Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
PKS 29: Tinju Racun Tanah (TAMAT)


__ADS_3

*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*


 


Melihat kematian Panglima Tebing Gali, semakin tertekan mental Peri Tamak. Namun, wanita berambut pendek kelelakian yang menjadi lawannya terus bertarung dengan ganas.


Galaknya Roro Wiro terbukti pada setiap kali ia dan Peri Tamak beradu pukulan tangan atau kaki, Peri Tamak merasakan seperti beradu dengan batang besi. Namum, Ketua Peri-Peri Pengisap itu menutupi ekspresinya dan bertindak seolah-olah biasa-biasa saja.


Namun pada akhirnya, Peri Tamak merasa tidak betah.


“Lama-lama dagingku menjadi daging tumbuk,” batin Peri Tamak karena sudah tidak betah harus beradu fisik dengan murid Setan Gagah itu.


Akhirnya Peri Tamak bergerak mundur sambil melakukan gerakan tangan bertenaga dalam. Kedua kulit tangannya kini berubah warna menjadi hitam sebenar-benarnya hitam. Selanjutnya Peri Tamak maju lagi.


Sebagai penjajalan terhadap kesaktian lawan, Roro Wiro menyambut majunya Peri Tamak dengan tinju yang terlihat biasa saja, tetapi mengandung tenaga dalam tinggi.


Bek!


Telapak tangan hitam Peri Tamak beradu dengan tinju Roro Wiro. Namun, ketika pertemuan terjadi, Roro Wiro mendelik.


Gadis tomboy itu merasakan tenaga dalamnya yang seharusnya menghantam, justru terasa hanya mengalir cepat seperti tersedot oleh telapak tangan Peri Tamak.


Roro Wiro melihat Peri Tamak tersenyum sinis, seolah-olah pamer keunggulan.


“Kita lihat kehebatan ilmu tangan hitammu itu,” kata Roro Wiro menantang.


Roro Wiro lalu bersalto mundur dan mendarat dengan posisi berlutut satu kaki. Dia menempelkan kedua kepal tangannya ke tanah. Sambil tetap waspada memandang lawannya, Roro Wiro diam sejenak.


“Roro Wiro menggunakan kesaktian Tinju Racun Tanah, Gusti,” kata Gempar Gendut kepada Alma Fatara.


“Apa hebatnya? Sepertinya dia kalah melawan tangan hitam wanita itu,” tanya Alma Fatara.


“Dia menyerap racun yang terkandung di dalam tanah. Bagi lawan yang tidak tahu, biasanya akan terperangkap,” jawab Gempar Gendut.


“Ayo bertarung!” teriak Peri Tamak sambil maju mengelebatkan tendangannya.


“Hup!” pekik Roro Wiro sambil melentingkan kakinya lebih dulu ke udara dengan tolakan kedua tinjunya di tanah.


Gerakan lincah itu bisa menghindari tendangan Peri Tamak. Lalu dari udara, Roro Wiro mengagresikan kedua tinjunya bergantian.


Pak! Pak!


Itu yang diinginkan oleh Peri Tamak. Dia hadang dua tinju itu dengan telapak tangan terbuka.


Memang terlihat biasa saja. Padahal sesungguhnya kedua telapak hitam Peri Tamak menyedot tenaga dalam dari kedua tinju Roro Wiro.


Sementara itu, Roro Wiro sendiri merasakan tenaganya berkurang. Namun, gadis itu terus menyerang dengan dua tinjunya yang terlihat biasa-biasa saja. Semakin girang Peri Tamak mendapat serangan bertubi-tubi. Dia bertindak melakukan pertahanan dengan menahan semua tinju lawannya dan menyedot tenaganya.


Lambat laun, kecepatan dan kegalakan tinju Roro Wiro melambat. Semua pendekar yang menonton bisa melihat itu.


“Apa yang terjadi dengan Roro Wiro, tenaganya seperti terkuras cepat?” tanya Anjengan kepada Gagap Ayu.


“Se-se-sepertinya dia ka-ka-kangen gurunya,” jawab Gagap Ayu asal.


“Dasar gagap!” maki Anjengan kesal.


