
*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*
Sebelum matinya, Tejo mendapat serangan dari Geladak Badak yang pada hakekatnya dalam kondisi terluka parah.
Sreeet!
Saat Geladak Badak melesat ke arah posisi kuda Tejo, dia harus melewati barisan pasukan panah dan tombak yang sedang dalam kondisi gentar. Pasalnya mereka mendengar suara gerakan dari banyak rantai besi, tetapi tidak terlihat wujudnya.
Tus tus tus...!
“Akh! Akk! Akk...!”
Sejumlah prajurit panah dan tombak berjeritan ketika tahu-tahu tubuh mereka dijebol oleh satu energi yang tidak terlihat.
Sreet!
Terkejut Tejo melihat apa yang menimpa beberapa prajuritnya. Sementara suara rantai dengan cepat mendekatinya tanpa terlihat wujudnya.
Tejo cepat ambil keputusan sebelum nasibnya sama dengan para prajuritnya. Dia melompat mundur jauh mengudara meninggalkan kudanya.
Tus tus!
Benar saja dugaan Tejo, dia melihat tubuh kudanya jebol di dua titik, membuat kuda meringkik liar lalu berlari menderita dengan tubuh mengucurkan darah. Sampai-sampai sang kuda tidak peduli bahwa dia menabrak beberapa orang prajurit.
Geladak Badak terus melesat memburu Tejo.
Ses!
Dari tempatnya berdiri, Tejo melesatkan tiga sinar merah berekor menyongsong kedatangan Geladak Badak.
Sreet!
Bros bros bros!
Suara rantai yang banyak kembali terdengar ramai. Dan tiba-tiba tiga sinar merah berekor hancur dan lenyap di tengah jalan, membuat Tejo terkejut. Sementara suara rantai bergerak terus mendekatinya dengan cepat.
Tejo kembali mencari aman dengan melesat jauh ke samping menjauh dari suara rantai itu.
Geladak Badak terpaksa kembali mengejar Tejo yang jadi penakut ketika mendengar suara rantai. Namun kali ini, Geladak Badak mendatangi Tejo tanpa disertai suara Rantai Dedemit.
Karena sudah tidak ada suara rantai tanpa wujud, Tejo dengan gerakan yang begitu cepat mencabut dua buah kapaknya dan melemparkannya kepada kedatangan Geladak Badak.
Wut wut! Ting! Ses!
Dua kapak bergagang itu melesat berputar-putar menyongsong kedatangan Geladak Badak. Di tengah jalan, kedua kapak saling bergesekan dan melesatkan sinar biru tipis kepada Geladak Badak.
“Setan beranak!” maki Geladak Badak terkejut sambil melakukan gerakan kecil yang membuatnya bisa menghindari lesatan sinar biru tipis. Nyaris saja karena sinar itu melintas hanya setengah jengkal dari kulit lengan. Dia idak menyangka akan seperti itu kerja serangan kapak.
Sementara kedua kapak jatuh di tempat yang kosong.
Dan akhirnya, Geladak Badak menerjang Tejo yang langsung meladeni pertarungan langsung itu. Namun, sepertinya Geladak Badak dalam posisi kurang asik. Luka dalam membuat beberapa kali gerakan cepatnya tidak sinergi, membuat tubuh dalamnya sakit dan berujung tertahannya gerakan.
Buk buk!
“Hukr!”
Akibatnya, dua tinju bertenaga dalam mendarat pada dada Geladak Badak, membuatnya menyemburkan darah dari mulut dan terjajar beberapa langkah.
__ADS_1
Hal itu kian membuat Tejo bersemangat. Dia cabut kapak ketiganya yang tersisa. Namun, ....
Sreeet!
Tiba-tiba terdengar suara rantai yang banyak dari tubuh Geladak Badak.
Mendengar suara itu, buru-buru Tejo melompat mundur untuk menjauh lagi.
Tus!
Namun, baru saja Tejo mengudara, tiba-tiba lehernya meletup di samping. Setelah itu, tubuh Tejo berhenti melesat dan menggantung di udara dengan kondisi mengejang dan leher bolong mengeluarkan darah yang banyak dari samping kanan dan kiri.
Tus tus!
“Aakk!” jerit Tejo kian mengejang di udara saat ada dua letupan pada dadanya.
Tus tus tus!
Selanjutnya, menyusul beberapa letupan pada anggota tubuh yang lain. Kali ini Tejo yang digantung oleh rantai yang tidak kasat mata itu sudah tidak menjerit, kecuali tubuhnya terhentak mengejang. Beberapa detik kemudian, Wakil Panglima itu mati.
Setelah pasti bahwa lawannya telah mati, Geladak Badak menonaktifkan ilmu Rantai Dedemit, membuat mayat Tejo meluncur jatuh ke tanah.
Duk!
“Hoekh!” Geladak Badak muntah darah setelah jatuh terlutut.
Luka dalam Pendekar Rantai Dedemit semakin parah.
Sementara itu, Manila Sari, Arguno, Lingkar Dalam dan Cantik Gelap mengamuki para prajurit panah dan tombak sejak awal mereka menyebar.
Zerr zerr zerr...!
“Aaakrr! Aaakrr! Aaakrr...!”
