Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 21: Menangkap Gebuk Sewu


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


Panglima Rakean berjalan bersama tiga puluh prajurit Pasukan Keamanan Istana. Sepertiga dari pasukan itu membawa obor penerang.


Mereka menuju ke sebuah wisma yang masih berada di dalam kompleks Istana. Wisma itu memiliki penjagan sekitar sepuluh prajurit.


Bertepatan dengan kedatangan Panglima Rakean dan pasukannya, di teras wisma yang berpenerang beberapa obor besar, sedang berbincang dua orang lelaki.  


Orang pertama berpakaian seperti pembesar dengan badan hanya berselempang kain sutera, tetapi mengenakan perhiasan. Usianya masih terbilang muda, kisaran usia separuh abad kurang sebelas tahun. Dia adalah Pangeran Bugar Bawah, adik dari Prabu Marapata.


Satu orang lagi berpakaian punggawa militer dengan pedang menggantung di pinggang. Lelaki bertubuh gagah berisi otot-otot keras itu berusia kisaran separuh baya kurang satu tahun. Dia adalah Komandan Gebuk Sewu, Komandan Pasukan Keluarga Kerajaan.


Kedua orang yang sedang berbincang itu terkejut melihat kedatangan Panglima Rakean dan pasukannya.


Setibanya di depan teras, pasukan itu berhenti, sementara Panglima Rakean dan empat prajurit masuk hingga ke teras.


Pangeran Bugar Bawah dan Komandan Gebuk Sewu segera berdiri dengan tatapan tidak bersahabat.


“Hormat hamba, Gusti Pangeran,” ucap Panglima Rakean sembari menjura hormat kepada Pangeran Bugar Bawah.


“Apa yang ingin kau lakukan, Panglima?” tanya Pangeran Bugar Bawah agak membentak.


“Maafkan hamba, Gusti. Demi ketenangan kondisi kerajaan dan keselamatan semua anggota Keluarga Kerajaan, hamba diperintahkan oleh Gusti Sernopati untuk menangkap Komandan Gebuk Sewu dan melucuti senjata Pasukan Keluarga Kerajaan!” jawab Panglima Rakean tegas.


Terkejutlah Pangeran Bugar Bawah dan Komandan Gebuk Sewu.


“Perintah macam apa itu, Panglima?!” teriak Komandan Gebuk Sewu marah sambil meloloskan pedangnya.


Tindakan sang komandan segera diikuti oleh sepuluh prajuritnya yang berjaga di halaman rumah itu.


Namun, tindakan itu justru diikuti oleh puluhan prajurit Pasukan Keamanan Istana yang juga cabut pedang, sehingga terjadi saling ancam. Jelas, Pasukan Keluarga Kerajaan kalah jumlah pedang.


“Jika kau memberontak, Komandan, maka akan ada pertumpahan darah. Menyerahlah demi ketenangan Istana,” ujar Panglima Rakean tetap tenang.


“Kaulah pemberontaknya, Panglima!” tukas Pangeran Bugar Bawah marah.

__ADS_1


“Maafkan hamba. Gusti Pangeran diharap masuk ke dalam wisma. Penjagaan akan diambil alih oleh Pasukan Keamanan Istana,” perintah Panglima Rakean. Lalu perintahnya kepada pasukannya, “Tangkap Komandan Gebuk Sewu dan lucuti prajuritnya!”


Maka empat prajurit di belakang Panglima Rakean segera maju dengan pedang di dekatkan ke leher Komandan Gebuk Sewu. Sementara prajurit yang lain segera mengancam para prajurit Pasukan Keluarga Kerajaan dan merebut semua senjatanya.


Komandan Gebuk Sewu adalah orang berkesaktian, tetapi dia mempertimbangkan baik buruknya jika dia melawan atau menyerah. Apalagi dia tahu level kesaktian Panglima Rakean.


Akhirnya Komandan Gebuk Sewu tidak melakukan perlawanan. Dia membiarkan pedangnya diambil dan senjata kerisnya dilucuti.


Seorang prajurit lalu memborgol kedua tangan Komandan Gebuk Sewu dengan borgol besi yang beratnya dua kilo toleransi, maksudnya bisa kurang bisa lebih.


“Silakan masuk, Gusti Pangeran. Perlawanan akan dianggap sebagai upaya mengacaukan ketenangan Istana,” kata Panglima Rakean.


“Huh!” dengus Pangeran Bugar Bawah sambil berbalik dan masuk ke dalam wisma.


Sebenarnya Pangeran Bugar Bawah termasuk orang berkesaktian, tetapi tentunya banyak pertimbangan yang dia pikirkan jika melawan keinginan penguasa militer kerajaan.


Malam itu, selain menangkap Komandan Gebuk Sewu, Panglima Rakean dan pasukannya juga melucuti senjata para prajurit Pasukan Keluarga Kerajaan, tetapi prajurit itu tidak ditangkap, hanya disuruh keluar dari Istana. Tugas penjagaan Pasukan Keluarga Kerajaan di wisma-wisma digantikan oleh para prajurit Pasukan Keamanan Istana yang jumlahnya jauh lebih besar.


