Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 37: Putra Mahkota


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


Serangan panah belalang dari atas benteng Istana membuat perang berhenti, karena Pasukan Pembebas Jintamani memutuskan berhenti demi menghindari serangan panah belalang.


Bersamaan dengan itu, di dalam Istana pun sedang terjadi ketegangan.


Panglima Rakean memimpin langsung “penangkapan” terhadap anggota Keluarga Kerajaan sebagaimana yang diperintahkan oleh Senopati Gending Suro.


Namun, Panglima Rakean telah tunduk kepada Ratu Warna Mekararum. Dia telah diperintahkan untuk tetap berpura-pura menjadi orang yang tunduk kepada Senopati Gending Suro. Karena itulah, perintah menangkapi anggota Keluarga Kerajaan dia ubah menjadi “mengamankan Keluarga Kerajaan”.


Panglima Rakean dan sekitar sepuluh prajurit yang ikut bersamanya mendatangi Wisma Putra Mahkota. Mereka membawa obor sebanyak separuh dari jumlah mereka.


Di depan wisma berjaga sekitar enam prajurit yang juga merupakan orang-orang Panglima Rakean.


“Buka pintu!” perintah Panglima Rakean kepada prajurit jaga. “Siapkan kereta kuda. Kita akan membawa Gusti Pangeran!”


Ceklek!


Prajurit jaga segera membuka pintu yang memang tidak dikunci.


Dok dok dok!


“Pasukan Keamanan Istana!” teriak Panglima Rakean setelah mengetuk daun pintu agak keras, meski pintu sudah dibuka.


Teriakan dan ketukan itu sebagai pemberitahuan bagi orang-orang yang ada di dalam wisma.


Memang, ketukan dan teriakan itu mengejutkan para abdi dalam yang tidur di ruang depan.


“Cepat bangunkan emban-emban!” kata abdi dalam ke kepada seorang rekannya yang lebih muda dengan berbisik.


Sementara dia sendiri segera keluar menunjukkan diri. Panglima Rakean ditemuinya sudah berjalan masuk dengan langkah tergesa.


Di dalam, abdi dalam kedua membangunkan para dayang yang tidur di depan sebuah kamar megah.


“Bangun, bangun!” ucap abdi dalam kedua sambil mencoel-coel bahu salah satu dayang, tetapi membangunkan semuanya. Sebelum dayang itu bertanya, abdi dalam kedua sudah berkata, “Pasukan Keamanan Istana masuk ke dalam sini!”


Mereka tergesa-gesa bangung berdiri, meskipun sukma mereka belum terkumpul semua.


“Ada apa, Gusti Panglima?” tanya abdi dalam pertama yang menemui Panglima Rakean.


“Gusti Pangeran harus segera dipindahkan, sekarang juga!” jawab Panglima Rakean sambil terus berjalan masuk.


“Jangan, Gusti. Gusti Pangeran kondisinya sakit parah!” ucap si abdi dalam memelas sambil berjalan mengikuti Panglima dan mempertemukan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


“Ini demi keselamatan Gusti Pangeran. Kerajaan dalam kondisi perang dan ada pengkhianat yang ingin membunuh Putra Mahkota,” jelas Panglima Rakean.


“Hah!” pekik abdi dalam itu. Setelah itu dia tidak berkata apa-apa lagi.


Setibanya di depan kamar, dimana ada beberapa dayang dan abdi dalam lelaki berdiri, Panglima Rakean memerintahkan untuk dibukakan pintu kamar.


Tok tok tok!

__ADS_1


Ketukan pada pintu dilakukan oleh seorang dayang.


“Ada apa?” tanya satu suara perempuan dari balik pintu kamar, menunjukkan perempuan itu tidak tertidur.


“Gusti Panglima Rakean datang ingin masuk,” jawab dayang yang mengetuk pintu.


Cklek!


Tanpa ada pertanyaan lagi, pintu kamar itu dibuka dari dalam oleh seorang dayang.


Panglima Rakean yang dikawal hanya oleh dua orang prajurit segera masuk ke dalam kamar yang megah dan besar itu. Ternyata di dalam itu ada seorang emban dan seorang perempuan separuh baya berpakaian tabib kerajaan.


“Bawa Gusti Putra Mahkota ke kereta. Jangan membantah!” perintah Panglima Rakean.


“Baik, Gusti,” ucap para abdi dalam lelaki.


