan bertanya lagi untuk membuka pintu jika melihat saisku datang.”
“Aku akan menjadi orang terhormat di Kelompok Tombak Iblis. Hahaha!” kata sais yang bernama Arek Niam.
“Beruntunglah kau punya majikan diriku, sakti dan masih cantik menggoda. Hihihi!” kata Silbi Aya.
“Apakah Majikan ingin naik ke awan sepulang dari tempat ini?” tanya Arek Niam.
“Aku tidak akan menolak, Arek. Semakin sering kau memberiku kenikmatan, semakin kuat posisimu sebagai saisku,” kata Silbi Aya.
“Tentu aku akan berusaha membuat Majikan selalu bahagia,” kata Arek Niam.
Tidak berapa lama, mereka bisa mendengar suara lari kaki orang. Lalu, pintu gerbang besar itu bergerak membuka. Seorang lelaki berpakaian merah terlihat tergesa-gesa dalam membuka gerbang, seolah-olah dia sudah terlalu terlambat untuk membukanya.
“Maafkan atas keterlambatanku, Tetua. Silakan masuk!” ucap lelaki penjaga gerbang itu bernada penuh penyesalan dengan tubuh agak membungkuk dan wajah menunduk.
“Terima kasih, prajurit,” ucap Arek Niam.
Dia lalu menghentakkan tali kudanya pelan, membuat dua binatang itu berjalan pelan menarik kereta masuk ke halaman Sarang Tombak Iblis yang luas.
__ADS_1
Tempat itu cukup terang dengan keberadaan lampu-lampu minyak yang dipasang di setiap dinding dengan jarak tertentu.
Halaman itu dikelilingi oleh bangunan batu yang sambung-menyambung membentuk letter U. Ada sejumlah kuda yang tertambat rapi. Terlihat pula para prajurit kelompok yang berdiri berjaga di titik posisinya masing-masing.
Pada satu titik di depan bangunan batu, sudah ada berdiri Rajabali Gali bersama Gendong Taji selaku Penanggung Bidang Pembunuhan dan Kitil Sembur selaku Penanggung Bidang Rumah Tangga.
Kereta kuda mewah itu berhenti di depan ketiga petinggi Kelompok Tombak Iblis. Sais Arek Niam segera turun untuk membukakan pintu bilik kereta.
Maka, turunlah pemilik Kolam Merah yang tampil anggun dengan pakaian kuning, meski malam sudah cukup larut.
“Selamat datang di Sarang Tombak Iblis, Tetua!” ucap Rajabali Gali dengan senyum lebar yang ramah, meski Silbi Aya jauh lebih muda darinya.
Senyum pun mengembang di wajah Gendong Taji dan Kitil Sembur. Silbi Aya membalas dengan senyum memesonanya.
“Aku ingin berbicara penting dengan para pemimpin kelompok ini,” ujar Silbi Aya langsung.
“Silakan, Tetua,” ucap Rajabali Gali sembari bergeser memberi jalan kepada wanita cantik berusia masih kepala tiga itu.
Silbi Aya berjalan menuju masuk. Rajabali Gali segera berjalan mendampingi. Sementara Gendong Taji dan Kitil Sembur mengikut di belakang.
“Kalian tidak melakukan ritual duka atas kematian guru kalian?” tanya Silbi Aya sambil berjalan.
“Itu tidak berlaku di sini. Yang berlaku di sini hanya dendam kepada Dewi Gigi itu,” jawab Rajabali Gali.
Ketika Silbi Aya masuk bersama Wakil Ketua Rajabali Gali, semua mata orang di dalam ruangan memandangi sang tamu yang cantik. Tidak sedikit dari para kaum batangan di ruangan itu menaruh hati melihat keanggunan Silbi Aya, tetapi mereka semua tahu bahwa wanita itu bukan sembarangan orang. Selain memiliki kekuatan kepeng, Silbi Aya juga memiliki kesaktian yang tinggi yang mungkin sejajar dengan mendiang guru Kelompok Tombak Iblis.
Rajabali Gali terus menuntun tamunya berjalan lurus melewati para pendekar baju merah menuju ke pintu dalam. Gendong Taji dan Kitil Sembur tetap mengikuti.
Akhirnya mereka masuk ke sebuah ruangan yang memiliki meja dan kursi. Ruangan itu tidak seluas aula di depan. Interior ruangan lebih ramai dan indah selayaknya sebuah ruangan.
“Silakan, Tetua,” ucap Rajabali Gali mempersilakan Silbi Aya duduk dan mengutarakan maksud tujuannya.
Rajabali Gali duduk berseberangan meja dengan Silbi Aya. Sementara Gendong Taji dan Kitil Sembur berdiri di belakang kursi seniornya.
“Aku ingin menawarkan dua pilihan. Aku ingin menawarkan pembelian Kelompok Tombak Iblis lengkap dengan segala miliknya dan orang-orang di dalamnya. Atau, aku dan kakakku bekerja sama dengan Kelompok Tombak Iblis. Kami sebagai penerima pesanan dan pembayar tenaga kalian. Kedua pilihan tentu dengan pembayaran yang lebih tinggi dari selama kelompok ini dipegang oleh guru kalian,” ujar Silbi Aya.
Terbeliak sepasang mata ketiga lelaki itu mendengar penawaran Silbi Aya. Rajabali Gali tidak langsung menjawab. Dia menatap lekat-lekat wajah cantik berbibir merah terang itu. Antara jatuh hati dan penolakan, itulah yang melanda pikiran Rajabali Gali.
