
*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*
“Bungkuk Gilaaa!” teriak Abah Sakti marah bukan main.
“Yeee, Abah botak marah!” ledek Bungkuk Gila dengan mimik memancing kemarahan. “Coba, mau apa kau mendatangi cucuku? Kau mau membunuhnya, hah?!”
“Dia harus membayar perbuatannya dengan nyawanya!” jawab Abah Sakti.
“Oooh, tidak aku sangka, orang tua sakti sepertimu bisa menjadi seekor anjing jaga. Hahaha! Aku tahu, pasti karena kau disuguhi yang lunak-lunak setiap hari. Jika tidak begitu, mana bisa kau mendapat yang lunak-lunak yang diberikan suka rela, karena kepala ayammu sudah terlalu tua. Hahaha!” celoteh Bungkuk Gila.
“Hahaha!” tawa terbahak Alma Fatara di sisi lain dari ketegangan dua kakek itu.
“Kau benar-benar mempermalukan aku di depan anak kemarin subuh!” gusar Abah Sakti dengan gigi yang saling menekan.
Bluss!
Tiba-tiba tubuh Bungkuk Gila dikurung oleh tabung sinar hijau transparan yang sempit seperti toples, bahkan bagian atas pun tertutup.
Bugs bugs!
Buru-buru Bungkuk Gila menonjok dinding sinar hijau yang mengurungnya. Namun, dinding sinar itu tidak bisa dihancurkan.
“Hahaha! Tamatlah riwayatmu, Bungkuk Gila!” teriak Abah Sakti yang sambil tertawa melesat ke depan kurungan sinar itu dengan telapak tangan bersinar hijau menyilaukan, yang siap dihantamkan ke dinding kurungan sinar.
Bset bset! Tastas!
Namun sebelum itu terjadi, dari samping ada dua sinar kuning sabit melesat kepada Abah Sakti. Tangan kiri Abah Sakti dengan mudahnya menepis kedua sinar itu seperti mengusir lalat jahil. Dua ilmu Sabit Murka tidak berarti apa-apa bagi Abah Sakti.
Bluarr!
Ledakan dahsyat terjadi ketika Abah Sakti menghantamkan sinar hijau di tangan kanannya pada tabung sinar yang mengurung Bungkuk Gila. Bersama hancurnya tabung sinar hijau itu, sosok Bungkuk Gila tertutupi oleh ledakan sinar yang menyilaukan, membuat terang benderang area itu sejenak.
Alma Fatara sampai termundur-mundur seperti undur-undur karena gelombang ledakan energi tersebut, tapi tidak memberi efek cedera.
Setelahnya, yang tertinggal dari titik ledakan energi sakti tingkat tinggi itu hanya kawah tanah yang gelap oleh kegelapan petang. Entah ke mana hancurnya tubuh Bungkuk Gila? Jangan dijawab karena Bungkuk Gila segera menjawab.
“Botak peot!” teriak Bungkuk Gila yang tubuhnya tahu-tahu sudah mengudara tepat di belakang Abah Sakti sambil memukulkan ranting berdaunnya ke kepala botak lawannya.
Terkejut Abah Sakti mengetahui Bungkuk Gila bisa menerobos benteng pertahananannya tanpa ia rasakan, bahkan kurang ajarnya, tahu-tahu memukul kepala botak seksinya.
Wuut!
Maka langsung saja Abah Sakti mengibaskan tangannya memutar ke belakang untuk menghantam Bungkuk Gila.
Clap!
__ADS_1
Ketika tangan itu mengibas sampai tidak terlihat karena saking cepatnya, sosok Bungkuk Gila menghilang begitu saja, membuat serangan balik Abah Sakti hanya mengoyak udara.
“Botak tolol!” maki Bungkuk Gila yang kembali muncul di posisi yang sama dengan melayang di udara, sambil kembali memukul botak Abah Sakti.
Wuut!
Cepat Abah Sakti bereaksi lagi dengan mengibaskan satu tangannya ke belakang seperti tadi. Namun, hasilnya sama seperti tadi. Bungkuk Gila menghilang di saat serangan itu datang dan muncul kembali setelah lewat. Lalu memukul kembali kepala botak Abah Sakti tanpa membuatnya terluka, tapi membuat sakit tak berdarah di perasaan dan harga diri si kakek botak.
“Hahaha!”
Tiba-tiba terdengar tawa keras dua jenis suara. Ketika Abah Sakti menengok melihat ke arah lain. Tampak Alma Fatara dan Bungkuk Gila sedang tertawa heboh menertawakannya. Itu terjadi di saat sosok Bungkuk Gila masih memukuli kepala Abah Sakti dengan ranting berdaunnya.
Abah Sakti lalu bergeser menjauhi sosok Bungkuk Gila yang bisa melayang di udara. Setelah dijauhi, ternyata sosok Bungkuk Gila yang seperti hologram yang di-remote itu hilang.
“Eh, Botak Peyot! Kau sebenarnya tahu sendiri bahwa kau tidak akan sanggup menang dariku. Kau memang hebat dalam ilmu pagar-pagar bebek, tapi jangan kira tidak ada orang yang bisa menaklukkan ilmu kurung-kurungan ayammu itu!” kata Bungkuk Gila. “Jika kau berniat membunuh cucu pungutku, aku tidak akan segan-segan membuatmu jadi botak sebotak-botaknya!”