“Hihihi!” Gagap Ayu hanya tertawa cekikikan.

__ADS_1


Wut wut!


Pada akhirnya, Peri Tamak menyerang balik, tapi dengan dua tendangan bertenaga dalam tinggi. Meski kecepatannya berkurang, tetapi Roro Wiro masih sanggup menghindari dua tendangan itu. Memang, Peri Tamak justru meningkat tenaga dalamnya.


Sejenak pertarungan terhenti. Terlihat jelas bahwa Roro Wiro berdiri dengan napas cukup terengah-engah.


“Matilah kau, Wanita Siluman!” desis Peri Tamak seraya tersenyum. Dia mengeluarkan dua pisau kecil yang bagus digunakan untuk mengiris bawang dan cabai.


Tersenyum rekan-rekan Peri Tamak melihat kondisi Roro Wiro dan Peri Tamak sudah mengeluarkan dua pisau kecilnya.


Namun, belum lagi Peri Tamak menyunat seseorang dengan kedua pisau kecilnya, tiba-tiba wajah cantiknya mengerenyit. Seiring itu, pada kedua tangannya muncul asap hitam nan tipis.


“Uhhuk!” batuk Peri Tama tiba-tiba. Hanya satu kali batuk.


Setelah itu, ada darah hitam yang merembes keluar lewat celah bibir Peri Tamak. Dia pun kian mengerenyit karena memang sedang menahan rasa sakit pada area tangan dan dadanya. Dia merasakan tangannya begitu kepanasan.


Kedua tangan hitam Peri Tamak perlahan-lahan berubah warna menjadi merah kulit karena kulit hitamnya terbakar tanpa api secara perlahan dan terus berasap hitam. Kedua pisau kecil yang digenggamnya terjatuh dengan sendirinya, karena otot-otot tangan itu juga menuju malfungsi.


“Hoekh!” Peri Tamak akhirnya muntah darah hitam yang cukup banyak. Lalu jeritnya, “Aaak!”


“Ketua!” sebut para peri lainnya terkejut, karena nyawa mereka juga terancam jika ketua mereka kalah atau mati.


“Ketua!” teriak Peri Munin sambil berlari mendekat dengan kedua telapak tangan membara merah seperti bara api. Dia berlari menuju ke titik pertarungan.


Set!


“Akh!” pekik Peri Munin saat dari samping melesat sebatang anak panah yang menancap tembus batang leher indahnya.


Orang yang memanah Peri Munin adalah Senyumi Awan, pendekar spesialis panah.


“Peri Muniiin!” pekik kelima peri yang lain melihat tumbangnya rekan mereka.


Roro Wiro yang seperti orang kelelahan, kemudian melompat bersalto dan mendarat tidak jauh dari posisi Peri Tamak.


Jleg! Serss! Blar!


Ketika kedua kaki Roro Wiro mendarat, dari bawah telapak kakinya melesat segaris sinar biru yang menjalar ke kaki Peri Tamak yang sudah sekarat oleh racun.


Satu ledakan dari ilmu Jejak Luka membuat tubuh Peri Tamak terpental dengan kaki yang hancur.


“Ketuaaa!” pekik kelima personel Peri-Peri Pengisap histeris. Itu artinya mereka semua akan dieksekusi.


Blug!


Tubuh Peri Tamak jatuh di tanah seperti nangka busuk mati, sudah tanpa kaki lagi. Ternyata kedua kakinya terpental ke arah lain.


“Tahan!” seru Alma Fatara tiba-tiba.


Teriakan itu seketika menahan para pendekar panah yang cantik-cantik melepaskan anak panahnya kepada kelima anggota Peri-Peri Pengisap.


Kelima wanita penyuka lelaki itu sejenak lega, tetapi itu bukan berarti mereka tidak akan mati. Aturan permainannya, jika Peri Tamak kalah, berarti mereka semua juga akan dieksekusi.


“Aku berubah pikiran. Bebaskan mereka berlima!” perintah Alma Fatara.


Legalah hati kelima personel Peri-Peri Pengisap mendengar keputusan Alma Fatara.