“Guruku sebagai ketua kelompok telah mati. Berarti, dengan sendirinya aku akan menjadi ketua,” kata Rajabali Gali.
“Aku tahu itu. Aku juga tahu bahwa harta kelompok yang selama ini didapat dari pemberi pesanan, menjadi milik mendiang Raja Tombak Iblis. Dengan kematiannya, kalian tidak bisa mewarisi harta itu, tetapi diwarisi oleh Ratu Tombak Siluman dan anak-anaknya. Kau bisa jadi ketua, tapi dengan apa kau akan membayar lebih seratus orang di dalam Kelompok Tombak Iblis. Apalagi aku menawarkan hadiah untuk kalian bertiga secara perorangan. Kepeng yang banyak dan layanan wanita setiap hari,” kata Silbi Aya.
Terdiamlah Rajabali Gali memikirkan kata-kata Silbi Aya. Sementara Gendong Taji dan Kitil Sembur saling pandang tanpa jelas maksudnya, sebab setelah itu mereka kembali diam.
Memang, selain pemilik rumah judi yang bernama Kolam Merah, Silbi Aya dan kakaknya juga pemilik rumah pelacuran Istana Awan.
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh Silbi Aya dibenarkan oleh pikiran Rajabali Gali. Apalagi pembenaran itu didukung iming-iming kepeng yang melimpah dan kehangatan lembutnya wanita setiap malam.
“Benar, jika aku jadi ketua pun, aku tidak memiliki apa-apa. Semua harta kelompok dimiliki oleh Guru. Aku dan murid-murid yang lain tidak mendapat apa-apa dari harta itu. Meski ada pesanan masuk, aku tetap tidak akan bisa membayar semua anggota setiap bulannya...,” pikir Rajabali Gali.
“Bagaimana, Wakil Ketua?” tanya Silbi Aya yang melihat ada keraguan pada wajah Rajabali Gali.
“Aku tidak mungkin memilih tawaran pertama, karena kelompok ini dan semua yang dimilikinya adalah milik bersama. Tidak mungkin aku menentukan seorang diri. Namun, jika aku memilih tawaran kedua, apa yang akan kami dapat, terkhusus kami bertiga? Dan siapa yang akan menjadi ketua?” tanya Rajabali Gali.
“Semua anggota Kelompok Tombak Iblis akan aku bayar lebih tinggi dari upah kalian sebelumnya. Aku tidak akan mengambil apa yang telah kalian miliki. Kelompok dan semua harta bendanya tetap milik kalian. Namun, pesanan dan bayaran pelanggan menjadi milikku. Khusus untuk kalian bertiga, hadiah kepeng yang besar dan kehangatan wanita-wanita penidur setiap malam. Kau tetap Wakil Ketua, Rajabali. Dan aku ketuanya. Jika kau setuju, maka besok akan kita sepakati bersama rinciannya,” jelas Silbi Aya.
“Baiklah, aku setuju. Besok Tetua Silbi Aya akan menjadi Ketua Kelompok Tombak Iblis setelah rinciannya kita sepakati,” jawab Rajabali Gali dengan mantap.
Dia lalu menengok memandang kepada kedua juniornya.
“Kami setuju, Wakil Ketua,” kata Gendong Taji sebelum ditanya.
Kitil Sembur pun mengangguk dan tersenyum.
“Baiklah. Cukup untuk pembicaraan malam ini,” ucap Silbi Aya sembari bangkit dan tersenyum manis karena sukses melobi tiga orang utama di Kelompok Tombak Iblis.
Meski tidak berhasil memiliki sepenuhnya, menguasai Kelompok Tombak Iblis adalah menguasai sebuah bisnis yang besar. Dengan itu, cengkeraman bisnis Nates Aya dan Silbi Aya kian menggurita di Kotabatu Niwakmaya.
Rajabali Gali segera mengiringi langkah Silbi Aya melangkah keluar. Para pendekar kelompok itu masih duduk bersila di atas bentangan-bentangan karpet di aula. Mereka menunggu.
“Gendong, Kitil, antar Tetua sampai luar!” perintah Rajabali Gali.
“Baik,” jawab keduanya.
Gendong Taji dan Kitil Sembur melanjutkan mendampingi calon ketua baru mereka sampai keluar, melewati tengah-tengah para pendekar yang duduk berjarak-jarak.
“Dengarkan aku, wahai Saudaraku!” seru Rajabali Gali kepada seluruh pendekar yang disuruh menunggu sejak tadi. “Besok, pengganti mendiang guru sebagai ketua adalah Tetua Silbi Aya!”
“Apa?!” kejut nyaris seluruh hadirin, di kala Silbi Aya belum tiba di pintu keluar.
Hebohlah para pendekar Jelompok Tombak Iblis. Mereka pun saling berkasak-kusuk sebelum Wakil Ketua menjelaskan kelanjutan dari pengumumannya. Namun, terlihat beberapa pendekar lelaki tersenyum-senyum kepada temannya. Entah apa yang ada di dalam isi kepala mereka. (RH)
********************
Novel Baru
Novel baru Om Rudi yang berjudul "Rugi 1 Perampok Budiman" sudah rilis. Novel ini pertama muncul dalam bentuk Chat Story, kini disempurnakan dalam bentuk novel yang ringan. Ringan maksudnya adalah akan disajikan hanya beberapa puluh bab saja.
Om Rudi tetap berharap dukungan para Readers sekalian dan mari kita bergembira bersama dengan novel-novel Om. Terima kasih.
__ADS_1