“Seperti apa itu botak sebotak-botaknya, Kek?” tanya Alma Fatara.
“Ya seperti dia! Hahaha!” jawab Bungkuk Gila sambil menunjuk Abah Sakti lalu tertawa kencang.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara pula.
“Kau pikir ilmu Raga-Raga Gila tidak terkalahkan!” teriak Abah Sakti.
“Coba saja jika kau punya kelemahan ilmuku itu, Botak!” tantang Bungkuk Gila.
Zusss!
Dari pergerakan tangan itu, muncullah sinar putih tebal berbentuk toa raksasa di depan badan si kakek botak.
Zuuurss!
Ketika sepasang lengan Abah Sakti menghentak bersamaan, maka ratusan bola-bola sinar putih melesat menyerbu Alma Fatara dan Bungkuk Gila.
Blar blar blar...!
Set! Syeeeffs!
Serangan ratusan bola-bola sinar putih itu membuat petang itu begitu indah bercahaya. Namun, keindahan itu hanya sekejap, karena kiamat kecil terjadi.
Ratusan ledakan yang begitu bising hingga terdengar ke seantero Kotakayu Darabisu dan mengguncang-guncang tempat itu, terjadi tatkala bola-bola sinar putih mengenai sasaran secara acak.
Rombongan Tebar Kembang yang sudah mendekati lokasi bahkan sempat berhenti mendengar suara ledakan massal tersebut.
Memang, serangan massal itu tidak hanya mengarah kepada Alma Fatara dan Bungkuk Gila, tetapi dia menyebar melebar sesuai arah sinar berwujud toa.
Seiring dengan hancur-hancurnya tempat itu, Alma Fatara telah melesatkan Bola Hitam ke depan menyongsong rombongan bola sinar yang mengarah kepadanya dan Bungkuk Gila.
__ADS_1
Rombongan sinar putih yang berhadapan dengan Bola Hitam yang berhenti melesat dan melayang di udara, disedot masuk ke dalam bola. Penyedotan itu membuat Alma Fatara dan Bungkuk Gila aman.
Zuusss! Bluarr!
Setelah menyedot sebagian dari bola sinar putih yang mengejutkan Abah Sakti, Bola Hitam balas melesatkan segaris sinar putih. Terlalu cepat tembakan sinar putih itu kepada Abah Sakti.
Ternyata Abah Sakti memilih memagari posisinya dengan lingkaran dinding sinar kuning bening berlistrik. Sinar putih panjang itu hanya meledak tanpa menggoyahkan dinding sinar kuning berlistrik.
“Hahaha!” tawa pelan Alma Fatara melihat pertahanan Abah Sakti karena itu mirip dengan pertahanan Raja Betina sebelumnya. Lalu katanya kepada Bungkuk Gila, “Bersiaplah untuk mengeksekusi, Kek!”
“Siap, Cucu Cantikkuuu!” teriak Bungkuk Gila bersemangat.
Sweas!
Alma Fatara menyalakan sinar emas di tangan kirinya dan tangan kanan menggenggam Bola Hitam.
Dia lalu melesat maju secepat kilat dan langsung menghantamkan Bola Hitam ke dinding perisai yang langsung disusul hantaman Pukulan Bandar Emas.
Set! Prakrs! Bluar!
Clap!
Bola Hitam menghantam dinding sinar kuning yang langsung mengubah benteng itu menjadi dinding kristal yang retak total. Dinding itu kemudian hancur lebur oleh hantaman sinar emas menyilaukan mata.
Namun, seiring hancurnya pertahanan itu, sosok Abah Sakti turut lenyap.
Blarr!
Tiba-tiba muncul ledakan sinar jingga di udara, memunculkan sosok Abah Sakti melesat mundur.
Brukr!
Saking kencangnya lesatan tubuh itu dan menghantam bumi, tanah yang dijatuhi sampai terbongkar cukup dalam.
“Hahahak! Dasar botak yang tetap botak!” tawa Bungkuk Gila yang telah menghantam tubuh Abah Sakti di udara dengan pukulan saktinya.
Namun, terlihat Abah Sakti masih bergerak bangun dengan badan kotor oleh tanah.
“Uhhuk uhhuk!” batu Abah Sakti. Bukan batuk biasa atau batuk sakti, tetapi batuk darah. Dia telah menderita luka dalam.
Abah Sakti menatap tajam kedua lawannya sejenak.
“Kurang ajar, mereka main curang dengan mengeroyokku!” rutuk Abah Sakti. “Tapi, nyawa Dewi Gigi itu harus lebih dulu dicabut.”
Bluss! Bluss!
Tiba-tiba Alma Fatara dan Bungkuk Gila telah dikurung oleh tabung sinar hijau sempit, seperti kurungan sinar yang tadi sempat mengurung Bungkuk Gila di awal pertarungan.
__ADS_1
Dengan munculnya sinar kurungan itu, Abah Sakti melesat lebih cepat dari burung menyasar Alma Fatara dengan tangan kanan telah membawa sinar hijau menyilaukan. (RH)