Para prajurit itu hanya bisa menjerit panjang dengan tubuh mengejang dan bergetar kencang tapi halus, ketika tangan ketiga pendekar itu menyetrum mereka. Untuk menyetrum, tidak perlu harus benar-benar menyentuh. Meski jarak tangan dengan kulit korban masih sejauh dua jengkal, ilmu Genggam Petir sudah bisa menyetrum.
Namun meski demikian, setruman ketiga pendekar itu tidak sampai membunuh, tapi hanya sebatas membuat lemas dan trauma. Itu karena faktor tingkatan tenaga dalam mereka.
Prajurit yang usai disengat, mereka akan tumbang ke tanah dan tergeletak dengan wajah pucat, sementara sepasang mata menatap kosong, seolah-olah menyesali kehidupannya. Dada naik turun dengan napas yang tersengal-sengal.
Berbeda pula aksi tarung yang diperagakan oleh Cantik Gelap. Dia menggunakan tombak besi pendeknya. Dia bertarung melawan para prajurit sesuai dengan kesaktiannya. Para prajurit biasa jelas bukan lawan Cantik Gelap.
Tsuk tsuk tsuk!
“Akk! Akk! Akk...!”
Para prajurit yang terkena tusukan Tombak Iblis harus rela melepas nyawa. Meski tatapannya seperti tatapan orang buta yang hanya lurus, tetapi gerakan tarung Cantik Gelap tidak menjadi aneh, normal-normal saja.
Banyak prajurit yang mati di tangannya.
“Munduuur!” teriak seorang prajurit setelah dia melihat punggawa mereka sudah tergeletak mati dan pasukan tidak mungkin bisa bertahan.
“Mundur! Munduuur!” teriak para prajurit yang masih bisa berlari kabur.
Maka, para prajurit yang masih kuat untuk berlari, segera ambil langkah seribu tiga, meninggalkan lokasi pertempuran. Mereka meninggalkan rekan-rekan yang menjadi impoten, tidak berdaya karena tanpa tenaga.
Tsuk!
__ADS_1
“Aakh!” jerit satu prajurit yang berlari kabur. Dia masih diburu oleh tombak besi Cantik Gelap. Tombak menusuk punggungnya tembus ke dada, membuat tombak berlumur darah.
“Waaah! Kau banyak membunuh prajurit, Sayangku!” kata Bungkuk Gila yang datang menghampiri Cantik Gelap. Entah itu pujian atau teguran. Lalu perintahnya, “Berhentilah, Sayangku. Istirahat dulu!”
Maka Cantik Gelap jadi berhenti dan membiarkan tombaknya menggantung di pinggang kanannya dengan kondisi masih meneteskan darah.
Alma Fatara menghampiri Geladak Badak.
“Bagaimana, Paman?” tanya Alma Fatara sembari tersenyum kecil.
“Sepertinya aku harus sampai di sini. Lukaku tidak bisa kompromi lagi,” jawab Geladak Badak.
“Kakek Bungkuk!” panggil Alma kepada Bungkuk Gila.
“Oi!” sahut Bungkuk Gila.
“Bisakah Kakek mengobati Paman Badak?” tanya Alma Fatara.
“Tidak. Tapi kalau meringankan, bisa,” jawab Bungkuk Gila.
Bungkuk Gila lalu mendekati Geladak Badak.
“Duduklah bersila, Badak!’ perintah Bungkuk Gila.
Geladak Badak menurut. Dia lalu bersila di tanah, tidak jauh dari mayat Tejo.
“Tapi janji, jangan cengeng,” kata Bungkuk Gila.
“Iya. Kau pikir aku anak kecil!” kata Geladak Badak ketus.
“Atur napas!” perintah Bungkuk Gila.
Geladak Badak patuh. Dia bernapas dengan teratur dan lembut.
Srak!
Bungkuk Gila lalu memukul kepala Geladak Badak dengan ujung ranting berdaunnya. Dari ranting itu menabur butiran sinar-sinar hijau yang kemudian berjatuhan dan terserap masuk ke dalam tubuh Geladak Badak.
“Aak! Aaak! Aaak...!” jerit Geladak Badak tiba-tiba dan berulang-ulang dengan tubuh yang mengejang tidak beraturan karena menahan sakit.
“Hahahak!” tawa terbahak Bungkuk Gila.
“Aaak!” teriak Geladak Badak kencang sambil menjatuhkan dirinya ke tanah. “Apa yang kau lakukan padaku, Bungkuk Gila? Aaak!”
“Kau sudah janji tidak akan cengeng!” tandas Bungkuk Gila.
“Aaak! Tapi terlalu sakit! Aaak!” teriak Geladak Badak sambil mengejang-ngejang dengan berbagai gaya.
Dia bahkan sempat bangkit berdiri, lalu mengejang lagi dan jatuh meringkuk di tanah.
“Kakek yakin Paman Badak tidak apa-apa?” tanya Alma Fatara.
“Hahaha! Ya seperti itulah,” jawab Bungkuk Gila yang didahului tawanya.
“Hahaha!” Alma akhirnya tertawa pula.
“Jika aku tahu akan sesakit ini, aku lebih baik beristirahat di peniduran! Aaak!” kata Geladak Badak
__ADS_1
“Hahaha!” tawa yang lainnya bersama-sama, kecuali Cantik Gelap. (RH)