Panglima Rakean berdiri di tengah kamar sambil memandang ke arah sebuah ranjang yang diterangi oleh empat lampu minyak pada setiap sudut ranjang.


Di atas ranjang itu berbaring seorang pemuda berwajah sangat kurus. Meski tubuhnya terlindungi oleh selimut, tetapi wajah yang seolah-olah hanya tengkorak berbungkus kulit itu menunjukkan kondisi fisiknya secara keseluruhan.


Ketika tiga abdi dalam mengangkat tubuhnya dengan hati-hati bersama selimutnya, pemuda itu hanya membuka matanya tanpa bisa berbicara. Gerak matanya menunjukkan bahwa dia panik.


“Tenang, Gusti. Gusti Pangeran harus dipindahkan demi keselamatan,” kata salah seorang abdi dalam mencoba menenangkan pemuda yang tidak lain adalah Pangeran Jakirwogo, putra dari Prabu Marapata.


Panglima Rakean lalu mendekati sang pangeran yang dalam kondisi sakit keras yang menguras daging pada fisiknya.


“Mohon maaf, Gusti Pangeran. Atas perintah Gusti Ratu Tua, Gusti Pangeran harus dipindahkan demi keselamatan. Gusti Ratu Tua dan pasukannya telah datang untuk menolong Kerajaan dan Gusti Pangeran,” ujar Panglima Rakean.


Terbeliaklah sepasang mata Pangeran Jakirwogo mendengar hal itu. Dia terkejut dan gembira, tetapi tidak bisa dia teriakkan rasa gembira itu karena dia sudah seperti mayat hidup yang mengangkat tangan pun tidak bisa dia lakukan.


Para abdi dalam menggotong tubuh ringan Putra Mahkota yang diiringi oleh para dayang yang selama setahun lebih setia merawat. Tabib pun ikut.


Di luar, sebuah kereta kuda milik Wisma Putra Mahkota sudah siap.


Setelah memasukkan Pangeran Jakirwogo ke dalam bilik kereta dengan hati-hati dan didampingi oleh tabib dan seorang dayang, rombongan itu lalu meninggalkan wisma dengan dipimpin oleh Panglima Rakean yang kini menunggang kuda. Sementara prajurit dan para pelayan berlari kecil melalui area Istana yang sepi.


Di tempat lain.


“Apa-apaan ini?!” bentak Pangeran Bugar Bawah ketika dirinya dan seluruh keluarganya mau dipindahkan oleh Pasukan Keamanan Istana yang dipimpin oleh Pajrit Kempit, kepala prajurit yang sebelumnya membakar pintu gudang kayu.


“Ampun, Gusti, ini perintah langsung dari Gusti Ratu Tua,” kilah Pajrit Kempit.


“Kalian jangan macam-macam. Beberapa waktu lalu kalian menangkap Komandan Gebuk Sewu dan melucuti Pasukan Keluarga Kerajaan. Sekarang, kalian kembali datang dengan membawa-bawa nama mendiang Gusti Ratu Tua!” kata Pangeran Bugar Bawah, masih berteriak.


Di belakang sang pangeran berdiri istri, dua orang anaknya dan para pelayannya. Mereka semua harus bangun setelah dibangunkan oleh kedatangan pasukan itu.


“Ampun, Gusti. Saat ini pasukan Gusti Ratu Tua sedang berperang di benteng Istana menghadapi pasukan Kerajaan. Gusti Panglima Rakean sudah bertemu langsung dengan Gusti Ratu Tua di Istana Keprabuan. Gusti Panglima sudah menyatakan kesetiaan kepada Gusti Ratu Tua dan memerintahkan untuk memindahkan semua anggota Keluarga Kerajaan ke satu tempat,” kata Pajrit Kempit yang mendadak lancar lidahnya.


Terkejutlah Pangeran Bugar Bawah dan keluarganya mendengar omongan si prajurit yang jelas-jelas membingungkan.


“Gusti Ratu Tua sudah mati. Kenapa kalian membawa-bawa namanya?!” gusar Pangeran Bugar Bawah.


“Ampun, Gusti!” ucap Pajrit Kempit cukup gemetar menghadapi kemarahan adik raja itu. “Gusti Senopati Gending Suro sudah memerintahkan agar memenjarakan Gusti Prabu dan seluruh Keluarga Kerajaan. Tidak ada waktu untuk berdebat, Gusti. Jika Gusti Senopati tahu bahwa Gusti Pangeran dan keluarga masih di sini, kami khawatir itu justru akan berbahaya.”

