
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Semua warga Desa Bungitan yang sedang sibuk dengan aktivitasnya memerhatikan dua pemuda dan pemudi berkuda yang datang ke desa mereka.
Penampilannya yang mewah dengan paras yang tampan dan cantik, berkulit bersih seperti orang dari kota, jelas membuat mereka menjadi makhluk yang berkilau indah. Sangat kentara bahwa mereka adalah dua anak bangsawan.
Kedua orang muda itu tidak lain adalah Pangeran Arguna dan Putri Manila Sari yang kepergiannya membuat panik Prabu Marapata dan pasukannya. Pangeran Arguna mengenakan pakaian warna biru terang dan Putri Manila Sari berpakaian hijau semanis kue pandan.
Mereka berjalan pelan karena mereka seperti turis domestik yang melihat ke sana dan ke sini, tanpa mempedulikan keudikan warga desa.
“Kakang, kau yakin Alma berhenti di desa ini?” tanya Manila Sari.
“Setengah yakin. Jika Alma tidak bertujuan ke desa ini, mungkin dia seharusnya tetap lewat jalan pinggir sungai. Ayahanda mengatakan bahwa Alma itu membawa Nenek Ratu dari desa di pantai yang jauh ke Rawa Kabut dekat Gunung Alasan. Kita masih bisa melihat Gunung Alasan. Jika Alma berbelok ke sini, berarti dia akan mampir,” kata Pangeran Arguna lengkap dengan analisanya.
Mereka memang mengikuti Alma Fatara dan rombongannya dari jauh, sehingga ketika rombongan Alma berbelok jalan, mereka hanya melihat sebentar lalu kehilangan objek yang diikuti. Hingga kemudian mereka memasuki Desa Bungitan.
Saat mereka sedang mencari-cari keberadaan Alma dan rombongan, sekitar sepuluh tombak di depan, mereka melihat seorang wanita yang keluar dari jalan setapak antara dua kebun cabai dengan membawa sebuah bakul kecil.
“Bukankah itu Ning Ana si mulut ular?” tanya Manila Sari kepada kakaknya.
“Jelas bukan,” sangkal Arguna. “Dia lebih dewasa. Rambutnya saja berbeda. Dia hanya mirip.”
“Atau dia kakaknya Ning Ana,” duga Manila Sari.
“Heah!” Arguna lalu menggebah pelan kudanya sehingga berlari lebih cepat.
Manila Sari pun mempercepat langkah kudanya.
Gadis cantik jelita yang baru keluar dari kebun cabai itu segera berhenti dan menepi, dia menduga bahwa kedua kuda tersebut akan lewat.
Ketika mendekati sosok si gadis, maka terperangahlah Arguna melihat jelasnya kejelitaan si gadis yang memiliki model hidung dan bibir yang mirip Ning Ana, hanya itu versi dewasanya. Saat itu, hatinya berdesir dan langsung mengatakan “aku jatuh cinta”.
Si gadis yang mirip Ning Ana itupun hanya memandangi kedua muda mudi yang tampan dan cantik, yang sudah jelas adalah dari keluarga bangsawan.
Gadis itu terlihat terkejut ketika ternyata kedua penunggang kuda berhenti di depannya.
“Nisanak, apakah kau kakak dari Ning Ana?” tanya Arguna sembari tersenyum ramah.
__ADS_1
Meski ditanya dengan nada lembut dan diberi senyuman tampan, gadis itu tetap saja terkejut.
“Be-benar,” jawab si gadis agak tergagap dengan gestur santun tapi menyimpan sedikit rasa takut kepada orang asing. Pasalnya Ning Ana sudah lama pergi, tetapi ada orang asing yang tiba-tiba mencarinya.
Sembari tersenyum senang, Arguna segera turun dari kudanya.
“Perkenalkan, aku Pangeran Arguna. Dan itu adikku Putri Manila Sari,” ujar Arguna memperkenalkan diri dengan tetap tersenyum senang.
“Oh, iya,” ucap si gadis sembari tersenyum canggung. Dalam hati dia berkata, “Siapa yang tanya?”
“Boleh aku tahu namamu, Nisanak?” tanya Arguna antusias, terlihat dari tatapan matanya yang menunjukkan gambar love-love dalam ilustrasi animasinya.
“Namaku Ning Ara,” jawab si gadis.
“Oh. Kami ingin pergi ke rumah Ning Ana, hanya ... kami tidak tahu yang mana rumahnya. Hahaha!” kata Arguna lalu tertawa kecil, membuat Ning Ara jadi tersenyum manis cukup lebar yang menunjukkan bahwa di bibirnya ada pabrik gula.
“Tapi, Ning Ana sudah lama pergi dan belum pulang,” kata Ning Ara.
“Ning Ana sudah pulang bersama Alma Fatara. Kami satu rombongan, hanya kami tertinggal sebelumnya,” kata Arguna setengah berdusta. Sepertinya jika berdusta hanya setengah, itu sah-sah saja menurut pola asuh Keluarga Kerajaan.