“Tapi mereka adalah pengkhianat, Gusti Ratu!” protes Pangeran Sugang Laksama.

__ADS_1


“Aku pernah memiliki orang yang sangat ingin aku bunuh karena kejahatannya, tapi kesempatan hidup yang aku berikan bisa mengubah mereka menjadi orang baik,” tandas Alma Fatara berwibawa.


Orang yang Alma maksud adalah tiga orang mantan anggota bajak laut, yaitu Tampang Garang, Penombak Manis dan Alis Gaib.


“Jika kau bersikeras ingin membunuh mereka semua, maka kau pun harus membunuh semua prajurit Pasukan Kerajaan Singayam yang ada di sini!” tegas Alma Fatara.


Terkejut semua prajurit Kerajaan Singayam, baik mereka yang sudah berjanji setia kepada Pangeran maupun mereka yang dalam posisi menyerah.


“Baik, aku menghormati keputusanmu, Gusti Ratu,” ucap Pangeran Sugang Laksama sembari menunduk menghormat.


Legalah personel Peri-Peri Pengisap dan seluruh prajurit Pasukan Kerajaan Singayam.


“Kakek Bungkuk, apakah kau akan tetap membawa gadis itu?” tanya Alma Fatara kepada Bungkuk Gila.


“Aku suka dengan gadis ini, meski dia sudah tidak perawan. Aku butuh tukang pijit selama peperangan ini. Hahaha!” jawab Bungkuk Gila lalu tertawa dan mencolek dagu Peri Mayang yang tidak bereaksi, mirip boneka.


“Biarkan kelima wanita itu pergi!” perintah Alma Fatara lagi.


Maka ada bagian pengepungan yang membuka jalan bagi kelima anggota Peri-Peri Pengisap.


Tanpa berterima kasih lagi, kelima wanita yang menaruh dendam atas kematian ketua dan rekan mereka itu, segera berlari pergi keluar dari pengepungan.


“Besok kita akan berangkat berperang. Istirahatkan pasukan,” perintah Alma Fatara kepada Anjengan.


“Pasukaaan! Siapa kitaaa!” teriak Panglima Besar Anjengan.


“Pasukan Genggam Jagad!” teriak semua anggota Pasukan Genggam Jagad kencang.


Para pasukan berseragam hanya bisa terbeliak kaget. Maklum, mereka yang berteriak adalah para pendekar.


“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi sambil menonjok-nonjok langit dengan menggenggam pedang pusakanya.


“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad sambil mengikuti pula gerakan panglima gendutnya.


“Wik wik wik wik wik!”


“Wik wik wik wik wik!”


“Hahaha...!” tawa Pasukan Genggam Jagad setelah itu. Entah apa yang lucu?


“Pasukan Genggam Jagad beristirahatlah. Besok kita akan pergi berperang!” teriak Anjengan lagi.


“Hua hua hua!” teriak mereka menyambut perintah itu.


Maka, semua personel Pasukan Genggam Jagad balik kanan dan saling bercanda dengan sesama anggota. Pengambilan cerita hari itu sudah selesai dan mereka bisa bebas bersantai.


Sementara itu, pasukan berseragam menunggu perintah dari Pangeran Sugang Laksama selaku pemimpin tertinggi dari pasukan kerajaan dan kadipaten.


Adapun warga yang terkurung, bisa bebas kembali setelah Bungkuk Gila melenyapkan kubah sinarnya.


Spesial bagi Ki Kocol dan Muning, mereka sepakat pacaran. Mereka mendadak menganut slogan “cinta tidak mengenal batas”. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima Kasih


Author ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para readers yang selalu setia membaca, like, dan berkomen di novel ini. Jika novel ini kurang memuaskan kalian, Author mohon maaf karena memang seginilah kemampuannya.

__ADS_1


Novel "Alma4" akan segera menyusul. Namun, rilisnya harus bergantian dengan yang lain. Author untuk sementara berkomitmen akan memegang dua novel dalam sekali jalan. Setelah "Alma3" tamat, maka Author akan melanjutkan "Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar" dan "Sanggana 6".


__ADS_2