__ADS_1


“Kakang Pangeran, kita percaya saja kepada mereka. Jika Pasukan Keamanan Istana memang ingin mencelakai kita, pasti sudah mereka lakukan di sini,” kata sang istri dengan mimik yang cemas.


“Benar, Gusti. Kami harap, Gusti Pangeran percaya kepada kami,” ucap Pajrit Kempit sambil turun berlutut menghormat, menunjukkan baktinya.


“Baiklah. Kami ikut kalian,” kata Pangeran Bugar Bawah akhirnya mengalah.


“Tapi, Gusti .... Hamba tidak melihat keberadaan Gusti Putri Manila Sari?” tanya Pajrit Kempit.


“Aku juga tidak tahu putriku ada di mana. Biarkan saja, Dewa akan menjaganya,” jawab Pangeran Bugar Bawah.


Maka, Pangeran Bugar Bawah dan keluarganya dievakuasi meninggalkan kediamannya pada malam menuju pagi itu.


Sementara itu, Putri Manila Sari yang merupakan anak kedua dari Pangeran Bugar Bawah sedang mengendap-endap di dalam kegelapan seperti tikus.


Putri Manila Sari adalah sosok gadis yang berusia tujuh belas tahun, sedang mekar-mekarnya sebagai seorang gadis. Meski dia bersembunyi di dalam kegelapan, tapi dia tetap cantik jelita karena memang pada dasarnya dia cantik jelita. Saat itu dia mengenakan pakaian warna merah gelap yang menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kepalanya yang berhias tusuk rambut emas. Dia membawa sebuah gayung batok kelapa di tangan kanannya. Sepertinya dia hendak mandi di sendang Istana.


Tanpa dia ketahui, ada dua pasang mata yang memerhatikan pergerakannya dari atas.


Dua sosok tanpa cahaya itu bukan berwujud kalong atau burung malam, tetapi lebih kepada seperti sosok monyet besar yang sedang berjongkok di atas atap sebuah gapura.


“Ning Ana, lihat ada tikus besar di tanaman itu!” bisik sosok yang lebih besar dengan menyebut monyet satunya bernama Ning Ana.


“Mana, Kak Alma?” tanya monyet Ning Ana dengan menyebut monyet besar “Kak Alma”.


“Perhatikan dengan teliti, calon pendekar harus bermata setajam hewan,” kata Kak Alma.


“Iya, iya, aku lihat,” kata Ning Ana dengan tetap berbisik.


“Dia mau lewat di gapura ini. Jika dia sudah ada di bawah, lompatlah dan tangkap,” perintah Kak Alma.


Ning Ana mengangguk tanda mengerti.


Maka, ketika melihat tidak ada orang, Putri Manila Sari segera berlari ala maling melintas di bawah gapura.


Jleg!


“Kena kau, Tikus Bandot!” teriak Ning Ana yang melompat turun dari atap gapura tepat di belakang Putri Manila Sari. Dia langsung memeluk korbannya dari belakang dengan kuat.


Alangkah terkejutnya Putri Manila dan refleks bereaksi.


Dak!


“Akk!” jerit Ning Ana saat tiba-tiba wajahnya dihantam batok kelapa dari gayung.


Meski kedua lengannya dikunci oleh dekapan Ning Ana yang tubuhnya lebih kecil, Putri Manila masih bisa mengayunkan tangannya ke atas yang mebuat gayungnya mengayun ke belakang dan mendarat keras di wajah Ning Ana.


Hantaman gayung batok kelapa itu membuat dekapan Ning Ana lepas.


Dak!


“Akk!” jerit Ning Ana lagi dengan tubuh terjengkang keras ke tanah, setelah Putri Manila melompat memutar tubuhnya dengan kaki kanan berkelebat menghajar wajah Ning Ana lagi.


“Hahahak!” tawa Kak Alma kencang di atap gapura.

__ADS_1


Tawa kencang seperti tawa bapak-bapak itu mengejutkan Putri Manila Sari.


Ning Ana juga terkejut campur jengkel bukan main karena Kak Alma justru menertawakannya di saat dia sedang malang seperti itu. (RH)


__ADS_2