“Oh,” ucap Ning Ara.
“Kakak, kau sangat berbeda dengan Ning Ana yang liar,” kata Manila Sari yang masih duduk di punggung kudanya.
“Ayo kita ke rumahmu. Ning Ana dan Alma pasti sudah ada di sana!” ajak Arguna.
“Iya. Mari,” ucap Ning Ara. Dia lalu berjalan pergi sambil memeluk bakul cabainya dan menundukkan wajahnya, seperti orang yang sedang mencari uang jatuh di jalan.
Arguna pun segera berjalan di sisi Ning Ara sambil menuntun kudanya. Sementara Manila Sari tetap berkuda dengan langkah yang pelan.
“Itu cabai?” tanya Arguna basi basa.
“Iya,” jawab Ning Ara sembari mengangguk pelan tanpa memandang wajah pemuda tampan yang sesungguhnya membuat hati Ning Ara berdebar. Kapan lagi bisa berjalan berdampingan dengan seorang pangeran? Pikirnya.
“Hihihi!” tawa Manila Sari di atas kudanya mendengar pertanyaan kakaknya. “Kakang, sejak kecil kau tahu bahwa cabai itu wujudnya seperti itu. Kenapa kau bertanya lagi?”
Ning Ara jadi tersenyum lebar mendengar komentar Manila Sari.
“Hahaha!” tawa rendah Arguna. Dia lalu menengok kepada adiknya dan memberi delikan mata sebagai kode “jangan mengacau”.
__ADS_1
Arguna kembali beralih kepada Ning Ara.
“Memetik dari kebun sendiri?” tanya Arguna lagi.
“Bukan,” jawab Ning Ara singkat.
Hal itu membuat Arguna harus aktif berbicara agar interaksinya dengan kakaknya Ning Ana itu bisa hidup.
“Tapi kau tidak mencuri di kebun orang, kan?” tanya Arguna lagi.
“Eh, tidak, tidak. Aku bukan pencuri, aku anak Kepala Desa!” bantah Ning Ara cepat, seperti orang panik. Kali ini dia menengok memandang wajah sang pangeran yang tampannya lebih tampan dari kekasihnya, yaitu Genggam Sekam.
“Hahaha!” tawa Arguna cukup keras melihat reaksi Ning Ara. Lalu katanya, “Aku tidak menuduhmu, aku hanya bertanya.”
Ning Ara pun kembali ke sikap semula, yaitu berjalan dengan agak menunduk. Padahal dalam hati dia berkata, “Bukankah pertanyaannya bernada menuduh?”
“Selain adikmu Ning Ana, apakah kau memiliki adik lagi, atau kakak?” tanya Arguna yang ingin tahu lebih banyak tentang Ning Ara dan keluarganya.
“Hanya aku dan Ning Ana,” jawab Ning Ara.
“Kau sudah menikah?”
“Belum.”
“Kakakku itu jatuh hati kepada Ning Ana. Tapi karena Ning Ana liar dan sudah punya calon suami, jadi Kakang Pangeran Arguna jatuh hati sejak pandangan pertama bertemu dengan Kakak Ning Ara. Makanya Kakang Arguna menanyakan apakah Kakak Ning Ara sudah menikah atau belum. Jika belum, apakah Kakak mau menerima kakakku sebagai calon suami dan diboyong ke Istana?” kata Manila Sari tiba-tiba panjang kali kurang.
Deg!
Terpentok dua kali hati Ning Ara mendengar kata-kata Manila Sari. Pertama terpentok karena mendengar Ning Ana sudah punya calon suami. Kedua terpentok karena dia mau diajak menikah oleh seorang pangeran, yang artinya dia bisa berpotensi menjadi seorang permaisuri di kemudian masa.
Sementara Arguna jadi kelabakan mendengar kata-kata adiknya yang dianggapnya bicara tanpa strategi cinta.
Ning Ara memilih diam, meski hati dan pikirannya berkecamuk di antara rasa bahagia yang berbunga-bunga.
“Jangan dengarkan adikku, dia suka membual sejak di dalam kandungan. Hahaha!” kata Arguna.
“Hihihi!” Terdengar suara tawa yang kecil dari Ning Ara.
“Hahaha!” Mendengar Ning Ara tertawa untuk pertama kalinya, meski seperti tawa tikus di bawah papan, membuat Arguna kian mengeraskan tawanya. Melihat Ning Ara terhibur jelas membuat Arguna bahagia.
__ADS_1
“Itu rumahku!” tunjuk Ning Ara ke arah rumah yang di depannya ada tertambat lima ekor kuda.
Arguna dan Manila Sari melemparkan pandangan ke depan sana. Mereka pun mengakui ketika melihat kuda-kuda dan beberapa orang yang sedang berkumpul di teras rumah. (RH)