Untuk memastikan bahwa Komandan Gebuk Sewu sampai ke sel penjara, Panglima Rakean mengawal langsung menuju penjara yang ada di sisi selatan Istana.


Namun, baru saja rombongan yang mengawal Komandan Gebuk Sewu itu hendak keluar dari jalan yang diapit oleh dua wisma, tiba-tiba ....


Tiba-tiba di depan sana ada sekitar empat sosok berpakaian serba merah yang berlari kencang melintas di jalan depan tembok pagar penjara. Jarak dengan posisi rombongan Panglima Rakean masih cukup jauh, tapi itu mengejutkan karena keempat orang berpakaian merah itu jelas orang asing.


“Hei! Berhenti, Penyusup!” teriak seorang prajurit yang juga berlari kencang melintas di depan sana bersama lima temannya. Mereka mengejar keempat orang berpakaian merah.


“Siapa penyusup itu?” tanya Panglima Rakean, entah kepada siapa. Namun kemudian perintahnya, “Cepat kejar penyusup itu!”


“Baik, Gusti!” jawab para prajurit.


Belasan prajurit Pasukan Keamanan Istana segera berlari kencang meninggalkan panglimanya. Hanya tinggal enam prajurit yang tidak meninggalkan Panglima Rakean karena mereka sedang menggiring Komandan Gebuk Sewu.


Jika ada penyusup asing di dalam kawasan Istana, jelas itu menjadi tanggung jawab Pasukan Keamanan Istana. Sementara enam prajurit yang mengejar keempat orang berpakaian merah adalah personel Pasukan Pelindung Raja.


Swiiing ...!


Salah satu prajurit anak buah Panglima Rakean yang mengejar, meniup sebuah pluit bambu yang bersuara nyaring melengking.

__ADS_1


Maka terjadilah tiga kelompok orang yang berlari kejar-kejaran di jalan depan tembok penjara. Ada obor-obor yang terpasang di atas tembok pagar penjara yang tinggi, sehingga mereka mendapat cahaya penerangan.


Kejar-kejaran itu menuju ke depan gerbang tembok penjara. Di sana ada empat prajurit yang berjaga.


Melihat empat orang asing berlari karena dikejar banyak prajurit, keempat prajurit penjaga gerbang penjara segera bergerak dan menghadang menutup jalan dengan tombak dihunuskan siap menusuk penyusup yang datang.


Set set set ...!


Namun, keempat prajurit itu harus kecewa sampai mati. Keempat orang berseragam merah-merah itu tiba-tiba melesatkan empat pisau terbang dengan akurasi yang tinggi. Keempat pisau terbang itu masing-masing menancap di leher keempat prajurit.


Setelahnya, keempat lelaki berpakaian merah melangkahi keempat prajruit yang tumbang tanpa kesan dan terus berlari lurus.


Jgreg!


Baru saja keempat lelaki berpakaian merah lewat di depan gerbang yang tertutup, tiba-tiba gerbang itu terbuka dan dari celahnya muncul tiga orang prajurit yang keluar karena mendengar suara gaduh. Mereka keluar tepat ketia keenam prajurit Pasukan Pelindung Raja akan lewat.


Cras cras cras!


Tiga dari enam prajurit yang mengejar tiba-tiba meloloskan pedangnya dan menyambar leher-leher ketiga prajurit yang baru muncul dengan tebasan pedang.


Tiga prajurit penjara itu langsung tumbang dengan darah bersimbah.


Kejadian yang terjadi di depan mata itu jelas mengejutkan belasan prajurit Pasukan Keamanan Istana yang mengejar di belakang. Mereka jelas tidak habis pikir, bagaimana mungkin Pasukan Pelindung Raja membunuh sesama prajurit Kerajaan Jintamani.


“Kenapa mereka membunuh teman sendiri?” tanya satu prajurit kepada teman-temannya, tapi tidak ada yang bisa menjawab. Bukan karena mereka bego, tapi ilmunya belum sampai.


Set set set ...!


“Awaaas!” teriak prajurit peniup pluit memperingatkan teman-temannya sambil dia berlindung di balik tamengnya.


Cet ceb ceb ...!


“Akh! Akk! Akk ...!” jerit empat prajurit ketika tahu-tahu benda terbang menancap dalam di leher atau dada mereka. Lambatnya respon membuat tameng tidak berfungsi.


Sebelumnya, tiba-tiba saja keenam prajurit Pasukan Pelindung Raja berbalik dan melesatkan enam pisau terbang kepada belasan Pasukan Keamanan Istana. Hanya satu prajurit yang peka dengan serangan tiba-tiba itu.


Swiiing ...!

__ADS_1


Prajurit Keamanan Istana kembali meniup kencang pluitnya setelah serangan itu, bermaksud memberi tahu bagi yang mendengar bahwa ada pengacau di dalam Istana.


Dari arah jalan lain, dua puluh prajurit Pasukan Keamanan Istana yang lain muncul berlari ikut mengejar dua kelompok orang yang kini menjadi buruan. Namun, jarak yang masih jauh membuat mereka justru bertemu titik dengan belasan prajurit yang lebih dulu mengejar. (RH)


__ADS_2